Jumat, Desember 19, 2008

59. Kristus Yang Tidak Kita Kenal

Minggu, 21 Desember 2008
Bacaan : Yes 61:1-2.10-11; 1Tes 5:16-24; Yoh 1:6-8.19-28

Adven adalah suatu masa kita mempersiapkan diri bagi kedatangan Tuhan. Tetapi, misalkan ada orang menyampaikan kepada kita bahwa Kristus yang sedang kita nantikan kedatangan-Nya, sudah ada di tengah-tengah kita sebagai salah seorang dari antara kita. Maka pertanyaannya adalah: "Apa yang dapat kita lakukan untuk mengenali bahwa ini sungguh-sungguh Kristus dan dan bukannya salah seorang dari antara kita?"

Ada suatu biara tua tengah mengalami krisis yang luar biasa. Beberapa rahib/biarawan meninggalkan biara, tidak ada calon-calon baru, dan umat tidak lagi datang untuk berdoa dan berkonsultasi sebagaimana mereka biasa lakukan. Beberapa rahib yang tinggal kian menjadi tua dan tertekan serta relasi di antara mereka begitu dingin dan tidak menyenangkan. Pemimpin biara mendengar tentang seorang pertama yang hidup sendirian di tengah hutan belantara dan ia memutuskan untuk berkonsultasi dengannya. Pemimpin biara menyampaikan kepada sang pertapa perihal keadaan biara mereka yang keanggotaan terus berkurang dan merosot pula semangat persaudaraan di antara mereka. Setelah mendengarkannya, Sang pertapa berkata, "aku punya satu rahasia untukmu. Salah satu dari para rahib yang sekarang hidup di biara itu sesungguhnya adalah Mesias, Kristus, tetapi ia sedang menjalalani suatu kehidupan yang membuat tak seorang pun di antara kalian mengenalinya."

Pemimpin biara kembali ke biaranya, lalu membuat undangan untuk pertemuan komunitas dan mengidentifikasi para anggotanya berdasarkan petunjuk yang disampaikan oleh pertapa itu. Ia memperhatikan setiap anggotanya dan terus berusaha untuk membuat pembedaan, siapakah di antara mereka yang barangkali Kristus. Mungkin Bruder Markus, katanya. Soalnya ia selalu berdoa dan terus berdoa sepanjang waktu. Cuma saudaraku yang satu ini juga memiliki sikap yang kurang baik terhadap saudaranya yang lain. Atau mungkin Bruder Yosef yang selalu siap untuk membantu? Tapi, Bruder Yosef juga selalu makan dan minum dan tidak tahu berpuasa. Lalu pemimpin biara mengingatkan para anggota biaranya bahwa Mesias telah mengadopsi beberapa kebiasaan yang kurang menyenangkan sebagaimana terjadi sekarang di sini sebagai suatu cara menyamarkan identitas real dirinya. Hingga kini ada kemajuan untuk mengenali siapa Kristus di antara mereka. Menjelang akhir pertemuan setiap anggota biara terbangun dari kesadaran dan setiap anggota mengatakan kepada saudaranya yang lain bahwa barangkali anda adalah Kristus itu, dan bukan aku.

Sejak hari itu, para rahib mulai saling memperlakukan dengan hormat yang besar dan dalam kerendahan hati, karena memahami bahwa pribadi yang itu, barangkali Kristus yang sesungguhnya. Mereka mulai menunjukkan cinta yang besar di antara satu terhadap yang lain, kehidupan bersama dihidupi dalam iklim persaudaraan dan kehidupan doa bersama menjadi lebih sungguh-sungguh. Perlahan-lahan umat mulai memperhatikan adanya semangat baru di biara tua itu. Serentak dengan itu, mereka pun mulai berdatangan untuk retret dan mengadakan latihan rohani. Ada perkembangan dalam keanggotaan karena kesaksian hidup para rahib tua. Mereka terus bertumbuh dengan penuh entusias dan dalam kekudusan. Semua perkembangan ini justru berkat seorang hamba Allah yang mengarahkan perhatian mereka kepada kebenaran bahwa Kristus tengah hidup di antara salah seorang dari mereka.

Dalam Injil hari ini, Santo Yohanes Pembaptis berusaha memaklumkan pesan yang sama kuatnya kepada orang-orang Yahudi pada zamannya yang lagi cemas-cemas menantikan kedatangan Mesias. Ia mengatakan kepada mereka: "Aku membaptis dengan air, tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak" (Yoh 1:26-27).

