Kamis, Juni 24, 2010

MENURUTMU, SIAPAKAH AKU INI?

HARI MINGGU BIASA XII
20 Juni 2010
Bacaan: Zak 12: 10-11; Gal 3: 26-29; Luk 9: 18-24
Tetapi apa katamu, siapakah AKU ini? Itulah pertanyaan yang ditujukan Yesus kepada para murid-Nya sebagaimana diungkapkan oleh Santo Lukas dalam Injil yang baru kita dengar.
Pertanyaan Yesus tadi, paliing kurang untuk kesempatan ini menghadirkan dua tanggapan. Pertama, membersitkan satu hal, krisis identitas Yesus, keraguan-Nya atas jati diri serta misi hidup-Nya. Yesus membutuhkan peneguhan dari para murid-Nya. Sesudah Petrus memberikan jawaban, “Engkaulah Mesias dari Allah”, sesudah Yesus memperoleh peneguhan itu, Dia lalu menegaskan bahwa Mesias harus menanggung banyak penderitaan. Kedua, (dan inilah yang menjadi pokok atau fokus dalam renungan kita), ialah pertanyaan Yesus itu sesunguhnya merupakan satu test bagi pemahaman dan penghayatan para murid tentang siapakah Yesus itu. Para murid harus menjawab pertanyaan tersebut bukan berdasarkan perkataan, atau tanggapan, atau pendapat orang lain, melainkan harus berlandaskan pemahaman dan penghayatan mereka sendiri.
Kalau dalam zaman sekarang, dapat dikatakan bahwa Yesus tidak membutuhkan suatu jawaban, misalnya berdasarkan pengetahuan akademik, buku, ajaran agama ataupun teologi; melainkan bersumber pada pemahaman dan penghayatan pribadi dalam integritasnya dengan seluruh pengalaman hidup seseorang dan bagaimana mengimplementasikan pemahaman dan penghayatan itu dalam kompleksitas hidup keseharian.
Adalah Petrus yang memberikan jawaban yang jitu dan tuntas. Jitu, karena tepat sasaran. Tuntas, karena menyentuh dan merangkul hakekat diri Yesus sebagai Mesias dari Allah yang harus menanggung banyak penderitaan demi keselamatan banyak orang. Jawaban itu atau pengakuan tersebut menjiwai seluruh sepak terjang perjalanan hidup Petrus, sekalipun pribadi Petrus penuh dengan kontradiksi. Seperti pada malam kelemahannya yang paling besar, dia menyangkal Gurunya. “Aku tidak tahu, apa yang engkau katakan. Aku tidak mengenal orang itu.” Begitu kata Petrus menjawab pertanyaan para penanyanya. Jawaban itu lahir dari rasa stres dan kebingungan, karena menurut pemikiran Petrus, Yesus tidak perlu menderita, Yesus tidak boleh menderita. Karena cintanya yang begitu besar kepada Yesus, dia tidak mau agar Yesus menderita.
Penyangkalan itu tidak menghancurkan cinta, kesetiaan dan imannya kepada sang Guru. Penyangkalan itu, malah melahirkan penyesalan dan penyesalan tersebut membuat Petrus lebih dalam mencintai Yesus, lebih setia menjadi rasul-Nya, utuh, kuat dan tergoyahkan imannya kepada Yesus. Semuanya itu Petrus buktikan dengan cara dia menjalani kematiannya: disalibkan dengan kepala ke bawah di Roma pada tanggal 29 Juni sekitar abad pertama. Dan apa yang terjadi pada Petrus, terjadi juga pada para rasul yang lain dalam sepak terjang mereka yang berbeda, namun bermura pada satu kesetiaan dan pengabdian, Yesus Kristus, Mesias dari Allah.
Tetapi, apa katamu, Siapakah Aku Ini? Banyak orang memberikan jawaban yang berbeda dan konsisten dengan jawabannya, bahkan sampai akhir hidup mereka. Pater Damian memberikan jawaban dengan teladan hidupnya yang konkrit. Ia hidup dan selalu berada bersama para penderita penyakit kusta di Molokai, sebuah pulau di gugusan kepulauan Hawai, dan mati di sana. Muder Teressa, yang mengabdikan seluruh hidup dan cintanya kepada mereka yang terhempas, tercampak, terlantar, terbuang, yang terbelenggu oleh kemiskinan, penyakit dan aneka penderitaan lahir bathin di Calcuta, India. Uskup Agung San Salvador, Mgr. Oscar Arnulfo Romero yang berani secara frontal menantang rezim militer yang berkuasa di El Savador, membela umatnya yang menderita penindasan dan kekerasan. Dan adalah tidak berlebihan bila kita sebut juga Mgr. Dom Carlos Filipe Ximenes Belo, mantan Uskup Dili, Timor Leste, yang berani keluar dari rumah “keong ketakutannya”, tidak terbungkuk-bungkuk di bawah rezim yang berkuasa dan mengumandangkan suara kenabiannya, membebaskan rakyat Timor Leste yang adalah umatnya sendiri, dari ketidakadilan, penindasan dan kekerasan. Dan masih ada banyak contoh yang lain tentunya.
Pertanyaan Yesus tersebut di atas ditujukan juga kepada kita pada hari ini. “Tetapi, apa katamu, Siapakah Aku ini?” Bagaimana jawaban kita?
Kita semua tentu tahu bagaimana persisnya buah jambu air. Bila kita memperhatikan dengan cermat, kita akan menyadari bahwa bentuknya bagus, warnanya hijau kekuning-kuningan, kulitnya halus, mulus dan licin serta putih bersih isinya. Namun .... dan ini yang penting, TAWAR RASANYA.
Semoga hati kita tidak tawar terhadap situasi dan kondisi di sekitar kita dalam mengimplementasikan jawaban kita terhadap pertanyaan Yesus tersebut di atas: Menurut Kamu, Siapakah Aku ini? Amin.
Copyright @ 19 Juni 2010, by: P. P. Berkhmans Keytimu, SVD

Sabtu, Juni 05, 2010

251. HIDUP YANG TERCURAH DALAM TUBUH DAN DARAH

Minggu, 06 Juni 2010 Bacaan : 1 Kor 11, 23 - 26 dan Luk 9, 11-17
Kita rayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, sebuah perayaan yang mengingatkan kita akan perayaan pusat kehidupan Kristiani yakni Ekaristi. Merefleksikannya dengan tenang, kita sebenarnya merasa terhibur dan gembira. Mengapa ada alasan untuk terhibur dan bergembira? Saya meyakini satu alasan simple berikut ini, 'pesta ini menyadarkan kita untuk menghargai dan mengusahakan hidup dalam artinya yang sebenar-benarnya'. Santu Paulus dalam bacaan yang diperdengarkan kepada kita pada Hari Minggu ini mengingatkan kita tentang peristiwa yang terjadi pada saat Yesus mengadakan Ekaristi sebagai perayaan syukur dan perayaan korbanNya kepada BapakNya. "Inilah TubuhKu .... Inilah DarahKu yang diserahkan bagimu. Setiap kali kami mengingatnya, kami mengenangkan Aku sampai Aku datang kembali." Kata-kata yang tak asing bagi semua yang menyebut diri mereka Kristen, karena kata-kata ini menjadi kata kunci dalam setiap perayaan Ekaristi. Mengapa Tubuh dan Darahlah yang digunakan untuk mengingat Tuhan Yesus? Untuk semua makhluk hidup, Tubuh selalu dipakai untuk menunjukkan kehidupan. Untuk meneruskan dan melahirkan kehidupan diperlukan tubuh. Lewat tubuh manusia bersatu secara jasmani sebagai tanda pengungkapan cinta mereka. Pemberian diri dalam ekspresi persatuan dua tubuh manusia, bukan saja menyatakan kerinduan akan persatuan yang memberikan kepuasan sesaat, tetapi lebih dari itu adalah proses untuk saling mengenal untuk memberikan yang terbaik dan paling maksimal dalam pertemuan itu. Maka persatuan tubuh yang dalam bahasa hukumnya 'consumatum' itu menjadi langkah penyempurnaan sakramen Perkawinan, dan menjadikan perjanjian nikah sesuatu yang sah. Begitupun ... darah yang dihasilkan dalam persekutuan itu melahirkan kehidupan. Persis inilah yang mendasari hidup. Tubuh dan Darah adalah lambang hidup dan karena itu menjadi pemberian diri Yesus yang memberikan hidupNya bagi orang yang dikasihiNya. Ketika kita merayakannya, kita sesungguhnya diminta untuk selalu bersyukur atas pemberian diri kita, dan pemberian diri orang lain kepada kita. Tanpa itu kita tidak menghargai hidup dan tidak memperhjuangkan hidup. Kiranya Pesta Tubuh dan Darah Tuhan yang dirayakan hari ini memberanikan kita untuk mengusahakan hidup sejati dan hidup di dunia ini dengan cara memberikan tubuh dan darah kita untuk kehidupan orang-orang di sekitar kita. Amin
Copyright @ Ende, 05 Juni 2010 By Anselmus Meo SVD

