Sabtu, Maret 28, 2009

158. Keadilan Memberi Jalan Kepada Belas Kasih

Senin, 30 Maret 2009
Masa Puasa
Bacaan : Yoh 8: 1-11
Pada hari ini kita diajak oleh penginjil Yohanes untuk menggali bersama dan menemukan pesan iman yang mau disampaikan melalui kisah tentang seorang perempuan yang ingin divonis hukuman mati oleh kaum Farisi karena berbuat dosa. Inilah sebuah kisah yang tampaknya aneh, yang dimiliki Gereja perdana. Mengapa? Ceritera ini tampaknya dikisahkan secara terpenggal-penggal. Sebagian dikisahkan dalam Injil Yohanes dan bagian yang lainnya juga bisa dijumpai dalam Injil Lukas. Kisah aslinya, begitu pendapat beberapa ahli, lebih condong kepada Santu Lukas. Itu karena, cerita ini justru merefleksikan tema-tema yang biasa digeluti Santu Lukas dalam Injilnya. Misalnya, perhatian kepada para pendosa, kepedulian terhadap kaum wanita atau pun tentang belaskasih Yesus.
Dari gambaran singkat perihal latar belakang cerita ini, muncul pertanyaan: “Mengapa ada orang tega memisahkan bagian ceritera ini dari Kitab Suci? Sebabnya, karena banyak orang pada zaman itu tidak sanggup memahami mengapa Yesus menaru simpati dan belaskasih kepada seorang wanita pendosa. Menurut mereka, wanita yang tertangkap basah sedang melakukan zinah, seharusnya dihukum mati. Karena begitulah yang dititahkan dalam Kitab Suci bahwa orang-orang yang berdosa seharusnya dijatuhi hukum mati (Bil 20:10). Bukankah ini tampak bertentangan dengan keadilan, begitu pikir mereka. Menurut mereka, belaskasih dan kemurahan hati merupakan tanda-tanda kelemahan. Tapi, mengapa Yesus justru menentang keadilan?
Bagaimana orang-orang Kristen dapat membaca ceritera yang mengagumkan perihal belas kasih Yesus yang telah dipisah-pisahkan dengan alasan demi pelayanan yang benar? Jawabannya terletak dalam bagaimana seseorang membacanya. Lewat membaca ceritera ini, ada orang langsung mengidentifikasi diri mereka dengan orang-orang Farisi. Minat mereka terfokus pada bagaimana berhubungan dengan orang lain yang melanggar hukum. Dan biasanya, jawaban mereka adalah bahwa keadilan sudah sepatutnya dihargai sebagaimana mestinya. Itulah hukum, itulah keadilan dan tugas kita hanyalah mengimplementasikannya. Mereka adalah orang-orang yang taat hukum, tetapi kehilangan nilai-nilai kemanusiaan yang hakiki.
Tetapi, apabila kita membaca kisah ini dan tidak mengidentifikasikan diri kita dengan kaum Farisi, tetapi dengan perempuan itu, barulah mata kita dapat melihat bahwa sesungguhnya cerita ini menghembuskan kabar gembira. Dan itulah sebenarnya pesan dari kisah ini. Seperti perempuan itu, kita “semua telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rom 3:23). Seperti perempuan itu, kita semua patut menerima hukuman mati, “karena upah dosa ialah maut” (Rom 6:23). Tetapi ketika Yesus hadir dalam peristiwa itu, Ia mengatasi hukuman mati kita akibat dosa. Ia membebaskan kita dengan Sabda pengampunan-Nya: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi” (Yoh 8:11).
Gereja menawarkan cerita ini untuk renungan kita pada hari ini, justru mengundang kita untuk melihat diri kita sendiri di dalam diri perempuan berdosa itu yang Yesus selamatkan dari kematian dengan resiko kematian bagi diri-Nya sendiri. Ceritera ini, karena itu, sangat tepat dijadikan pokok renungan ketika kita hendak memasuki Minggu Suci, manakala kita melihat Yesus mempersembahkan korban yang paling istimewa untuk menganugerahkan kita pengampunan, kita yang sudah dihukum mati oleh dosa-dosa kita. Ketika langkah kita hampir memasuki gerbang Minggu Suci, marilah kita berterima kasih kepada Yesus untuk cinta dan belaskasih-Nya. Dan hendaklah kita pun berjanji kepada-Nya bahwa kita akan bertanggung jawab untuk melakukan hal yang benar sebagaimana telah Ia katakan: pergilah dan jangan berbuat dosa lagi. Amin.
Copyright @ 28 Maret 2009 by P. Paskalis B. Keytimu, SVD

