Rabu, Juli 01, 2009

221. "Ya Tuhanku Dan Allahku"

Jumad, 03 Juli 2009
Pesta Santu Thomas Rasul
Masa Biasa
Bacaan: Yohanes 20: 24-29 (alternatif Mt 9: 9-13)
Pada hari ini kita merayakan Pesta Santu Thomas Rasul. Ada dua pilihan bacaan Injil yang ditawarkan kepada kita untuk direnungkan. Saya cenderung memilih perikop Injil yang kurang lebih berkisah tentang Santu Thomas Rasul. Karena itu, renungan kita hari ini mengacu pada perikop Injil Santu Yohanes 20: 24-29.
Rasul yang paling belakangan atau paling terakhir bertemu dengan Tuhan yang bangkit adalah dia yang paling pertama pergi bersama atau menemani Yesus dalam perjalanan ke Yerusalem pada saat Perjamuan Paskah. Itulah dia, rasul Thomas yang kita kenali bahkan juluki sebagai orang yang kurang percaya, seorang pesimis. Mengapa? Ketika Yesus berniat untuk mengunjungi Lazarus setelah menerima khabar perihal sakit yang dideritanya, Thomas malah berkata kepada para murid lainnya demikian: “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia” (Yoh 11: 16). Ketika cintanya kepada Tuhan mulai mendalam, Thomas toh masih juga memperlihatkan sikap pengecut atau ketidak-beraniannya untuk menemani Yesus di saat-saat penderitaan dan penyaliban-Nya. Setelah kematian Yesus, Santu Thomas Rasul, lagi-lagi membuat kesalahan dengan memisahkan diri dari kelompok para murid. Ia lebih memilih kesendirian di saat-saat sulit dan penuh penderitaan daripada menjadi bagian dari sebuah persekutuan para murid. Rasul Thomas juga yang meragukan kesaksian wanita yang telah melihat Tuhan yang bangkit, juga kesaksian para murid Yesus lainnya tentang kebangkitan Tuhan. Apakah Santu Thomas Rasul hanya sebatas seorang murid Tuhan yang kurang percaya, seorang yang punya karakter dasar pesismis? Tentu , tidak!, jawabannya! Mengapa?
Ketika akhirnya, Rasul Thomas memiliki keberanian untuk bergabung kembali dengan para murid lainnya, Yesus membuat diri-Nya dikenali olehnya dan menenteramkan hatinya bahwa inilah Dia, Yesus yang sungguh-sungguh telah mengatasi kematian dan bangkit kembali. Serentak dengan itu, Santu Thomas tidak hanya mengenali Tuhan dan Gurunya, tetapi ia sekaligus percaya dengan sepenuh hatinya dan bersaksi bahwa Yesus sungguh Tuhan dan sungguh-sungguh Allah.
Melaui anugerah, hadiah iman, kita juga akan sanggup untuk mengenali kehadiran Tuhan yang bangkit dalam kehidupan pribadi kita. Roh Kudus menampakkan Tuhan Yesus kepada kita dan akan selalu siap membantu kita untuk bertumbuh dalam pengetahuan dan pemahaman mengenai Allah dan jalan-jalan-Nya. Melalui anugerah iman kita pun disanggupkan untuk mewartakan bahwa Yesus adalah sungguh Tuhan kita dan sungguh-sungguh Allah kita. Ia telah mati dan telah bangkit, dan dengan demikian kita memiliki peluang yang seluas-luasnya untuk memiliki hidup baru di dalam-Nya. Sesungguhnya Tuhan menawarkan kepada masing-masing kita kehidupan baru di dalam Roh-Nya yang Kudus sehingga kita boleh mengetahui Dia secara lebih personal dan berjalan di jalan baru kehidupan berkat kuasa kebangkitan-Nya. Kita tentu percaya akan kebenaran Sabda Allah dan akan daya kuasa Roh Kudus?
“Tuhan Yesus Kristus, melalui kemenangan-Mu mengatasi dosa dan kematian, Engkau mengatasi segala kekuasaan kegelapan. Bantulah aku untuk makin mendekatkan diri kepada-Mu dan percaya akan anugerah Sabda Kehidupan-Mu. Penuhilah aku dengan Roh Kudus dan kuatkanlah imanku akan janji-janji-Mu serta harapanku akan kuasa kebangkitan-Mu. Santu Thomas Rasul, doakanlah kami pada Allah, agar seperti engkau kami pun pada akhirnya boleh mengatasi kelambanan iman kami dan menjadi orang-orang yang teguh percaya akan Tuhan yang bangkit.” Amin.
Copyright@ 02 Juli 2009, by: P. Paskalis B. Keytimu, SVD