Selasa, Juni 01, 2010

AKU PERCAYA AKAN KEBANGKITAN

Selasa, 2 Juni 2010 Bacaan : Markus 12, 18-27
Ungkapan yang saya pakai sebagai judul renungan ini kita kenal sebagai salah satu rumusan dalam Credo atau Aku percaya, yang secara lengkapnya berbunyi, "Aku percaya akan Roh Kudus, Gereja katolik yang kudus, persekutuan para kudus, kebangkitan badan, kehidupan kekal. Amin"
Injil yang menjadi bacaan liturgi pada hari ini mengarahkan perhatian kita kepada persoalan kebangkitan orang mati, yang sungguh menjadi penghalang dalam relasi Yesus dengan kaum Saduki. Kelompok terakhir ini tak percaya akan kebangkitan, karena itu mereka bertanya kepada Yesus dan memaparkan sebuah contoh yang sesungguhnya hanya menambah anggapan bahwa pikiran mereka hanya sebatas persoalan badan dan kebutuhannya. Yang dilupakan oleh kelompok ini ialah kenyataan bahwa Yesus dalam karyaNya telah melakukan banyak perbuatan besar yang memulihkan keutuhan manusia sebagai makhluk berbadan dan berjiwa. Bukankah ada begitu banyak orang sakit yang fisiknya tak utuh dipulihkan Yesus. Bukankah Ia memberikan kembali keindahan dan kesehatan kepada tubuh manusia yang digerogoti berbagai penyakit dan kelemahan? Bukankah dengan itu Dia juga berkuasa memulihkan keutuhan jiwa manusia? Jadi mendasar sekali apa yang ditegaskan Yesus kepada mereka, bahwa dalam kehidupan baru tak ada lagi soal kawin dan dikawinkan, tetapi keutuhan manusia seluruhnyalah yang dipulihkan. Manusia akan menjadi seperti Allah, sebagaimana intensi penciptaannya oleh Allah, ketika Allah mengatakan, "Marilah kita menjadikan manusia menurut rupa dan citra Kita." Allah selalu konsekwen dengan kehendak dan maksudNya. Ia menciptakan manusia seperti gambaranNya sendiri. Tetapi ketika manusia berdosa, Ia tetap memberikan kesempatan untuk memulihkannya. "Manusia baru akan hidup seperti malaikat Allah, yang memandang wajah Allah siang dan malam". Itulah jiwa yang hidup sempurna di hadapan Allah. Sabda Tuhan dan ungkapan iman kita AKU PERCAYA AKAN KEBANGKITAN sesungguhnya mengajak kita untuk secara positip melihat maksud dan kehendak Allah bagi kita. Bahwa kita dimaksudkanNya untuk keselamatan. Mari kita bekerja untuk memenuhi maksud Allah itu, mengarahkan diri kita kepada keselamatan sejak kita masih di dunia. Tuhan, Kami Kauciptakan untuk keselamatan kekal. Semoga dalam hidup dunia ini kami tak tenggelam dalam karya yang hanya memperhatikan kemakmuran badan yang dapat binasa, tetapi mengusahakan keseimbangan keduanya, kesejahteraan badan dan keselamatan jiwa. Amin.
Copyright © 02 Juni 2010, by Anselm Meo, SVD

Kamis, November 05, 2009

14. Paulus yang Rendah Hati

Sabtu, 7 Nopember 2009
Bacaan : Rom 16, 3-9.16.22-27
Membaca bacaan dari surat Paulus kepada orang di Roma, langsung terasa betapa sapaan yang dialamatkan kepada orang-orang yang disebutkan dengan nama adalah sapaan yang akrab penuh rasa kekeluargaan. Dan memang demikianlah yang tersurat. Yang langsung saya dan anda pikirkan tentu sebuah pertanyaan, bagaimana mungkin Paulus yang adalah seorang ahli Kitab Suci menjadi begitu rendah hati dan mengakui betapa banyak orang yang berperan dalam karya pewartaannya.
Paulus menghargai secara detail setiap sumbangan orang-orang ini dalam karyanya. Dan hal ini hanya terjadi karena Paulus merasa dirinya ditransformasikan sepenuhnya oleh Kristus. Kristuslah yang telah menyediakan baginya banyak orang, yang dalam pewartaan khabar gembira telah menjadi rekan sekerja, yang mempertaruhkan hidup dan nyawa bagi kelangsungan pewartaan khabar gembira. Itulah sebabnya dalam Paulus muncul kegembiraan yang sangat besar karena orang-orang yang dikarunikan Tuhan kepadanya. Paulus, seorang rasul yang agung, secara rendah hati mengakui betapa saudara-saudarinya seiman adalah anugerah Tuhan baginya dalam pelayanannya.
Bagi kita penghayatan Paulus ini adalah sebuah undangan untuk tak pernah mengabaikan setiap uluran tangan, setiap bentuk campurtangan dan derita dalam kaitan dengan pewartaan khabar gembira. Keberhasilan apapun yang kita raih sesungguhnya adalah sebuah karya bersama dengan tuntunan Roh ALlah yang menggerakkan begitu banyak hati dan kehendak untuk mengambil bahagian.
Kiranya kita semua seperti Paulus masih mampu mengapresiasi keterlibatan rekan kerja dalam pelayanan kita. Dan tak lupa mendoakan mereka. Amin.
Copyright © 06 November 2009, by Anselm Meo, SVD

