Kamis, November 05, 2009

08. Kita dipanggil kepada kekudusan, karena Kita adalah Anak Allah

Minggu, 01 Nopember 2009
Pesta Semua Orang Kudus
Bacaan : Why 7, 2-4.9-14; 1 Yoh 3,1-3; Mt 5,1-12
Ketika berjalan-jalan di sekitar Collegio beberapa hari yang lalu, saya sempat melontarkan pertanyaan kepada salah seorang sama saudara saya. "Apa saja yang perlu saya sampaikan berkenaan dengan Pesta Hari Raya Para Orang Kudus?" tanyaku ketika itu. Dan enteng saja dia menjawab, "Akh, gampang saja. Syeringkan saja tentang kenyataan bahwa kita semua dipanggil kepada kekudusan, berangkat dari ajaran dan pemahaman bahwa kita semua adalah anak-anak Allah. Hemat saya jawabannya benar karena bacaan-bacaan hari ini menegaskan kembali tentang hal itu.
Bersama Gereja, kita merayakan hari ini Pesta semua orang Kudus. Siapakah sesungguhnya orang kudus yang kita hormati pada hari ini? Semua orang kudus, tetapi mengapa kita mesti mengenangkan mereka semuanya? Paus Benediktus XVI memberikan kepada kita satu dari sekian banyak jawaban, "Orang kudus yang kita maksudkan bukanlah mereka yang termasuk dalam kasta pilihan paling khusus dalam gereja, tetapi satu kumpulan orang dengan jumlah tak terbatas. Dalam persekutuan orang kudus ini, bukan hanya mereka yang dikenal secara resmi sebagai orang kudus oleh Gereja, tetapi semua orang yang dibaptis dari segala zaman dan segala bangsa. Mereka ini dalam hidupnya selalu dan telah mencari kehendak Allah dengan cinta dan setia. Banyak dari mereka tak kita kenal baik wajah bahkan nama, tetapi dalam iman kita melihat mereka sedang bercahaya bagaikan bintang-bintang yang cemerlang, penuh dengan kemuliaan Allah."
Mengangkat kenyataan bahwa orang yang dipermandikan adalah bagian dari persekutuan para kudus itu, santu Yohanes hari ini justru mengingatkan kita tentang cinta Allah yang membuat kita pantas disebut sebagai anak-anakNya dan memang demikianlah kita sesungguhnya. Katanya, "Lihatlah, betapa besar kasih yang dikarunikan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah.." Untuk Yohanes Rasul, merenungkan kemuliaan para kudus tidak hanya menunjukkan kepada kita tentang tujuan akhir hidup kita sebagai orang pilihan Allah tetapi juga asal dari mana kita datang.
Tetapi apakah kita mesti memisahkan diri dari dunia ini untuk menjadi kudus? Rasanya tidak. Merenungkan kehidupan para kudus, kita diyakinkan bahwa kita bisa mencapai kekudusan lewat keseharian hidup kita. Dan hal itu dinyatakan pula dalam bacaan hari ini. Secara istimewa bacaan Injil yang melukiskan tentang sabda bahagia yang disampaikan oleh Yesus. Sabda Bahagia ini hendaknya tidak kita lihat sebagai syarat yang harus dipenuhi agar orang menjadi sempurna, tetapi hendaknya dipahami sebagai kondisi dasariah yang perlu dalam perjalanan kita menuju Allah. Karena jika tidak, maka kita sesungguhnya berada di jalan lain, dan bukan dalam perjalanan menuju Allah.
Kita berdoa hari ini, semoga para kudus membantu kita dengan doa mereka, agar kita bisa mencontohi mereka yang menghidupkan sabda Bahagia Yesus sebagai prinsip utama yang menemani mereka dalam perjalanan menuju kemuliaan di dalam Allah. Amin.
Copyright© 01 November 2009, by Anselm Meo, SVD

