Sabtu, Maret 21, 2009

150. Perbuatan Baik, Jalan Hidup kita

Minggu, 22 Maret 2009
Minggu Ke-4 Masa Puasa

Bacaan : 2Taw 36:14-17.19-23; Ef 2:4-10; Yoh 3:14-21

Memasuki Minggu keempat Masa Puasa ini, saya mengajak kita untuk merenungkan dan mendalami ajaran sebagaimana termuat dalam Surat Efesus. Kalau kita baca dengan cermat, maka akan disadari bahwa ada dua ajaran yang mungkin membuat kita heran, terkejut. Salah satunya adalah “Allah telah membangkitkan kita di dalam Kristus dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di surga” (Efesus 2: 6). “Apakah kita sudah berada di Surga?” Bukan kan! Kedua, adalah, “Sebab karena kasih karunia, kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu; jangan ada orang yang memegahkan diri” (Efesus 2:8-9). Di sini pun pesannya jelas yakni, perbuatan baik janganlah diperhitungkan sebagai tiket untuk keselamatan. Mengapa? Karena “kita adalah ciptaan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya” (Efesus 2:10). Jika kita diciptakan di dalam Kristus untuk melakukan perbuatan baik; dan jika perbuatan baik itu seharusnya menjadi cara hidup kita, mengapa perbuatan-perbuatan baik tidak diperhitungkan sebagai modal untuk keselamatan? Sia-sia, bukan? Itulah soalnya. Tapi, benarkah! Marilah kita membuka hati dan pikiran bagi karya Roh Kudus, agar kita dapat dibantu untuk memahami kedua persoalan ini.

Santu Paulus telah mengajarkan bahwa semua orang beriman membentuk satu tubuh di dalam Kristus. “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya” (1Kor 12:27). Doktrin ini kemudian dikembangkan secara lebih logis di dalam Surat kepada orang Efesus. “Jika kita adalah bagian dari tubuh Kristus, dan tubuh Kristus telah dibangkitkan, dan Kristus telah naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa, maka kita akan dibangkitkan dan berdiam bersama Kristus di surga.Suatu pendalaman terhadap ajaran terdahulu, sekaligus suatu kesimpulan yang menunjukkan perbedaan di antara keduanya. Dan karena itu, beberapa ahli Kitab Suci menganggap bahwa Surat kepada Umat di Efesus bukan ditulis oleh Santu Paulus, melainkan seorang muridnya, yang menulis atas nama gurunya. Dan apa yang mau ia soroti bukanlah suatu pengalaman kokrit kini, tetapi suatu pernyataan iman dengan gaya bahasa seolah-olah kita sudah mengalami saat ini.

Lebih lanjut, Santu Paulus adalah orang yang konsisten dalam ajarannya. Ia mengajarkan bahwa “tak seorang pun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus (bdk Gal 2:16 atau Rom 3:28). Ia berbicara tentang pembenaran, yang terjadi pada saat seseorang bertobat, percaya dan dibaptis dalam nama Yesus. Kita akan diselamatkan, kata Paulus (1Kor 1:18), keselamatan kita sudah dekat (Rom 13:11) dan kita seharusnya mengerjakan karya keselamatan itu dengan takut dan gentar (Fil 2:12). Bagi Paulus, keselamatan bagi orang-orang beriman di dunia ini adalah suatu pengharapan (1Tes 5:8) dan bukan suatu realitas yang kini dihadapi. Keselamatan harus dilihat sebagai suatu realitas kesempurnaan yang nanti menjadi milik para beriman.

Dengan membaca Surat Efesus, akan tampak jelas ada suatu perbedaan penting lainnya, dengan ajaran Santu Paulus sendiri. Paulus berbicara tentang “perbuatan hukum” sementara Surat Kepada umat di Efesus omong tentang “perbuatan baik.” Kedua hal ini mirip saja tidak apalagi sama. Di satu pihak, perbuatan-perbuatan hukum adalah tindak ritual yang ditentukan oleh hukum, seperti khitanan, tidak bekerja pada hari Sabbat, (hari Sabtu) dll. Hakikat perbuatan-perbuatan ini, barangkali baik pun tidak, tetapi harus dilakukan karena hukum telah merumuskan dan menuntut untuk dilakukan (Bdk. Dengan Undang-Undang Pornografi di negara kita tercinta, Indonesia). Perbuatan-perbuatan baik, di pihak lain, adalah baik pada dirinya. Perbuatan-perbuatan itu memberi manfaat atau menguntungkan umat. Contoh-contoh seperti memberi makan kepada yang lapar, memberi pakaian kepada orang-orang yang telanjang, mengunjungi orang-orang yang kesepian, dll. Santu Paulus tidak menyangkal atau tidak meremehkan perbuatan-perbuatan baik, tetapi dia hanya menolak perbuatan-perbuatan hukum.Sementara Surat kepada umat di Efesus tampaknya mengabaikan perbuatan-perbuatan baik.