13. Bermegah tentang Pelayanan Dalam Kristus

Jumat, 6 Nopember 2009
Bacaan : Rom 15, 14-21
Seperti orang kebanyakan yang sangat menikmati pekerjaannya, Paulus dalam bacaan hari ini merilis alasan mengapa ia menuliskan surat-suratnya kepada umat di Roma. Tak ada nada angkuh karena kelebihannya, tetapi sebagai seorang pengajar yang berwibawa, ia tak lupa juga memuji kemajuan umat yang dibimbingnya.
Tulisnya hari ini, "aku memang yakin tentang kamu, bahwa kamu juga telah penuh dengan kebaikan, dan dengan segala pengetahuan dan sanggup saling menasihati..." Dan ia masih melanjutkan, "namun, karena kasih karunia Allah yang dianugerahkan kepadaku, .... aku boleh bermegah tentang pelayananku dalam Kristus."
Kita tentu bertanya, kenapa Paulus begitu bangga dengan tugasnya? Dalam kaitan dengan pewartaan Sabda Allah dan penyebaran iman akan Kristus, Paulus melihat bahwa ia menjalankan tugasnya untuk mereka yang tak pernah mendengarkan tentang Dia, mereka yang tak pernah melihat Dia, agar oleh pemberitaan itu, mereka akan mengerti maksud Allah.
Sebuah tugas perutusan yang masih relevan dewasa ini juga. Dan saya bersama anda melalui tugas khusus di medan apapun punya tantangan yang sama untuk melanjutkan perutusan Paulus yang diterimanya dari Tuhan. Dan tugas itu tak lain adalah melayani dalam semangat pelayanan Kristus, menasihati dan meneguhkan orang yang membutuhkan, seraya berdoa agar Tuhan menyapa dan menyentuh mereka untuk mencintai perintahNya sendiri.
Tuhan, semoga kami juga karena ketekunan dalam pelayanan di berbagai bidang karya kami, boleh juga membawa banyak orang akan pengenalan akan kebijaksanaanMu. Amin.
Copyright © 05 November 2009, by Anselm Meo, SVD

12. Hidup dan Mati Untuk Tuhan

Kamis, 5 Nopember 2009
Bacaan : Rom 14, 7-12
Saya cukup yakin dengan pandangan ini, bahwa sejahat-jahatnya orang, di hati kecilnya pasti ada seberkas kebaikan untuk orang lain. Mengapa? Karena manusia dari mulanya memang punya orientasi untuk mencari yang lain di luar dirinya, ia memiliki kecendrungan dasar juga untuk melindungi yang lain di luar dirinya.
Santu Paulus hari ini mengemukakan kebenaran dari apa yang saya sebutkan di atas dengan kata-kata berikut ini, "Tak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan". Paulus yakin bahwa jika hidup manusia itu pada hakekatnya terorientasikan kepada Allah, maka pasti ada selalu ada kebaikan yang ditemukan dalam kehidupan manusia.
Sungguh sebuah ajakan yang membesarkan hati kita. Bahwa jika Allah itu adalah tujuan kehidupan kita, dan asal keberadaan kita, maka kita memiliki tugas untuk menghendaki kebaikan bagi orang lain.
Tuhan, semoga kami hidup untuk membawa semakin banyak kebaikan bagi sesama, karena kami hidup untuk engkau. AMIN.
Copyright© 05 November 2009, by Anselm Meo, SVD

11. Kasihlah yang Menyempurnakan Hukum dan Peraturan

Rabu, 4 Nopember 2009
Bacaan : Rom 13, 8 - 10
Berbicara tentang peraturan dan hukum serta berbagai norma yang ada, orang biasanya melihatnya secara lebih proporsional dengan mengatakan bahwa aturan tanpa kasih itu tak berarti. Jiwa dari peraturan haruslah ditemukan dalam kenyataan bahwa mereka yang melaksanakannya menemukan keadilan, kegembiraan, dan kepuasan.
Yesus dalam Kitab Suci berulangkali juga mengatakan bahwa hukum tanpa kasih tak ada gunanya, dan bahwa inti dari hukum Taurat sebenarnya terdapat dalam perintah mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.
Ajaran Yesus ini kembali diperdengarkan Paulus dalam suratnya kepada orang Roma hari ini. Katanya, "Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat."
Hemat Paulus, hutang kasih tak menjadi persoalan bagi orang yang beriman. Orang yang berhutang kasih akan membawa serta dalam hidupnya kesadaran untuk membalas kasih yang sama yang telah diterimanya dengan berbuat kasih kepada orang lain. Hal itu bisa kita temukan secara sangat natural dan alamiah dalam hidup manusia. Anak yang tahu berterima kasih kepada orangtua yang mengasihi dia tanpa pamrih akan membalasnya dengan hidup yang baik. Murid yang tahu membalas kasih sayang dan ajaran para gurunya, akan menghidupkannya di dalam pelaksanaan tugas profesi setelah masa sekolahnya.
Pewartaan sabda Tuhan hari ini meminta kita sekali lagi untuk menghidupkan ajaran kasih Tuhan dengan gembira. Hanya dengan demikianlah kita akan mampu menghidupkan peraturan dan norma bukan sebagai sesuatu yang membebankan tetapi membebaskan kita semua. Tuhan, seperti Engkau Paulus mengingatkan kami tentang jiwa peraturan dan hukum yakni kasih. Kiranya kami mengasihi tanpa pamrih. Hanya dengan demikianlah kami semua dikenal sebagai murid-muridMu. AMIN.
Copyright© 03 November 2009, by Anselm Meo, SVD

10. Melayani dengan Syukur Berdasarkan Talenta yang Diterima

Selasa, 3 Nopember 2009
Bacaan : Rom 12, 5-16
Menyimak judul sederhana di atas, kita mungkin akan mengatakan, "Ah itu cuma slogan doang! Mana masih ada yang mau melayani dengan penuh syukur di jaman sekarang? Apalagi ketika persoalan nafkah dan pendapatan menjadi keharusan yang tak ditawar-menawar."
Mungkin saja orang anggap slogan, namun pengalaman perjumpaan saya sebagai pastor dengan banyak orang yang profesional di bidangnya mengatakan kepada saya bahwa ungkapan judul di atas tak sekedar slogan. Masih ada banyak orang yang melayani dengan penuh syukur berdasarkan talenta yang mereka terima. Bahkan ada di antara mereka yang tak mengutamakan penghasilan ketika mereka berjumpaan dengan kenyataan penderitaan dan kesusahan sama saudaranya.
Santu Paulus dalam suratnya kepada orang di Roma hari ini mengundang mereka dengan kata-kata berikut ini."Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita."
Melakukan atau melayani dengan syukur adalah aksi yang bersifat profesional. Orang melakukannya dengan ketrampilan dan keahlian tertentu. Dengan itu sudah pasti dia akan mendapatkan upah atas pelayanan dan pekerjaannya. Seperti Paulus sendiri dalam hidupnya, bahkan menunjukkan bahwa ia bekerja dan karena itu ia memperoleh penghasilan untuk membiayai karya kerasulannya. Jadi ajakan Paulus ini hemat saya bukanlah indikasi bahwa bahwa orang yang melakukannya adalah orang yang bekerja tanpa pembayaran, tetapi orang yang melakukan pekerjaan dan pelayannannya dengan gembira, karena ia melihat bahwa tugasnya tidak lain adalah usaha untuk berpartisipasi dengan karya Allah.
Yang pasti diperoleh ketika kita melakukan pekerjaan dengan motivasi ini tak lain adalah kegembiraan karna kita mengambil bahagian dalam karya Allah. Inilah yang memberi warna baru dalam pelayanan kita. Itulah yang membuat kita lebih bersemangat.
Tuhan, kiranya kami juga melayani dengan gembira sebagai upaya nyata untuk mengatakan kepada dunia bahwa Engkau bekerja bersama kami untuk membangun dunia ini menjadi rumah kediaman yang layak bagi anak-anakMu. Amin
Copyright© 03 November 2009, by Anselm Meo, SVD