07. Allah Tak Menyesali Kasih Karunia dan PanggilanNya

Sabtu, 31 Oktober 2009
Bacaan : Rom 11, 1-2a. 11-12. 25-29
Bacaan kemarin memberi gambaran betapa Paulus berusaha agar Israel yang adalah saudara-saudara sebangsanya juga mengalami keselamatan dan kebahagiaan atas dasar iman dan kepercayaan kepada Kristus. Keyakinan dan usaha Paulus ini nampaknya sekali lagi disampaikan di sini. Paulus yakin bahwa Israel pasti akan diselamatkan oleh kasih karunia dan panggilan Allah sendiri. Itulah yang dilihatnya sebagai rahasia Allah. Ia berkata, "Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk. Dengan jalan demikian, seluruh Israel akan diselamatkan, ..."
Penegasan Paulus tentang nasib Israel yang nampaknya menjadi buah-buah terakhir dari karya keselamatan, sebenarnya merupakan satu undangan buat para penganut iman akan Yesus Kristus untuk sadar bahwa betapa beruntungnya kita semua karena mengimani Tuhan kita Yesus Kristus. Paulus percaya bahwa kita lebih dari sekedar pemenang. Semua yang percaya kepada Yesus sedang dalam perjalanan menuju kemuliaan Allah, walaupun jalan itu harus melewati hal-hal yang nampaknya kecil dan biasa.
Kita bersyukur bahwa Tuhan telah memberikan kepada kita kemungkinan untuk memperoleh keselamatan. Bahkan menjaminkan bagi kita keselamatan itu. Sadar bahwa kasih karunia dan panggilan kepada keselamatan itu begitu besar, maka sebagai murid Yesus seperti Paulus kita diminta untuk membawa serta dalam hati dan pikiran kita kerinduan untuk menyelamatkan semua orang, terutama Israel yang mendahului kita sebagai bangsa yang percaya kepada Tuhan. Itulah cinta kasih yang tulus yang kita hidupkan sebagai murid Yesus.
Dan bagi Paulus, cinta yang demikian mesti kita nampakkan juga melalui "melihat yang baik dari sesama dan bergembira karena kebaikan yang kita temukan di dalam dia".
Tuhan Yesus, kami memang berbangga karena iman akan Dikau, tetapi sebagai murid-muridMu kami juga ingin agar saudara-saudara kami, Israel, kaum sebangsaMu juga percaya kepadaMu. Kami mau percaya juga bahwa mereka sedang berjalan menuju jalan yang tengah kami lalui ini, karena Allah tak pernah menyesali kasih karunia dan panggilanNya. Amin.
Copyright© 30 Oktober 2009, by Anselm Meo, SVD

06. Mendambakan Kebahagiaan Sejati Saudara-Saudaranya

Jumat, 30 Oktober 2009
Bacaan : Rom 9, 1 - 5
Siapapun dari kita, jika telah memiliki keterikatan hati dengan keluarga atau saudara-saudara akan selalu menghendaki dan mengusahakan kebaikan mereka. Kita akan membantu mereka dengan segala cara agar mereka berada di jalan yang benar dalam berbagai bidang. Dan ketika menyentuh soal keselamatan jiwa, tentu ada rasa iba dan belaskasihan ketika berhadapan dengan kenyataan bahwa saudara-saudara kita tak memilikinya.
Paulus dalam suratnya kepada orang Roma hari ini bahkan memilih agar dirinya menjadi terkutuk dan terpisah dari Kristus karena dambaannya yang sangat besar agar bangsa Israel yang adalah saudara-saudaranya itu menerima Kristus dan karenanya mendapatkan keselamatan. Paulus menulis,"... aku sangat berduka cita dan sangat bersedih hati. Bahkan aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani. Sebab mereka adalah orang Israel ..."
Paulus mendambakan agar saudara-saudaranya selamat dan bahagia, juga secara rohani. Dan itu menurut Paulus hanya akan terjadi kalau mereka menerima dan percaya kepada Yesus Kristus yang adalah saudara mereka sebangsa. Bagi kita dambaan Paulus ini bisa dilihat sebagai satu contoh nyata betapa cinta Allah mendorong seseorang untuk mengusahakan kebaikan bagi sesamanya, menggerakan orang untuk menyelamatkan mereka.
Dan apa yang menjadi dambaan Paulus ini ternyata bukannya membuat dia terkutuk ataupun terpisah dari Kristus, tetapi justru menjadikan ia semakin tak terpisahkan dari Kristus, Tuhan yang diabdinya. Justru dambaan dan usaha Paulus ini menjadikan dia lebih serupa dengan Kristus, karena Kristus sendiri demi menyelamatkan manusia rela mengalami bagaimana Dia 'ditinggalkan oleh BapaNya' demi menebus manusia, saudara-saudarinya yang berdosa.
Sebuah ajakan buat kita semua. Kekristenan kita adalah suatu undangan kepada keselamatan yang dihadiahkan Allah secara cuma-cuma kepada kita. Memang memilih tak mau repot dengan keselamatan yang lain rasanya jauh lebih nyaman, ketimbang mesti berkecimpung langsung dalam usaha mendekatkan mereka dengan Tuhan. Tapi apalah artinya menjadi Kristen tanpa memahami bahwa setiap kita memiliki misi untuk kita jalankan? Setiap kita menyandang misi dari Kristus, kita adalah rasul, orang utusan. Mungkin secara luar biasa mengalami sentuhan Tuhan seperti Paulus, mungkin pula biasa-biasa saja. Tapi karena misi itu, kita mesti mendambakan dan mengusahakan sedapat mungkin kebahagiaan sejati sesama kita, keselamatan jiwa kita semua.
Tuhan, kami semua menerima misi dan perutusan dariMu sendiri untuk mengusahakan keselamatan jiwa bukan hanya jiwa kami sendiri tetapi kebahagiaan sejati dan keselamatan jiwa semua yang kami kasihi. Kami mendoakannya dan kami mau mengulangi komitmen kami untuk mengusahakannya secara bersama-sama. Amin.
Copyright© 29 Oktober 2009, by Anselm Meo, SVD

