Sabtu, Juli 11, 2009

229. Memelihara Rasa Takut Akan Allah

Sabtu, 11 Juli 2009
Pesta Santu Benedictus Abas
Masa Biasa
Bacaan: Matius 10: 24-33
Ketika Yesus memaklumkan Kerajaan Allah, Ia berhadapan dengan pihak opsisi dan orang-orang yang setia kepada ajaran-Nya. Ia mengingatkan murid-murid-Nya bahwa mereka pun akan melewati pengalaman tersebut jika mereka ingin hidup dan mewartakan Kerajaan Allah. Sebagaimana Yesus harus memikul Salib-Nya karena dosa-doa kita, demikian juga murid-murid-Nya harus memikul salib mereka masing-masing dan bukannya mengelakkannya.
Himbauan Yesus ternyata menggentarkan hati para murid. Injil hari ini mengidentifikasi dua model ketakutan, antara lain “ takut akan tuduhan palsu dan penghukuman, di satu pihak; dan takut akan kehancuran dan kematian badaniah. Para murid telah menjadi saksi tentang akal bulus para pemimpin Yahudi. Mereka ahli dalam strategi menutupi fakta, ahli tentang seluk-beluk bersaksi palsu dan ahli dalam membakar semangat orang-orang yang tidak berdosa untuk berpihak kepada mereka dan menentang Yesus. Singkatnya, mereka ahli dalam menutupi kebenaran dan pandai untuk merayakan suatu kebohongan. Semua hal ini mengitari pikiran para murid dan merasuki hati mereka yang berbuntut pada kecemasan bahkan ketakutan.
Yesus tahu tentang apa yang tengah menghantui pikiran dan merasuki hati murid-murid-Nya. Karena itu, Ia meneguhkan mereka dengan menunjukkan cara untuk mengatasi ketakutan, yakni agar para murid tidak memusatkan perhatian pada kenyataan sekarang dan di sini, tetapi segalanya harus diarahkan kepada kedatangan Kerajaan Allah. Kata-kata-Nya kepada para murid-Nya: “Janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui” (Mt 10: 26). Berhadapan dengan kenyataan-kenyataan ini, Yesus meminta para murid-Nya untuk berpaling kepada diri-Nya yang telah mengalahkan kematian dan bangkit dengan mulia. Ini juga menjadi tanda dan bukti bahwa kedok kebohongan dibuka dan ditelanjangi, kebenaran bersinar cemerlang dan keadilan ditegakkan. “Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka” (Mt 10: 28).
Ketakutan merupakan suatu daya yang maha dahsyat. Ia dapat membimbing kita ke dalam suasana panik dan pusing tujuh keliling atau ia dapat memacu iman dan tindakan. Takut akan Allah merupakan penangkal/pencegah kepada ketakutan akan kehilangan diri sendiri. “Aku telah mencari Tuhan dan Ia menjawab aku; dan melepaskan aku dari segala kegentaranku. Takutlah akan Tuhan, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan yang takut akan Dia. Marilah anak-anak, dengarkanlah aku, takut akan Tuhan akan kuajarkan kepadamu” (Mzm 34: 5.10.12). Takut akan Allah akan membimbing kita kepada kematangan iman, kebijaksanaan dan pengadilan yang benar dan akan membebaskan kita dari tirani dosa, kejahatan dan tipu muslihat setan.
“Tuhan Yesus, adalah kegembiraanku dan merasa terhormat menjadi murid-Mu. Berikanlah aku kekuatan dan keteguhan hati untuk bersaksi sekalipun harus menghadapi tantangan, kesulitan dan penderitaan di jalan pelayanan. Semoga aku tetap setia menjadi saksi kegembiraan Injil kepada sesamaku.” Amin.
Copyright@ 11 Juli 2009 by: P. Paskalis B. Keytimu, SVD

