Sabtu, Desember 13, 2008

52. Perintah Untuk Bergembira

Minggu, 14 Desember 2008

Minggu III Adventus

Yes 61:1-2.10-11; 1Tes 5:16-24; Yoh 1:6-8.19-28

Di antara kewajiban-kewajiban Kristiani yang diabaikan oleh orang-orang Kristen adalah Kewajiban untuk Bergembira. Sama seperti Sabda Allah yang mengajak kita untuk percaya dan mencintai, demikian halnya dengan kewajiban (ajakan) untuk bergembira. Pada Minggu ke-3 Adven ini, Gereja mengingatkan kita akan kewajiban yang sering terlupakan ini.

Minggu III Adven biasanya dikenal dengan "Minggu Gaudete". Gaudete adalah kata bahasa Latin, yang berarti "Bergembira." Inilah perintah yang secara langsung diambil dari Surat Pertama Santo Paulus kepada jemaat di Tesalonika, sebagaimana dipilih untuk bacaan kedua dalam Liturgi pada Hari Minggu ini: "Bergembiralah Selalu" (1Tes 5:16). Ini merupakan suatu perintah positif, satu-satunya yang diharapkan tetap kita pegang erat-erat pada segala waktu dan dalam segala keadaan hidup kita. Ini bukan merupakan suatu perintah situasional yang hanya kita genggam erat ketika segala sesuatu berjalan baik dalam hidup kita.

Perintah untuk bergembira, sama seperti perintah-perintah Allah lainnya memiliki kadar menuntut. Memang terasa berat, sulit untuk bergembira justru pada saat beban tengah menindih punggungmu. Berat dan berat sekali. Tetapi, setidaknya petunjuk-petunjuk praktis yang ditawarkan Santo Paulus berikut ini dapat menjadi penuntun pelaksana.

Santo Paulus mengawali suratnya dengan menceritakan apa yang harus kita buat pada segala waktu kehidupan kita. "Bergembiralah selalu, berdoalah tanpa henti, bersyukurlah dalam segala situasi apa pun, sebab inilah kehendak Allah di dalam Kristus bagimu" (1Tes 5:16-18). Pada segala waktu dan dalam keadaan apa pun hidup ini, kita harus bergembira, berdoa dan mengucap syukur. Sebagai pengikut-pengikut Kristus kita tahu bahwa kehidupan di dunia ini tidak selalu menyenangkan, pengharapan kita sebagai umat Kristen Katolik bukan hanya pada kehidupan di sini, di bumi ini. Itulah sebabnya mengapa kita diajak untuk BERGEMBIRA, tidak hanya pada saat-saat yang menyenangkan tetapi juga di saat-saat gelisah resah tak berdaya dan kepahitan menyelimuti hidup kita, sebagaimana Yesus telah melewati-Nya.

Lebih lanjut, Santo Paulus menunjukkan apa yang tidak perlu kita buat, apa yang seharusnya kita elakkan dengan segala perhitungannya. "Janganlah padamkan Roh dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat. Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan" (1Tes 5:19-22). Ia meminta kita untuk mengaktifkan dan memelihara bagian spiritual dari kehidupan kita. Sebagai manusia kita memiliki suatu kehidupan badaniah dan rohaniah. Kita mungkin lebih banyak menaruh perhatian pada yang badaniah, dan kurang memberi perhatian pada yang rohaniah. Lihat saja cara kita mempersiapkan pesta Natal. Kita lebih peduli dan luangkan begitu banyak waktu untuk dekorasi di rumah kita daripada membersihkan hati-jiwa kita. Kita lebih sibuk menyiapkan kado-kado untuk sanak keluarga dan sahabat-sahabat kita daripada mempersembahkan diri kita sendiri sebagai kado kepada Allah.

Selanjutnya Santo Paulus menunjukkan bagaimana cara kita mewujudkan ideal kehidupan sebagai putra-putri Allah karena untuk itulah Allah memanggil kita. Ini bukanlah sesuatu yang kita gapai hanya dengan kekuatan kehendak atau usaha-usaha manusiawi meluluh. "Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapi-Nya" (1Tes 5:23-24).