Jumat, Maret 27, 2009

157. Melihat Kristus

Minggu Ke-5
Masa Puasa

Yer 31:31-34; Ibr 5:7-9; Yoh 12:20-33
Dari waktu ke waktu, barangkali, orang-orang Kristen bertanya pada diri sendiri, “Akan seperti apakah rasanya kalau memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Yesus, menjumpai-Nya dari muka ke muka? Akan seperti apakah getar hati ini kalau melihat Yesus dari dekat?” Pada hari ini, Minggu Ke-5 Masa Puasa, kemungkinan pertanyaan-pertanyaan kita ini memperoleh jawabannya.
Kita datang untuk bertemu Yesus, melihat-Nya, bukan lewat suatu perjumpaan fisik, selagi Ia hidup di dunia ini. Lebih lagi, kita bukan bertemu, melihat Yesus berdasarkan kesaksian dari orang-orang yang telah membentuk kita ke dalam persekutuan iman Kristen. Mengetahui tentang Yesus lewat kesaksian orang-orang lain bukanlah hal yang hakiki dari iman Kristen. Tetapi, kita ingin mengetahui dan mencintai Yesus berdasarkan penglihatan iman pribadi. Mendengar tentang Yesus dan percaya kepada-Nya lewat apa yang kita dengar, pada akhirnya, harus menghantar kita kepada kerinduan untuk melihat, untuk bertemu dengan Yesus lewat mata iman personal.
Hal inilah yang disoroti, malah digarisbawahi dalam Injil hari ini. Dikisahkah bahwa beberapa orang Yunani berkata kepada Philipus, “Tuan, kami ingin bertemu Yesus.” Kalimat singkat ini, bukan hanya mengandung suatu kerinduan yang disuarakan atas nama mereka dan demi kepentingan mereka sendiri. Tetapi juga suatu harapan yang mengatasnamakan semua umat manusia sepanjang sejarah yang akan mendengar tentang kemuliaan Yesus, tetapi yang tidak memiliki kesempatan untuk melihat Yesus secara jasmaniah. Orang-orang Yunani itu menyuarakan juga harapan kita; mereka berbicara untuk kita. Dan kebenaran ini terlihat jelas dalam jawaban Yesus sendiri.
Kalau pada hari-hari kemarin kita mendengar Yesus berkata, “Saat-Ku belum tiba”. Sekarang semua itu berubah total. Dalam Injil hari ini kita mendengar Yesus berkata: “Telah tiba saatnya Putra Manusia dimuliahkan” (Yoh 12: 23). Inilah jawaban Yesus ketika Ia mendengar bahwa beberapa orang Yunani ingin bertemu dengan-Nya. Suatu jawaban yang bukan langsung ditujuhkan kepada mereka, tetapi kepada semua orang yang ingin melihat, ingin bertemu dengan Yesus. Suatu jawaban yang barangkali akan mengejutkan mereka dan mungkin juga membuat kita heran. Tetapi, ingatlah bahwa seluruh misi Yesus, adalah Ia seharusnya dilihat, dan dilihat bukan saja oleh orang-orang Yunani, tetapi oleh semua umat manusia di dunia ini, yang diwakili dalam diri beberapa orang Yunani itu.
Kalau dikatakan bahwa misi Yesus adalah supaya Ia dilihat, saya sama sekali tidak maksudkan sama seperti kita melihat orang-orang tertentu yang secara teratur dipampangkan dalam majalah-majalah, surat khabar-surat khabar dalam masyarakat, atau di kolom-kolom gosip. Yesus bukanlah seorang selebriti; Ia adalah sumber keselamatan abadi; kita merindu untuk melihat dan bertemu dengan-Nya dengan mata iman. Dan bahwa penglihatan iman itulah yang menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita, dan melihat Allah dalam kemuliaan adalah ganjaran keselamatan.
Hampir pada bagian akhir dari Injil hari ini Yesus berkata: “Dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku” (Yoh 12: 32). Inilah sesungguhnya jawaban atas permintaan beberapa orang Yunani yang ingin melihat/bertemu dengan-Nya. Mereka ingin melihat/bertemu Yesus, bukan untuk suatu perbincangan sesaat, tetapi sungguh ketika Ia ditinggikan pada Salib. Di sana, dari atas Salib itulah, mereka ditarik kepada-Nya, bukan lewat tontonan fantastis dari penyaliban, tetapi lewat cinta Allah dan kehausan mereka akan belaskasih Bapa, yang hanya datang melalui Yesus.
Dalam setiap perayaan liturgi kita pun sebetulnya berkata, “kami ingin bertemu/melihat Yesus.” Dan kita sungguh melihat-Nya ditinggikan dihadapan kita, pada setiap perayaan Ekaristi. Kita melihat Kristus, dan Ia menarik kita kepada diri-Nya, dalam semua Sakramen, khususnya dalam Sakramen Pengakuan Dosa dan Penerimaan Komuni Kudus.
Kini Kristus kita lihat lewat tanda-tanda sakramental, kita masih merindukan untuk melihat-Nya dari muka ke muka. Inilah juga yang dijanjikan kepada kita. Kristus yang dimuliakan pada Salib adalah juga yang dibangkitkan dari kematian, dan menarik semua orang yang rindu untuk melihat-NYa dalam kepenuhan kebahagiaan abadi, suatu kegembiraan yang belum pernah kita alami dalam hidup di dunia ini. Bagaimana…..masih adakah kerinduan untuk melihat Yesus? Amin.

Copyright @ 27 Maret 2009, by P. Paskalis B. Keytimu, SVD

156. Bahaya kayakinan buta

Sabtu, 28 Maret 2009
Masa Puasa
Bacaan: Yohanes 7, 40 - 53

Kisah injil hari ini melukiskan pengalaman orang banyak ketika bertemu dengan Yesus yang sedang mengajar. Ada banyak pendapat dan pandangan akan Yesus: Nabi, Kristus, Pengajar hebat. Pertemuan dengan Yesus memaksa orang untuk memberikan pendapat, penilaian. Sekaligus juga pertemuan itu membuahkan kebingunan ketika mesti dihadapkan dengan dengan keyakinan yang turun temurun. Dalam hal ini identitas Kristus atau Mesias, orang-orang Yahudi memiliki keyakinan kuat sekali bahwa Mesias mesti berasal dari keluarga Daud dan tinggal di Betlehem (kota Daud). Dengan demikian asal usul Yesus dari Galilea tidak masuk dalam hitungan sebagai asal muasal dari Mesias, Kristus.

Oleh karena kebingungan berhadapan dengan pengalaman baru bertemu dengan Yesus, orang banyak itu masih terbatas pada tahap kagum, memberikan penilaian. Mereka belum sampai pada tahap berikutnya yaitu memutuskan untuk percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Kristus dan mengikutinya.

Orang Yahudi pada masa Yesus enggan percaya karena mereka begitu yakin akan apa yang diturun temurunkan bahwa Mesias mesti lahir dan tinggal di Betlehem, kota raja Daud. Padahal orang hebat yang ada di depan mereka sekarang berasal dari Nasareth. Bagaimana mendamaikan kenyataan dan keyinan ini?

Menjadi jelaslah bahwa kesulitan ini terjadi karena mereka terlalu terpaku pada tradisi turun temurun itu dan lupa bahwa jalan Allah tidak selalu sama dengan apa yang dipikirkan dan dirumuskan oleh manusia. Mereka lupa akan hal ini.

Pada masa puasa ini kita diajak untuk merobah cara pandang kita yang lama dan menerima dengan tangan terbuka petunjuk Allah. Petunjuk Allah seringkali tidak selalalu sama dengan apa yang kita pikirkan.