09. Bersatu dan Tinggal Bersama Allah

Senin, 02 Nopember 2009
PERINGATAN ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN:
Bacaan : 2Kor 4:14-5:1; Luk 23:33.39-43
Mengenangkan semua arwah sebagaimana dirayakan hari ini, pikiran saya tentu saja tertuju kepada mereka yang saya kenal, kakek dan nenek, saudara-saudari dan sahabat-sahabat yang telah meninggal dunia. Satu harapan yang kuat yang sedang meliputi saya ketika mengenangkan mereka, juga bahwa hal ini dibuat sehari setelah perayaan para orang kudus, ialah bahwa mereka semua ada dalam Allah. Mereka bersatu dan tinggal bersama Allah. Artinya mereka selamat. Jiwa mereka beristirahat dalam Allah.
Untuk menjelaskan hal ini sebuah kisah dari PL tentang keturunan Adam sering saya pakai sebagai bahan katekese tentang kenyataan orang yang hidup dan bergaul bersama Allah. Kisah itu tentang Henokh ( Kej 5, 18-24). Kepada anak.anak saya suka mengisahkan tentang Henokh demikian.
Henokh, kata Kitab Suci adalah orang yang bergaul dan bersahabat dengan Allah. Saking dekatnya persahabatan mereka, seringkali keduanya berjalan-jalan. Biasanya perjalanan mulai dari rumah Henokh. Suatu saat kebiasaan itupun diulangi. Henokh dan Allah sementara berjalan dan bercerita tentang banyak hal. Tanpa sadar mereka telah berjalan sangat jauh, sampai Henokh tak melihat lagi rumah kediamannya.
Dia berkata, "Hei sahabat, kita berjalan sudah terlalu jauh. Lihat rumahku tak kelihatan lagi. Saya harus pulang sekarang." Dan Allah menjawab dia, "Tak apa-apa. Rumahmu memang tak kelihatan lagi, tetapi coba lihat ke depan, di sana ada rumahKu. Kenapa tak datang dan singgah ataupun tinggal di rumahKu? Di sana ada tempat untukmu." Dan Henokh menerima undangan Allah dan iapun masuk ke rumah Allah.
Pada kesempatan peringatan para arwah hari ini, Injil Lukas menyampaikan undangan yang sama, bahkan berupa sebuah penegasan dan jaminan. Kepada sang penyamun yang bertobat, Yesus bersabda, "Aku berkata kepadamu, hari ini juga engkau akan berada bersama-sama dengan Aku di Firdaus." Tuhan menjamin siapa saja yang berkehendak baik, yang memiliki kemauan dan kemampuan untuk bertobat dan lebih lagi yang bersahabat dengan Dia untuk berada bersama-sama dengan Dia.
Karena itu perayaan hari ini adalah sebuah kesempatan untuk bersyukur bahwa siapapun kita pasti memiliki kemauan dan kemampuan untuk bersahabat dengan Allah. Kita percaya bahwa saudara-saudara kita yang telah meninggal memiliki kemauan yang sama. Dan tentang itu kita yang pernah hidup bersama mereka tak memiliki keraguan, karena selama hidupnya mereka telah menunjukkan kehendak baik dan berbuat baik juga untuk kita.
Kita berdoa buat mereka dan memohon kekuatan Allah juga agar kita menghidupkan kemauan dan kerinduan hati mereka untuk selalu bersatu dan tinggal bersama dengan Allah. Kiranya jiwa mereka beristirahat dalam Tuhan, dan suatu saat kelak, kita boleh melihat wajah Tuhan bersama mereka. Amin.
Copyright© 01 November 2009, by Anselm Meo, SVD

08. Kita dipanggil kepada kekudusan, karena Kita adalah Anak Allah

Minggu, 01 Nopember 2009
Pesta Semua Orang Kudus
Bacaan : Why 7, 2-4.9-14; 1 Yoh 3,1-3; Mt 5,1-12
Ketika berjalan-jalan di sekitar Collegio beberapa hari yang lalu, saya sempat melontarkan pertanyaan kepada salah seorang sama saudara saya. "Apa saja yang perlu saya sampaikan berkenaan dengan Pesta Hari Raya Para Orang Kudus?" tanyaku ketika itu. Dan enteng saja dia menjawab, "Akh, gampang saja. Syeringkan saja tentang kenyataan bahwa kita semua dipanggil kepada kekudusan, berangkat dari ajaran dan pemahaman bahwa kita semua adalah anak-anak Allah. Hemat saya jawabannya benar karena bacaan-bacaan hari ini menegaskan kembali tentang hal itu.
Bersama Gereja, kita merayakan hari ini Pesta semua orang Kudus. Siapakah sesungguhnya orang kudus yang kita hormati pada hari ini? Semua orang kudus, tetapi mengapa kita mesti mengenangkan mereka semuanya? Paus Benediktus XVI memberikan kepada kita satu dari sekian banyak jawaban, "Orang kudus yang kita maksudkan bukanlah mereka yang termasuk dalam kasta pilihan paling khusus dalam gereja, tetapi satu kumpulan orang dengan jumlah tak terbatas. Dalam persekutuan orang kudus ini, bukan hanya mereka yang dikenal secara resmi sebagai orang kudus oleh Gereja, tetapi semua orang yang dibaptis dari segala zaman dan segala bangsa. Mereka ini dalam hidupnya selalu dan telah mencari kehendak Allah dengan cinta dan setia. Banyak dari mereka tak kita kenal baik wajah bahkan nama, tetapi dalam iman kita melihat mereka sedang bercahaya bagaikan bintang-bintang yang cemerlang, penuh dengan kemuliaan Allah."
Mengangkat kenyataan bahwa orang yang dipermandikan adalah bagian dari persekutuan para kudus itu, santu Yohanes hari ini justru mengingatkan kita tentang cinta Allah yang membuat kita pantas disebut sebagai anak-anakNya dan memang demikianlah kita sesungguhnya. Katanya, "Lihatlah, betapa besar kasih yang dikarunikan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah.." Untuk Yohanes Rasul, merenungkan kemuliaan para kudus tidak hanya menunjukkan kepada kita tentang tujuan akhir hidup kita sebagai orang pilihan Allah tetapi juga asal dari mana kita datang.
Tetapi apakah kita mesti memisahkan diri dari dunia ini untuk menjadi kudus? Rasanya tidak. Merenungkan kehidupan para kudus, kita diyakinkan bahwa kita bisa mencapai kekudusan lewat keseharian hidup kita. Dan hal itu dinyatakan pula dalam bacaan hari ini. Secara istimewa bacaan Injil yang melukiskan tentang sabda bahagia yang disampaikan oleh Yesus. Sabda Bahagia ini hendaknya tidak kita lihat sebagai syarat yang harus dipenuhi agar orang menjadi sempurna, tetapi hendaknya dipahami sebagai kondisi dasariah yang perlu dalam perjalanan kita menuju Allah. Karena jika tidak, maka kita sesungguhnya berada di jalan lain, dan bukan dalam perjalanan menuju Allah.
Kita berdoa hari ini, semoga para kudus membantu kita dengan doa mereka, agar kita bisa mencontohi mereka yang menghidupkan sabda Bahagia Yesus sebagai prinsip utama yang menemani mereka dalam perjalanan menuju kemuliaan di dalam Allah. Amin.
Copyright© 01 November 2009, by Anselm Meo, SVD

