Sabtu, Juni 27, 2009

217. Kesatuan Dalam Perbedaan

Senin, 29 Juni 2009
Hari Raya Santu Petrus Dan Santu Paulus Rasul

Kis 12:1-11; 2Tim 4:6-8.17-18; Mt 16: 13-19

Persatuan/kesatuan adalah kekuatan. Inilah pikiran utama yang mungkin lagi mewarnai benak kita saat ini - ketika kita berkumpul bersama untuk mengucapkan syukur kepada Allah atas anugerah kedua rasul agung, Santu Petrus dan Santu Paulus. Pada jamannya, keduanya tidak begitu akur dalam mengemban misi yang dipercayakan Kristus. Ada banyak alasan yang mendasarinya. Petrus dipanggil langsung oleh Yesus dan diserahkan “kunci Kerajaan Surga (Mt 16: 16-18). Setelah Yesus naik ke Surga, Petrus langsung mengambil alih otoritas kepemimpinan atas para rasul sesuai dengan janji Kristus sendiri. Ada lagi keunikan yang satu ini, entah dalam bentuk patung atau pun gambar kudus, Petrus selalu ditampakkan dengan memegang kunci di tangannya. Sementara Paulus barangkali tidak pernah bertemu dengan Yesus dari muka ke muka. Apalagi ia pernah sebagai seorang penganiaya pengikut-pengikut Kristus. Pertobatannya justru terjadi karena ia mengalami penglihatan dalam suatu perjalanan menuju Damaskus. Inspirasi dan dan model pemakluman Injil didasarkan pada pengalaman penglihatan juga pengalaman karismatisnya. Ia dilukiskan dalam patung atau gambar-gambar kudus atau dengan pedang atau buku di tangannya. Singkatnya, kedua rasul agung ini dalam banyak hal berbeda secara menyolok. Petrus lebih dijuluki sebagai rasul bagi bangsa Yahudi sementara Paulus dikenal dengan sebutan rasul bagi kaum kafir. Paulus pernah beradu argumentasi secara terbuka dengan Petrus tentang apakah orang-orang Kristen Yahudi boleh duduk makan bersama dengan orang-orang Kristen yang berasal dari kaum kafir (Gal 2).

Santu Petrus dan Santu Paulus, de facto, memiliki perbedaan sepanjang masa hidup mereka, namun keduanya memiliki kesamaan dalam hal kematian mereka. Keduanya menyerahkan hidupnya ke pangkuan Bapa di Surga sebagai martir-martir di kota yang sama di Roma sekitar tahun 64-67 A.D. Gereja perdana mengenali keduanya sebagai dua pilar utama dari Gereja Kristus. Kenyataan ini lalu diabadikan dalam gambar-gambar kudus di mana Petrus di tempatkan di sisi kanan dan Paulus di sisi kiri. Dengan menempatkan keduanya dalam satu gambar, bersatu demi Gereja Kristus, Gereja sesungguhnya mengirimkan pesan kepada putra-putrinya dewasa ini bahwa mereka semua pun seharusnya dipersatukan kendati ada perbedaan entah sebagai individu pun karena perbedaan tempat, dalam membentuk satu Gereja Allah.

Pada zaman Gereja perdana memang ada kecenderungan untuk membentuk semacam fraksi-fraksi (tentu tidak sebanyak dengan fraksi-fraksi yang kita kenal di DPR. Ada Golkar, atau PDIP, PAN, PPPK dll), dan setiap fraksi mengklaim untuk mengikuti salah satu pemimpin dari para rasul atau para misionaris. Inilah salah satu alasan mengapa Paulus menulis Surat Pertama kepada umat di Korintus. Umat Korintus terpecah-pecah sebagai pengikut-pengikut Paulus, atau Petrus atau juga pengikut-pengikut Apolos. Dalam nada yang keras Santu Paulus mengingatkan mereka bahwa pemimpin-pemimpin manusia, semuanya sama dalam hal status, yakni sebagai hamba-hamba dari satu-satunya Kristus. Karena itu, Kristus seharusnya menjadi fokus perhatian umat dan bukan pada pemimpin-pemimpin manusia. “Karena itu, janganlah ada orang yang memegahkan dirinya atas manusia, sebab segala sesuatu adalah milikmu: baik Paulus, Apolos, maupun Kefas, baik dunia hidup maupun mati, baik waktu sekarang maupun waktu yang akan datang, semuanya kamu punya. Tetapi kamu adalah milik Kristus dan Kristus adalah milik Allah” (1Kor 3:21-23).

Pemisahan di antara para pengikut Kristus merupakan masalah yang dihadapi di zamannya Paulus. Perpisahan dan perpecahan itu juga kini dialami oleh pengikut-pengikut Kristus di zaman yang makin canggih bahkan serba canggih ini. Seperti orang-orang Kristen di Korintus, demikin juga orang-orang Kristen dewasa ini, dibagi-bagi, entah di bawah otoritas absolut dari John Calvin, atau Jon Wesley atau pun Paus Benedictus XVI. Kita semua semisal jari-jari yang lemah yang tidak dapat merangkul satu terhadap yang lain dan mempersatukan ke dalam satu kekuatan. Keterpecahan orang-orang Kristen merupakan sebuah skandal yang melemahkan kesaksian Kristiani kepada dunia. Bagaimana Gereja-Gereja Kristen mewartakan cinta kasih dan kesatuan, pengampunan dan rekonsiliasi kepada dunia sementara mereka sendiri hidup dalam perpecahan, tidak sanggup saling mengampuni dan berdamai?

Malah perpecahan itu terlihat dan terjadi di dalam dinding Gereja yang sama. Ada celah perpecahan yang tampak dengan jelas. Setelah dua ribuan tahun Gereja Kristen berdiri, masih saja terlihat kelompok-kelompok umat Allah yang memberi label pada kelompoknya sebagai konservatif atau liberal. Konservatif adalah mereka yang mengidentifikasi dirinya dengan otoritas institusional dari Santu Petrus, berperang melawan yang liberal; dan liberal adalah kelompok yang mengidentifikasikan dirinya dengan visi karismatis Santu Paulus, berperang melawan yang konservatif. Lewat mengikat-satukan pesta Santu Petrus dan Santu Paulus, Gereja sebetulnya mengundang kita semua, putra-putrinya untuk melihat melampaui pemisahan konservatif - liberal dan menemukan suatu kesatuan dan persatuan yang lebih mendalam di dalam Kristus. Gereja Kristus membutuhkan wadas/batu karang kepemimpinan Santu Petrus juga vitalitas/daya hidup penglihatan karismatis Santu Paulus. Kesatuan Kristiani, seperti kesatuan Santu Petrus dan Paulus, bukan kesatuan dalam keseragaman melainkan kesatuan dalam perbedaan. Hari ini Gereja mengingatkan kita bahwa meskipun sebagai individu pun sebagai komunitas-komunitas ada yang lebih condong kepada gaya Santu Petrus dan yang lainnya lebih memilih gaya Santu Paulus, namun kita seharusnya tidak membiarkan pemisahan dan perpecahan di antara kita, karena kita semua adalah pertama, terutama adalah pengikut-pengikut dari satu Tuhan, Yesus Kristus dan putra-putri dari satu Allah, Bapa kita.

"Tuhan Yesus, aku mengakui dan percaya bahwa Engkau adalah Kristus, Putra Allah yang hidup. Engkau adalah Tuhanku dan Penyelamatku yang telah membebaskan aku dari tirani dosa dan beban kesalahan. Buatlah imanku semakin kokoh seperti iman kedua rasul agung-Mu, Santu Petrus dan Paulus dan anugerahkanlah kepadaku keberanian untuk bersaksi tentang Dikau kepada sesama sehingga mereka pun boleh datang untuk mengenal Dikau sebagai Tuhan dan Penyelamat. Anugerahkanlah kepadaku kedalaman pemahaman akan rahmat pewahyuan untuk menyelami keanekaan kebenaran Kristiani. Dengan rendah hati aku mengakui bahwa aku tak dapat sampai kepada kepenuhannya dengan usahaku sendiri tetapi harus membiarkan Engkau menuntun aku dengan tangan-Mu yang kudus.” Amin.
Copyright © 28 Juni 2009, by: P. Paskalis B. Keytimu, SVD

216. Sentuhan yang Menyelamatkan

Minggu, 28 Juni 2009
Minggu Biasa XIII

Bacaan : Mk 5, 21-43

Membaca Injil pada hari Minggu ini, saya teringat akan judul yang diberikan kepada perikop ini ketika saya mengikuti retret beberapa tahun lalu. Sang pastor yang membawa renungan itu, yang adalah seorang ahli Kitab Suci memberi judul agak lain dari yang tertulis di dalam Kitab Suci, yakni "Kisah tentang Dua Puteri Israel".

Yah ... Injil yang kita renungkan hari ini berkisah tentang dua puteri Israel yang dalam salah satu aspek hidup mereka sebenarnya adalah orang-orang yang "terisolasi" dari masyarakat Israel pada umumnya. Yang pertama adalah puteri Yairus, yang dikhabarkan telah menderita sakit sejak masa kecilnya dan sekarang dinyatakan sebagai orang yang telah mati. Bagi Yairus yang adalah kepala rumah ibadat Yahudi, kesakitan dan kematian anak satu-satunya ini menjadikan hubungannya dengan masyarakat Yahudi terisolasi. Ia merasa terbeban dalam hidupnya karena kehilangan anak satu-satunya adalah suatu aib yang dibicarakan dalam masyarakat. Itulah sebabnya pertolongan segera sangatlah ia butuhkan. Dan untuk meminta pertolongan itu ia tak peduli dengan kedudukannya. Ia datang bersujud meminta Yesus agar Yesus menyembuhkan anaknya.

Orang kedua yang disinggung dalam Injil adalah wanita yang menderita pendarahan selama dua belas tahun. Wanita yang demikian dalam budaya Yahuda seharusnya tidak boleh ada di kerumunan orang banyak. Betapa resiko yang diambilnya ketika ia memutuskan untuk menyentuh jubah Yesus. Kalau saja ketahuan, ia pasti akan dirajam dan mati. Tetapi karena kerinduan akan sembuh dan karena kepercayaannya, ia nekat bertindak. "Asal kujamah saja jubahnya, aku akan sembuh," bathinnya ketika itu.

Dan akhirnya tibalah pernyataan kuasa Tuhan atas mereka itu. Sang wanita itu diminta tampil kedepan, "Siapa yang menjamah jubahKu?" tanya Yesus ketika merasa ada kekuatan yang keluar dari diriNya. Dan wanita itu tak bisa bersembunyi lagi. Ia harus memberi kesaksian tentang karya ajaib yang terjadi pada dirinya. Juga Yairus diminta Yesus untuk tidak usah takut. Iman keduanya mendatangkan keajaiban. Iman itu mendatangkan pemulihan hubungan yang telah rusak karena sakit, dosa, hukuman sosial. Sentuhan dengan Tuhan Yesus membuat wanita itu sembuh. Sentuhan dengan Tuhan Yesus membuat anak Yairus bangkit dan hidup. Dan keduanya terintegrasi kembali ke dalam masyarakatnya. Tuhan mengembalikan mereka kepada hubungan yang harmonis dengan sesamanya, keluarga dan masyarakatnya.

Bagi kita kisah ini sarat pesan, terutama ketika kita harus mempertimbangkan berbagai hubungan antara kita dengan masyarakat. Betapa banyak hal yang membuat hubungan di antara kita tak harmonis, yang membikin kita atau saudara kita terisolasi dari sesama. Mungkin ada banyak dari antara kita terbeban dengan kenyataan pengalaman pahit di masa lalu. Mungkin ada yang terbelenggu oleh bayang-bayang ketakutan akibat kesalahan, dosa, dan tak mau tampil lagi ke depan umum, karena merasa tak pantas, takut ketahuan.

Wanita yang disembuhkan dan Yairus yang meminta kesembuhan bagi puterinya adalah contoh buat kita masa kini. Sentuhan mereka dengan Yesus sungguh menyelamatkan, sungguh mengembalikan keharmonisan dalam diri mereka, sungguh melepaskan beban yang mereka tanggung. Dan kita? Apakah kita masih berpikir bahwa ada beban yang kita tanggung yang tak bisa diselesaikan oleh Tuhan? Masihkah ada iman yang sungguh dalam diri kita tentang karya Tuhan yang bermaksud menyelamatkan dan membebaskan kita? Kita mesti menyerahkannya kepada Tuhan.

Tuhan Yesus, sering masa lalu yang kelam membuat kami kehilangan keberanian untuk keluar dari diri sendiri dan menyentuh Dikau. Semoga kisah dua puteri Israel dalam Injil hari ini membuka mata iman kami, untuk percaya bahwa dalam Dikau ada penyelesaian atas segala permasalahan hidup kami. Amin.

Copyright © 27 Juni 2009, by Ansel Meo SVD

Kamis, Juni 25, 2009

215. Iman: Jalan Menuju Keselamatan

Sabtu, 27 Juni 2009
Pesta Santu Sirilus Dari Alexandria

Bacaan: Matius 8: 5-17

Perikop Injil pada hari ini merupakan lanjutan dari kisah Injil hari Jumad kemarin. Pada hari ini penginjil Matius mengarahkan perhatian kita pada peristiwa penyembuhan hamba seorang Perwira Romawi. Ada hal menarik dan istimewa yang mau disoroti dalam peristiwa ini. Unsur atau elemen yang memungkinkan mukjizat penyembuhan itu terjadi, yang tersingkap jelas kepada kita dari kata-kata Yesus sendiri. Ketika menyembuhkan hamba perwira Romawi, Yesus memaklumkan bahwa iman sebesar yang dimiliki perwira tersebut yang de facto kafir, justru tidak Ia jumpai di antara umat umat Irsael, bangsa kepilihan Allah.

Bagi orang-orang Kristen, iman semisal kunci untuk menghidupi dan menghayati kehidupan Kristen karena hanya dan melalui iman kita memasuki misteri agung Allah. Iman adalah pintu masuk ke dalam kehidupan Kristus. Dengan kekokohan iman kita dapat memindahkan gunung, demikian ditandaskan oleh Yesus sendiri. “Sesungguhnya, jika kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada gunung itu: pindahlah dari tempat ini ke tempat itu, maka gunung itu akan pindah dan takkan ada yang mustahil bagimu” (Mt 17:20). Yesus mengundang kita melalui iman untuk menghidupi dan menghayati lewat suatu pemahaman yang berbeda dari pemahaman-pemahaman yang sudah biasa kita maknai, demi dan melalui iman kita memasuki suatu realitas yang sungguh berbeda.

Kadang-kadang kita dapat kehilangan pandangan tentang betapa radikalnya ajaran Yesus tentang iman. Tetapi Yesus berkata: “Tak ada yang mustahil bagi orang yang percaya” (Mrk 9:23). Orang-orang yang hidup dari dan melalui iman akan mengatakan bahwa sungguh benar Sabda Yesus Kristus. Iman yang kokoh memberi jaminan kepada kita untuk teguh berharap dan setia berkanjang sekalipun berhadapan dengan peristiwa-peristiwa yang tampaknya tak mustahil bagi manusia, dapat tersenyum sekalipun ditengah kepahitan hidup dan dengan gagah berani berseru “jadilah kehendak-Mu, ya Tuhan.” Iman mampu menggerakkan kita untuk melampaui bahasa optimis dan selalu berusaha melihat sisi yang positip dan tetap memiliki keyakinan mendalam bahwa Allah akan melakukan perbuatan-perbuatan ajaib. Allah selalu menyertai kita dan kehendak-Nya yang akan terjadi. Yesus memaklumkan bahwa kita dapat diselamatkan hanya melalui iman yang radikal, pembaharuan hati yang menyeleruh/total dan ketaatan baru kepada satu-satu Allah. Iman memberikan kita kepercayaan dan keberanian untuk mengharapkan hal-hal dan peristiwa-peristiwa yang mulia dari Allah dan melakukan perbuatan-perbuatan yang besar dan mulia bagi Allah.

“Tuhan Yesus, aku ingin berkembang dalam iman; berusaha menapaki jalan hidupku di dalam iman dan bertumbuh di dalamnya. Tuhan Yesus melalui rahmat-Mu, semoga aku hidup melalui dan berdasarkan iman.” Amin.

