Senin, Juni 15, 2009

206. Apabila Engkau Berdoa, Berpuasa Dan Memberi Derma

Rabu, 16 Juni 2009
Masa Biasa
Bacaan: Matius 6:1-6.16-18
Mengapa Yesus mengingatkan para murid-Nya akan pentingnya “berdoa, berpuasa dan memberi sedekah”? Orang-orang Yahudi memandang ketiga hal ini sebagai pekerjaan utama dari kehidupan keagamaan. Ketiganya dilihat sebagai tanda-tanda kunci yang menentukan kesalehan seseorang, tiga pilar agung yang menjadi penyangga utama kehidupan yang baik. Yesus justru menekankan soal hati (inti) dari berdoa, berpuasa dan memberi sedekah. Ia menantang murid-murid-Nya dengan pertanyaan: Mengapa kamu berdoa, berpuasa dan memberi sedekah? Apakah kamu melakukannya agar orang-orang lain melihatnya dan berpikir positip tentang engkau, dan menaruh rasa hormat yang besar kepadamu? Atau, kamu melakukan demi memuliakan Allah? Yesus mengingatkan para murid-Nya untuk tidak mencari kemuliaan bagi diri sendiri. Kesalehan yang sejati adalah sesuatu yang lebih dari apakah orang lain memandang engkau baik dan menganggap engkau kudus. Kesalehan yang sejati adalah kesetiaan yang penuh cinta kepada Allah. Itu merupakan suatu sikap pesona/kagum, penghormatan yang mendalam, penyembahan dan ketaatan yang total. Itu merupakan suatu hadiah dan karya Roh Kudus yang menyanggupkan kita untuk bertekun dan setia kepada Allah dengan hasrat yang kudus demi mempersilahkan Allah dalam segala situasi dan kondisi hidup kita (bdk. Yes 11:1-2).
Apa ganjaran pasti yang Yesus nyatakan kepada para murid-Nya? Ganjarannya adalah komunio/persatuan dengan Allah, Bapa kita. Hanya di dalam Allah, kita menemukan kepenuhan kehidupan dan kebahagiaan, kebenaran dan cinta serta kegembiraan. Santu Agustinus, Uskup agung dari Hippo pada abad ke-4, menulis doa berikut dalam bukunya yang berjudul Confessions (Pengakuan): “Apabila aku secara sempurna dipersatukan dengan Dikau, ya Allah, di sana tak akan ada lagi duka nestapa, atau godaan-godaan/percobaan-percobaan; hanya dinaungi sepenuhnya oleh Dikau, hidup akan menjadi sempurna.” Tuhan mengganjari mereka yang mencari Dia dalam kerendahan hati dan hati yang bertobat. Ia membarui kita setiap hari dan memberikan kita hati baru yang mencintai dan penuh belaskasih sehingga kita boleh melayani Dia dan sesama dengan hati yang penuh gembira dan dermawan. Kita tentu ingin bertumbuh di jalan keselamatan ini, maka carilah Tuhan dengan penuh pengharapan dalam doa; dengan berpuasa dan dalam kemurahan hati dalam memberi kepada mereka yang sungguh-sungguh membutuhkan uluran tangan kasih.
“Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku iman yang hidup, harapan yang kokoh, kemurahan hati yang mendalam, dan cinta yang agung kepada-Mu. Ambillah daripadaku segala yang suam-suam dalam merenungkan Sabda-Mu, dan kepudaran dalam doa. Anugerahkanlah kepadaku kegairahan dan kesukaan dalam memikirkan Dikau dan rahmat-Mu. Penuhilah hatiku dengan rasa peduli terhadap sesama, khususnya orang-orang yang berada dalam kebutuhan. Hanya dengan demikian, aku disanggupkan untuk menjawabinya dengan penuh kemurahan hati”. Amin.