220. Jangan Membiarkan Hal Yang Jahat Bersarang Di Hati, Juga Pikiranmu

Kamis, 02 Juli 2009
Masa Biasa
Bacaan: Matius 9: 1-8
Apa yang melumpuhkan pikiran dan hati serta mencegah kekuatan penyembuhan dari cinta? Jawaban yang tampaknya lebih pasti adalah dosa dan ketertutupan hati untuk mengampuni. Dosa melumpuhkan kita lebih dari yang dapat dimungkinkan diakibatkan oleh penyakit fisik apa pun. Dosa adalah pekerjaan/karya kerajaan kegelapan dan akan terus memperhamba kita. Tak ada jalan pembebasan lain yang sempurna kecuali satu-satunya solusi penyembuhan, kuasa pembersihan lewat menerima dan mengalami pengampunan dari Yesus sendiri.
Model pendekatan dan ungkapan belaskasih Yesus yang dinyatakan dalam tindak penyembuhan terhadap orang-orang sakit dan para pendosa tampaknya selalu menantang rasa nyaman para ahli Taurat dan orang-orang Farisi pada zaman-Nya. Santu Matius memperlihatkan hal ini dengan jelas dalam bacaan Injil hari ini. Dikatakan bahwa ketika seorang lumpuh dibawah kepada Yesus karena iman para sahabatnya, para guru besar agama Yahudi dan para ahli Kitab malah bersungut-sungut seolah-olah tindakan itu salah. Pertama-tama, Yesus menyapa si lumpuh dengan seruan “dosa-dosamu telah diampuni.” Tindakan ini dianggap sebagai hujatan atau fitnahan karena di ruang otak mereka yang terbatas itu cuma terekam pemahaman bahwa hanya Allah yang memiliki otoritas untuk mengampuni dosa-dosa dan melepaskan manusia dari beban-beban kesalahan. Otoritas ini sepenuhnya merupakan hak Allah, pikir mereka. Tetapi, mengapa Pemuda dari kampung Nazareth ini mengklaim sebagai hak-Nya? Lebih lanjut, Yesus tidak hanya membuktikan kepada mereka bahwa otoritas-Nya itu berasal dari Allah, Ia bahkan menunjukkan kuasa yang lebih agung dari cinta dan belaskasih Allah yang menyelamatkan dengan menyembuhkan si lumpuh dari penyakit fisik yang dideritanya. Orang yang dibawah kepada Yesus tidak hanya dilumpuhkan secara fisik tetapi juga secara spiritual. Dan Yesus membebaskan dia dari semua beban kesalahannya dan sekaligus memulihkan kesehatan tubuhnya.
Tuhan selalu siaga untuk membawakan kita penyembuhan pikiran, tubuh dan jiwa. Rahmat-Nya akan membebaskan kita dari kuasa dosa dan dari perbudakan keinginan dan kecanduan atau ketagihan yang berbahaya. Pertanyaannya adalah “Apakah anda lebih suka mengizinkan apa pun yang dapat mencegah anda untuk mengalami kuasa penyembuhan dari Yesus? Atau, anda lebih memilih untuk membiarkan Yesus dengan leluasa menyentuh anda dengan kuasa-Nya yang membebaskan dan menyembuhkan?
“Tuhan Yesus, melalui cinta-Mu yang penuh belaskasih dan pengampunan, Engkau membawa penyembuhan dan pemugaran terhadap tubuh, pikiran dan jiwa. Semoga, kuasa penyembuhan dan cinta-Mu menyentuh setiap bagian dari hidupku – pikiranku-pikiranku yang paling dalam, demikian perasaan-perasaanku, sikap-sikapku, begitu pula ingatanku-ingatanku yang paling dalam. Ampunilah segala pelanggaran dan kejahatanku dan baharuilah aku dengan kekuatan Roh Kudus sehingga aku boleh berjalan dengan penuh percaya diri dalam kebenaran dan kebaikan-kebaikan-Mu.” Amin.
Copyright@ 01 Juli 2009, by: P. Paskalis B. Keytimu, SVD