Jumat, Juli 10, 2009

228. Diutus Bagai Domba Ke Tengah Serigala

Jumad, 10 Juli 2009
Masa Biasa
Bacaan: Matius 10: 16-23
Injil hari ini merupakan lanjutan dari instruksi yang Yesus berikan kepada keduabelas murid-Nya ketika Ia hendak menguntus mereka untuk memaklumkan Kabar Gembira tentang Kerajaan Allah. Nilai-nilai dan tuntutan-tuntutan Kerajaan Allah sangat berbeda dengan nilai dan tuntutan dunia, karena itu, tak mengherankan kalau umat/masyarakat cenderung untuk menolak warta gembira itu dan menentang para utusan.
Penganiayaan merupakan suatu realitas harian dalam kehidupan orang-orang Kristen awal atau perdana, sebagaimana telah terjadi atas diri Yesus sendiri. Santu Stefanus, martir pertama Gereja misalnya, dirajam dengan dilempari batu hingga menyerahkan nyawanya ke tangan Bapa, justru ketika ia sedang berusaha menyampaikan warta tentang Yesus Kristus. Atau dari tradisi tercatat bahwa hampir semua rasul Yesus meninggal sebagai martir sebagai akibat dari kekerasan dan penganiayaan. Santu Petrus dan Santu Andreas meninggal karena disalibkan; ada yang dipenggal kepalanya, seperti Santu Paulus dan Santu Yakobus. Sementara itu, Santu Bartolomeus dikuliti hidup-hidup hingga wafat dan Santu Yohanes dibuang ke dalam ketel minyak panas. Dalam konteks inilah makna kata-kata Yesus sebagaimana ditawarkan Santu Matius untuk renungan kita hari ini: “Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala” (Mt 10: 16). Serigala (kekerasan dan penganiayaan) kelihatan mampu membunuh domba-domba yang cinta akan damai, tetapi percalah bahwa kebenaran dan keadilan pada akhirnya meraja sebagaimana telah dibuktikan oleh Yesus dalam hidup, kematian dan kebangkitan-Nya.
“Tuhan Yesus, bantulah aku untuk dengan penuh kesabaran dan dalam kegembiraan menerima kesulitan, kesengsaraan dan penganiayaan yang harus aku hadapi di jalan melayani Engkau. Kuatkanlah imanku dan anugerahkanlah kepadaku keberanian sehingga aku tidak tergoda untuk mengelak demi melakukan kehendak-Mu.” Amin.
Copyright@ 10 Juli 2009, by: P. Paskalis B. Keytimu, SVD