Copyright@15 Juni 2009, by: P. Paskalis B. Keytimu, SVD

205. Kasihilah Musuhmu Dan Berdoalah Bagi Yang Menganiaya Kamu

Selasa, 16 Juni 2009
Masa Biasa
Bacaan: Matius 5: 43-48
Saya ingin mengawali renungan pada hari ini dengan mengutip kembali pertanyaan yang sudah diajukan dalam renungan hari kemarin, Senin, 15 Juni 2009. Apakah yang membuat orang-orang Kristen berbeda dari orang-orang lain dan apakah yang membuat Agama Kristen berbeda secara mendasar dari agama-agama lain? Sekali lagi, itu karena Rahmat – cara anda dan saya memperlakukan sesama, bukan berdasarkan apa yang telah mereka perbuat atas dirimu, tetapi harus sesuai dengan kehendak Allah dalam memperlakukan sesama, yakni dengan cinta-kebaikan dan belaskasih. Allah itu murah hati dan baik terhadap yang jahat pun yang baik. Cinta kasih Allah menaungi orang-orang kudus pun para pendosa. Allah mengharapkan kebaikan kita, dan mengajarkan kita untuk mencari dan mengutamakan kebaikan tertinggi dari sesama, pun dari mereka yang membenci dan melakukan penyimpangan terhadap kita. Cinta kasih kita kepada sesama, harus ditandai oleh kebaikan dan belaskasih yang telah Allah tunjukkan kepada kita. Adalah lebih mudah menunjukkan kebaikan dan belaskasih apabila kita melakukannya dengan harapan untuk memperolehnya kembali. Betapa terasa berat dan sulit apabila kita melakukannya tanpa pamrih tertentu. Doa kita bagi sesama yang membuat kita terluka sesungguhnya mematahkan baik kekuatan hukum balas dendam maupun membebaskan kekuatan cinta untuk berlaku baik dihadapan kejahatan. Bagaimana mungkin kita dapat mencintai orang-orang yang telah menyebabkan kita terluka dan menderita? Bersama Allah, tak ada sesuatu apapun yang mustahil. Allah memberikan kekuatan dan rahmat kepada mereka yang percaya dan menerima anugerah Roh Kudus. Cinta-Nya menaklukkan segala, pun hati yang terluka, ketakutan, kemarahan, prasangka dan kesedihan.
Apa yang mau Yesus fokuskan ketika Ia berkata bahwa kita harus sempurna seperti Bapamu di Surga sempurna adanya? Makna asli dari kata “sempurna” dalam bahasa Aram adalah “Kepenuhan” atau “keutuhan” tak kurang dalam hal yang esensial. Allah menganugerahkan kepada kita setiap anugerah kebaikan di dalam Yesus Kristus, sehingga kita tidak berkekurangan terhadap apa yang kita butuhkan untuk melakukan kehendak-Nya dan hidup sebagai putra-putri Allah sendiri. Allah mengenali kelemahan-kelemahan kita, juga dosa-dosa kita lebih baik daripada kita mengenali keterbatasan dan dosa-dosa kita. Dan Ia meyakinkan kita akan cinta kasih, belaskasih, dan rahmat-Nya untuk setia menapaki jalan yang telah Ia tunjukkan. Apakah anda dan saya mau bertumbuh dan berkembang di dalam cinta akan Allah dan cinta akan sesama? Mintalah Roh Kudus untuk mengubah dan membaharui anda seturut gambaran Allah sehingga anda boleh berjalan di dalam kegembiraan, dan kebebesan Injil.
“Tuhan Yesus, cinta-Mu membawa kebebasan dan pengampunan. Penuhilah aku dengan Roh Kudus-Mu dan nyalakanlah hatiku dengan api cinta-Mu yang berkobar-kobar, yang tak akan membuat aku kehilangan kontrol untuk menaburkan damai. Jauhkanlah daripadaku sikap merasa pahit terhadap siapa pun.” Amin.