05. Tak terpisah dari Allah dan Menjadi Kudus

Kamis, 29 Oktober 2009
Bacaan : Rom 8, 31-39
Ketika merayakan kanosasi atau beatifikasi, kita selalu menyaksikan betapa hidup dan perjuangan mereka yang akan dinyatakan sebagai santo atau beato seringkali diwarnai oleh perjuangan heroik yang menjadikan mereka pantas digelarkan demikian. Ada begitu banyak kebajikan dan keutamaan yang menjadikan mereka pantas untuk dinyatakan sebagai orang kudus. Namun tak dilupakan pula kenyataan bahwa sering sekali mereka harus berhadapan dengan kesulitan yang amat serius, yang mereka atasi karena kekuatan dan bantuan Allah sendiri.
Menjadi kudus karenanya adalah satu tujuan hidup Kristiani. Kisah para kudus yang kita kenal sebagaimana digambarkan di atas sesungguhnya diwarnai oleh karakter dasar ini, yakni kenyataan bahwa mereka hidup selalu dalam kesatuan dengan Allah, mereka tak pernah terpisah dari Allah. Karena itu, kita bisa mengatakan bahwa jika orang Kristen mau menjadi kudus, mau mencapai kekudusan hidup, maka mereka harus selalu bersatu dengan Allah, hidup mereka tak boleh dipisahkan sesaatpun dari Allah.
Santu Paulus dalam suratnya hari ini membenarkan kenyataan ketakterpisahan antara hidup seorang pilihan Allah dengan Allah mereka. Ia menulis demikian, "Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya atau pedang? ... sebab aku yakin, bahwa baik maut maupun hidup ... tidak akan dapat memisahkan kita dari Kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita."
Seperti orang kudus, Paulus percaya bahwa jika kita ingin menjadi kudus, kita mesti percaya dan menyerahkan diri kita kepada kasih Allah. Kasih Allah inilah sumber kekuatan kita, yang tak akan mampu memisahkan kita dari Allah Tuhan kita. Kita juga hendaknya percaya bahwa kasih yang sama ini telah diletakkan di dalam hati kita, dan memampukan kita untuk mempersembahkan hidup kita bagi sesama dan bagiNya.
Bila inilah yang kita pegang, maka sebagai orang Kristen kita hendaknya selalu mencari dalam segala sesuatu kekuatan positip yang mendekatkan manusia satu sama lain dan mendekatkan mereka dengan Allah. Bagi orang Kristen, tantangan dan kesulitan yang nampaknya buruk sekalipun memiliki aspek positip untuk membaharui dirinya dan dunia kehidupannya.
Nah melihat aspek positip dari keseharian kita sesungguhnya adalah upaya untuk melihat Allah yang selalu bersama kita, suatu upaya dan jalan untuk menggapai kekudusan sebagai tujuan hidup Kristen.
Tuhan, kiranya mata hati dan budi kami memampukan kami melihat kehadiranMu dalam segala sesuatu yang ada di sekitar kami, dalam yang baik, juga dalam kesulitan yang menimpa kami. Amin.
Copyright © 25 Oktober 2009, by Anselm Meo SVD