Kamis, Juli 09, 2009

Menerima Dengan Cuma-Cuma, Memberi Pun Tanpa Pamrih

Kamis, 09 Juli 2009
Pesta Santu Agustinus Zhao Rong Dan Kawan-Kawan: Para Martir Dari Cina
Masa Biasa
Bacaan: Matius 10: 7-15
Refleksi kita pada hari ini masih berkisar pada kisah panggilan para murid dan tugas perutusan yang mereka emban. Mereka dipanggil pertama-tama untuk ada bersama Yesus – artinya, siap untuk belajar daripada Sang Guru, dan menerima rahmat serta berkat-Nya. Dan ketika tiba saatnya, mereka pun diutus untuk menjadi saksi-saksi Yesus Kristus, – artinya mensyeringkan kembali apa yang telah mereka pelajari daripada-Nya dan menjadi tanda berkat dan rahmat bagi sesama.
Menerima agar dapat memberikan kembali – inilah gagasan yang sebetulnya ingin disoroti oleh Santu Matius penginjil. “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mt 10:8). Kedermawanan sang misionaris, pemberian diri sendiri, waktu, pelayanan dan segala sumber daya demi melayani Kerajaan Allah menjadi mungkin hanya ketika para murid menyadari sungguh bahwa segala yang ada pada diri mereka, apa yang mereka miliki, termasuk kehidupan itu sendiri, adalah hadiah gratis dari Allah. Hal ini pula diyakini oleh Santu Paulus ketika ia berkata: “Apakah yang engkau punyai, yang engkau tidak terima?” (1Kor 4:7).
Apa yang telah mereka terima dari Yesus harus diteruskan kepada sesama tanpa mengharapkan untuk menerimanya kembali, entah itu dalam bentuk hadiah ataupun bayaran. Para murid harus menunjukkan lewat sikap dan perilaku nyata bahwa minat mereka yang pertama dan terutama adalah melayani Allah, dan bukan untuk memperoleh keuntungan. Mereka harus melayani tanpa tipu muslihat, melainkan penuh dengan kedermawanan, kedamaian dan kesederhanaan. Mereka harus memberi prioritas utama pada pemakluman Kerajaan Allah dan bukan dialihkan oleh hal-hal lain yang kurang berguna. Mereka harus membawakan terang – menerima apa yang sungguh esensial dan melepaskan apa pun yang dapat menjadi penghalang untuk mewartakan Sabda Allah. Mereka harus melaksanakan tugas mereka, bukan demi apa yang akan mereka peroleh daripadanya, tetapi demi apa yang dapat mereka berikan kepada sesama dalam kebebasan.
Dalam pidato perutusan para murid, Yesus juga mengingatkan mereka bahwa “jika umat menolak kunjungan Allah dan menolak Sabda-Nya, hal itu akan mendatangkan pengadilan dan penghukuman atas diri mereka sendiri. Ketika Allah memberikan kita Sabda-Nya – serentak dengan itu ada suatu tanggung jawab besar untuk menanggapinya. Kita – atau berpihak kepada Allah atau menentang Allah – tergantung pada bagaimana sikap kita dalam menanggapi Sabda Allah. Allah memberikan kita Sabda-Nya agar kita memiliki hidup bahkan memilikinya dalam kelimpahan. Allah ingin berkarya dalam dan melalui masing-masing dari kita bagi kemuliaan-Nya. Ia berbagi Sabda-Nya dengan kita dan mengutus kita untuk berbicara tentang Sabda-Nya dengan berani dan kesahajaan kepada sesama. Apakah anda memberi kesaksian tentang kebenaran dan kegembiraan Injil lewat tutur kata dan contoh hidup kepada sesama di sekitar anda?
“Tuhan Yesus, semoga kegembiraan dan kebenaran Injil membarui hidupku sehingga aku boleh memberikan kesaksian tentangnya kepada orang-orang di sekitarku. Anugerahkan aku rahmat-Mu, sehingga menjadi semakin sanggup untuk menyebarluaskan kebenaran dan terang-Mu, ke mana pun aku pergi dan berada. Ya Roh Kudus, Bapa Kaum Miskin, bebaskanlah aku dari kerakusan dan keasyikan terhadap harta kekayaan dan ciptakanlah ruang yang luas dalam hidup dan karyaku bagi ketentuan Allah.” Amin.
Copyright@ 09 Juli 2009, by: P. Paskalis B. Keytimu, SVD