Copyright@15 Juni 2009, by: P. Paskalis B. Keytimu, SVD

204. Gigi Ganti Gigi: Bukan Sikap Kristiani

Senin, 15 Juni 2009
Masa Biasa
Bacaan: Matius 5: 38-42
Jika seseorang menghina engkau atau berusaha untuk mengambil keuntungan daripadamu, seperti apakah tanggapan atau jawaban anda? Apakah anda juga bertekat untuk melakukan hal yang sama? Yesus mendekati persoalan ini dengan menunjukkan suatu pilihan sikap yang sesuai dengan maksud Allah tentang bagaimana seharusnya kita memperlakukan sesama, khususnya orang-orang yang telah berlaku tidak adil terhadap kita. Ketika Yesus berbicara tentang hukum Allah, Ia melakukan hal yang belum pernah dilakukan orang lain sebelumnya. Ia memberikan suatu standar baru yang tidak saja berdasarkan pada tuntutan-tuntutan keadilan, tetapi juga berdasarkan hukum rahmat dan cinta kasih. Yesus memahami dengan sungguh mengenai hukum dan maksud-maksudnya melebihi pemahaman para hakim dan jaksa duniawi. Yesus mengutip dari rekaman hukum yang biasanya diterapkan di dunia ini: “Jika kecelakaan yang membawa maut, engkau harus memberi nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki, luka ganti luka, bengkak ganti bengkak” (Kel. 21:23-25). Demikian juga hukum yang kerap diterapkan dalam dunia dewasa ini, yang dalam kenyataan sangat kejam, padahal hukum diciptakan/dibuat bukan dengan maksud untuk membalas dendam, sebagai langkah pertama yang harus ditempuh menuju belaskasih dan keadilan. Hukum yang termaktud dalam Kitab Keluaran itu tidak dimaksudkan untuk ditafsir berdasarkan arti kata, tetapi dimaksudkan sebagai suatu pedoman dalam menilai hukuman dan menjatuhkan vonis. Kitab Perjanjian Lama penuh dengan referensi kepada perintah ini: “Kita harus menjadi lebih berbelaskasih. “Janganlah engkau menuntut balas dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesama manusia seperti dirimu sendiri; Akulah Tuhan” (Im 19:18). “Jika seterumu lapar, berilah dia makan roti; dan jika ia dahaga, berilah dia minum air” (Amsal 25:21). “Janganlah berkata sebagaimana ia memperlakukan aku, demikian kuperlakukan dia. Aku membalas orang menurut perbuatannya” (Ams 24:29). “Biarlah ia memberikan pipi kepada yang menamparnya, biarlah ia kenyang dengan cercaan” (Ratapan 3:30).
Yesus melakukan sesuatu yang sungguh luar biasa. Ia membaharui hukum belaskasih dengan rahmat dan kebaikan yang penuh cinta kasih. Yesus juga membuat hukum itu menjadi lebih jelas, dimana tak ada ruang untuk balas dendam. Kita tidak hanya harus mengelak kejahatan dengan berbuat jahat, tetapi harus mencari dan mengutamakan kebaikan bagi mereka yang telah membuat kita terluka dan menderita. Apakah anda siap menerima penghinaan sebagaimana yang dialami Yesus, tanpa kemarahan pun tanpa kebencian? Apabila anda dipaksa oleh orang lain untuk melakukan lebih dari yang anda pikir untuk memperolehnya, apakah anda menuntut berdasarkan pada hak-hakmu atau apakah anda menanggapinya dengan penuh kasih sayang dan kegembiraan?
Apakah yang membuat seorang Kristen berbeda dari setiap orang lain? Apakah yang membuat Kekristenan lebih jelas dari agama-agama yang lain? Itu karena rahmat – cara memperlakukan orang lain, bukan berdasarkan pada yang telah mereka lakukan, tetapi sesuai dengan apa yang Allah harapkan, yakni penuh cinta kasih, kebaikan dan belaskasih. Hanya Salib Yesus yang dapat membebaskan kita dari tirani kebencian, dendam kesumat, balas dendam, dan kemarahan serta memberikan kepada kita dukungan untuk membalas kejahatan dengan kebaikan. Cuma cinta dan rahmat belaskasih yang memiliki kekuatan untuk menyembuhkan dan menyelamatkan dari kehancuran. Apakah anda dan saya sadar dan tahu kekuatan cinta dan belaskasih Kristus yang menyelamatkan?