Alasan orang-orang Yahudi pada zaman Yesus tidak mengenali Yesus sebagai Mesias justru karena mereka telah memiliki gambaran yang definitip tentang siapakah Mesias yang akan datang. Mesias itu tiba-tiba akan turun dari Surga dengan kekuatan ilahinya dan dalam keagungannya dan akan memerintah kerajaannya dengan menghancurkan para musuh Israel. "Tentang orang ini kita tahu dari mana asal-Nya, tetapi bilamana Kristus datang tidak ada seorang pun tahu dari mana asal-Nya" (Yoh 7: 27). Maka ketika akhirnya Yesus lahir dari seorang wanita yang tampak kepada mereka tidak bedanya dengan wanita-wanita lain, mereka tidak mengenal-Nya. Yesus terlalu biasa, sederhana, juga begitu tidak menyenangkan.

Setelah dua ribu tahun lebih kelahiran Yesus, apakah kita yang hidup di zaman ini memiliki kemampuan yang lebih baik untuk mengenal Kristus di dalam pribadi-pribadi sederhana dan biasa seperti laki-laki dan perempuan-perempuan dan anak-anak di tengah kehidupan bersama kita dengan segala sikap, kebiasaan-kebiasaan dan penampilan yang tidak menyenangkan?

Copyright © 22 November 2008 by Paskalis Berkmans, SVD.

Rabu, Desember 17, 2008

58. Menjawab YA dan Percaya

Sabtu, 20 Desember 2008

Bacaan : Luk 1, 26-38

Injil hari ini menampilkan wajah lain dari mereka yang bertemu dengan Tuhan dalam keseharian pelayanan mereka. Kalau kemarin seorang imam, Zakharias, hari ini kita bertemu dengan seorang gadis desa, sederhana, Maria. Keduanya, baik Zakarias maupun Maria sama-sama diperhatikan oleh Allah, karena mereka meletakan harapan yang sama kepada Allah. Dan apa yang terjadi pada imam itu, juga terulang pula pada gadis desa ini. Mereka bertemu dengan Allah dan mendengarkan SabdaNya. Dan pasti bagi keduanya, Sabda Allah dipercayai sebagai mampu berbuat apa saja.

Injil Lukas mencatat hari ini, “Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.”

Dan Maria, sadar akan kelemahannya, ia tokh menjawab YA dan percaya, dan ia menjadi yang pertama percaya bahwa Allah sungguh menjadi manusia. Begitulah Injil hari ini melanjutkan kisah itu, “.... dan mendengar semuanya itu, kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.” Berkat Ya dan Percayanya Maria, dunia berubah, dunia tak pernah menjadi sama lagi. Dia menjadi yang pertama di antara semua yang percaya.

Dan kita hari ini diajarkan jalan iman yang sama dengan yang pernah dilalui Maria. Mesti ada YA dulu lalu percaya dan bekerjasama dengan rahmat Allah. Maka dunia kitapun akan berubah, karena Tuhan Emanuel sudah ada bersama kita.

Tuhan, ajarilah kami jalan iman yang pernah ditapaki Maria. Kiranya kami menjawab YA juga dan percaya bahwa PutraMu bisa mengubah dunia melalui kami. Amin.

Copyright © 17 Desember 2008, by Anselm Meo, SVD

57. Kemenangan Cinta Allah atas Ketidakpercayaan Manusia

Jumat, 19 Desember 2008

Bacaan : Luk 1,5-25

Ketika membaca kisah pada permulaan Injil Lukas ini, pikiran kita dihantar kepada pertemuan dengan berbagai orangtua, kaum lansia yang hidup bersama kita ataupun yang kita layani sebagai bagian pekerjaan dan pelayanan kita. Lukas berkisah tentang kelahiran Yohanes Pembaptis, dan secara langsung pula tentang orangtuanya, Zakarias dan Elisabet.

Sudah tentu bagi keduanya kehidupan yang akan datang sudah di ambang pintu. Mereka tengah menantikan akhir hidup mereka, yang pasti juga sesuai dengan imannya, mereka menantikan saat pertemuan mereka muka dengan muka berhadapan dengan Allah Israel.

Tetapi ternyata Allah berkehendak lain. Harapan mereka untuk bertemu dengan Allah yang menjadi isi pengharapan mereka bukan terjadi pada masa yang akan datang, tetapi sedang di depan mata mereka. Kepada mereka Allah memenuhi harapan yang didambakan setiap orangtua Isarel yakni kehadiran anak. Dan hebatnya, anak yang diberikan kepada mereka bukan hanya untuk mereka, tetapi membuka jalan harapan bagi Isarel sebagai bangsa dan manusia seluruhnya.

Itulah yang dicatat Injil hari ini, “Maka tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan. Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut. Tetapi malaikat itu berkata kepadanya: "Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu. Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya; ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka, dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya."

Tetapi bagaimana reaksi Zakarias. “Tak mungkin, dan rasanya hal itu keterlaluan. Ia bukannya seorang yang tidak kenal dirinya dan keluarganya, tetapi rasanya khabar itu tak mungkin. Itulah sebabnya ia menjadi bisu. Apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa sampai ia menjadi bisu? Kekuatan dan cinta Allah sedang berjumpa dengan ketidakpercayaan dari seorang putra Israel dan seorang imam pula yang melayaninya siang dan malam. Jadi Zakaria sebenarnya tak terbiasa mendengarkan dengan baik, sehingga ia tak berhasil pula berbicara dengan baik.

Tetapi itulah cinta dan kasih Allah. Kalau Allah sudah sedemikian mencintai manusia, ketidak percayaan manusia tak bisa menjadi hambatan. Kasih Tuhan akan memenangkannya. Dan Elisabet dalam masa tuanya mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Yohanes.
Nah, bersama kasih dan cinta Tuhan, tak akan pernah ada yang terlalu tua dan lelah untuk memberikan sesuatu yang indah dan sesuatu yang menggembirakan hati. Percayakah kita bahwa Tuhan memang mencintai kita secara sangat dahsyat.

Tuhan, semoga kasihMu mengalahkan ketidak percayaan hati kami. Kiranya kami masih layak untuk bekerjasama dengan rahmatMu. Amin.

Copyright © 16 Desember 2008, by Anselm Meo, SVD

56. Berkaca pada Yusuf

Kamis, 18 Desember 2008

Bacaan : Mat. 1, 18-25

Jika kita merefleksikan bacaan Injil pada hari ini, maka kita segera menemukan seorang figur yang berperan amat kuat dalam proses kelahiran Kristus. Tokoh itu adalah Yusuf, yang dalam silsilah Yesus disebut sebagai anak Matan. Adalah bagus kalau kita berkaca pada tokoh Yusuf ini, yang juga mewakili keseluruhan sisi kemanusiaan kita berhadapan dengan rencana dan kehendak ilahi. Pertama-tama yakni ketika dia harus memahami kenyataan Maria tunangannya yang telah mengandung dari Roh Kudus. Keadaan yang sulit dipahami dan diterima. Yusuf pun memutuskan untuk mau menceraikannya dengan diam-diam. Penginjil menulis bahwa ketulusan hati dan respek mendalam terhadap Maria membuatnya mengambil jalan ini, mau menceraikan Maria dengan diam-diam.

Situasi ini mewakili jalan pikiran setiap manusia, setiap kita. Untuk sesuatu yang tidak bisa kita pahami dengan kesanggupan akal budi (ratio) kita, maka biasanya kita segera menolak atau membantah dengan pelbagai alasan dan argumen. Menarik bahwa sesudah Yusuf tiba pada pertimbangan ini, malaikat Tuhan nampak padanya dalam mimpi. Inti penampakkan adalah agar Yusuf tidak takut mengambil Maria sebagai isterinya. “…sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.”

Bagaimana Yusuf mampu memahami hal ini? Sesuatu yang ganjil dan tidak masuk akal! Kalau Yusuf berhenti di sini, maka pasti dia akan segera menolak. Tapi dia terus mendengarkan semua yang dikatakan oleh malaikat Tuhan tentang bayi yang di dalam rahim Maria itu. Sampai pada akhirnya pada ayat 24: “Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya.” Pertanyaan kita adalaha bagaimana Yusuf tiba pada keputusan ini?

Jawabannya adalah iman. Iman yang berarti tidak semata-mata terpaku pada kemampuan berpikir dan intelek saja, tetapi juga dari kemauan mendengar dan bergerak melampaui kesanggupan berpikir. Yusuf sungguh percaya pada kata-kata Tuhan yang disampaikan kepadanya melalui mailkat. Dia sebetulnya secara sederhana mempersembahkan keterbatasan analisa akal budinya berhadapan dengan situasi Maria dan segera mengatakan: Tuhan aku percaya pada sabdaMu. Iman memang berangkat dari mendengarkan Tuhan dan memutuskan untuk membiarkan apa yang Tuhan kehendaki itu terjadi.