Ya Tuhan, bukalah mata hatiku untuk menerima petunjukMu sehingga saya dengan lebih mudah mengakui Yesus PutraMu yang Engkau utus untuk menyelamatkan kami. Amin

Copyright © 27 Maret 2009 by Paulus Tolo SVD

Kamis, Maret 26, 2009

155. Saat-saat pilihan yang menentukan

Jumat, 27 Maret 2009
Masa Puasa
Bacaan: Yohanes 7, 1 - 2. 10. 25 - 30

Perikop ini hari ini mengisahkan desas-desus yang terjadi di tengah umat Yahudi berkenaan dengan seorang pribadi yang bernama Yesus dari Nasareth. Ada desas desus bahwa dia hendak dibunuh oleh para pemimpin agama Yahudi. Namun Yesus masih saja menjalankan tugas mengajarnya di Bait Allah. Dengan demikian situasi di dalam umat Yahudi pada masa itu tegang. Penginjil Yohanes mengisahkan ketegangan tersebut dalam hubungan dengan siapa sebenarnya Yesus dari Nasareth itu. Ada kelompok yang menganggap Yesus dari Nasareth adalah Kristus, dan ada kelompok yang menganggap Yesus dari Nasareth seorang pemuda biasa karena mereka mengenal kedua orangtuanya di Nasareth.

Ketegangan ini beralasan karena ada kebingungan di tengah umat. Umat sudah memiliki pandangan yang kuat bahwa Kristus datang secara misterius dan tidak seorang tahu secara persis. Dalam pribadi Yesus umat melihat ada banyak sekali hal yang menunjukkan kemiripan dengan pribadi Kristus yang umat miliki. Mereka terbentur untuk menerima Yesus sebagai Kristus karena mereka kenal siapakah Yesus dan asal usul keluarganya. Jadi segi misteriusnya Kristus tidak terdapat dalam pribadi Yesus.

Dengan demikian penginjil Yohanes menampilkan suasana yang mengharuskan pembaca membuat pilihan yang tepat dan bersedia menerima semua konsekuensi dari pilihannya. Entah mengakui Yesus sebagai Kristus dengan akibat akan dicap sebagai aliran sesat oleh orang Yahudi lainnya; atau mengakui Yesus sebagai pemuda biasa saja dari kampung Nasareth sehingga tidak dikucilkan oleh orang Yahudi lainnya.

Pada masa puasa ini kita semua dihadapkan dengan pilihan berkenaan dengan pribadi Yesus tersebut. Memilih Yesus akan membawa akibat salib dan penderitaan sebab ia menuntut pertobatan dan pembaharuan hidup. Hal ini akan membawa hidup dan kebahagiaan. Menolak Yesus berarti memilih jalan hidup yang tidak membawa penderitaan, salib karena tidak perlu merobah hidup, bertobat dan meneladani Dia.

Mengingat hari Paskah semakin dekat, pilihan ini mesti dibuat saat sekarang dan tidak bisa ditunda-tunda. Bisa jadi ada keraguan atau ketakutan untuk memilih. Apa pun yang terjadi kita mesti memilih: menerima atau menolak Yesus sebagai Kristus.

Ya Tuhan Yesus, kuatkanlah saya agar berani memilih Engkau dan bersedia merobah diri untuk semakin menyerupai Engkau dalam hidupku. Amin

Copyright © 26 Maret 2009 by Paulus Tolo SVD

Rabu, Maret 25, 2009

154. Sabda Allah yang Memberi Kesaksian

Kamis, 26 Maret 2009
Masa Puasa

Bacaan : Yoh. 5,31-47

Dari penggalan Injil hari ini, kita mengetahui bahwa Kitab Suci sebenarnya memiliki satu tugas utama yakni memberikan kesaksian bahwa hidup Yesus adalah jalan yang menuntun kepada keselamatan. Sabda Yesus ini mengajak kita juga untuk melihat kekuatan yang telah menuntun Israel sebagai bangsa. Jauh sebelum pengenalan akan Allah sebagai Pribadi, mereka dituntun oleh kebijaksanaan ilahi yang berisi pesan-pesan atau Sabda yang disampaikan para utusan. Sabda atau pesan ini lalu diteruskan kepada Israel sebagai bangsa, dan mereka menjadikannya sebagai pedoman hidup mereka.

Dan kebijaksanaan Allah yang begitu menghendaki kebaikan dan keselamatan bagi mereka inilah yang terus menerus berusaha mendekati manusia. Dan dalam Yesus, kebijaksanaan dan Sabda itu sungguh menjadi daging dan berbicara seperti manusia kepada manusia. Inilah yang disampaikan penginjil Yohanes dalam Injil hari ini. "Tetapi Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting dari pada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa yang mengutus Aku. Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nyapun tidak pernah kamu lihat, dan firman-Nya tidak menetap di dalam dirimu, sebab kamu tidak percaya kepada Dia yang diutus-Nya."