Selasa, Juni 30, 2009

219. Semua Orang Datang Kepada Yesus

Rabu, 01 Juli 2009
Pesta Santu Oliver - Uskup Dan Martir
Masa Biasa
Bacaan: Matius 8: 28-34
Pernahkah dalam hidup ini anda mengalami diperdaya oleh kekuatan jahat yang melampaui kekuatanmu? Dalam Injil hari ini, Santu Matius berkisah perihal pengalaman dua lelaki yang lagi dibuat tak berdaya oleh kekuatan roh-roh jahat dan menjumpai Yesus, satu-satunya Pribadi yang dapat membebaskan mereka dari kungkungan kekuasaan roh-roh jahat tersebut. Ceritera yang sama dapat kita jumpai pula dalam Injil Lukas dan Markus. Keduanya berkisah tentang pengalaman seorang lelaki yang dirasuki oleh satu legion (kurang lebih sama dengan 6.000 tentara) agen-agen kegelapan ini (Mrk 5:9; Lk 8:30). Untuk orang-orang Palestina, masalah dikepung atau dikungkung oleh kekuatan lain, entah dalam konteks spiritual atau pun fisik, langsung dipahami sebagai suatu teror, yang menaburkan benih ketidaktenteraman malah melahirkan penderitaan dalam hidup. Jaman kita pun telah menjadi saksi tentang pelbagai kejahatan yang tak terkirakan dan perusakan serta penghancuran massa yang dilakukan oleh tangan-tangan penguasa dan kekuatan-kekuatan yang bersenjata. Di tengah kondisi seperti ini, pilihan sikap mana yang sepatutnya kita tempuh? Menatap bisu dan membiarkan kekuatan yang merusak itu merajalela dalam hidup kita, dunia kita dan sejarah hidup manusia? Atau, relakah kita bertekuk lutut pada kaki Yesus sembari memohon penuh harap akan belaskasih dan pembebasan dari segala kuk atau beban yang sangat berat menindih hidup? Sabda Allah mengingatkan kita bahwa tak ada satu pun kekuatan yang merusak yang akan terus menguasai seseorang dari kedamaian dan rasa terbebaskan yang Allah anugerahkan kepada orang-orang yang mencari pertolong kepada-Nya. “Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu. Sebab Tuhan ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kau buat tempat perteduhanmu” (Mzm 91: 7. 9).
Ada hal menarik lain yang bisa kita jumpai dalam kisah Injil hari ini. Santu Matius mengungkapkan bahwa setelah Yesus menaruh belaskasihan kepada kedua lelaki dengan membebaskan mereka dari kekuatan roh-roh jahat, maka seluruh penduduk kota keluar untuk menjumpai Yesus. Belum pernah mereka menyaksikan ada orang yang memilik kekuasaan dan otoritas melawan kekuatan setan sebagaimana dimiliki oleh Yesus. Ada ketakutan serentak melilit hati dan pikiran mereka, yang berbuntut pada permohonan agar Yesus sebaiknya meninggalkan mereka. Pertanyaannya adalah “mengapa mereka tidak ingin agar Yesus tinggal di kota mereka? Barangkali harga demi pembebesan dari kekuasaan jahat dan dosa mengatasi keinginan mereka untuk membayar. Yesus selalu siap dan ingin membebaskan kita dari segala sesuatu yang membutakan kita dan yang mencegah kita untuk mengalami cinta kasih Allah. Apakah anda enggan untuk membayar meskipun hanya dengan membuka diri dan mengizinkan Yesus untuk membebaskan anda dari segala kunkungan kekuatan kegelapan? Apakah anda ingin untuk terus menjadi bagian dari kekuatan yang dapat menghalang-halangi anda dari cinta dan rahmat keselamatan-Nya?
Dengan bantuan Santu Oliver, Uskup dan Martir, kita berdoa: “Tuhan Yesus, bukalah hati dan pikiran kami untuk selalu menyadari kehadiran-Mu yang menyelamatkan. Sanggupkanlah kami untuk selalu berusaha mencintai-Mu dengan sepenuh hati dan dengan segala kekuatan kami. Semoga kami boleh berjalan dalam kebebasan di jalan cinta dan kekudusan-Mu. Semoga tak ada satu kekuatan pun yang sanggup mencegah kami untuk merasakan kegembiraan hidup yang selalu terpancar lewat kehadiran-Mu.” Amin.
Copyright@ 30 Juni 2009, by: P. Paskalis B. Keytimu, SVD

Minggu, Juni 28, 2009

218. Mengapa Kamu Takut, Kamu Yang Kurang Percaya?

Selasa, 30 Juni 2009
Pesta Martir-Martir Pertama Dari Gereja Roma

Bacaan: Matius 8: 23-27

Apakah yang lebih kuat dari ketakutan, pun ketakutan akan kematian? Kitab Suci memberi jawaban bahwa: “Di dalam kasih tidak ada ketakutan. Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan, sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih” (1Yoh 4: 18). Lebih lanjut di dalam nyanyian Kebijaksanaan Salomo 8: 6 tertulis, “Cinta kasih lebih kuat daripada kematian.”