Kita sedang mempersiapkan diri menyambut kedatangan Kristus pada hari Natal-Nya. Ada banyak moment dalam hidup kita yang sulit kita pahami dengan kesanggupan akal budi kita. Sering kita menjadi putus asa dan kemudian mengambil jalan seperti yang pernah Yusuf lakukan. Tapi mestinya kita tidak lupa untuk juga mendengarkan Tuhan sebelum kita melakukan apa yang sudah putuskan. Tuhan tidak pernah membiarkan kita sendirian. Dia menghendaki agar kita pun bisa mendengarkan Dia dan terutama melakukan apa yang dikehendakiNya bagi kita.

Tuhan..tolonglah aku supaya bisa mendengarkan-Mu!

Copyright © 17 Desember 2008 by Paskalis Lina SVD

Selasa, Desember 16, 2008

55. Rencana Ilahi dalam Sejarah Manusia

Rabu, 17 Desembre 2008

Bacaan : Mateus 1, 1-17
Injil hari ini terasa kering saja karena penuh dengan nama-nama garis keturunan Yesus. Setiap keluarga memiliki garis keturunan. Biasanya garis keturunan itu diceritakan turun temurun agar akar dari keluarga diketahui dan relasi dengan orang lain dapat terjalin secara benar terutama dalam hal perkawinan. Injil hari ini tidak dimaksudkan untuk itu. Penginjil Mateus mau menunjukkan sesuatu yang lain sama sekali. Ada sesuatu yang amat penting yang hendak disampaikan olehnya berkenaan dengan pribadi Yesus. Bagi orang Yahudi yang mengenal dengan baik sejarah leluhur mereka nama-nama yang disebutkan dalam daftar silsilah Yesus tidaklah asing. Bagi orang kita sekarang yang kurang membaca dan merenungkan perisitiwa dalam perjanjian lama akan sulit melihat hubungan satu sama lain.

Dalam silsilah itu disebutkan beberapa orang dengan sifat khusus seperti Yehuda yang kawin dengan Tamar, istri anak sulungnya. Raja Daud juga melahirkan Salomon hasil perkawinan dengan isteri Uria. Dari nama-nama itu juga nampak bahwa tidak semuanya orang asli Israel, misalnya saja Rut, Tamar. Dari nama raja-raja yang keturunan Daud tidak semuanya raja yang baik dan mengikuti perintah Tuhan. Keadaan inilah yang mau ditunjukkan oleh Mateus dengan silsilah Yesus ini. Mateus mau menunjukkan bahwa rencana Allah untuk menyelamatkan manusia di luar pikiran manusiawi kita. Sekalipun manusia sering melawan Tuhan, tidak setia kepadaNya, Tuhan tidak pernah akan melupakan manusia. Ia tetap ingat akan manusia dan mencintainya apapun keadaan kita.

Sejarah hidup setiap kita, baik dan yang indah maupun yang menyakitkan; garis keturunan kita entah itu terdiri dari orang-orang yang terhormat atau hina tetaplah menjadi tempat Allah menampakkan kesetiaan dan rahmatNya. Bila kita melihat sejarah hidup kita dihiasi oleh noda hitam dan putih bercampur, Yesus memiliki sejarah keluarga yang demikian. Bila garis keturunanku dipenuhi oleh orang yang tidak selalu memiliki nama yang harum, Yesus memiliki garis keturunan yang demikian juga. Yesus memang menjadi sama denganku saat ini, saya tidak sendirian dalam perjalanan hidup. Sejarah hidupku, keluargaku merupakan medan Allah menampakkan rahmat dan kemuliaanNya. Tak ada alasan bagiku untuk berkecil hati. Allah menganggap diriku - dengan segala latar belakang sejarah dan keluargaku – berharga di mataNya.

Tuhan, berilah saya hati yang senantiasa bersyukur karena Engkau telah masuk dalam sejarah hidupku melalui peristwa kedatanganmu menjadi manusia. Amin