Yesus sesungguhnya mengingatkan kita tentang kekuatan SabdaNya, yang setiap hari kita baca dan kita renungkan dalam Kitab Suci. Pertanyaan fundamental untuk kita ialah, kalau SabdaNya itu tidak bisa meyakinkan kita tentang segala karya cinta kasih Allah buat manusia, nah, bagaimana kita dapat diselamatkan? Apakah hidup dan kematian serta kebangkitan Yesus yang menjadi dasar iman kita itu tak bisa meyakinkan kita bahwa Allah begitu mencintai kita?

Sabda Tuhan dalam diri Yesus yang kita dengar dan kita renungkan dalam Kitab Suci memang tak akan pernah dihadirkan penuh kehebatan seperti sebuah rumusan majik yang dihafal dan mengubah sesuatu. Ia berkeuatan mengubah tapi bukan seperti rumusan ajaib bin salabin yang dihafal dan dilakonkan para pesulap. Ia mengubah kalau ia menjadi satu dengan kita, menjadi tutur kata dan prinsip tindak kita.

Kalau demikian, bagaimana kita memperlakukan Sabda itu sebagai pemberi kesaksian tentang karya kasih Allah? Ibarat nasihat dan ajakan seorang sahabat yang sangat kita cintai, yang kita pertimbangkan untuk kita ikuti, demikianlah seyogyanya kita memperlakukan Sabda Allah yang kita renungkan dan kita baca. Biarkan dia menyentuh keterbukaan hati kita, agar rahmat dan belaskasihan Allah diam dan berkarya untuk kita. Amin.

Tuhan Yesus, dewasa ini kami membaca bayak hal, ilmu, yang kami pertimbangkan sebagai yang membantu kami untuk hidup lebih baik. SabdaMu memiliki kekuatan yang jauh lebih dahsyat dan mengubah kami. Semoga kami berbuka hati menerima dan mengamini SabdaMu. Amin.

Copyright © 25 Maret 2009 by Ansel Meo SVD

Selasa, Maret 24, 2009

153. Teladan Yang Menyikapi Sabda Tuhan

Rabu, 25 Maret 2009
Hari Raya Khabar Sukacita

Bacaan : Lk 1, 26 - 38

Seperti kebanyakan gadis di desanya, Maria adalah gadis sederhana yang hidup dalam kesunyian dusun Nasareth. Sebagai anggota suatu masyarakat yang peduli dengan hal-hal rohani, ia juga hidup dalam harapan akan Tuhan. Namun yang tak disadarinya sebagai seorang manusia bahwa Tuhan yang diharapkannya itu sesungguhnya tengah memperhatikan, menjaga dan membimbing dia secara sangat khusus, karena ia memang telah dipilih untuk menjadi ibu yang menghadirkan Yesus sebagai manusia di dunia. Tentang hal ini, kita mengetahuinya dari tradisi Gereja dalam ajarannya tentang Maria, Ibu Yesus.

Injil hari ini menegaskan ajaran ini sambil menampilkan satu aspek penting dalam hidup Maria. "Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah ..."

Dalam pertemuannya dengan malaikat utusan Tuhan, Maria hadir sebagai seorang yang mendengarkan Sabda Tuhan yang dibawa oleh utusan Allah itu. Ia menerimanya dan Injil masih melanjutkan bahwa Maria menjawab YA, yang berarti kendatipun sadar akan kelemahan manusiawinya, ia dengan bantuan rahmat Tuhan siap menjadi alat untuk menghadirkan Yesus bagi sesamanya. Apa yang terjadi padanya, hampir pasti dihubungkannya sendiri dengan kejadian kunjungan malaikat kepada imam Zakharia. Namun yang berbeda ialah bahwa Maria tak terus tinggal dalam sikap tak percaya tetapi menerima dan percaya bahwa apa yang dikatakan kepadanya adalah dapat dipercaya. Ia mendengar dengan setia Sabda itu, ia merenungkannya dalam hatinya dan ketika diperlukan jawaban dan sikap langsung darinya, ia mengatakan YA. Dan YA Maria inilah menjadi khabar gembira buat dunia, yang oleh Gereja dirayakan sebagai Hari Raya Khabar Sukacita hari ini.

