Sabtu, Juni 05, 2010

251. HIDUP YANG TERCURAH DALAM TUBUH DAN DARAH

Minggu, 06 Juni 2010 Bacaan : 1 Kor 11, 23 - 26 dan Luk 9, 11-17
Kita rayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, sebuah perayaan yang mengingatkan kita akan perayaan pusat kehidupan Kristiani yakni Ekaristi. Merefleksikannya dengan tenang, kita sebenarnya merasa terhibur dan gembira. Mengapa ada alasan untuk terhibur dan bergembira? Saya meyakini satu alasan simple berikut ini, 'pesta ini menyadarkan kita untuk menghargai dan mengusahakan hidup dalam artinya yang sebenar-benarnya'. Santu Paulus dalam bacaan yang diperdengarkan kepada kita pada Hari Minggu ini mengingatkan kita tentang peristiwa yang terjadi pada saat Yesus mengadakan Ekaristi sebagai perayaan syukur dan perayaan korbanNya kepada BapakNya. "Inilah TubuhKu .... Inilah DarahKu yang diserahkan bagimu. Setiap kali kami mengingatnya, kami mengenangkan Aku sampai Aku datang kembali." Kata-kata yang tak asing bagi semua yang menyebut diri mereka Kristen, karena kata-kata ini menjadi kata kunci dalam setiap perayaan Ekaristi. Mengapa Tubuh dan Darahlah yang digunakan untuk mengingat Tuhan Yesus? Untuk semua makhluk hidup, Tubuh selalu dipakai untuk menunjukkan kehidupan. Untuk meneruskan dan melahirkan kehidupan diperlukan tubuh. Lewat tubuh manusia bersatu secara jasmani sebagai tanda pengungkapan cinta mereka. Pemberian diri dalam ekspresi persatuan dua tubuh manusia, bukan saja menyatakan kerinduan akan persatuan yang memberikan kepuasan sesaat, tetapi lebih dari itu adalah proses untuk saling mengenal untuk memberikan yang terbaik dan paling maksimal dalam pertemuan itu. Maka persatuan tubuh yang dalam bahasa hukumnya 'consumatum' itu menjadi langkah penyempurnaan sakramen Perkawinan, dan menjadikan perjanjian nikah sesuatu yang sah. Begitupun ... darah yang dihasilkan dalam persekutuan itu melahirkan kehidupan. Persis inilah yang mendasari hidup. Tubuh dan Darah adalah lambang hidup dan karena itu menjadi pemberian diri Yesus yang memberikan hidupNya bagi orang yang dikasihiNya. Ketika kita merayakannya, kita sesungguhnya diminta untuk selalu bersyukur atas pemberian diri kita, dan pemberian diri orang lain kepada kita. Tanpa itu kita tidak menghargai hidup dan tidak memperhjuangkan hidup. Kiranya Pesta Tubuh dan Darah Tuhan yang dirayakan hari ini memberanikan kita untuk mengusahakan hidup sejati dan hidup di dunia ini dengan cara memberikan tubuh dan darah kita untuk kehidupan orang-orang di sekitar kita. Amin
Copyright @ Ende, 05 Juni 2010 By Anselmus Meo SVD

Selasa, Juni 01, 2010

AKU PERCAYA AKAN KEBANGKITAN

Selasa, 2 Juni 2010 Bacaan : Markus 12, 18-27
Ungkapan yang saya pakai sebagai judul renungan ini kita kenal sebagai salah satu rumusan dalam Credo atau Aku percaya, yang secara lengkapnya berbunyi, "Aku percaya akan Roh Kudus, Gereja katolik yang kudus, persekutuan para kudus, kebangkitan badan, kehidupan kekal. Amin"
Injil yang menjadi bacaan liturgi pada hari ini mengarahkan perhatian kita kepada persoalan kebangkitan orang mati, yang sungguh menjadi penghalang dalam relasi Yesus dengan kaum Saduki. Kelompok terakhir ini tak percaya akan kebangkitan, karena itu mereka bertanya kepada Yesus dan memaparkan sebuah contoh yang sesungguhnya hanya menambah anggapan bahwa pikiran mereka hanya sebatas persoalan badan dan kebutuhannya. Yang dilupakan oleh kelompok ini ialah kenyataan bahwa Yesus dalam karyaNya telah melakukan banyak perbuatan besar yang memulihkan keutuhan manusia sebagai makhluk berbadan dan berjiwa. Bukankah ada begitu banyak orang sakit yang fisiknya tak utuh dipulihkan Yesus. Bukankah Ia memberikan kembali keindahan dan kesehatan kepada tubuh manusia yang digerogoti berbagai penyakit dan kelemahan? Bukankah dengan itu Dia juga berkuasa memulihkan keutuhan jiwa manusia? Jadi mendasar sekali apa yang ditegaskan Yesus kepada mereka, bahwa dalam kehidupan baru tak ada lagi soal kawin dan dikawinkan, tetapi keutuhan manusia seluruhnyalah yang dipulihkan. Manusia akan menjadi seperti Allah, sebagaimana intensi penciptaannya oleh Allah, ketika Allah mengatakan, "Marilah kita menjadikan manusia menurut rupa dan citra Kita." Allah selalu konsekwen dengan kehendak dan maksudNya. Ia menciptakan manusia seperti gambaranNya sendiri. Tetapi ketika manusia berdosa, Ia tetap memberikan kesempatan untuk memulihkannya. "Manusia baru akan hidup seperti malaikat Allah, yang memandang wajah Allah siang dan malam". Itulah jiwa yang hidup sempurna di hadapan Allah. Sabda Tuhan dan ungkapan iman kita AKU PERCAYA AKAN KEBANGKITAN sesungguhnya mengajak kita untuk secara positip melihat maksud dan kehendak Allah bagi kita. Bahwa kita dimaksudkanNya untuk keselamatan. Mari kita bekerja untuk memenuhi maksud Allah itu, mengarahkan diri kita kepada keselamatan sejak kita masih di dunia. Tuhan, Kami Kauciptakan untuk keselamatan kekal. Semoga dalam hidup dunia ini kami tak tenggelam dalam karya yang hanya memperhatikan kemakmuran badan yang dapat binasa, tetapi mengusahakan keseimbangan keduanya, kesejahteraan badan dan keselamatan jiwa. Amin.
Copyright © 02 Juni 2010, by Anselm Meo, SVD