"Ya Allah yang penuh kerahiman dan belaskasih, penuhilah hati kami dengan rahmat Roh Kudus, dengan cinta, kegembiraan, damai, kesabaran, kelemah-lembutan, kebaikan, kesetiaan, kerendahan hati dan kontrol diri. Ajarilah kami untuk mencintai mereka yang membenci kami; berdoa bagi mereka. Semoga kami boleh menjadi putra-putri yang selalu siap menyalurkan cinta kasih-Mu, ya Bapa, yang menerbitkan matahari bagi orang jahat dan baik, dan menurunkan hujan untuk orang yang adil dan tak adil. Dalam hal perbedaan, anugerahkan kepada kami rahmat kesabaran; di tengah kemakmuran, jagalah kami untuk selalu bersikap rendah hati”. Amin.
Copyright@15 Juni 2009, by: P. Paskalis B. Keytimu, SVD

203. Inilah Darah Perjanjian Yang Ditumpahkan Bagi Banyak Orang

Hari Raya Tubuh Dan Darah Yesus Kristus
Minggu, 14 Juni 2009
Kis 24:3-8; Ibr.9:11-15; Mrk 14:12-16.22-26
Membaca Injil yang ditentukan untuk refleksi kita pada Hari Raya Tubuh dan Darah Tuhan kita Yesus Kristus, serta merta muncul pertanyaan sederhana berikut ini: “Mengapa Yesus menawarkan diri-Nya sendiri sebagai makanan dan minuman?” Yesus telah memilih momen Perayaan Paskah kaum Yahudi untuk memenuhi apa yang telah Ia maklumkan di Kaparnaum yakni memberikan Tubuh dan Darah-Nya sendiri kepada murid-murid-Nya (Yoh 6:51-58). Kembalinya Yesus kepada Bapa melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Perjamuan Paskah Baru, diantisipasi dalam Perjamuan Malam Terakhir dan dirayakan dalam Ekarisiti atau Perjamuan Tuhan yang menyempurnakan Perjamuan Paskah kaum Yahudi dan mengantisipasi Perjamuan Paskah abadi dalam kemuliaan Kerajaan Allah. Inilah satu-satunya perjamuan Yesus yang paling berarti dan kesempatan yang paling penting dalam peristiwa pemecahan roti. Dalam perjamuan ini, Yesus mengidentifikasi roti sebagai Tubuh-Nya dan anggur sebagai Darah-Nya. Ketika Tuhan Yesus meminta murid-murid-Nya untuk makan tubuh-Nya dan minum Darah-Nya, Ia sebetulnya mengundang kita untuk mengambil bagian di dalam hidup-Nya sendiri. Kehidupan yang Ia telah persembahkan itu adalah kehidupan Allah sendiri. Kematian Yesus pada Salib, anugerah tubuh dan darah-Nya dalam perjamuan dan janji-Nya untuk dirayakan kembali bersama para murid ketika Kerajaan Allah datang dalam segala kepenuhannya merupakan mata-rantai yang tak terpisahkan. Yesus meminta para murid untuk melakukan hal ini sebagai peringatan akan Dia. “Setiap kali kamu makan roti ini dan minum dari piala ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang” (1Kor 11:26). Merayakan perjamuan Tuhan sesungguhnya mengantisipasi hari akhirat manakala Tuhan menjamu kembali para murid-Nya secara baru dalam perjamuan perkawinan Anak Domba dan pengantin-Nya di Surga. Apakah anda dan saya sadar akan kegembiraan minum darah Kristus dan mengecap tubuh Kristus dengan sepenuh hati di sekeliling meja perjamuan?