Kisah seperti yang dialami Maria sebenarnya selalu terjadi setiap hari, ketika Sabda Allah diwartakan, ketika Sabda itu didengarkan dan kemudian direnungkan. Seperti kepada Maria, Sabda Allah yang disampaikan kepada kita selalu juga berisi penugasan untuk ditanggapi dan disikapi. Sikap dan tanggapan kita terhadap Sabda itu, kecil atau sederhana sekalipun, selalu memiliki efek terhadap dunia di sekitar kita. Karena itu penting sekali bahwa kita tidak bersikap masa bodoh ketika Sabda Allah dibacakan, didengarkan dan direnungkan. Karena Yesus Sang Sabda Allah menyapa kita dan meminta kita untuk menerimaNya, dan menjadikanNya sebagai hidup kita sediri.

Bila sikap Maria terhadap Sabda Allah yang diwartakan malaikat telah mengubah dunia secara mengagumkan oleh kehadiran Yesus Juruselamat, jawaban dan sikap kita terhadap sabda Tuhan yang dibaca dan direnungkan setiap hari, hendaknya membantu dunia dan lingkungan kita berubah.

Tuhan, BundaMu menjawab, "Aku ini Hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanMu!". Itulah sikapnya yang menghadirkan sukacita besar bagi dunia. Semoga kami tak masa bodoh berhadapan dengan setiap saat dan orang yang mewartakan SabdaMu, tetapi mengambil sikap yang tepat dan pantas, demi hadirnya cintakasih yang bisa mengubah wajah dunia kami ini. Amin.

Copyright © 24 Maret 2009 by Ansel Meo SVD

Senin, Maret 23, 2009

152. Kitapun Diminta Untuk Bangun dan Menghasilkan Buah Kebaikan

Selasa, 24 Maret 209
Masa Puasa

Bacaan : Yoh 5: 1-3, 5-16

Sebuah pengandaian yang masuk akal. Bagaimana seandainya kita berada di tempat orang lumpuh itu dan menerima perintah Yesus, "Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu!" sementara hari itu adalah satu hari yang diharamkan untuk bekerja seperti halnya Sabat?

Yesus menyembuhkan si lumpuh persis pada hari Sabat. Dia memerintahkan si lumpuh untuk membawa tempat tidurnya, ketika ia menyadari bahwa itulah mukjisat yang ditujukan kepadanya. Sebagai orang Yahudi, si lumpuh pasti tahu dengan baik bahwa hari itu hari Sabat. Dia pasti bergulat dengan ketaatan kepada hukum Yahudi dengan keinginan untuk melaksanakan Sabda Yesus yang berarti membawa kesembuhan baginya. Dia akhirnya memilih mengikuti Sabda Yesus karena Sabda itu membawa rahmat yang sangat berarti baginya, yang kiranya jauh lebih besar dari hari Sabat. Dia akhirnya tahu dan mendengar sendiri bahwa Dia yang memerintahkannya untuk bangun dan mengangkat tempat tidur adalah seorang Tuhan atas hari Sabat.

Penginjil Yohanes mengisahkannya demikian, "Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: "Maukah engkau sembuh?"Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku." Kata Yesus kepadanya: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah." Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Tetapi hari itu hari Sabat.

Peristiwa yang dikisahkan Injil ini bisa kita sejajarkan dengan keadaan kita ketika kita menerima Sakramen Baptis. Kita tahu benar bahwa dengan sakramen ini, kita semua diintegrasikan ke dalam saat Mesias, kita dibebaskan dari kelumpuhan akibat dosa dan kita menerima juga perintah yang sama untuk bangun dan mulai membawa buah-buah kehidupan baru yang kita terima dari Allah.

Dengan merenungkan Injil hari ini, kita diingatkan sekali lagi tentang makna baptisan yang kita terima itu dan diajak lagi untuk lebih memperhatikan sikap kita terhadap hukum. Kita harus lebih takut untuk jatuh lagi ke dalam perhambaan dosa. Dan persis inilah maksud mulai dari masa Puasa itu sendiri, suatu masa ketika kita masih boleh bertanya, bagaimana sesungguhnya status kita berkaitan dengan dosa, berkaitan dengan rahmat Allah.