Pada akhirnya pertanyaan kita adalah: “Bagaimana sikap kita berhadapan dengan dua model ajaran yang tampak sulit ini, yang bisa melemahkan semangat juang kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik? Kita mendengar seolah-olah kita sudah dimuliakan dan berdiam di surga. Kita juga mendengar bahwa perbuatan-perbuatan baik tidak diperhitungkan bagi keselamatan, tetapi seharusnya menjadi cara hidup kita. Pertama-tama, kita hendaknya tidak berusaha untuk memadukan ajaran dalam Surat kepada umat di Efesus dengan ajaran-ajaran Santu Paulus lainnya. Tetapi, hendaknya kita melihat dan memahaminya sebagai ajaran-ajaran yang berbeda. Di Efesus kita sedang mendengarkan seorang guru baru yang menyoroti aspek-aspek baru dari iman, sedangkan Paulus tidak membicarakannya. Apa yang kita miliki dalam pengharapan, dilihat sebagai sudah nyata kini di dalam Efesus. Dalam konteks inilah seharusnya kita memahami ajaran bahwa kita sudah berdiam bersama Kristus di Surga.

Selanjutnya, untuk memahami ajaran ini, hendaklah kita mengarahkan perhatian pada ajaran praktis yang terungkap dalam ayat 10, yakni bahwa “Perbuatan Baik Seharusnya Menjadi Cara Hidup Kita.” Iman kita akan Kristus dibuat mungkin hanya melalui rahmat Allah. Menjadi orang-orang kepunyaan Kristus dibuat mungkin hanya melalui iman. Tetapi, cara hidup kita sebagai umat yang telah percaya akan Kristus seharusnya ditandai oleh perbuatan-perbuatan baik. Sebagai umat Allah di dunia ini, Perbuatan-perbuatan Baik seharusnya menjadi Cara Hidup Kita. Inilah tantangan kita.

Mari kita berdoa: “Ya Allah, kami memiliki pengharapan di dalam Dikau karena Engkau adalah setia. Kami percaya akan kedermawanan cinta-Mu, ya Bapa. Sanggupkan kami untuk menghidupi kebaikan-Mu ya Bapa, melalui cara hidup kami. Semoga kami dimampukan untuk mengelak kegelapan dan berjalan di dalam terang Kristus, Putra-Mu dan Tuhan kami. Ya Bapa, penuhilah pula kami dengan Terang yang hanya datang dari-Mu. Amin.

Copyright © 21 Maret 2009 by Paskalis B. Keytimu, SVD

Kamis, Maret 19, 2009

149. Kerendahan Hati itu Sangat Perlu Dalam Doa

Sabtu, 21 Maret 2009
Masa Puasa

Bacaan : Lk 18, 9-14

Kita disuguhkan satu aspek penting lainnya yang sangat diperlukan dalam doa. Itulah yang ditekankan dalam ajaran Yesus hari ini kepada para muridNya. Lukas dalam Injilnya menyampaikan demikian, "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.

Sebuah perumpamaan yang menampilkan ajakan untuk mengutamakan sikap rendah hati dalam doa, selain usaha untuk berkanjang dan setia dalam doa. Memang mudah sekali kita mengikuti cara pandang dan sikap si Farisi dalam hubungan kita dengan Tuhan, ketika merasa bahwa kita adalah orang yang baik di hadapan Tuhan dan karenanya tergoda pula untuk percaya hanya kepada diri kita sendiri. Sebagai akibatnya kita sering menjadi sangat mudah meremehkan orang lain dan lebih dari itu bersikap tanpa belaskasihan kepada sesama.

Bagaimana sebenarnya sikap si Farisi yang dikritik di sini? Rupanya agak jelas bahwa ia ke Bait Allah bukan untuk memohonkan pertolongan dan menyampaikan pujian kepada Allah. Maksud utamanya ke sana bukan untuk memohonkan belaskasihan dan kemurahan Allah. Ia hadir di sana untuk menunjukkan bahwa Ia bukan seperti yang lain. Ia bukan orang berdosa.

Sementara si pemungut cukai sebaliknya masuk ke Bait Allah sambil menyadari ketidak layakannya di hadapan Tuhan. Ia pergi dengan kekosongan, bukan untuk memberikan sesuatu kepada Allah namun untuk meminta sesuatu kepada Allah. Melihat dan mendengarkan isi doanya, kita langsung bisa mengenal bahwa ia membutuhkan pengampunan dan belas kasihan Allah dan mengajak para penengar Yesus untuk mengakui diri sebagai yang lemah dan berdosa. Dan dia inilah yang ditampilkan Yesus sebagai contoh orang beriman, contoh sejati sikap seorang murid ketika menghadap Allah dalam doa.

Perumpamaan Yesus ini mengajak kita sekali lagi untuk mengoreksi sikap dan disposisi kita sebagai muridNya ketika kita berdoa. Dan terutama pada masa Puasa ini, doa yang benar memang bukanlah sebuah upaya ntuk berlomba untuk menunjukkan diri sebagai yag paling benar di hadapan Tuhan. Sikap doa yang pas, bukanlah untuk menunjukkan kehebatan dan kuatnya rasa percaya kita pada diri sendiri, tetapi untuk menyadari betapa dosa kita membutuhkan pengampunan dan belas kasihan Tuhan.

Tuhan Yesus, ada tertulis bahwa yang miskin dan lemah adalah mereka yang selalu mencari Tuhan. Semoga sikap doa kami mencerminkan kerinduan kami kan pengampunanmu dan maksud baik kami untuk bergerak merangkul saudara kami. Amin.

Copyright © 19 Maret 2009 by Ansel Meo SVD

148. Cinta Kasih Mengatasi Hukum

Jumad, 20 Maret 2008
Masa Puasa

Bacaan : Mk 12: 28-34

Berbicara tentang hukum dalam kehidupan orang-orang Yahudi rupanya bisa membuat kita jadi gemetaran. Bangsa yang satu ini memiliki sekurang-kurangnya 613 hukum, yang diambil dari Perjanjian Lama. Karena tuntutan hukum yang satu sering bertentangan dengan hukum-hukum yang lainnya, moralis Yahudi berusaha membuat suatu perpaduan dari unsur-unsur hukum tersebut. Jalan keluar yang ditempuh ternyata dapat membantu mereka untuk mengetahui hukum-hukum manakah yang seharusnya menjadi prioritas karena tidak menimbulkan konflik batin. Nabi Mika, misalnya, meringkaskan hukum-hukum itu dalam kata-kata sebagai berikut: “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan daripadamu selain berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati dihadapan Allahmu” (Mikh 6:8). Atau seorang Rabbi lainnya (maaf lupa namanya), ketika diminta untuk merangkumkan hukum sambil berdiri dengan satu kaki, ia menjawab katanya “Apa yang membuat kamu membenci dirimu, jangan lakukan itu kepada sesamamu.”

Maka ,tak mengherankan kalau orang Farisi itu menanyakan kepada Yesus, justru tentang “hukum manakah yang paling utama?” (Mrk 12:28), dan bukannya tentang 10 Perintah Allah: Akulah Tuhan Allah….jangan ada allah lain dihadapan-Ku” (Kel 20: 2-3). Ia berpikir lebih baik menanyakan sistesis Yesus sendiri tentang hukum-hukum dan 10 Perintah Allah. Dalam Injil Markus, pertanyaan ini bukannya untuk menguji Yesus, tetapi ia bertanya karena sungguh-sungguh ingin belajar dari Yesus. Barangkali ia dibanjiri dengan konflik yang ia alami dan rasakan dalam hidupnya sendiri ketika harus berhadapan dengan tuntutan perintah-perintah Allah yang penerapannya telah mengalami perubahan. Jawaban akhir yang ditujukannya kepada Yesus adalah: “Benar kata-Mu, Guru, bahwa Dia esa dan bahwa tidak ada allah yang lain kecuali Dia; memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri, adalah jauh lebih utama daripada semua korban bakaran dan korban sembelihan” (Mrk 12:32-33). Jawaban ini tampaknya mengungkap pergumulannya antara kebutuhan untuk mencintai sesama dalam hidupnya dan kebutuhan untuk memenuhi tuntutan ibadah di Kenisah. Yesus memberikan solusi atas masalahnya dengan meyakinkan dia bahwa praksis mencintai Allah dan sesama sesungguhnya mendahalui kebutuhan untuk taat pada tuntuan aturan dan hukum lainnya.

Yesus mengangkat masalah ini dihadapan kaum Farisi karena merekalah yang menciptakan aturan-aturan dan hukum-hukum. Dengan cara ini mereka menjadi mahir dalam hal ketaatan terhadap hal-hal yang remeh temeh dalam kehidupan beriman tetapi tidak sempurna dalam apa yang Yesus sebut “yang terpenting dalam hukum Taurat mereka abaikan, yakni keadilan, belaskasih dan kesetiaan” (Mat 23:23).

Dewasa ini masih ada begitu banyak orang Kristen yang memahami ibadah kepada Allah dalam pengertian mentaati hukum dan perintah-perintah Allah. Kita pergi ke Gereja pada Hari Minggu untuk memenuhi kewajiban Hari Minggu. Kita menjalani Masa Puasa karena ada tuntutan dari Gereja. Kita merayakan peristiwa-peristiwa sepanjang Minggu Suci untuk melaksanakan tugas-tugas Paskah. Yesus mengingatkan kita pada hari ini bahwa apa pun yang kita lakukan sebagai orang-orang Kristen, entah itu di Gereja, dalam kehidupan keluarga ataupun di tempat kerja kita masing-masing, semua ini seharusnya tidak mengalir dari suatu pemahaman tentang kewajiban, tetapi mengalir keluar dari pemahaman kita tentang cinta akan Allah dan cinta kepada sesama. Ketaatan kepada hukum dan aturan bukanlah tugas pertama dari seorang Kristen. Tetapi Cinta adalah yang pertama dan terutama. Amin.

Copyright © 19 Maret 2009 by Paskalis B. Keytimu, SVD

Rabu, Maret 18, 2009

147. Menjadi penjaga dan pembela manusia, gambaran Allah

Kamis, 19 Maret 2009
Hara Raya St. Yosef, Suami Santa Perawan Maria
Bacaan: Mateus 1, 16. 18 - 21. 24a

Hari raya ini dibuat untuk menghormati St. Yosef, Suami Santa Perawan Maria. Suatu hari raya penting untuk melihat peranan Santu Yosef dalam sejarah kesalamatan umat manusia. Perikop yang digunakan untuk perayaan ini diambil dari kisah asal usul dan kelahiran Yesus, Juruselamat kita. Penginjil Mateus menempatkan kisah ini untuk menunjukkan betapa St. Yosef mempunyai peranan penting dalam menjaga kesinambungan garis keturunan raja dalam diri Yesus. Dengan itu identitas Yesus sebagai raja mempunyai dasar ketika dilihat dari garis keturunannya.

Berkenaan dengan hari raya St. Yosef ini, perikop ini menunjuk sisi lain dari pribadi St. Yosef sebagai seorang yang memiliki jiwa besar untuk masuk dalam satu urusan yang sama sekali ia tidak ketahui atau malah melampaui daya pikirnya. Dia mesti menerima seorang anak yang bukan hasil perkawinan manusiawi dengan Maria. Menjaga citra Allah yaitu manusia baru yang hadir walau bukan merupakan hasil dari kehendak sendiri merupakan nilai tinggi dari pribadi St. Yosef. Sebab hal ini membawa banyak konsekuensi lanjutan.

Menjaga, memelihara dan menjamin keberlangsungan hidup dari manusia baru merupakan tantangan baru untuk kita pada masa sekarang. Hal ini disebabkan oleh sekian banyak peristiwa yang menunjukkan bahwa manusia, gambaran Allah, diinjak-injak martabatnya. Malah lebih sedih lagi dimusnahkan secara keji. Peristiwa-peristiwa tersebut yang hampir setiap hari dilaporkan terjadi di mana-mana mengundang kita untuk melihat dalam diri St. Yosef inpirasi, kekuatan untuk mengambil tindakan nyata melindungi dan menjamin hidup sekian banyak manusia terutama yang lemah dan tak berdaya.

