Minggu, Oktober 26, 2008

04. Mesti Diarahkan untuk Menolong Sesama

Senin, 27 Oktober 2008
Bacaan : Lk13,10 - 17
Suatu peristiwa kecil terjadi pada saya beberapa tahun lalu. Melihat saya sering membantu para mahasiswa yang kesulitan uang sekolah, seorang sahabat baik saya memperingat saya demikian, “Bantuanmu bisa menimbulkan kecemburuan sosial di kalangan para mahasiswa. Bagaimana engkau membantu mereka-mereka ini, sementara ada begitu banyak orang yang butuhkan bantuan yang sama, tetapi tak engkau bantu?”
Saya senyum-senyum sendiri. Dengan enteng saya bilang, “Kalau tunggu saya bisa bantu mereka semua, pasti tak akan ada seorangpun yang akan terbantu. Apalagi pastor miskin macam saya. Biarlah yang lain membantu mereka, saya urus mereka yang datang sekarang ini.”
Satu episode yang berbicara dengan cara yang lain, tetapi bisa dihubungkan dengan yang terjadi dalam Injil hari ini. Pemikiran kepala sinagoga berbicara juga tentang pemikiran umum dalam masyarakat, seperti yang disampaikan sahabat saya tadi. Sementara Yesus tidak pikir panjang, Ia bertindak dengan segera. Ia tak pikir tentang prosedur, tetapi langsung menangani wanita yang telah kerasukan selama 18 tahun. “Hai ibu, penyakitmu telah sembuh,” kataNya ketika melihat wanita itu di dalam rumah ibadat.
Secara manusiawi, kepala sinagoga itu mungkin berpikir sederhana begini, “Wanita ini bisa menderita dan tunggu selama delapanbelas tahun dengan sakitnya, tetapi kenapa tak bisa tunggu sehari saja supaya tidak langgar aturan Sabat, untuk datang meminta Yesus menyembuhkan dia.” Satu mentalitas klasik, umum ditemukan dalam masyarakat kita. Makanya begitu terjadi seseorang segera bertindak menanggapi keadaan, mudah orang menyalahkannya, sebagai tak taat prosedur, tak taat aturan.
Tapi bagaimana dengan Yesus? Dalam peristiwa Injil hari ini Yesus menunjukkan kepada kita bahwa pelayanan dan ibadah kita kepada Allah tidak ada artinya sedikitpun, kalau tak dihubungkan dengan pelayanan kepada sesama. Pelayanan dan ibadah serta doa kita mesti bermuara juga kepada usaha untuk membantu sesama. Dan menolong dengan segera tanpa berlambat-lambat, sehingga masalah yang didepan mata bisa segera diatasi.
Hal lainnya yang juga diwartakan di sini adalah pandangan tentang manusia. Manusia, saudara-saudari itu jauh lebih penting daripada aturan. Kalau kita bilang kita ini citra Allah, maka kita juga hendaknya menjadi cerminan Allah dalam hal menolong saudara-saudari kita, yang tentu juga menjadi buah nyata dari ibadat dan doa kita.
Tuhan, Pembebas sejati. Engkau langsung membebaskan wanita yang sakit itu dari penderitaan panjangnya. Bebaskanlah kiranya kami dari mentalitas Yang sering mempersulit cara untuk membantu sesama kami Yang sangat membutuhkan uluran tangan kami.
Amin
Copyright © 27 Oktober 2008, by Anselm Meo, SVD

Tidak ada komentar: