Jumat, Juli 24, 2009

243. Sanggupkah Anda Meminum Piala Yang Akan "AKU" Minum?

Sabtu, 25 Juli 2009
Pesta Santu Yakobus Rasul
Masa Biasa
Bacaan: Matius 20: 20 - 28
Siapa yang tak ingin menjadi orang pertama, diharagai dan dihormati oleh orang lain? Kita tampaknya memiliki suatu kehausan yang tak terpuaskan akan pengakuan, popularitas, kemasyuran, kuasa dan otoritas. Demikian halnya dengan para murid Yesus, khususnya Yakobus dan Yohanes. Mereka haus akan kuasa, posisi dan otoritas, sehingga harus mendesak ibu mereka menghadap Yesus dan menyodorkan amplop di bawah meja, alias menyogok demi terpuasnya kehausan mereka.
Pada waktu Yesus memanggil murid-murid-Nya untuk menjadi kelompok inti yang akan mengajar dan menjalankan otoritas spiritual atas nama-Nya, Ia melakukan tanpa pertimbangan akan hal tersebut. Ia mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan pemahaman dunia tentang kuasa, otoritas dan posisi, dengan membalikkan urutan “tuan dan hamba, yang mulia dan yang akar rumput, yang pertama dan yang terakhir.” Yesus mengawinkan otoritas dengan cinta, posisi dengan pengorbanan, dan pelayanan dan penghampaan diri atau kerendahan hati. Otoritas tanpa cinta adalah kasar dan ujung-ujung hanya tahu melayani kepentingan diri sendiri. Posisi tanpa hormat dan perhatian terhadap bawahan hanya akan berbuntut pada brutalisme dan keangkuhan. Dan pelayanan tanpa kedermawanan dan pengorbanan hanya akan membuahkan penghinaan dan tindakan yang tak berperikemanusiaan.

Orang-orang yang ingin melayani bersama Kristus dan menjalankan otoritas dalam Kerajaan Allah harus dipersiapkan untuk mengorbankan – tidak hanya berhubungan sebagian dari waktu, uang dan sumber daya – tetapi segenap kehidupan dan segala miliknya. Yesus menggunakan bahasa kiasan untuk menjelaskan wujud dan model dari pengorbanan yang Ia maksudka. Murid-murid-Nya harus meminum piala-Nya, jika mereka mengharapkan meraja bersama-Nya dalam Kerajaan-Nya. Piala yang Ia maksudkan adalah kepahitan penderitaan penyaliban.

Wujud salib apa yang Yesus kehendaki bagi kita para murid-Nya? Seorang murid Yesus harus siap untuk mempertaruhkan hidupnya setiap hari, dalam kecil-besarnya pengorbanan yang dituntut, bahkan siap juga menumpahkan darahnya demi Kristus dan Injil-Nya. Apa yang membuat pengorbanan itu menjadi sesuatu yang menggembirakan daripada dilihat sebagai suatu beban? Itu adalah cinta – model “cinta yang Allah curahkan ke dalam hati kita melalui Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rm 5: 5). Seorang Bapa Gereja perdana menyimpulkan ajaran Yesus ini dalam ungkapan “melayani adalah memerintah bersama Kristus.” Kita mengambil bagian dalam pemerintahan Allah dengan mempertaruhkan diri kita dalam cinta dan pelayanan yang rendah hati kepada orang-orang lain, sebagaimana telah Yesus lakukan demi kepentingan kita. Siap dan sanggupkah anda mempertaruhkan hidupmu dan melayani sesama sebagaimana telah Yesus ajarkan dan dramatisasikan?
“Tuhan Yesus, jadikanlah aku seorang hamba cinta bagi Kerajaan-Mu, sehingga aku hanya mencari untuk melayani daripada dilayani. Kobarkanlah hatiku dengan cinta sehingga aku boleh memberi dalam kegembiraan dan kedermawanan demi kepentingan dan kemuliaan nama-Mu.” Amin.
Copyright@ 24 Juli 2009, by: P. Paskalis B. Keytimu, SVD