07. Allah Tak Menyesali Kasih Karunia dan PanggilanNya

Sabtu, 31 Oktober 2009
Bacaan : Rom 11, 1-2a. 11-12. 25-29
Bacaan kemarin memberi gambaran betapa Paulus berusaha agar Israel yang adalah saudara-saudara sebangsanya juga mengalami keselamatan dan kebahagiaan atas dasar iman dan kepercayaan kepada Kristus. Keyakinan dan usaha Paulus ini nampaknya sekali lagi disampaikan di sini. Paulus yakin bahwa Israel pasti akan diselamatkan oleh kasih karunia dan panggilan Allah sendiri. Itulah yang dilihatnya sebagai rahasia Allah. Ia berkata, "Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk. Dengan jalan demikian, seluruh Israel akan diselamatkan, ..."
Penegasan Paulus tentang nasib Israel yang nampaknya menjadi buah-buah terakhir dari karya keselamatan, sebenarnya merupakan satu undangan buat para penganut iman akan Yesus Kristus untuk sadar bahwa betapa beruntungnya kita semua karena mengimani Tuhan kita Yesus Kristus. Paulus percaya bahwa kita lebih dari sekedar pemenang. Semua yang percaya kepada Yesus sedang dalam perjalanan menuju kemuliaan Allah, walaupun jalan itu harus melewati hal-hal yang nampaknya kecil dan biasa.
Kita bersyukur bahwa Tuhan telah memberikan kepada kita kemungkinan untuk memperoleh keselamatan. Bahkan menjaminkan bagi kita keselamatan itu. Sadar bahwa kasih karunia dan panggilan kepada keselamatan itu begitu besar, maka sebagai murid Yesus seperti Paulus kita diminta untuk membawa serta dalam hati dan pikiran kita kerinduan untuk menyelamatkan semua orang, terutama Israel yang mendahului kita sebagai bangsa yang percaya kepada Tuhan. Itulah cinta kasih yang tulus yang kita hidupkan sebagai murid Yesus.
Dan bagi Paulus, cinta yang demikian mesti kita nampakkan juga melalui "melihat yang baik dari sesama dan bergembira karena kebaikan yang kita temukan di dalam dia".
Tuhan Yesus, kami memang berbangga karena iman akan Dikau, tetapi sebagai murid-muridMu kami juga ingin agar saudara-saudara kami, Israel, kaum sebangsaMu juga percaya kepadaMu. Kami mau percaya juga bahwa mereka sedang berjalan menuju jalan yang tengah kami lalui ini, karena Allah tak pernah menyesali kasih karunia dan panggilanNya. Amin.
Copyright© 30 Oktober 2009, by Anselm Meo, SVD

06. Mendambakan Kebahagiaan Sejati Saudara-Saudaranya

Jumat, 30 Oktober 2009
Bacaan : Rom 9, 1 - 5
Siapapun dari kita, jika telah memiliki keterikatan hati dengan keluarga atau saudara-saudara akan selalu menghendaki dan mengusahakan kebaikan mereka. Kita akan membantu mereka dengan segala cara agar mereka berada di jalan yang benar dalam berbagai bidang. Dan ketika menyentuh soal keselamatan jiwa, tentu ada rasa iba dan belaskasihan ketika berhadapan dengan kenyataan bahwa saudara-saudara kita tak memilikinya.
Paulus dalam suratnya kepada orang Roma hari ini bahkan memilih agar dirinya menjadi terkutuk dan terpisah dari Kristus karena dambaannya yang sangat besar agar bangsa Israel yang adalah saudara-saudaranya itu menerima Kristus dan karenanya mendapatkan keselamatan. Paulus menulis,"... aku sangat berduka cita dan sangat bersedih hati. Bahkan aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani. Sebab mereka adalah orang Israel ..."
Paulus mendambakan agar saudara-saudaranya selamat dan bahagia, juga secara rohani. Dan itu menurut Paulus hanya akan terjadi kalau mereka menerima dan percaya kepada Yesus Kristus yang adalah saudara mereka sebangsa. Bagi kita dambaan Paulus ini bisa dilihat sebagai satu contoh nyata betapa cinta Allah mendorong seseorang untuk mengusahakan kebaikan bagi sesamanya, menggerakan orang untuk menyelamatkan mereka.
Dan apa yang menjadi dambaan Paulus ini ternyata bukannya membuat dia terkutuk ataupun terpisah dari Kristus, tetapi justru menjadikan ia semakin tak terpisahkan dari Kristus, Tuhan yang diabdinya. Justru dambaan dan usaha Paulus ini menjadikan dia lebih serupa dengan Kristus, karena Kristus sendiri demi menyelamatkan manusia rela mengalami bagaimana Dia 'ditinggalkan oleh BapaNya' demi menebus manusia, saudara-saudarinya yang berdosa.
Sebuah ajakan buat kita semua. Kekristenan kita adalah suatu undangan kepada keselamatan yang dihadiahkan Allah secara cuma-cuma kepada kita. Memang memilih tak mau repot dengan keselamatan yang lain rasanya jauh lebih nyaman, ketimbang mesti berkecimpung langsung dalam usaha mendekatkan mereka dengan Tuhan. Tapi apalah artinya menjadi Kristen tanpa memahami bahwa setiap kita memiliki misi untuk kita jalankan? Setiap kita menyandang misi dari Kristus, kita adalah rasul, orang utusan. Mungkin secara luar biasa mengalami sentuhan Tuhan seperti Paulus, mungkin pula biasa-biasa saja. Tapi karena misi itu, kita mesti mendambakan dan mengusahakan sedapat mungkin kebahagiaan sejati sesama kita, keselamatan jiwa kita semua.
Tuhan, kami semua menerima misi dan perutusan dariMu sendiri untuk mengusahakan keselamatan jiwa bukan hanya jiwa kami sendiri tetapi kebahagiaan sejati dan keselamatan jiwa semua yang kami kasihi. Kami mendoakannya dan kami mau mengulangi komitmen kami untuk mengusahakannya secara bersama-sama. Amin.
Copyright© 29 Oktober 2009, by Anselm Meo, SVD

05. Tak terpisah dari Allah dan Menjadi Kudus

Kamis, 29 Oktober 2009
Bacaan : Rom 8, 31-39
Ketika merayakan kanosasi atau beatifikasi, kita selalu menyaksikan betapa hidup dan perjuangan mereka yang akan dinyatakan sebagai santo atau beato seringkali diwarnai oleh perjuangan heroik yang menjadikan mereka pantas digelarkan demikian. Ada begitu banyak kebajikan dan keutamaan yang menjadikan mereka pantas untuk dinyatakan sebagai orang kudus. Namun tak dilupakan pula kenyataan bahwa sering sekali mereka harus berhadapan dengan kesulitan yang amat serius, yang mereka atasi karena kekuatan dan bantuan Allah sendiri.
Menjadi kudus karenanya adalah satu tujuan hidup Kristiani. Kisah para kudus yang kita kenal sebagaimana digambarkan di atas sesungguhnya diwarnai oleh karakter dasar ini, yakni kenyataan bahwa mereka hidup selalu dalam kesatuan dengan Allah, mereka tak pernah terpisah dari Allah. Karena itu, kita bisa mengatakan bahwa jika orang Kristen mau menjadi kudus, mau mencapai kekudusan hidup, maka mereka harus selalu bersatu dengan Allah, hidup mereka tak boleh dipisahkan sesaatpun dari Allah.
Santu Paulus dalam suratnya hari ini membenarkan kenyataan ketakterpisahan antara hidup seorang pilihan Allah dengan Allah mereka. Ia menulis demikian, "Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya atau pedang? ... sebab aku yakin, bahwa baik maut maupun hidup ... tidak akan dapat memisahkan kita dari Kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita."
Seperti orang kudus, Paulus percaya bahwa jika kita ingin menjadi kudus, kita mesti percaya dan menyerahkan diri kita kepada kasih Allah. Kasih Allah inilah sumber kekuatan kita, yang tak akan mampu memisahkan kita dari Allah Tuhan kita. Kita juga hendaknya percaya bahwa kasih yang sama ini telah diletakkan di dalam hati kita, dan memampukan kita untuk mempersembahkan hidup kita bagi sesama dan bagiNya.
Bila inilah yang kita pegang, maka sebagai orang Kristen kita hendaknya selalu mencari dalam segala sesuatu kekuatan positip yang mendekatkan manusia satu sama lain dan mendekatkan mereka dengan Allah. Bagi orang Kristen, tantangan dan kesulitan yang nampaknya buruk sekalipun memiliki aspek positip untuk membaharui dirinya dan dunia kehidupannya.
Nah melihat aspek positip dari keseharian kita sesungguhnya adalah upaya untuk melihat Allah yang selalu bersama kita, suatu upaya dan jalan untuk menggapai kekudusan sebagai tujuan hidup Kristen.
Tuhan, kiranya mata hati dan budi kami memampukan kami melihat kehadiranMu dalam segala sesuatu yang ada di sekitar kami, dalam yang baik, juga dalam kesulitan yang menimpa kami. Amin.
Copyright © 25 Oktober 2009, by Anselm Meo SVD