Copyright © 16 Desember 2008 by Paul Tolo, SVD

54. Jadi Soal kalau Terus Mengatakan 'TIDAK'

Selasa, 16 Desember 2008
Bacaan : Mat 21, 28-32

Bacaan hari ini menampilkan kepada kita satu perumpaan sederhana tentang seorang bapa yang mengutus kedua putranya untuk bekerja di kebun anggurnya. Mateus menceriterakannya demikian, "Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir."
Menarik sekali bahwa anak kedua ditampilkan di sini sebagai contoh tindak dan laku dari kita pengikut Kristus. Ada apa dengan dia, sehingga semua menjawab bahwa dia melaksanakan kehendak sang Bapa.
Sebuah pengamatan sederhana saja. Dia menjadi menarik mungkin disebabkan oleh dua hal ini. Yang pertama, dia pasti rasa betapa bodohnya dia menjawab tidak kepada bapanya yang begitu baik dan mengasihnya. Sesudah jawaban itu dia pasti mebayangkan wajah bapanya yang tak percaya akan jawabannya, bapanya yang begitu percaya kepadanya. Dan yang kedua, dia juga pasti ingat betul tentang keadaan nyata kebun anggur miliknya yang tak terawat yang boleh jadi akan tak memberikan hasil maksimal.
Kedua aspek inilah yang melahirkan penyesalan di hatinya. Dia bertobat dan pergi bekerja di kebun anggur.
Hal ini tentu sebuah pelajaran penting untuk kita dlam hal mengikuti Yesus. Ada banyak kontradiksi dalam diri kita. Antara megatakan Ya lalu tidak buat, dan antara mengatakan tidak lalu bertobat dan buat. Soalnya kalau terus terbiasa mengatakan Ya tetapi tak buat terus dan mengatakan tidak terus menerus dan tidak buat.
Iman kita selalu berkaitan dengan kata dan tindakan. Kita tidak beriman untuk merumuskan dan menyatakan dengan lantang berbagai rumusan iman, tetapi dengan cinta tulus mennjalankannya dalam hidup.
Semoga warta Injil hari ini membantu kita untuk bertobat dan menjalankan Injil Tuhan dalam hidup kita. Amin.
Copyright © 15 Desember 2008 by Anselm Meo SVD

53. Karena Ia Hidup dan Mengasihi

Senin, 15 Desember 2008

Bacaan : Mat. 21, 23 - 27

Untuk tampil secara lebih percaya diri dan didengarkan banyak orang, dewasa ini orang bicara tentang kualifikasi akademis ataupun pengalaman yang membuatnya layak dipercaya atau didengarkan banyak orang. Tak heran kita mulai mencari sekolah, berguru bahkan dengan berbagai upaya mendapatkan pengakuan berupa sertifikat, diploma dan ijazah. Untuk apa? Sederhana saja, kita ingin menjadi lebih baik, baik dalam hal mengajarkan sesuatu ataupun lebih baik dalam hal pendapatan, bahkan jabatan.

Hari ini Injil Mateus menghadapkan kepada kita soal yang sama pada suatu masa ketika Yesus hidup. "Lalu Yesus masuk ke Bait Allah, dan ketika Ia mengajar di situ, datanglah imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi kepada-Nya, dan bertanya: "Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?"

Menjadi pengajar dalam agama Yahudi adalah suatu status sosial yang terhormat. Karenanya ada banyak orang mencari guru, rabi dan pengajar terkenal untuk mendapatkan pengetahuan dari mereka. Para ahli Taurat dan imam-imam juga mendapatkannya, karenanya rasanya mereka berhak untuk mendapatkan status sosial sebagai pengajar orang Yahudi.

Bagaimana dengan Yesus, seorang pemuda Nazaret anak Yusuf? Siapakah gurunya? Dengan kuasa mana Dia mengajarkan orang banyak sehingga banyak orang mendengarkan Dia dengan penuh antusias? Bagaimana mungkin caranya mengajar 'mengalahkan' cara mengajar para ahli Taurat? Semua pertanyaan yang sangat mengusik kenyamanan status sosial para lawan Yesus, dalam hal ini para ahli Taurat dan orang Farisi serta kaum imam.

Dari mana Yesus memperoleh semuanya ini? Jawabannya adalah karena Ia mengalami dan menghidupkan pengalaman keseharianNya dengan Allah. Dia tak membutuhkan untuk mendengarkan orang berbicara kepadaNya tentang Allah, karena Ia hidup bersama Allah, Ia mengalami Allah. Hidup Yesus adalah suatu kehidupan dan perjalanan bersama Allah. Dan berbeda dengan orang Saduki, Farisi, Yesus tidak mengajarkan tentang Allah untuk menarik orang banyak kepada diriNya, tetapi secara konsekwen menghantar semua orang kepada kehadiran Allah.

Dan SabdaNya itu masih terdengar segar hari ini, karena Ia berbicara kepada hati manusia, memenuhi mereka semua dengan harapan akan hidup, karena SabdaNya memberikan terang dan pengertian yang semuanya berasal dari Allah. Ia berbeda dari mereka, karena Ia hidup bersama Allah dan mengasihi Allah serta menjabarkannya dalam kasih kepada semua yang mendengarNya.

Tuhan Yesus, SabdaMu penuh kuasa dan hidup, ajarkanlah kami semua untuk hidup. Kami butuhkan terang, juga di saat sekarang. Engkau mampu memberikannya kepada kami semua. Amin.
Copyright © 15 Desember 2008 by Anselm Meo SVD