Kamis, Juli 23, 2009

242. Hukum Tuhan Itu Sempurna, Menyegarkan Jiwa

Jumad, 24 Juli 2009
Masa Biasa
Bacaan: Kel 20: 1-17; Matius 13: 18-23
Bacaan-bacaan hari ini tidak hanya berbicara tentang hukum Tuhan yang tidak hanya tersurat dalam Kitab Keluaran, tetapi juga ketika kita mendengar dan menerima “Sabda Kerajaan….” Santu Matius berkata bahwa Sabda Allah, yang seharusnya aku terima dalam kegembiraan, juga tidak berakar karena kurangnya pemahaman atau karena faktor lingkungan: “kecemasan akan hal-hal duniawi dan iming-iming atau bujuk-rayu kekayaan mencekik pertumbuhan Sabda Allah.
Apa sebetulnya yang tidak dipahami? Perintah-perintah yang dijumpai dalam Kitab Keluaran nampak sangat jelas. Benar bahwa Sepuluh Perintah Allah itu ditujuhkan kepada bangsa Israel, sebuah komunitas pengembara dan kesukuan – bukan kepada komunitas-komunitas terdidik di abad ke-21 ini. Namun apa yang tersurat dan diungkapkan tetaplah sama, yakni tentang kebenaran-kebenaran keselamatan; dan yang harus dibaca dengan mata dan hati yang terbuka. Allah bersabda: “Aku Tuhan, Allahmu….jangan menyembah dewa-dewa lain selain Aku…Aku adalah Allah yang cemburu, yang membalas kesalahan….tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku” (Kel 20: 5). Hukum-hukum dan perintah-perintah Allah dialamatkan kepada bangsa Israel, sebagai bangsa kepilihan, yang lagi dicobai dan mengarahkan perhatian pada dewa-dewa ciptaan manusia. Mereka yang lagi dihantui pencobaan untuk memutuskan relasi cinta dengan Yahwe. Hukum dan perintah-perintah ini diberikan sebagai bukti atau tanda dukungan Yahwe yang harus dijawab sebagaimana mestinya. Hingga dewasa ini, kita mengenali taman para dewa yang bersaing menarik perhatian dan penyembahan – uang, ketenaran, status, narkotik, seks, kemolekan atau keindahan tubuh dan ketagihan-ketagihan lain dalam segala bentuknya.
Di abad ke-21 ini, zaman canggih dan global ini, kita masih tetap mendengar Sabda Allah ini: “Aku adalah Allahmu, Aku adalah Allah yang cemburu…Aku mencintaimu. Aku adalah Allah yang merindukanmu. Ketika aku sadar akan keterlibatanku dalam suatu relasi yang penuh akrab dan cinta dengan Allah, perintah-perintah ini meninggalkan. Sebagaimana Santu Matius pengingil mengingatkan bahwa, cobaan-cobaan akan menjadi semakin tak terasakan atau licik sejalan dengan aku bertumbuh dalam kematangan spiritual. Saya tidak lagi membutuhkan atau menggunakan Sepuluh Perintah Allah untuk menguji kesadaranku. Sebagaimana aku memasuki tahap intimasi dengan Tuhan Yesus, Roh Kudus, Allah, Sang Cinta, aku diundang untuk menguji kesadaranku. Menguji hariku, hidupku, relasiku, dalam terang relasiku dengan Allah. Relasiku dengan Allah menjadi landasan kokoh untuk segala relasiku dengan yang lain: keluarga, sahabat, anak-anak, tetangga dan rekan kerja. Secara bertahap, aku menjadi semakin akrab dengan Yesus, dengan Bapa dan Roh Kudus, aku menjadi semakin menyadari kerinduan dan cinta Allah bagiku dan kehadiran Allah dalam semua relasiku. Dengan penuh kelembutan, Allah akan menampakkan kesalahan-kesalahanku, kelemahan-kelemahanku dan luka-lukaku yang membutuhkan penyembuhan dan cenderung membebaskan sakit pada diriku dan pada orang-orang lain.
Ketika aku bertumbuh dalam keakraban dengan Allah, aku bertumbuh dalam kesadaran akan diriku dan bertumbuh dalam relasi cinta dengan sesama. Ketika aku mencintai, aku sebetulnya hanya menginginkan untuk hidup dan bernapas dan memiliki keberadaanku dalam Kristus. Hukum Tuhan itu sempurna dan, menyegarkan jiwa…”
“Tuhan, bantulah aku untuk menjaga dan melindungi Sabda yang Engkau tanamkan dalam hatiku sehingga tak kebimbangan atau pencobaan boleh menjauhkan aku dari percaya dan mentaati Dikau. Semoga ku menghasilkan buah-buah berlimpah dalam pelayananku dan tidak cemas apalagi takut untuk berbicara tentang Dikau kepada sesama dan berbagi dengan mereka Kabar Gembira Injil.” Amin.
Copyright@ 23 Juli 2009, by: P. Paskalis B. Keytimu, SVD