04. Kita adalah Kawan Sewarga Dengan Orang-Orang Kudus

Rabu, 28 Oktober 2009
Pesta St. Simon dan St. Yudas Thadeus
Bacaan : Ef. 2, 19-22
Hari ini Gereja kudus merayakan Pesta kedua Rasul yaitu St. Simon dan St. Yudas Thadeus. Dan pada kesempatan yang strategis ini, Gereja mengingatkan kita semua anak-anaknya untuk menyimak kembali pemahaman diri kita sebagai Tubuh Kristus dan Bait Allah Roh Kudus. Kedua aspek ini memang berdimensi sangat teologis, namun yang jauh lebih penting, kedua aspek ini pulalah yang menyingkapkan tentang siapa kita sesungguhnya setelah kita menjadi anggota Gereja, menjadi murid Yesus Kristus.
St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus mengingatkan bahwa kita bukan orang asing lagi. Katanya, "Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus, dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Yesus Kristus sebagai batu penjuru."
Kata-kata Paulus pada pesta kedua Rasul Yesus, Simon dan Yudas Thadeus adalah undangan untuk menghargai siapa kita semua di hadapan dan bersama Yesus. Kita tahu orang macam mana yang telah menjadi murid dan Rasul Yesus. Segala macam orang, mulai dari yang paling cerdas seperti Yohanes, pendosa seperti Mateus, dan hari ini, Simon orang Zelot yang mau menggunakan cara kekerasan untuk mengusir keluar orang Roma serta Yudas Thadeus, seorang kerabat dekat Yesus sendiri, tetapi penginjil tak mengatakan apapun tentang dia.
Merayakan pesta keduanya untuk kita hendaknya menjadi momen untuk saling menghargai siapapun yang menjadi murid Tuhan. Tuhan memanggil mereka setelah semalaman bergumul dalam doa kepada BapaNya. Bagi Yesus semua mereka baik bersama maupun sebagai pribadi adalah gambaran diriNya, TubuhNya sendiri. Mereka semua adalah orang terpilih karena Roh Kudus dikaruniakan kepada kita. Yesus mencintai mereka.
Dan seperti mereka demikianlah kita murid Tuhan dewasa ini. Dengan Yesus semua bisa berubah menjadi baik, bisa menjadi alat yang dipakaiNya untuk mengembangkan kerajaanNya. Yang terpenting ialah kesediaan kita untuk bekerja sama dengan Rahmat Allah. Tuhan, semoga kami saling menghargai sebagai layaknya rekan sewarga keluarga Allah. Amin.
Copyright © 25 Oktober 2009, by Anselm Meo SVD

03. Menantikan Saat Pernyataan Anak-Anak Allah

Selasa, 27 Oktober 2009
Bacaan : Rom. 8, 18-25
Pemberitaan Paulus tentang kenyataan penderitaan yang dialami dalam kontak kita dengan dunia oleh karena kepercayaan akan Kristus sesungguhnya sebuah peneguhan yang menguatkan hati. Dengan mengambil perumpamaan tentang derita seorang ibu yang menderita saat melahirkan anaknya, Paulus dengan inspirasi Roh Kudus menegaskan bahwa kemuliaan yang menantikan orang yang percaya sungguh jauh lebih besar dari penderitaan kita.
Katanya, "dengan rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan ... kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita. Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan ..." Menurut Paulus, penderitaan yang kita alami oleh karena keterlibatan kita dalam membangun dunia baru berdasarkan iman akan Yesus Kristus tidak sebanding dengan kemuliaan yang tengah menantikan kita. Karena itulah pengharapan kita bukanlah pengharapan yang kosong, tetapi pengharapan yang diinspirasikan oleh karunia Roh. Dan kita tahu bahwa Roh itulah yang telah menyertai Yesus dalam karyaNya selama di bumi, dan Roh yang sama itu tengah menyertai kita semua dalam karya kita sebagai anak-anak Allah.
Untuk kita kata-kata ini berpengaruh besar. Kalau kita memahami jati diri kita sebagai anak Allah, kita sebenarnya tahu juga bahwa di medan apapun kita berada dan kita berkarya, kita sedang disertai dengan kekuatan Roh Allah. Karya di bidang politik, di dunia pendidikan, di keluarga dan komunitas adalah karya kita bersama dengan Roh Tuhan. Kalau kita mesti menderita karena karya kita ditentang lantaran kita lawan arus, hendaknya kita jangan takut. Kita mesti menerima penderitaan dengan gembira, karena tahu bahwa Roh Tuhan menyertai kita. Itu semua sungguh adalah momen pernyataan diri kita sebagai anak Allah.
Mari kita meminta Roh Tuhan untuk memberanikan kita semua bekerja dengan gembira, melayani seolah itulah kesempatan kita menerima pernyataan Allah bahwa kita pantas disebut Anak-AnakNya.
Tuhan, semoga kami hari inipun mampu menjalankan tugas dan pelayanan kami di bidang apapun dengan kegembiraan karena keyakinan akan penyertaan Roh yang Kauberikan kepada kami. Berkatilah siapapun yang kami jumpai hari ini. Bagi merekapun kami mau hadir dengan gembira. Amin.
Copyright © 25 Oktober 2009, by Anselm Meo SVD

02. Berada di Dunia Tanpa Memperhambakan Diri Kepada Dunia

Senin, 26 Oktober 2009
Bacaan : Rom 8, 12-17
Tentang perhambaan atau perbudakan, kita semua pasti dengan tegas menolaknya. Lebih dari itu kita juga berusaha agar tak ada lagi orang yang menjadi korbannya. Gerakan dan usaha memerdekakan diri dari berbagai bangsa di dunia menunjukkan keseriusan manusia untuk memerangi perhambaan yang hidup di dalam masyarakatnya.
Tetapi bagaimana dengan perhambaan modern yang ada di depan mata kita, yang bahkan tengah kita hidupkan sendiri? Dunia jaman kita menawarkan berbagai hal, yang jika tidak dicermati dengan benar, justru akan menyeret manusia untuk menjadi budak-budaknya tanpa ampun. Gaya hidup yang 'ingin selalu lebih' telah membuat kita menjadi pelaku korupsi misalnya, atau melihat yang lain sebagai penghalang rencana kita. Juga tak dilupakan soal kenyamanan hidup yang kita mau sering pula membuat kita mempekerjakan yang lain dalam kondisi yang sering kali melanggar hak mereka.
Kepada semua yang percaya kepada Kristus, Santu Paulus hari ini meminta kita untuk mematikan perbuatan-perbuatan tubuh, karena berangkat dari kenyataan bahwa kita adalah anak-anak Allah, yang telah dikaruniakan Allah RohNya sendiri. Roh ini memampukan kita untuk menyapa Allah sebagai Bapa, dan Roh ini pula memberikan kepada kita semua untuk tindak takut kepada dunia dan kuasanya.
Apa yang disampaikan oleh Santu Paulus ini sesungguhnya mengajak kita untuk memperhatikan secara lebih sungguh kualitas keterlibatan kita dalam dunia. Bahwa kita mesti berada di dunia, itulah panggilan kita sebagai orang beriman. Tetapi berada di dalam dunia tidak otomatis mewajibkan kita untuk diperhamba oleh dunia dan kuasanya. Dunia kita orang beriman adalah dunia yang telah dibebaskan dan diselamatkan oleh Yesus Tuhan. Mengapa kita tak memiliki kekuatan dan kehendak untuk membawa aspek baru ke dalam dunia hidup kita yang telah dicemarkan dengan kekuasaan negatip lainnya?
Kita semua hari ini diajak sekali lagi untuk kembali kepada komitmen hidup dan panggilan sebagai anak-anak Allah. Dan komitmen itu tidak lain adalah janji untuk berjuang dengan kuasa dan kekuatan Allah melawan segala bentuk perhambaan.
Tuhan Yesus Kristus, di dalam Engkau kami telah menerima Roh Allah yang menjadikan kami anak-anak Allah. Kiranya rahmatMu memampukan kami saat ini untuk berusaha untuk mengubah mentalitas dunia kami menjadi Dunia Baru, yang memungkinkan semua anak Allah hidup bermartabat dan sederajat. Amin.
Copyright © 23 Oktober 2009, by Anselm Meo SVD