Selasa, Juli 07, 2009

Siap Menjadi Alat Di Tangan Tuhan

Rabu, 08 Juli 2009
Masa Biasa
Bacaan: Matius 10: 1-7
Kiranya anda sepakat kalau saya mengatakan bahwa inti warta Injil ialah “Kerajaan Allah sudah dekat.” Pewartaan Yesus tentang Kerajaan Allah selalu disertai dengan tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban. Dalam menjalankan karya misi-Nya di depan publik, Yesus tidak hanya menyembuhkan orang-orang dari penyakit-penyakit spiritual tetapi juga Ia memulihkan orang-orang dari penyakit-penyakit yang menderah tubuh. Sabda Yesus perihal “Kerajaan Allah sudah dekat”, selalu aktual dan relevan sepanjang masa – dahulu, kini dan akan datang. Kita tidak dapat membeli Kerajaan Allah, tetapi orang-orang yang tahu sungguh tentang cinta dan belas kasih Yesus, memilikinya dalam hati mereka. Percayakah anda akan kekuatan Kerajaan Allah?
Dalam Injil hari ini, Santu Matius berkisah perihal pemilihan keduabelas rasul oleh Yesus sekaligus pemberian kuasa dan mandat kepada para rasul untuk melanjutkan karya misi yang telah diemban oleh Kristus sendiri. Para murid ditugaskan untuk mewartakan Sabda Allah dan membawa kuasa penyembuhan kepada yang letih lesuh dan berbeban berat.
Bagiku ada sesuatu yang istimewah yang juga disoroti Santu Matius Penginjil dari kisah ini. Dan hal ini pula, bila anda tidak berkeberatan, baiklah kita renungkan bersama lebih lanjut. Tentu bukan suatu gagasan baru, tetapi ide ini punya daya, kekuatan untuk selalu mengingatkan kita bahwa rahmat dan karya agung Allah selalu menyertai dan memampukan orang-orang pilihan-Nya. Itulah yang terjadi dalam kehidupan dan kesaksian keduabelas murid Yesus. Keduabelasan yang dipilih Yesus itu adalah orang-orang yang sangat sederhana. Mereka bukanlah orang-orang yang profesional, juga tidak memiliki kompetensi dalam bidang ilmu tertentu. Besar kemungkinan bahwa mereka berasal dari kelompok orang-orang miskin, tak punya harta pun tak punya posisi dalam masyarakat. Mereka adalah warga masyarakat biasa yang sehari-hari hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan sederhana. Mereka tidak terlebih dahulu dididik dan dibina di suatu lembaga pendidikan khusus, barangkali juga kebanyakan dari mereka tidak berpendidikan. Tetapi Yesus justru memilih mereka dan memberikan kuasa serta kepercayaan untuk mewartakan Khabar Gembira Injil, datangnya Kerajaan Allah. Terlihat jelas di sini bahwa Yesus memilih mereka bukan berdasarkan pertimbangan mengenai latar belakang hidup mereka, melainkan karena Yesus melihat ada ruang di dalam hati mereka demi mempersilakan Allah dan mengizinkan Allah berkarya melalui diri mereka. Ada ruang di dalam hati dan pikiran mereka untuk membiarkan diri diisi dengan petunjuk-petunjuk dan kuasa Allah sendiri. Inilah satu-satunya kekuatan para murid.
Kalau pada saat ini, Allah memanggil anda untuk melayani Dia dan sesama, apa kiranya tanggapan dan jawaban anda? Hal yang perlu kita elakkan yakni “berpikir bahwa kita tidak punya sesuatu yang baik yang bisa kita tawarkan dan berikan. Pilihan sikap yang patut adalah percaya bahwa Allah tidak pernah keliruh dalam menentukan pilihan-Nya. Percaya bahwa anda dan saya memang orang-orang sederhana, tetapi telah dipercayakan dan akan disanggupkan untuk melakukan tugas-tugas mulia. Apakah anda percaya bahwa Allah ingin berkarya di dalam dan melalui diri anda bagi kemuliaan-Nya?
“Tuhan Yesus, Engkau telah memilih aku untuk menjadi murid-Mu. Ambil dan gunakan apa yang dapat aku tawarkan, walalupun itu mungkin kelihatan amat sederhana bahkan tidak sempurna, demi semakin memuliakan nama-Mu.” Amin.
Copyright@ 07 Juli 2009, by: P. Paskalis B. Keytimu, SVD