Rabu, Juli 22, 2009

Mata Dan Telinga Yang Terbuka Dan Siap Sanggup Melihat Dan Mendengar Sabda Kehidupan

Kamis, 23 Juli 2009
Pesta Santa Bergita Dari Swedia
Masa Biasa
Bacaan: Matius 13: 10-17
Santu Agustinus dari Hippo pernah berkata: “Aku percaya, agar dapat memahami; tetapi dengan memahami kepercayaanku makin sempurna.” Baik iman maupun pengertian, keduanya adalah hadiah dari Roh Kudus. Karunia-karunia ini akan menyanggupkan kita untuk mendengarkan Sabda Allah dan memahaminya dan dengan demikian sekurang-kurangnya kita dapat dibantu untuk mengenal Alah dengan lebih baik dan bertumbuh dalam pengetahuan tentang cinta dan kebenaran Allah.
Dalam Injil hari ini, Yesus mengingatkan para murid-Nya bahwa tidak semua orang akan sanggup memahami ajaran-Nya tentang misteri-misteri Kerajaan Surga. Karena sebagian menutup mata dan telinga mereka bahkan melarikan diri dari kebenaran. Namun ada pula yang melihat dan mengalami secara langsung sehingga menyelami kebenaran dari misteri tersebut. Ironisnya ialah, orang-orang yang menutup mata dan telinga mereka adalah kelompok orang terdidik, kaum cerdik pandai, para profesional di bidang karya mereka. Kaum skeptis ini adalah para ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang terlampau sombong, kelewatan membangga-banggakan pengetahuan mereka tentang Kitab Suci dan Hukum Taurat Musa. Mereka mendengar perumpamaan Yesus, juga menyaksikan mukjizat-mukjizat yang dilakukan-Nya, tetapi menolak untuk mengakui Yesus dan menolak untuk menerima Sabda-Nya. Secara spiritual mereka buta dan tuli karena hati mereka tertutup dan pikiran mereka diblokade oleh kesombongan dan prasangka. Bagaimana mungkin, kata mereka, pemuda dari Galilea yang sederhana ini, apalagi anak seorang tukang kayu memiliki pengetahuan yang begitu luas dan dalam, bahkan mengetahui segala sesuatu tentang Allah, daripada para mereka yang dikenali sebagai ahliahli yang mengabdikan diri sepanjang hidup untuk belajar dan mengajar?
Hanya ada satu-satunya hal yang dapat membuka apa yang tertutup, yang membingungkan dan mengacaukan pikiran, yakni hati yang remuk redam dan kehampaan jiwa. Kata “murid” berarti seseorang yang ingin untuk belajar dan dan siap untuk memasrahkan diri kepada kebijaksanaan dan kebenaran yang berasal dari Allah. Mazmur 119 mengungkapkan kegembiraan dan sukacita seorang murid yang mencintai Sabda Allah dan yang berpegang teguh pada Sabda Allah dengan iman dan ketaatan. “Betapa kucintai Taurat-Mu. Aku merenungkannya sepanjang hari. Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana daripada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku. Aku lebih berakal budi daripada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan” (Mzm 119: 97-99).
Allah hanya menampakkan misteri-misteri Kerajaan-Nya kepada orang yang rendah hati dan percaya yang selalu merindukan Allah dan kebenaran-Nya. Perumpamaan Yesus akan menerangi kita jika kita mendekatinya dengan keterbukaan hati dan pikiran, serta siap membiarkan perumpamaan-perumpamaan itu menantang kita. Jika kita mendekati Sabda Allah dengan sikap acuh tak acuh, skeptis dan tidak percaya, maka kita juga tergolong orang yang punya hati tetapi memahami dan tidak menerima. Sabda Allah hanya dapat berakar dalam sebuah hati yang terbuka dan siap untuk percaya dan memiliki kehendak untuk menghayatinya. Adalah suatu berkat berharga jika kita dapat memiliki mata dan telinga yang terbuka sehingga kita boleh melihat dan memahami misteri-misteri Kerajaan Surga. Semoga Allah membantu kita untuk menjadi terbuka dan siap menerima Sabda Kehidupan yang diberikan kepada kita dengan cuma-cuma sehingga kita akhirnya boleh tinggal dalam Kerajaan itu dengan saudara dan saudari kita.
Ya Roh Kudus, jadilah Guru dan Pembimbingku. Bukalah telingaku untuk mendengarkan Sabda Allah dan juga mata hatiku untuk melihat dan memahami tindak kasih Allah dalam hidupku. Semoga hatiku tidak menjadi tertutup dan telingaku tidak kelelahan mendengarkan suara Kristus.” Amin.
Copyright@ 22 Juli 2009, by: P. Paskalis B. Keytimu, SVD