Senin, November 02, 2009

Akulah Kebangkitan Dan Kehidupan

Senin, 2 November 2009
Memperingati Para Arwah Kaum Beriman
Kebij 4: 7-15; Yoh 11:17-27
Kemarin kita merayakan pesta semua orang kudus dan pada hari ini kita berkumpul di sini, seturut sebuah tradisi yang indah, untuk mempersembahkan kurban Ekaristi demi mengenangkan dan mendoakan keselamatan jiwa para sama-saudara kita yang telah beralih dari hidup di dunia ini. Doa-doa kita pada sore hari ini dimotivir dan diinspirir oleh misteri komunio para kudus, sebuah misteri yang barusan kita refleksikan secara baru pada hari kemarin, guna memahaminya, menyambutnya dalam hati dan pikiran kita serta menghayati dan menghidupinya secara lebih intensif.
Di dalam komunio ini, kita secara khusus mengingat kembali dengan perasaan hormat yang mendalam para arwah orang-orang beriman. Kita percaya dan yakin bahwa mereka kini hidup bersama Allah yang hidup. Kita mau berdoa bagi mereka semua, membiarkan diri kita dirasuki dan diterangi oleh Sabda Tuhan yang barusan kita dengarkan bersama.
Bacaan pertama, sebuah kutipan dari Kitab Kebijaksanaan (Keb. 4:7-15) telah mengingatkan kita bahwa kehormatan seseorang tidak diukur menurut panjangnya usia dan tidak dihitung menurut jumlah tahun, tetapi didasarkan pada kebijaksanaan dan hidup yang baik, hidup yang jujur dan tak bercelah. Dan jika Allah harus memanggil orang yang benar kepada-Nya, itu merupakan sebuah desain cinta atau rencana kasih baginya. Kematian orang-orang beriman sesungguhnya merupakan suatu undangan untuk mengalami kepenuhan hidup seturut rencana Allah sendiri. Inilah landasan bagi kegembiraan kita meski harus mengalami peristiwa kehilangan dari orang-orang yang kita kasihi. Firman yang juga memberikan penghiburan dan kekuatan yang tak terhingga ialah Sabda Yesus sendiri: “Akulah kebangkitan dan kehidupan. Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup, sekalipun sudah meninggal. Bagi orang yang percaya tak ada kematian; yang ada hanyalah kehidupan.
Sabda Kehidupan dan Pengharapan ini tentu memberikan penghiburan yang mendalam kepada kita dihadapan misteri kematian. Hari ini Tuhan meyakinkan kita bahwa bapa-ibu dan saudara-saudari kita yang terkasih, bagi mereka kita mendoakannya secara khusus di dalam Misa Kudus ini, beralih dari kematian menuju kehidupan karena mereka telah memilih Kristus, mereka telah menyambut dengan sabar pahit dan manisnya beban kehidupan-Nya; dan mereka telah mengabdikan seluruh diri mereka kepada pelayanan terhadap saudara-saudari Kristus. Oleh karena itu, seandainya mereka harus menjalani masa pemurnian karena kelemahan-kelemahan manusiawi, akan tetap membantu kita untuk berkanjang dalam kerendahan hati, menolong kita untuk tetap setia kepada janji-janji Kristus bagi mereka untuk masuk ke dalam kebebasan anak-anak Allah. Walaupun kepergian mereka meninggalkan duka dalam diri kita, peristiwa kehilangan itu membuat kita bersedih, iman akan kebangkitan akan tetap memberikan kita pengharapan. Dan pengharapan itu merupakan jangkar keselamatan bagi setiap orang yang percaya kepada Kristus.
Lewat kurban Ekaristi yang merupakan pembaruan dan pengulangan dari kurban Golgota, Yesus setiap kali menawarkan jalan menuju keselamatan yang kekal bagi semua orang. Itulah tempat singgahan, tempat istirahat, tempat menimba kekuatan baru untuk bisa berlayar lebih pasti menuju tanah air surgawi. Itulah pula tanjung harapan baik bagi orang Kristen, tempat kita menatap penuh harap akan datangnya saat kepenuhan janji-janji Allah bagi kita.
Kristus adalah Kebangkitan dan Kehidupan adalah pokok pengharapan kita. Dan Kristus yang adalah pokok harapan kita itu adalah Sauh, Jangkar bagi jiwa kita. Dan altar, di mana Kristus sudah dilabuhkan di belakang tabir, adalah tanjung atau pelabuhan yang penuh harapan, yang dengan pasti mengarahkan kita di jalan yang benar menuju surga. Maka lewat altar ini, tanjung harapan iman itu, marilah kita mempersatukan doa-doa kita dan mempersembahkannya kepada Allah Bapa segala kebaikan dan belaskasih, sehingga melalui doa-doa permohoan santara Perawan Maria, dan semoga api cinta Kristus berkenan membersihkan segala ketaksempurnaan saudara-saudarakita dan membarui mereka untuk menyembah dan memuji kemuliaan-Nya. Dan kita pun berdoa agar kita yang masih berziarah di dunia ini, akan selalu mengarahkan mata dan hati kita kepada tujuan pokok yang kita rindukan, rumah Bapa di surga. Amin.
Copyright 2 November 2009, by: P. Paskalis B. Keytimu, SVD