Copyright @ 24 Juni 2009, by: P, Paskalis B. Keytimu, SVD

Rabu, Juni 24, 2009

214. Tuhan, Sabda-Mu Menyembuhkan Dan Menghidupkan Aku

Jumad, 26 Juni 2009
Masa Biasa

Bacaan: Matius 8: 1-4

Seorang konsultan kesehatan ketika melakukan supervisi pada Fakultas Kesehatan, berceritera kepada para mahasiswa dan mahasiswi sebagai berikut. Ada seorang wanita yang tengah menderita kanker payudara pada stadium III. Tumor itu terus bertumbuh dan dari waktu ke waktu semakin menyebabkan penderitaannya bertambah berat. Namun wanita tersebut tidak pernah mau berkonsultasi dengan dokter guna mendapatkan perawatan dan pengobatan. Ia dirundung oleh perasaan malu dan dibenaknya selalu terbayang pikiran bahwa ia hanya akan menyita waktu dan kesibukan dokter karena de facto kondisinya makin memprihatinkan. Pikirnya, dokter tidak akan sanggup menyembuhkannya. Ketika usai membentangkan sikap wanita tersebut dalam menghadapi penderitaannya, sang konsultor lalu mengingatkan para mahasiswa dan mahasiswi untuk bersikap pro-aktif bila berhadapan dengan pasien-pasien yang dengan mudah merasa malu bila menghadapi penyakit-penyakit yang ganas seperti kanker. Ia menghimbau para mahasiswa dan mahasiswi untuk selalu pekah dan sigap membantu para pasien dengan pola perilaku seperti wanita tersebut.

Pola perilaku kita pun tidak jauh berbeda dengan wanita dalam ceritera di atas dalam berhubungan dengan Allah. Kita tidak suka mendekati Allah atau kita merasa dan berpikir bahwa Allah akan mengurangi dan menghalau dari kita persoalan dan kesulitan yang suka kita hadapi atau yang gemar kita lakukan. Tapi ini sesungguhnya suatu pola pikir yang sangat berbahaya, yang dihimbau oleh Injil hari ini untuk dihalau dari kehidupan kita sebagai orang-orang beriman. Ucapan syukur si penderita kusta barangkali tidak dilakukan berdasarkan cara berpikir demikian, namun ada sesuatu yang baik dan indah daripadanya yang patut kita contohi, yakni keberanian dan kepercayaan dirinya dalam mendekati Yesus. “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku” (Mt 8:2). Dan apa yang terjadi? Yesus langsung menanggapi atau tanpa ragu-ragu menjawabi permohonannya. “Aku mau, jadilah engkau tahir” (Mt 8: 3). Kita semua membutuhkan untuk dibersihkan, dimurnikan dan disembuhkan oleh Kristus. Kita semua memikul luka-luka dosa dan aneka beban kesalahan. Yesus adalah satu-satunya Pribadi yang dapat memurnikan dan membersihkan kita. Dan itu tampak jelas dari kisah Injil hari ini, suatu janji akan penyambutan yang hangat dan penuh cinta.

Kita mengalami pemurnian dan pembersihan atas dosa dan kesalahan kita dari Kristus secara mengagumkan lewat Sakramen Pengakuan. Melalui rahmat Sakramen ini kita dapat mengalami secara langsung sentuhan penyembuhan, pemurnian dan pembersihan dari Kristus sendiri. Melalui Sakramen tersebut kita dapat merasakan cinta dan belaskasih yang nyata dan hidup dari Kristus. Untuk itu, kita perlu bertumbuh dalam kepercayaan diri dan siap mendengarkan Tuhan yang berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir dan merasakan dalam hati kita kegembiraan penyembuhan dan pengampunan Allah.

“Tuhan Yesus, dengan, dan melalui Roh Kudus, semoga aku terus berusaha untuk bertumbuh dalam pengetahuan, pemahaman dan kebijaksanaan bahwa hanya dalam cinta-Mu aku disembuhkan, dibaharui dan diampuni.” Amin.

Copyright © 24 Juni 2009, by: P. Paskalis B. Keytimu, SVD