Selasa, Juli 21, 2009

Betapa Membaskan Bila Mengizinkan Yesus Mencintai Kita

Rabu, 22 Juli 2009
Pesta Santa Maria Magdalena
Masa Biasa
Bacaan: Kel 16:1-5. 9-15; Yoh 20: 1-2. 11-18
Maria Magdalena yang terkasih,
Mengenangkan pestamu hari ini, aku lebih suka menulis untukmu sebuah refleksi. Aku lebih suka menyebutnya sebagai suatu komtemplasi imajinatif. Bagiku, engkau seorang tokoh penting dalam perjalanan hidup Gereja Perdana, dan seorang sahabat dekat Yesus. Karena itu, aku ingin menghabiskan waktuku hari ini bersamamu, sekaligus ingin mengenalmu lebih baik. Bolehkan Maria?
Aku merasa akan sangat terbantu, dan tentunya bisa mengenalmu, bila aku berangkat dari kisah mengenai latarbelakang kota kelahiranmu, MAGDALA. Usal-usulmu dari kota yang terkenal makmur di bagian Barat pantai Sungai Galilea ini, (semoga aku tidak keliruh, karena aku hanya membacanya berdasarkan peta), memberikan aku landasan kuat untuk berkisah tentang engkau. Maria, aku menduga kalau engkau tidak pernah menikah, karena dalam Injil, namamu tidak pernah disebut dalam hubungan dengan nama seorang lelaki sebagaimana terjadi dengan wanita-wanita lain, seperti Maria istri Yakobus. Dan alasannya karena engkau adalah salah seorang wanita terkaya, yang terlibat dalam dua bisnis terpenting di kota Magdala, yakni pengawetan ikan dan pembuatan kapal atau perahu.
Barangkali ayahmu tidak punya anak laki-laki dan beliau kecepatan meninggal dunia dan meninggalkan engkau mengelola dan mengembangkan semua bisnis tersebut. Mungkin engkau juga tidak membutuhkan dukungan oleh seorang suami dan dengan demikian tak pernah ada pernikahan yang direncanakan untukmu. Atau, aku bisa mereka-reka lebih jauh bahwa lelaki yang engkau kasihi dan yang mungkin direstui ayahmu, juga begitu cepat berpulang ke rumah Bapa di Surga, sebelum kalian menikah. Atau lelaki itu adalah seorang yang tidak setia dan meninggalkan engkau karena merasa bahwa engkau bukanlah seorang wanita biasa.
Apa yang kami ketahui tentang engkau dari Injil-Injil adalah bahwa Yesus membebaskan “tujuh roh jahat” daripadamu dan bahwa engkau mengikuti-Nya bersama dengan Maria ibu Yesus dan wanita-wanita lain yang adalah para dermawan yang membantu Yesus dan para murid-Nya. Roh jahat apa yang telah merasuki engkau, Maria? Aku sungguh ragu bahwa engkau adalah wanita pendosa yang dimaksudkan oleh Injil Lukas yang hadir pada perjamuan yang diadakan Simon untuk Yesus. Aku juga ragu kalau engkau adalah wanita yang hendak dilempari batu sebagaimana dikisahkan dalam Injil Yohanes. Lebih lanjut, seniman pada Abad Pertengahan juga begitu gampang mengidentifikasikan dirimu dengan wanita-wanita tersebut. Padahal dari kisah Injil tertulis bahwa Yesus tidak mengenal wanita-wanita yang disebutkan itu. Besar kemungkinan bahwa perjuanganmu untuk membebaskan diri bukan berhubungan dengan masalah seksual, Maria. Aku kira roh-roh jahat yang engkau perjuangkan itu tidak lain adalah: kekayaan, popularitas dan kesombongan yang telah menjerumuskan engkau di Magdala. Kekayaan, kehormatan dan kesombongan adalah roh-roh yang sangat jahat yang Yesus selalu bicarakan, dan bukan tentang dosa seksual.
Aku kira engkau adalah seorang wanita yang luar biasa dari kota Magdala. Aku dapat menggambarkan engkau sebagai seorang wanita yang istimewah dan sangat berpengaruh di kota para pedagang dan para arsitektur itu. Aku berani bertaruh bahwa engkau tidak punya tandingan. Tak ada wanita yang diajar dengan metode pendidikan yang diterapkan oleh ayahmu. Engkau bijak, pandai dan berpendidikan. Engkau seorang yang sangat berhasil dalam hidup dan itu telah memenangkan bagimu rasa hormat dari orang-orang sekotamu dan barangkali membuat orang-orang pada segan denganmu. Dalam dunia kaum lelaki, engkau telah menjadi seorang pemimpin. Maria…aku yakin bahwa semua itu ada dalam rencana Allah untuk keselamatanmu. Engkau telah dipersiapkan untuk berjumpa dengan Yesus dan dibarui oleh-Nya. Kekayaanmu telah melayani misi Yesus dengan baik dan berhasil.