Kekudusan hidup yang disuarakan Santo Paulus pada masa Adven ini adalah Kehidupan Allah sendiri di dalam kita. Dialah Allah yang memungkinkan semuanya itu tercipta di dalam diri kita. Tugas kita ialah mengatakan YA kepada Allah, menyerahkan diri secara total kepada-Nya. Memang tidak gampang untuk menghidupi suatu kehidupan yang selalu memancarkan kegembiraan anak-anak Allah, tetapi Dia yang memanggil kita kepada kepenuhan hidup adalah Dia yang selalu menjawabi apa yang Ia perintahkan. Allah adalah setia, dan Allah akan melakukan hal itu di dalam diri kita. Adakah sesuatu yang terlupakan? Ya, beradalah sesuai kehendak dan perintah Allah sendiri di dalam kamu. Amin

Copyright © 22 Nopember 2008, by Paskalis Berkmans, SVD.

Jumat, Desember 12, 2008

51. Misi dan Konsekuensi Hidup Orang Kristiani

Sabtu, 13 Desember 2008

Bacaan : Mateus 17,10-13

“Memang Elia akan datang dan akan memulihkan segala sesuatu”. Itulah kata-kata Yesus menjawab pertanyaan para muridnya mengenai kedatangan Elia sebelum Almasih tiba. Yesus tegaskan itu sambil secara tidak langsung menunjuk pada Yohanes Pemandi. Yesus juga kelihatannya tidak terang-terangan menunjuk pada Yohanes sebab ia hanya menyatakan bahwa “Elia sudah datang tapi orang tidak mengenal dia”. Dengan itu para murid langsung menghubungkannya dengan Yohanes Pemandi yang membaptis orang demi pertobatan dari dosa-dosa dan karena kata-katanya yang keras terhadap Herodes dan Herodias akhirnya ia dipancung kepalanya.

Yesus mengakui tugas perutusan Yohanes Pemandi yang menurut keyakinan Yesus sendiri adalah Elia yang dinantikan oleh orang Yahudi. Yesus mengenal tugas dan misi Yohanes Pemandi, saudaranya itu, sebagai pemenuhan ramalam para nabi yaitu memulihkan segala sesuatu sebelum kedatangan Almasih. Kata-kata pewartaan Yohanes di tepi sungai Yordan jelas menunjukkan itu: “hasilkan buah buah yang sesuai dengan pertobatan” dan lagi “membagi kepada orang lain apa yang kau punyai, tidak menagih lebih banyak dari yang telah ditentukan, tidak merampas dan memeras, mencukupkan diri dengan gaji”. Warta dan misi Yohanes Pemandi memang seperti dimengerti oleh Yesus: memulihkan segala sesuatu lewat proses pertobatan agar orang dapat hidup benar, tulus dan penuh cinta kasih persaudaraan. Dengan kata lain hidup sesuai dengan jati diri sebagaimana dikehendaki oleh Pencipta.

Menjadi jelas bagi kita orang Kristen bahwa tugas perutusan kita di tengah dunia ini adalah memulihkan kembali situasi yang rusak entah karena akibat perbuatan kita ataupun perbuatan orang lain. Tugas memulihkan keadaan ini adalah kata lain dari pertobatan. Kita merobah diri kita dari hari ke hari untuk mencapai keadaan yang dikehendaki oleh Pencipta, Allah kita. Usaha ini tidak selalu berjalan mulus dan diterima banyak orang di sekitar. Kemungkinan untuk ditolak, dilawan malah dikucilkan akan ada. Kejahatan selalu menentang orang yang melakukan kebaikan. Ini tidak boleh menyusutkan semangat orang Kristen untuk tampil sebagai pembaharu dalam hidup baik pribadi maupun masyarakat, apapun akibatnya.

Tuhan, berikanlah aku keberanian untuk merobah diriku dan kemudian bersama orang lain merobah dunia ini sesuai dengan kehendakMu. Amin

Copyright © 12 Desember 2008 by Paul Tolo SVD

Rabu, Desember 10, 2008

50. Bebas Mengimani Tuhan

Jumat, 12 Desember 2008

Bacaan : Yes: 48, 17-19 dan Mat 11, 16-19

“Akulah Tuhan Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang berfaedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh.”