Seperti halnya kepadaorang lumpuh tadi, Yesus juga memanggil kita satu persatu untuk bertobat. Dia sendiri memberikan diriNya sebagai orang yang menghubungkan kita dengan BapaNya. Dan Dia pula memberikan kepada kita kesembuhan serta pengampunan dari dosa-dosa kita. SabdaNya kepada si lumpuh kini ditujukan lagi kepada kita: Bangunlah, bawalah bersamamu tempat tidurmu, dan pergila, hiduplah secara baru dan buatlah kebajikan senantiasa."

Tuhan Yesus, semoga SabdaMu memampukan kami untuk menemukan sendiri tugas dan kerasulan mana yang mesti kami hidupkan pada masa Puasa ini dan seterusnya. Amin.

Copyright © 23 Maret 2009 by Ansel Meo SVD

Minggu, Maret 22, 2009

151. Beriman karena mendengar tentang Karya Yesus

Senin, 23 Maret 2009
Masa Puasa

Bacaan : Yoh 4, 43-54

Injil hari ini menampilkan satu seri hal-hal yang mengejutkan sebenarnya. Betapa tidak! Yesus meninggalkan Yudea dan tiba di Galilea, tetapi tidak berhenti di sana, Ia segera bertemu seorang pegawai istana raja yang adalah seorang tak beriman. Orang ini tahu dan kenal bahwa Yesus melakukan banyak mukjizat dan ia minta agar Yesus menyembuhkan anaknya yang sedang sakit.

Penginjil Yohanes dengan caranya melukiskan demikian: "Dan di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anaknya sedang sakit. Ketika ia mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. Maka kata Yesus kepadanya: "Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya." Pegawai istana itu berkata kepada-Nya: "Tuhan, datanglah sebelum anakku mati." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, anakmu hidup!" Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi.

Orang ini tak ambil pusing dengan pertanyaan Yesus, ia terus meminta dengan sangat setia agar Yesus bertindak, karena ia percaya kepada pribadi Yesus, ia percaya bahwa Sabda Yesus mampu menyembuhkan anaknya yang sakit. Ia tak peduli tentang tiadanya hubungan antara dia dengan Yesus, namun cinta yang amat besar kepada sang anak menggerakkan imannya untuk percaya bahwa Yesus akan mengabulkan permintaannya. Dan episode berikutnya kita tahu bahwa permintaannya terkabulkan, anaknya disembuhkan.

Kita bertanya, kenapa dia bisa memiliki iman yang begitu kuat akan kuat kuasa pribadi dan kata-kata Yesus? Jawaban yang paling mungkin diberikan ialah bahwa karena ia telah mendengar ataupun melihat bahwa Yesus telah mengerjakan karya-karya agung lewat perbuatan dan perkataanNya sebelumnya. Ia tak mundur karena ditantang, ia sadar bahwa percaya pada Yesus akan mendatangkan kebaikan baginya dan bagi keluarganya.

Perikop Injil yang sebenarnya menyadarkan kita bahwa untuk menyambut Yesus yang menyembuhkan dan memberikan kebahagiaan dalam hidup, tak diperlukan hubungan kekerabatan, tak penting kebanggaan akan sebuah kewarganegaraan; tetapi sebuah hati yang terbuka yang menyambut Yesus dalam Sabda dan karyaNya sebagai rahmat yang datang dari Allah.

Menarik bahwa memenuhi permintaan orang ini, Yesus tak hanya memberikan kesembuhan kepada anaknya, tetapi menganugerahkan kepadanya dan keluarganya rahmat iman dan lebih dari itu menyanggupkan mereka untuk menjadi saksiNya. Ia percaya bersama keluarganya.

Masa Puasa ini sesungguhnya adalah kesempatan yang unik untuk bertanya diri, seberapa dalam iman dan pengenalan kita akan Yesus. Lebih dari itu, juga kesempatan untuk menilai bagaimana kita menjalankan kesaksian kita akan Dia yang mati dan bangkit untuk kita.

Tuhan, hari ini kami belajar sekali lagi bahwa ada berbagai alasan orang beriman kepadamu. Mungkin sekedar karena bertolak dari cinta kepada anak dan keluarga seperti sang pegawai raja dalam Injil tadi. Semoga kami melihat juga kehendakMu yang memberikan hidup untuk kami. Amin.

Copyright © 22 Maret 2009 by Ansel Meo SVD