Senin, Juli 06, 2009

225. Yang Demikian, Belum Pernah Dilihat Orang Di Israel

Selasa, 07 Juli 2009
Masa Biasa
Bacaan: Matius 9: 32-38
Bantuan dan harapan apa yang dapat anda berikan kepada seseorang yang sedang dilanda pengalaman stress yang kronis? Atau, yang sedang menderita penyakit jiwa dan badan yang belum bisa bahkan tidak dapat disembuhkan? Kita mungkin akan menemukan jawaban-jawaban kita dengan bercermin pada apa yang dilakukan oleh Yesus sebagaimana dikisahkan dalam Injil hari pada hari.
Dalam hidup dan karya-Nya, Yesus sering berhubungan dengan orang-orang yang menderita penyakit-penyakit yang tidak dapat ditolerir oleh lingkungan; entah itu penyakit fisik, emosi, mental atau pun spiritual. Misalnya, seorang bisu yang kerasukan setan, sebagaimana dikisahkan penginjil Matius dalam Injil hari ini. Orang ini dibawa kepada Yesus oleh para sahabatnya dengan harapan agar Yesus dapat membebaskan dia dari penderitaannya. Ia tidak hanya kehilangan kemampuannya untuk berbicara, tetapi juga pikiran dan rohnya dikungkung tak berdaya oleh roh-roh jahat. Dan Yesus segera membebaskan orang itu dari kekuasaan setan yang telah menyiksanya siang dan malam dan memulihkan kesanggupannya untuk berbicara pada waktu yang sama. Mukjizat-mukjizat ini kemudian melahirkan kekaguman pada massa yang menyaksikannya: “Yang demikian, belum pernah dilihat orang di Israel” (Mat 9:33). Yesus menjawabi kebutuhan mereka dan memberikan iman dan harapan hidup baru kepada si bisu.
Tanggapan positip Yesus terhadap kebutuhan si bisu dengan sendirinya menumbuhkan keyakinan dalam diri kita bahwa kapanpun kita mendekatkan diri pada Yesus dengan iman yang berserah-pasrah, Ia pasti segera melakukan tindakan pembebasan dan penyelamatan. Yang dituntut dari pihak kita cumalah kesediaan untuk berpaling kepada-Nya; dan bukannya memikirkan tentang segala macam penyakit yang mendera kehidupan kita; entah itu penyakit tubuh dan jiwa; entah itu beban dosa dan kesalahan yang melumpuhkan atau pun penyiksaan oleh kuasa kegelapan dan ketakutan akan kejahatan yang tak terkendalikan.
Selain kekaguman massa manakala menyaksikan mukjizat-mukjizat yang dilakukan Yesus terhadap orang-orang yang mengakui imannya akan Allah, Santu Matius melukiskan pula cemoohan dari kaum Farisi. Bukankah kita pun sering berhadapan dengan reaksi yang sama dalam keseharian hidup kita? Bahkan terkadanag kita malah mungkin masuk dalam kategori orang-orang yang menaburkan benih fitnah dan cemoohan itu kepada sesama. Orang banyak menyaksikan dengan penuh kekaguman akan karya agung Allah yang dinyatakan Yesus, namun para pemimpin agama menganggapnya mukjizat itu dilakukan dengan kuasa pemimpin tertinggi para setan. Mereka tidak percaya karena mereka monolak untuk mengakui Yesus sebagai Mesias. Gagasan mereka tentang agama begitu sempit dan tertutup untuk menerima Yesus sebagai satu-satunya yang diutus oleh Bapa “untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara” (Yes 61:1 bdk Mat 11:5). Mereka terlampau terikat terhadap jalan pikiran mereka sendiri sehingga sulit pula untuk mengubahnya. Mereka juga begitu kaku dan keras terhadap hukum-hukum keagamaan sementara itu mengingkari kewajiban-kewajiban yang lebih penting yakni mencintai Allah dan sesama.
Kapanpun Injil dimaklumkan, Kerajaan Allah diwujudnyatakan secara konkrit dan hidup baru dan kebebasan diberikan kepada mereka menanggapi dengan iman. Tuhan menganugerahkan kebebasan kepada semua orang yang berpaling kepada-Nya dengan kepercayaan. Apakah anda membawa kesulitan dan penderitaanmu kepada Tuhan dengan kepasrahan iman dan harapan kokoh bahwa Ia akan membebaskan anda? Tuhan mengundang kita untuk berdoa agar karya pewartaan Injil boleh disebarluaskan ke seluruh dunia, sehingga semua orang boleh menemukan kegembiraan yang sejati dan kebebasan di dalam Yesus Kristus. Bersediahkan anda untuk menjadi duta kasih Yesus kepada sesama?
“Tuhan Yesus, semoga Kerajaan-Mu menjumpai semua orang yang tertekan dan berada dalam kegelapan. Isilah hatiku dengan perasaan belaskasih terhadap orang-orang yang menderita secara mental dan fisik. Gunakanlah aku untuk membawa Khabar Gembira tentang rahmat penyelamatan dan belaskasih-Mu kepada sesama di sekitarku yang sungguh-sungguh membutuhkan cinta penyembuhan dan pengampunan.” Amin.
Copyright@ 06 Juli 2009, by: P. Paskalis B. Keytimu, SVD