Masa puasa menjadi kesempatan juga untuk memurnikan kembali arah hidup kita. Kita diajak untuk terus menerus menempatkan nilai penghargaan atas martabat manusia sebagai nilai yang patut kita perjuangkan. Mulai dalam keluarga, kelompok basis sampai pada tingkat yang paling luas: masyarakat dunia.

Ya Tuhan, semoga kebajikan yang ditunjukkan oleh St. Yosef, menyemangati saya dalam perjuangan membela martabat manusia di manapun saya jumpai. Amin.

Copyright © 18 Maret 2009 by Paulus Tolo SVD

Selasa, Maret 17, 2009

146. Identitas dan misi Yesus: jalan sempurna menuju Allah

Rabu, 18 Maret 2009
Masa Puasa
Bacaan Mateus 5, 17 - 19

Perikop injil hari ini ada salah satu kutipan dari kotbah di bukit yang Yesus sampaikan kepada orang banyak yang mengikuti Dia. Dalam kutipan ini Yesus memperkenalkan diri kepada orang banyak. Cara mengajar Yesus dan cara dia menafsir hukum Musa membuat orang banyak yang mendengarkannya berpendapat bahwa Yesus akan menghilangkan keberadaan hukum Musa. Yesus membaca cara berpikir orang banyak ketika ia mengatakan "Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi". Jelas bahwa Yesus tahu apa yang sedang ada dalam pikiran para pendengarnya.

Kutipan ini diangkat pada masa puasa untuk membantu umat kristiani memahami siapakah Yesus dan perutusannya di dalam dunia. Semua yang tertulis dalam hukum Taurat dan kitab para nabi menunjuk pada dirinya. Hukum Taurat dimaksudkan untuk menjadi pedoman bagi orang Israel agar hidup sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah. Demikian pun juga para nabi terus menerus mengajak orang Israel untuk selalu mengikatkan diri pada Allah.

Dengan mengungkakan hal tersebut kepada orang banyak Yesus mau mengajak mereka untuk menerima Yesus sebagai Musa baru dan Nabi baru yang mengajak Israel sekali lagi untuk kembali bersatu dengan Allah. Pemenuhan terjadi ketika semua orang menemukan kembali jalan yang sesungguhnya untuk bersatu lagi dengan Allah. Yesuslah yang menunjukkan jalan tersebut kepada orang Israel.

Identitas diri Yesus dan misinya seperti ini mesti kita miliki dalam masa puasa ini. Jalan hidup dan penderitaan Yesus yang kita renungkan selama masa puasa ini merupakan pemenuhan dari hukum Taurat dan kitab para nabi. Kita diajak oleh sabda hari ini untuk menerima Yesus sebagai pedoman yang membawa kita kepada Allah.

Tuhan Yesus, semoga saya menerima Engkau sebagai pedoman dalam perjalanan menuju tanah terjanji: hidup bersatu dengan Allah Tritunggal Mahakudus. Amin

Copyright © 17 Maret 2009, by Paulus Tolo SVD

Senin, Maret 16, 2009

145. Mengikis sikap egois menerima kasih Allah

Selasa, 17 Maret 2009

Masa Puasa

Bacaan: Mateus 18, 21 - 35

Kisah perumpamaan Yesus yang disampaikan oleh penginjil Mateus hari ini amat menyentuh hati. Betapa tidak, seorang yang telah mendapat penghapusan utang yang luar biasa besar tidak bisa menghapus hutang yang amat kecil jumlahnya dari seorang saudaranya. Perumpamaan ini memang amat berbicara dalam hidup harian manusia. Bahkan perumpamaan ini bisa kita katakan menyentuh pengalaman amat mendalam yang dimiliki oleh setiap manusia.