Penyampaian Nabi Yesaya ini menunjukkan bahwa: Tuhan memberikan diriNya sebagai keselamatan bagi kita. Dia mengajar, menuntun dan terus memanggil, agar kita tetap percaya padaNya. Percaya yang berarti merasa aman dan pasti hanya dalam Tuhan sendiri. Memang Tuhan tak pernah memaksa kita untuk percaya, untuk mengikutiNya. Tapi Dia mengundang dan mengajak. Seperti yang dikatakanNya melalui nabi Yesaya hari ini: “Sekiranya engkau memperthatikan, perintah-perintahKu, maka damai sejahtera akan seperti sungai yang tidak pernah henti.”

Kita mestinya merasa bebas untuk percaya pada Tuhan. Bebas dengan seluruh kekuatan kita, juga ketika kita merasa putus asa dan menderita. Hanya mereka yang tak merasa bebas untuk percaya pada Tuhan, mereka yang takut akan mengatur Tuhan seturut kehendakNya.

Lihatlah orang-orang yang tidak melihat keselamatan yang datang baik dalam diri Yohanes Pembaptis maupun dalam diri Yesus Kristus dalam Injil Matius hari ini. Yesus dinilai mereka sebagai pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tuhan dalam keyakinan mereka mestinya yang bertindak sebaliknya: bukan pelahap dan peminum, bukan sahabat pemungut cukai dan pendosa. Singkatnya Tuhan mesti seperti yang saya pikirkan dan rasakan. Inilah kesalahan besar manusia. Tuhan mesti mengikuti kemauan saya, kesukaan saya atau seperti yang saya ingini. Jika tidak, maka saya tak akan percaya padaNya.

Tidak! Ini bukanlah iman yang sejati. Tuhan kita adalah satu-satunya penebus, penyelamat yang penuh kasih dan belaskasihan. Inilah kebenaran yang ada dalam diri Tuhan sendiri Dan inilah Tuhan yang sedang kita nantikan kedatanganNya pada masa Advent ini.

Kalau Tuhan mengajak kita menaati perintah-perintahNya, itu semata-mata karena Dia menghedaki agar kita menikmati kebahagiaan yang tak pernah berhenti. “..dan kebahagiaanmu akan akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidah pernah berhenti.” Jadi, mengapa kita masih menaruh kepercayaan dan harapan kita pada dunia dan manusia? Yang semuanya fana dan akan berlalu? Letakkanlah kepercayaan dan harapanmu pertama-tama dan terutama dalam Tuhan dan semua yang lain akan berjalan dalam terang Tuhan sendiri. Sebab nama kita tetap ada di hadapanNya.

Copyright © 10 Desember 2008 by Paskalis Lina SVD

49. Tuntutan Menjadi Besar Dalam Kerajaan Al-Masih

Kamis, 11 Desember 2008

Bacaan : Mat 11,11-15

“Tak ada satu manusiapun lebih besar dari Yohanes Pembaptis namun yang terkecil dalam kerajaan Surga lebih besar dari dia”.

Kata-kata Yesus ini diucapkan untuk menjelaskan siapakan Yohanes Pembaptis di mata Yesus. Yohanes Pemandi adalah keluarga dekat Yesus sendiri. Terasa sekali bahwa dalam kata-kata itu ada pertentangan. Yohanes Pemandi dinilai “amat besar” dari antara semua manusia yang dilahirkan oleh perampuan. Itu berarti dia melebihi Abraham, Ishak, Yakob, Musa, Daud, Salomo, Samuel, Yeremia, Yesaya, Daniel dll. Pada saat yang sama Yesus menyatakan bahwa “dia lebih kecil dari orang-orang kecil di dalam kerajaan Surga”. Kita bertanya siapakah orang kecil dalam kerajaan Surga menurut Yesus? Jawabannya adalah orang berdosa, pemungut cukai, orang penyakit kusta, orang-orang yang dibuang oleh masyarakat waktu itu.

Mengapa Yesus membuat penilaian seperti seperti itu? Apa yang menjadi usura untuk menilai Yohanes Pemandi? Dari kata-kata Yesus ini menjadi jelaslah bahwa ukurannya adalah Yesus sendiri. Semakin dekat orang dengan Yesus maka semakin besarlah dia. Yohanes Pemandi amat besar karena dia amat dekat waktunya dengan munculnya Yesus di depan umum dan kerajaan Surga yang diwartakan oleh Yesus. Sedangkan Abraham, Ishak, Yakob, Daud dll itu jauh sekali dari waktu kedatangan Yesus.