Minggu, Juli 05, 2009

224. Teguhkanlah Hatimu, Imanmu Telah Menyelamatkan Engkau

Senin, 06 Juli 2009
Pesta Santa Maria Goreti - Prawan dan Martir
Masa Biasa
Bacaan: Matius 9: 18-26
Seringkali ketika hidup lagi ditimbuni berlapis masalah dalam aneka wujud, kita hanya sanggup mengekspresikannya dalam nada dan warna yang sangat suram. Diam dan terpekur tak berdaya, misalnya. Atau, meratap seperti sedang berada di tepi jurang yang curam atau juga seakan lagi berada di lembah yang tak beralas. Singkatnya, kita menghadapinya, seolah-olah tubuh ini cuma dibalut oleh daging, sehingga kemampuannya hanya tergeletak di tanah. Kisah Injil hari ini kiranya membangkitkan kembali kelumpuhan kita untuk bisa berdiri sekalipun tengah dihimpit oleh pelbagai problema dan kesulitan. Santu Matius menunjukkan jalan yang pertama dan utama yang mesti ditempuh oleh orang-orang beriman. Ditandaskannya bahwa orang yang tengah dilanda putus asa atau ketidakberdayaan tidak akan menuai kekecewaan manakala mereka mendekati Yesus dengan iman yang membaja dan berseru kepada-Nya dengan harapan yang kokoh.
Santu Matius mengungkapkan dengan jelas bahwa Yesus memberikan harapan yang melampaui harapan dan yang dipikirkan oleh manusia. Pertama, Yesus memberikan harapan kokoh kepada seorang kepala Sinagoga yang telah kehilangan putrinya yang tercinta. Keputusannya yang berani dan penuh resiko sebagai seorang kepala rumah ibadah karena secara terang-terangan mendatangi Yesus bahkan mengundang-Nya meskipun mendapat tantangan bahkan cemoohan dari para tetangga dan sanak famili, langsung ditanggapi Yesus secara positif. Yesus memegang tangan putri cilik itu dan membebaskan dia dari cengkeraman kematian. Petrus Krisologus, seorang bapa Gereja pada abad ke-5 lebih lanjut memberi komentar atas mukjizat ini sebagai berikut. “Orang ini adalah seorang kepala Sinagoga, dan sungguh memahami tuntutan hukum yang berlaku. Ia tentu saja membaca bahwa Allah telah menciptakan segala sesuatu melalui Sabda-Nya; manusia itu (Adam) telah diciptakan Allah melalui tangan-Nya sendiri. Karena itu, ia percaya bahwa dalam Allah, putrinya akan diciptakan kembali, dan dibaharui kepada kehidupan lewat tangan yang telah menciptakannya. Ia yang telah meletakkan tangan-Nya untuk menciptakan putrinya dari ketiadaan, akan meletakkan kembali tangan-Nya atasnya untuk membentuknya kembali dari apa yang telah membinasakannya.”
Juga kepada seorang perempuan yang sudah bertahun-tahun menderita sakit, Yesus mengungkapkan Sabda pengharapan yang menyalakan bunga-bunga api iman dalam dirinya: “Teguhkanlah hatimu, hai, anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Mrk 5:34). Seorang Bapa Gereja pada abad ke-4, Efrem dari Siria memberi komentar atas mukjizat ini lewat kata-kata: “Terpujilah Engkau, Putra Allah, karena kekuasaan-Mu yang menyembuhkan dimaklumkan melalui perbuatan ajaib yang Engkau nyatakan kepada wanita yang tak berdaya itu.” Melalui wanita yang disembuhkan itu, para saksi mata dimampukan untuk melihat Keallahan Kristus. Lewat kuasa penyembuhan Putra Allah, Keallahan-Nya dikenali. Lewat penyembuhan wanita itu dari penyakitnya, imannya dimungkinkan untuk terjelma nyata. Melalui kedua peristiwa ini kita melihat kepedulian personal Yesus terhadap kebutuhan orang-orang lain dan kesiap-sediaan-Nya untuk menyembuhkan dan membaharui kehidupan. Dalam Yesus kita melihat cinta Allah yang tak terhingga menjangkau setiap orang dan masing-masing pribadi, seperti Ia memberikan diri-Nya dengan bebas dan utuh kepada setiap orang yang Ia jumpai. Apakah anda mendekati Tuhan dengan iman yang kokoh berbalut pengharapan yang total sehingga Ia akan mendengarkan dan bertindak?
“Tuhan, Engkau mencintai masing-masing individu dengan cinta yang unik dan personal. Sentuhlah kehidupanku dengan kuasa-Mu yang menyelamatkan; sembuhkanlah dan baharuilah aku kepada kepenuhan hidup. Santa Maria Goreti, doakanlah aku kepada Allah melalui Putra-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus, agar aku pun disanggupkan untuk selalu bersedia untuk memberikan diriku secara total dalam cinta pelayanan kepada Allah dan sesama sebagaimana dahulu engkau berani menumpahkan darahmu dan mempersembahkan hidupmu demi mempertahankan kesucian dirimu, dan mempersembahkannya bagi kemuliaan Allah.” Amin.
Copyright@ 5 Juli 2009, by: P. Paskalis B. Keytimu, SVD