Jumat, Oktober 23, 2009

02 - (I). "Kuatkanlah Hatimu, Tuhan Memanggil untuk Menyelamatkan

Minggu, 25 Oktober 2009
Hari Minggu Biasa XXX, Tahun B
Bacaan : Yer 31, 7-9; Ibr 5, 1-6 dan Mk 10,46-52
Yang namanya peneguhan, datangnya memang selalu diharapkan; biarpun dalam kenyataannya seringkali peneguhan itu tak dikenal dengan mudah ketika sedang terjadi. Mungkin saja ia datang lewat perkataan seorang sahabat yang tak bermaksud menasihati kita, mungkin juga datang ketika kita berdoa dengan khusuk, dan mungkin pula datang lewat kata-kata bijak orang yang sudah kita kenal reputasinya. Peneguhan bisa terjadi via kata-kata, tetapi bisa pula lewat suatu peristiwa yang luarbiasa. Dan boleh dijamin kebenarannya, bahwa peneguhan pada waktu dan tempat yang tepat selalu mengubah orang, mentransformasi orang yang menerimanya.
Bacaan-bacaan pada hari Minggu Biasa XXX hari ini sesungguhnya memuat peneguhan buat mereka yang kecil, "sisa-sisa kecil, yang kelihatan ketiadaan harapan tetapi memiliki kekuatan yang masih dapat mengubah hidup mereka, yakni kepercayaan akan kekuatan Allah yang mengasihi mereka. Betapa tidak. Yeremia membangkitkan harapan umat Israel dengan mengingatkan mereka bahwa Tuhan sungguh menyelamatkan mereka, macam apapun keadaan mereka, karena kata Tuhan, "Aku telah menjadi Bapa Israel...". Dan penulis surat Ibrani mengingatkan pembacanya tentang kenyataan keselamatan yang bermula selalu dari Allah, juga dalam pengangkatan Yesus sebagai PuteraNya, "Engkaulah PuteraKu, Engkau kuperanakan pada hari ini."
Peneguhan akan para murid Yesus berlanjut pula dalam Injil, ketika si buta Bartimeus mendengarkan seruan yang menguatkan hatinya dari mereka yang berada di sekitar dia saat itu, "Kuatkanlah hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau!". Bartimeus memang bukannya bersikap pasif dalam perjumpaannya dengan Yesus. Ia sesungguhnya sedang mencari Dia. Hanya saja keadaan fisiknya yang buta menjadi penghalang keinginannya untuk sampai kepada Yesus. Dalam kasusnya inilah, kita lihat betapa peran orang lain yang melanjutkan kata-kata keselamatan Yesus menjadi vital. Bartimeus melihat lagi, karena ia masih dapat mendengar ajakan peneguhan saudara-saudaranya, bahwa Tuhan memanggil dia, Tuhan menghendaki keselamatannya.
Merenungkan bacaan-bacan hari Minggu ini, kita sesungguhnya diajak untuk melihat kembali masihkah kata-kata yang meneguhkan dan membesarkan hati ditemukan juga di tempat kita berada? Masihkah kita menemukan orang yang bukan hanya berkata tetapi menyatakan dengan hidupnya bahwa kita bisa diselamatkan, kita bisa ditolong. Kalaupun kenyataan dan kata-kata itu sulit didengar lagi, kita semua para murid Yesus hari ini diundang sekali lagi untuk menjadi pewarta khabar gembira itu sekali lagi. Kita sekali lagi diminta untuk menjadi utusan yang menyatakan bahwa "Allah mau menyelamatkan engkau."
Sebuah panggilan ilahi yang perlu kita tanggapi dengan kesediaan hati dan kerelaan yang tulus untuk membantu. Tuhan membutuhkan kita untuk membangkitkan lagi harapan bagi yang hampir putus asa, untuk membawa penglihatan bagi yang telah menutup mata harapannya terhadap dunia baru di mana dia hidup dan berada. Bartimeus, sisa-sisa kecil Israel jaman ini masih membutuhkan anda dan saya untuk mendengarkan sekali lagi seruan peneguhan itu, "Kuatkanlah hatimu. Tuhan memanggilmu untuk menyelamatkan engkau." Amin.
Copyright © 23 Oktober 2009, by Anselm Meo SVD

01 - (I). Dibebaskan oleh Kekuatan Roh Allah

Sabtu, 24 Oktober 2009
Bacaan : Rom 8, 1-11
Orang bisa saja tertawa mendengar bahwa dalam dunia modern sekarang ini, masih saja ada praktek untuk mencelakakan orang lain lewat kekuatan magis. Lihat saja berita di dunia sepakbola, ketika ada orang yang disewa untuk mengguna-gunai Christian Ronaldo, Leonil Messi ataupun David Beckham. Tapi benar juga kalau kita bilang bahwa praktek seperti ini sering mempengaruhi orang secara negatif.
Kehadiran roh jahat dan semua praktek yang melingkunginya sesungguhnya lahir dari sebuah semangat dan keinginan untuk membelenggu orang, mencelakai orang. Dan bukan rahasia lagi kalau ada orang yang memiliki pekerjaan untuk itu dan selalu gembira ketika melihat orang baik berhasil dilukai, dihambat perkembangannya.
Santu Paulus dalam bacaan hari ini memberikan keyakinan baru buat semua yang mengakui Kristus sebagai Tuhan untuk menjadi tidak takut. Kepada orang Roma, ia menulis, "Roh yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut. ... Sebab [hal itu] telah dilakukan oleh Allah."
Bagaimana Paulus bisa begitu yakin bahwa orang yang percaya kepada Kristus tidak dibelenggu lagi oleh berbagai kekuatan yang jahat sekalipun? Dasarnya ialah karena Roh Kudus yang dianugerahkan oleh Kristus itu adalah Roh yang menghidupkan. Roh itu adalah kekuatan yang sangat dahsyat. Roh itu tidak mungkin mengarahkan kita kepada dunia kejahatan, tetapi kepada kekuatan Allah yang menghendaki kebaikan untuk semua orang. Roh yang sama inilah yang telah membangkitkan Yesus dari alam maut dan mematahkan segala kekuatan maut. Roh Allah memiliki kekuatan yang bisa membaharui kita.
Sebuah peneguhan yang membesarkan hati. Kendatipun dilingkungi oleh berbagai usaha kejahatan yang bisa menghancurkan kita, sebagai murid Yesus, kita hendaknya selalu ingat dan sadar bahwa pada kita semenjak dibaptis telah ada Roh Allah. Sadarilah selalu akan kehadiranNya dan mintalah selalu penyertaanNya. Roh itu membebaskan kita, dan bukan tidak mungkin orang seperti Ronaldo, Messi dan Beckham memiliki keyakinan seperti ini, sehingga tak pernah gentar menghadapi berbagai ancaman pengaruh roh jahat.
Tuhan Yesus, Engkau datang untuk menganugerahkan kami semua RohMu yang menghidupkan dan membaharui kami. Kiranya kami selalu sadar akan kehadiran dan kekuatanNya dan meminta penyertaanNya dalam hidup kami. Amin.
Copyright © 23 Oktober 2009, by Anselm Meo SVD

Kamis, Oktober 22, 2009

ISTIMEWA : SELAMAT HARI ULANG TAHUN STHI

Jumat, 23 Oktober 2009
HUT PERTAMA STHI
2008 * 23 Oktober * 2009
Tak terasa memang. Setahun kini berlalu, dan hari ini SABDA TUHAN HARI INI genap berusia setahun. Ibarat bayi mungil, ia masih teramat lemah - rapuh. Namun ia berbicara, ia menyapa, ia berkontak dengan hati siapapun yang menatap, menyentuh dan menyapanya.
Masih menyandang kepercayaan nan teguh bahwa SABDA TUHAN berdaya, membaharui dan menghapus dosa, STHI masih memiliki komitmen yang sama, "terus menyajikan permenungan akan Sabda Tuhan" berdasarkan bacaan liturgis Gereja. Tak ada janji bahwa ia akan terus menemani anda sekalian. Tetapi selama masih ada matahari, sabda yang ditaburkan itu akan menghasilkan buah.
Di tahun kedua ini, permenungan SABDA TUHAN HARI INI akan didasarkan pada Bacaan Pertama, Tahun I. Sekali lagi, STHI menawarkan satu dari sekian banyak tawaran untuk merenungkan SABDA TUHAN berdasarkan bacaan liturgi Gereja.
Besar harapan kami para pengasuh STHI bahwa anda semua yang menyinggahi pondok perjumpaan kami di STHI mengalami kekuatan yang membaharui dan kekuatan yang membawa pertobatan dari Sabda Tuhan.
Selamat Ulang Tahun STHI tercinta. Tuhan yang empunya Sabda itu akan memberkati pertumbuhannya dan akan memberkati para pembacanya.
Copyright © 22 Oktober 2009, by Segenap Pengasuh STHI