Yohanes Pemandi amat dekat dengan Yesus malah dia membaptis Yesus, menyatakan hormat kepada Yesus, merasa hina di depan Yesus. Tapi dia belum percaya sungguh bahwa Yesus memang Mesias yang dijanjikan karena dia masih kirim murid-muridnya untuk bertanya kepada Yesus “apakah kami harus menunggu lagi Mesias?” Inilah yang menjadi nilai kurang dari Yohanes Pembaptis. Akibatnya dia menjadi yang terkecil dalam kerajaan Surga.

Orang-orang berdosa, penjahat, pemungut cukai, orang-orang yang terbuang dalam masyarakat memang kecil di mata masyarakat tapi mereka menyaksikan Yesus, mendengarkan Yesus, mengikuti dia kemana saja dia pergi sampai kelaparan, kehausan dll. Meraka malah bertobat dan percaya penuh bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Daud, Allah yang menjadi manusia. Sementara Yohanes Pemandi masih sibuk dengan pembaptisannya di Sungai Yordan dan tidak mengikuti Yesus ke mana Yesus pergi. Dia hanya sampai pada menunjuk “itulah anak domba Allah!” atau mengakui dengan rendah hati “dia makin besar dan aku menjadi semakin kecil”. Yohanes Pemandi tidak sampai mengakui penuh Yesus adalah Al-Masih Terjanji .

Ada di kelompok manakah kita saat ini? Apakah aku ada dalam kelompok Yohanes Pemandi yang hanya sampai pada tingkat menunjuk “itulah Yesus, Anak Domba Allah” kepada orang lain dalam pewartaan tapi tidak percaya pada yang saya wartakan? Ataukah saya termasuk orang-orang kecil dalam Kerajaan Surga yang hari-hari mengikuti Yesus, bertobat dan percaya bahwa Yesus sungguh Al-Masih terjanji itu?

Tuhan Yesus, buatlah hatiku semakin dekat dengan Engkau dan kuatkanlah aku untuk berjalan mengikuti Engkau dan percaya penuh padamu.

Copyright © 10 Desember 2008 by Paul Tolo SVD

Selasa, Desember 09, 2008

48. Seorang di Antara Kita

Rabu, 10 Desember 2008

Bacaan : Mat 11, 28 - 30

Penggalan Injil Mateus hari ini menampilkan profil Yesus sebagai seorang yang lembut hati, yang mengayomi dan memberikan ketenangan bagi siapapun yang datang kepadaNya. Ia berkata, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."

Merenungkannya secara lebih mendalam, kita diajak untuk melihat siapakah sebenarnya manusia yang baik berhadapan dengan sesamanya? Menjawabnya, barangkali mudah saja, bahwa orang baik adalah orang yang mudah didekati, lembut dan rendah hati serta tak membuat sesamanya menderita sia-sia. Kalaupun ia bersikap keras kepada sahabatnya, ia tak akan melakukannya tanpa nilai edukatip tertentu. Singkatnya seorang sahabat yang baik akan ditemukan sebagai seorang yang mengasihi serta berbelaskasihan kepada sesamanya.

Kriteria seperti ini memang cocok sekali dengan isi perkataan Yesus di atas. Artinya, Yesus sendiri adalah Sahabat yang baik yang kita bisa temukan sebagai Seorang Di Antara Kita. Sebagai Allah, Yesus tak menampilkan diriNya dengan penuh kuasa dan kekuatan, tetapi menjadi satu di antara kita, seorang yang mudah kita datangi, seorang yang membuat kita rindu untuk mendengarkan dan belajar dariNya, seorang yang mengasihi dengan tulus.

Kenyataan bahwa Allah dalam Yesus Kristus yang ditemukan sebagai seorang di antara kita sesungguhnya adalah tanda nyata bahwa Allah yang demikian adalah Allah yang berbelaskasihan.

Kiranya masa Adventus ini mengajak kita mengagumi kerahiman dan belaskasihan Allah kepada kita. Dan lebih lanjut kita tentu juga diharapkan untuk menjadi pengasih yang berbelaskasihan juga kepada orang-orang di sekitar kita. Kalau Allah dalam Kristus telah menjadi Satu di antara kita, kiranya kita juga menjadi seorang sahabat di antara saudara-saudari kita. Amin.

Copyright © 09 Desember 2008, by Anselm Meo SVD

Senin, Desember 08, 2008

47. Rahasia Di Balik Penjelmaan Allah yang Menjadi Manusia

Selasa, 09 Desember 2008

Bacaan : Mat 18, 12-24

Sungguh, membaca penggalan Injil Mateus yang kita kutip untuk permenungan hari ini, amat membangkitkan harapan akan adanya keselamatan bagi siapapun yang percaya. Harapan itu terungkap dalam pernyataan Yesus, ketika Dia berkata, "Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang."

Kerinduan Allah untuk menyelamatkan manusia ciptaanNya, memang diemban oleh Yesus dalam seluruh hidupNya. Dialah yang melaksanakan kehendak Allah itu, dalam seluruh karyaNya, Ia mencari semua yang hilang dari Israel dan mengundang semua saja untuk mengalami keselamatan. Hati Allah yang diringkas dalam pernyataanNya di atas melukiskan hatiNya sendiri yang selalu menghendaki orang datang kepadaNya.

Allah yang menghendaki agar semua selamat inilah yang menguak rahasia besar kenapa Allah mau menjadi manusia. Ia mencintai mereka, Ia menyimpan mereka dalam hatiNya. Bagi kita inilah harapan yang sungguh membesarkan hati kita.

Kalau Allah demikian merindukan keselamatan kita, mengapa kita tidak merindukan keselamatan sesama kita? Kita berdoa agar kerinduan hati Allah juga menjadi isi kerinduan hati kita. Amin

Copyright © 08 Desember 2008, by Anselm Meo SVD

46. Rahmat Memungkinkan Kerjasama Manusia dengan Allah

Selasa, 08 Desember 2008

Pesta Santa Maria Dikandung Tanpa Cela

Bacaan : Luk 1, 26-38

"Selamat Pesta untukmu hari ini, Pater!" itulah isi pesan singkat di teleponku hari ini. Pesta apa ya? tanyaku hampir penasaran karena rasanya tak ada yang khusus buatku hari ini. "Akh, pesta Santa Maria dikandung tanpa cela, hari ini. Makanya mereka mengirimkanku sms itu", bathinku sambil tertawa sendiri.

Benar, hari ini pestaku dan pesta kita semua. Karena kita rayakan sebuah peristiwa iman yang menentukan dalam sejarah keselamatan, yang menyata dalam jawaban YA seorang anak manusia untuk bekerja sama dengan rahmat Allah untuk memungkinkan kedatangan Allah di tengah manusia. Tetapi mengapa terjadi demikian?

Jawaban tunggal hanyalah ada pada RAHMAT ALLAH yang tiada batasnya. Allah yang percaya bahwa seorang manusia lemah bisa menjadi satu kemungkinan bagi hadirnya keselamatan bagi semua. Allah yang percaya bahwa MARIA yang hari ini kita rayakan pestanya, telah terpilih dari keabadian untuk memberi jawaban YA bagi terjadinya peristiwa Allah menjadi manusia.
Injil hari ini mengedepankan salam malaikat kepada Maria sebagai yang dikaruniai atau yang dirahmati oleh Allah, "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." Jadi aksi pertama datang dari pihak Allah, maka Maria mampu bekerja sama untuk merealisasikan peristiwa keselamatan itu.

Seperti halnya Maria, kita yang hari ini merayakan pesta khusus ini sebenarnya diminta untuk menanamkan di hati kita, bahwa kita juga dirahmati, dikaruniai. Untuk apa? Yah ... untuk bekerja sama dengan Allah menjadi perpanjangan tangan Allah untuk merealisasikan keselamatan bagi banyak orang. Kita mohon Maria, Bunda kita mendoakan kita kepada Yesus Puteranya dan kepada Allah yang telah merahmatinya. Amin

Copyright © 08 Desember 2008, by Anselm Meo SVD