Bagaimana pertemuan itu terjadi, Maria? Aku menduga bahwa itu terjadi ketika Yesus mengadakan perjalanan misi ke daerah pantai, dan melewati kota Magdala. Sebagai seorang wanita terpandang atau terkemuka di kota itu, sudah tentu engkau ingin bertemu dengan Yesus yang bertandang ke kotamu dan yang akan melakukan banyak hal yang menggemparkan. Engkau bukan seorang wanita Yahudi yang taat Agama/beragama, tetapi engkau berpendidikan dan sungguh memahami persoalan-persoalan Agama dan politik yang sering Yesus bicarakan. Warta Yesus tentang hal-hal ini malah terus menghantui hingga merasuki hatimu. “Jika kamu ingin menyelamatkan hidupmu, kamu harus kehilangan hidupmu.” “Adalah sangat sulit bagi seorang kaya memasuki Kerajaan Surga – lebih mudah bagi seekor untah masuk melalui lobang jarum.” “Ketika Aku lapar, haus, telanjang, sakit, di penjara, kamu tidak berada di sana.” “Orang kaya itu memohon bapa Abraham, agar mengizinkan Lazarus, si miskin itu membawakan setetes air untuknya.” “Kamu tidak dapat melayani dua tuan, Allah dan uang atau kekayaan atau mamon. Mendengar itu, ketujuh roh jahat yang malang itu, langsung lari terbirit-birit dari hatimu, Maria. Dan hatimu sekaligus dikosongkan agar terbuka untuk menerima Yesus, untuk mencintai-Nya dan mengikuti-Nya.
Yesus membutuhkan engkau, Maria. Sudah tentu bahwa segala modal yang engkau miliki mendukung perjalanan misi dan kebutuhan harian mereka. Tetapi, sumbanganmu lebih dari hal-hal ini. Engkau adalah saksi mata atas pengajaran Yesus dan juga mukjizat-mukjizat yang dilakukan-Nya. Engkau hadir di sana bersama Maria, ibu Yesus, pada setiap tapak langkah perjalanan. Aku bisa membayangkan betapa Bunda Maria mengasihi engkau dan bahkan sebagai seorang wanita yang dibangga-banggakannya di jalan mengikuti Putranya. Engkau selalu hadir di sisi Maria, pun ketika para murid Yesus melarikan diri, meninggalkan Dia justru di saat-saat penderitaan. Bunga cintamu di jalan mengikuti Yesus malah berubah jadi sebuah tanur yang kokoh di jalan Tuhan.
Maka pada hari ketiga, ketika engkau pergi ke kubur Yesus dan menemukan kubur itu kosong, justru engkau, Maria, yang kemudian diberkati oleh Allah untuk melihat Tuhan yang bangkit dan hidup kembali. Dan engkau adalah satu-satunya wanita yang dipilih untuk menjadi rasul dari para rasul. Pada hari-hari itu, tak seorang yang akan memilih seorang wanita untuk menjadi seorang saksi. Tetapi, engkau justru terpilih. Para murid akan percaya kepadamu. Engkau sungguh istimewah, Maria. Kesaksianmu dapat dipercayai dan keagungan cintamu patut diteladani.
Maria…aku sangat yakin bahwa jasamu sangat besar dalam perkembangan dan pertumbuhan Gereja perdana. Tetapi, bagaimana kisah kasihmu setelah kesaksianmu tentang Tuha yang bangkit? Aku lagi-lagi menduga, bahwa engkau kembali ke kota Magdala. Di sana, engkau menjadi seorang pewarta iman yang tangguh dan ulet, meski tak satupun catatan pengajaranmu yang dijumpai kini. Tapi aku dapat merasakan dan mendengar semua itu. Dan saya percaya bahwa semua itu tentang Yesus dan tentang betapa sangat membebaskan jika membiarkan Dia mencintai kita.
Copyright@ 21 Juli, 2009, by: P. Paskalis B. Keytimu, SVD