Bila kita melihat pengalaman hidup kita dalam hal keagamaan, kita temukan bahwa ada banyak sekali kesalahan yang kita lakukan dalam seluruh perjalan hidup kita hingga saat ini. Kesalahan-kesalahan itu belum pernah menghentikan dan memutuskan kasih Allah kepada kita masing-masing. Kalau kita menilainya secara manusiawi maka kesalahan tersebut sudah menjadi alasan yang layak bagi Allah untuk menghentikan kasihNya kepada kita. Kita telah menerima secara berlimpah pemberian Allah tersebut walau kita tidak pantas menerimanya.

Kenyataan bahwa kita telah menerima banyak dari Allah tidak berbanding lurus dengan apa yang kita berikan kepada orang lain. Dalam hal ini kita hanya merasa diri seharusnya menerima dari Allah. Sementara kecil sekali bahkan hampir tidak ada rasa kewajiban untuk memberikan kepada orang lain. Dengan demikian kita telah terjebak dalam rasa egois yang amat kuat dan berakar: yang penting saya mendapatkan banyak. Orang lain tidak perlu mendapatkan apa-apa dari yang saya miliki.

Sikap egois dalam menikmati kebaikan dan kemurahanhati Allah bukanlah menjadi kehendak Allah menurut kisah perumpamaan injil hari ini. Pengalaman dikasihi Allah tanpa batas mesti menampak juga dalam mengasihi orang lain tanpa batas juga. Di tempat lain Yesus mengatakan "kamu telah menerima secara cuma-cuma, maka berikanlah juga secara cuma-cuma kepada orang lain di sekitar kita".

Mengikis sikap egois dan tertutup dalam hal kasih dan pengampunan tidaklah mudah. Selama masa puasa ini kemampuan ini mesti kita asah dan latih terus menerus agar menjadi sikap, watak setiap orang kristen sejati. Dengan itu kita berlangkah menuju satu perasaan dan satu hati dengan Allah.

Ya Tuhan, jadikanlah aku sehati dan seperasaan denganMu. Dengan demikian aku dapat menampakkan kasih dan pengampunanMu kepada setiap orang yang aku jumpai dalam hidupku. Amin

Copyright © 16 Maret 2009, by Paulus Tolo SVD

Minggu, Maret 15, 2009

144. Profetis atau Popularitas

Senin, 16 Maret 2009
Masa Puasa

Bacaan : Lk 4: 24-30

Seorang sahabat yang adalah seorang imam projo asal Nigeria pernah menceritakan sebuah kisah menarik sebagai berikut. Salah seorang Uskup pribumi di Nigeria, kisahnya, kembali ke kota asalnya guna menghadiri sebuah pesta akbar setelah ia ditahbiskan sebagai Uskup. Semua umat asalnya berpadu guna menyukseskan misa dan resepsi syukuran. Dalam kata sambutan, mereka mengungkapkan tentang betapa bahagianya mereka, karena salah seorang putra mereka telah dipilih menduduki posisi yang agung, posisi yang memungkin ia punya akses langsung dengan Allah. Mereka juga berjanji bahwa mereka akan memeluk erat-erat iman Kristen, jika dia, dalam kapasitasnya sebagai Uskup memberangus (menghilangkan) salah satu perintah dari 10 Perintah Allah bagi mereka. Sebelum mereka mengatakan perintah mana yang harus ditiadakan, Uskup muda langsung menghentak mereka dengan mengatakan bahwa Sepuluh Perintah Allah, adalah ciptaan Yang Ilahi, bukan buatan manusia, dan karena itu, tidak dapat diubah-ubah, dirubah, atau pun ditambahkan apalagi dikurangi atau dihilangkan. Penjelasan bapa Uskup bagai pedang bermata dua; merenggut segala perasaan bahagia, dan yang tertinggal cuma kekecewaan yang mendalam, putus asa, frustrasi. Dan Uskup harus tergesa-gesa meninggalkan umat dan kota asalnya. Yesus, dalam Injil hari pun mengalami nasib yang mirip dialami oleh Uskup dari Nigeria ini.