Lukisan penginjil Matius mengenai Yesus yang lagi tertidur ketika angin ribut menerjang danau dan serentak menyebabkan perahu mereka terombang-ambing hingga hampir tenggelam, sebetulnya mau menegaskan kebenaran tentang “kekerdilan iman” para murid Yesus. Mereka cemas dan takut akan kehidupan mereka, sekalipun Guru dan Tuhan mereka hadir dan menyertai mereka di dalam perahu. Para murid dikuasai oleh ketakutan hingga mata hati dan pikiran mereka tertutup untuk melihat situasi baru yang tengah dihadapi. Ketakutan yang membutahkan itulah yang melahirkan pula pertanyaan berikut: “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya? (Mt 8: 27). Padahal mereka sebetulnya tahu bahwa siapakah selain Allah yang sanggup meneduhkan angin ribut? Siapakah selain Allah yang mampu melakukan mukjizat itu dan memerintahkan kekuatan alam untuk tunduk kepada Sabda-Nya.

Seperti para murid, kita pun sering kurang percaya bahwa Yesus adalah Allah. Barangkali kita hanya memiliki keyakinan bahwa Yesus adalah seorang yang baik, seorang nabi, dan tentu Dia adalah seorang kudus serta barangkali salah seorang yang sangat penting dalam sejarah manusia. Tetapi, apakah kita percaya bahwa Yesus sungguh-sungguh Allah, barangkali jawabannya tidak semudah kita membalikkan telapak tangan kita. Ajaran bahwa Yesus adalah Allah merupakan hal yang sungguh amat radikal karena ia nampak sebagai suatu syok yang membingungkan manakala kita merasa seolah-olah bergulat sendirian menghadapi pelbagai problema hidup. Kadang terlontar dari bibir kita pertanyaan seperti ini: “Di manakah Allah yang kata-Nya selalu mencintai kita, selalu hadir dan menemani kita dalam ziarah hidup ini, manakala kita menghadapi pencobaan, kesengsaraan bahkan kematian?”

Sebagaimana kepada para murid, demikian kepada kita hari ini, Yesus mengajukan pertanyaan yang sama: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya? (Mt 8: 26). “Bagaimana kita dapat mengatasi ketakutan dengan iman? Apakah kita mengenali kehadiran Tuhan bersama kita, pun ketika kita sedang berada di tengah kepahitan hidup? Yesus telah menampakkan di dalam diri-Nya bahwa Allah tidak cuma memandang dengan dingin atau menjauhkan diri dari kita dan acuh tak acuh terhadap kehidupan kita tetapi Allah selalu siap untuk melibatkan Diri di dalam kehidupan kita, dunia kita dan sejarah kita. Allah hidup dan berkarya sebagai Seorang Manusia di dalam Diri Yesus dari Nazareth. Jawaban apa yang dirasa benar dan paling tepat demi realisasi semua kebenaran ini bagi kita? Barangkali hanya ada satu jawaban yang benar dan paling tepat yakni Iman yang pasrah tundak dan menyembah serta mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah demi kemuliaan Allah Bapa. Iman model ini tidak dapat menuntut bukti berdasarkan keinginan atau hasrat-hasrat kita, tetapi meluluh berdasarkan kehendak bebas Allah dalam memberi. Iman yang selalu terbuka untuk mendengarkan jawaban Yesus, “Ini Aku, jangan takut.”

Tuhan Yesus, semoga aku selalu mengenali kehadiran-Mu yang selalu menyertai aku. Ketika aku harus masuk ke dalam problema hidup atau pun ketakutan, semoga aku menemukan dukungan dan kekuatan untuk menjawab sesuai dengan rencana dan kehendak-Mu sendiri.” Amin.

Copyright © 28 Juni 2009, by : P. Paskalis B. Keytimu, SVD