Santu Markus menghubungkan perjamuan akhir dengan kematian Yesus dan kedatangan Kerajaan Allah. Yesus membaharui perjamuan paskah Perjanjian Lama ke dalam perjamuan Perjanjian Baru dalam darah-Nya. Dalam Perjanjian Lama, roti dan anggur dipersembahkan dalam korban sebagai suatu tanda pengakuan dan penghargaan yang luhur kepada Pencipta. Persembahan roti dan anggur Melkisedek, imam dan raja (Kej. 14:18), disempurnakan kembali oleh persembahan yang dibuat Yesus, Imam agung dan Raja. Roti tak beragi pada perjamuan Paskah Yahudi dan mukjizat manna di padang gurun merupakan pemenuhan atas janji kesetiaan Allah kepada umat-Nya. Piala yang terberkati pada perjamuan akhir Paskah Yahudi merujuk kepada harapan Mesianik demi pembangunan Yerusalem. Yesus memberikan suatu makna yang baru dan definitif kepada roti dan piala yang terberkati ketika Ia melembagakan/memeteraikan Perjamuan Tuhan atau Ekaristi. Ia berbicara mengenai kehadiran Tubuh dan Darah-Nya dalam perjamuan yang baru. Ketika pada Perjamuan Akhir Yesus menggambarkan darah-Nya yang ditumpahkan bagi banyak orang demi pengampunan dosa-dosa (Mt 26:28), Ia sesungguhnya mengantisipasi akan peristiwa penyaliban-Nya sebagai suatu pengorbanan demi dosa-dosa. Kematian-Nya pada kayu Salib memenuhi persembahan Anak Domba Paskah. Itulah sebabnya mengapa Yohanes Pembaptis menyebut Dia sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa-dosa dunia. Yesus membuat diri-Nya sendiri sebagai suatu persembahan dan menganugerahkan suatu hadiah yang sungguh berkenan kepada Bapa. Ia mempersembahkan diri-Nya kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat demi menyucikan hati nurani kita (Ibr 9:14), dan menyerahkan diri-Nya bagi kita sebagai korban yang harum bagi Allah (Ef. 5:2). Perjamuan ini merupakan suatu kenangan akan kematian dan kebangkitan-Nya sendiri.
Tatkala kita menerima dari meja Tuhan, kita mempersatukan diri kita dengan Yesus Kristus, yang memungkinkan kita untuk mengambil bagian dalam perjamuan tubuh dan darah-Nya. Santu Ignatius dari Antiokia menyebutnya sebagai “satu roti yang memberikan obat yang tak dapat mati, penangkal kematian, dan makanan yang membuat kita hidup untuk selamanya di dalam Kristus Yesus”. Makanan supernatural ini akan menyembuhkan baik tubuh maupun jiwa kita dan memberikan kekuatan dalam perjalanan kita menuju Surga. Ketika kita mengelilingi meja Perjamuan Tuhan/Ekaristi, apa yang anda harapkan untuk menerima? Penyembuhan, pengampunan, bantuan dan ketenteraman bagi jiwamu? Tuhan memiliki lebih dari apa yang kita harapkan untuk menerimanya, lebih dari yang kita minta dan bayangkan. Buah dari menerima Ekaristi adalah suatu kesatuan yang akrab mesrah dengan Kristus. Ekaristi memperkuat kita dalam kemurahan hati dan menyanggupkan kita untuk mematahkan segala pagar yang memisahkan ciptaan dan untuk menjadi lebih kuat berakar dalam cinta Kristus. Apakah anda dan saya lapar akan Roti Hidup?
Tuhan Yesus, Engkau memberi kami makanan dan menyokong kami dengan kehadiran-Mu sendiri dan kehidupan. Engkau adalah Roti Hidup” dan “Piala Keselamatan”. Semoga aku selalu merasa lapar akan Dikau dan dipuaskan sendiri oleh Dikau”. Amin.
Copyright@14 Juni 2009, by: P. Paskalis B. Keytimu, SVD