Seperti bapa Uskup, Yesus kembali ke kota asal-Nya segera sesudah pembaptisan-Nya di mana Roh Kudus turun atas-Nya dan dimaklumkan oleh Allah sebagai Putra Allah. Seperti bapa Uskup, orang-orang di kota asal Yesus cuma sejenak berdecak kagum dan memuji pengajaran-Nya. “Dan semua orang itu membenarkan Dia, dan mereka heran akan kata-kata indah yang diucapkan-Nya; lalu kata mereka: “Bukankah Ia ini anak Yusuf” (Lk 4: 22). Seperti bapa Uskup, Yesus diharapkan menggunakan kuasa-Nya untuk melakukan hal-hal yang istimewa bagi orang-orang di kota asal-Nya sendiri. Hanya dengan demikian, Yesus boleh diakui sebagai benar-benar Anak yang tahu mengabdi, yang tidak melupakan asal-usul-Nya. Dan lagi-lagi seperti bapa Uskup, Yesus membuka pikiran mereka dengan mengatakan kebenaran bahwa Allah tidak mempunyai umat yang favorit, tidak punya sikap dan tindakan pilih kasih. Allah memperlakukan dan berhubungan dengan semua orang dengan menggunakan takaran yang sama. Dan apa yang terjadi? Mereka langsung masuk ke dalam kekecewaan yang mendalam, bangkit menentang Yesus bahkan mengusir Yesus dari kota asal-Nya sendiri.

Yesus telah mengantisipasi kekecewaan umat terhadap-Nya karena Ia memahami diri-Nya berurusan dengan pelayanan profetis. Di dalam istilah biblis, seorang Nabi adalah bukan seseorang yang meramalkan tentang masa depan. Seorang Nabi, pada prinsipnya, adalah seseorang yang berbicara atas nama Allah, corong yang memperdengarkan suara dan kehendak Allah. Fokusnya adalah mengekspresikan Sabda Allah. Apakah Sabda Allah itu membuahkan kebahagiaan bagi pendengarnya atau tidak, bukanlah perhatian utama sang Nabi. Nabi mengatakan kebenaran yang menyakitkan dan daya kebenaran itu biasanya menghantar orang masuk ke dalam pertentangan diri. Kebenaran apa yang Yesus katakana kepada orang-orang di kota asal-Nya dan yang membuat mereka menjadi orang-orang yang emosional?

Yesus mengatakan kebenaran tentang universalitas cinta Allah. Orang-orang Nazareth, seperti juga kebanyakan umat kepilihan Allah pada zaman Yesus, telah memiliki suatu keyakinan tentang seorang Allah yang mestinya bertindak seturut gambaran dan keinginan mereka. Mereka percaya akan Allah yang kedermawanan-Nya hanya terbatas di kalangan “umat terplih.” Jika Allah hadir untuk mereka, maka Allah tidak seharusnya menentang dan mempermalukan mereka. Dan Yesus menegaskan kepada mereka bahwa Allah yang demikian sesungguhnya tidak eksis/ada. Allah yang benar adalah Allah yang hadir dan ada untuk semua umat manusia, sejauh mereka mendekati Allah dengan iman dan kepercayaan. Untuk lebih meyakinkan, Yesus lalu menunjuk kepada Nabi Elia dan Elisa yang melakukan mukjizat besar justru untuk orang-orang di luar umat pilihan Allah. Meskipun demikian, mereka tidak menerima kebenaran yang diungkapkan Yesus, karena hal tersebut secara langsung menggugat keyakinan akan superioritas diri yang sudah berurat akar dalam dalam diri mereka dan yang membuat mereka merasa puas dan cukup dengan diri sendiri.

Umat Allah di zaman Yesus memiliki dua model guru. Ada guru-guru profetis yang mencari di atas segala-galanya demi mempersilakan Allah; yang berbicara kebenaran tentang Allah pun ketika kebenaran itu menuntut harga popularitas dan keamanan diri sebagai bayaran. Dan ada juga guru-guru populer yang mencari di atas segala-galanya demi mempersilakan umat; yang hanya berbicara tentang apa yang umat senang mendengarkannya dan meneguhkan umat dengan prasangka-prasangka mereka. Kitab Suci pun bersaksi dan sekaligus sebagai suatu peringatan bagi kita: “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sesat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya” (2Tim 4:3).Yang terbesar dan teragung dari semua kebajikan adalah Cinta Yang Universal dan Tanpa Syarat. Dan permulaan dari Cinta Agape adalah pengakuan bahwa hanya satu umat pilihan Allah, hanya ada satu ras/bangsa, yakni Bangsa Manusia. Amin.

Copyright © 15 Maret 2009, by Paskalis B. Keytimu, SVD