Rabu, April 08, 2009

166. Kelak engkau akan pergi juga

Selasa, 07 April 2009
Pekan Suci
Bacaan : Yoh 13, 21-33.36-38
Teks :

Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku." Murid-murid itu memandang seorang kepada yang lain, mereka ragu-ragu siapa yang dimaksudkan-Nya. Seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar dekat kepada-Nya, di sebelah kanan-Nya. Kepada murid itu Simon Petrus memberi isyarat dan berkata: "Tanyalah siapa yang dimaksudkan-Nya!" Murid yang duduk dekat Yesus itu berpaling dan berkata kepada-Nya: "Tuhan, siapakah itu?" Jawab Yesus: "Dialah itu, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya." Sesudah berkata demikian Ia mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot.

Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: "Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera." Tetapi tidak ada seorangpun dari antara mereka yang duduk makan itu mengerti, apa maksud Yesus mengatakan itu kepada Yudas. Karena Yudas memegang kas ada yang menyangka, bahwa Yesus menyuruh dia membeli apa-apa yang perlu untuk perayaan itu, atau memberi apa-apa kepada orang miskin. Yudas menerima roti itu lalu segera pergi. Pada waktu itu hari sudah malam.

Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus: "Sekarang Anak Manusia dipermuliakan dan Allah dipermuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dipermuliakan di dalam Dia, Allah akan mempermuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan mempermuliakan Dia dengan segera.

Simon Petrus berkata kepada Yesus: "Tuhan, ke manakah Engkau pergi?" Jawab Yesus: "Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku." Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!" Jawab Yesus: "Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali."

165. Untuk Mengingat Hari PenguburanKu

Senin, 6 April 2009
Pekan Suci
Bacaan : Yoh 12, 1-11
Teks Injil :
Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati. Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus. Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu.
Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata: "Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?"
Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. Maka kata Yesus: "Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu."
Sejumlah besar orang Yahudi mendengar, bahwa Yesus ada di sana dan mereka datang bukan hanya karena Yesus, melainkan juga untuk melihat Lazarus, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati. Lalu imam-imam kepala bermupakat untuk membunuh Lazarus juga, sebab karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus.

Sabtu, April 04, 2009

164. Jalan Sang Raja

Minggu, 05 Maret 2009
Minggu Palma

Bacaan : Yes 50: 4-7; Fil 2: 6-11; Mrk 14: 1 – 15: 47
Minggu Palma adalah sebuah perayaan yang penuh kontradiksi! Berawal dengan suasana pawai yang gegap gempita dari peziarah yang datang ke Yerusalem untuk merayakan Pesta Paskah umat Yahudi. Sebuah perayaan untuk mengenangkan kembali peristiwa Allah membebaskan umat-Nya dari perbudakan di tanah Mesir. Sebuah perayaan yang syarat makna karena Allah memperbaharui janji-Nya untuk menyelamatkan umat-Nya dari kejahatah dan sekaligus umat memperbaharui komitmen mereka untuk setia kepada Allah.
Suasana yang ramai itu tidak hanya berasal dari irama ribuan kaki yang menjejakkan langkah pada jalan menuju kota Yerusalem. Kemegahan prosesi itu bertambah semarak juga karena sorak-sorai massa yang memaklumkan bahwa Yesus adalah putra Daud yang datang atas nama Tuhan. Ia adalah Mesias terjanji yang dengan jaya memasuki kota Allah untuk menyatakan kerajaan-Nya. Karenanya mereka lalu tak peduli kalau harus membentangkan pakaiannya di jalan di mana akan dilalui oleh Yesus, Mesias terjanji itu.

Tetapi gemuruh sorak sorai dan puji-pujian itu berubah drastis. Inilah hal-hal yang kontras sebagaimana terlihat dalam kisah sengsara Kristus menurut Santu Markus. Santu Markus melukiskan kisah Sengsara Yesus dengan warna yang sangat suram. Tak seorang pun dari massa itu hadir di bawah kaki salib. Ia tidak mengungkapkan doa Yesus demi pengampunan dosa bagi para penganiaya, atau menjanjikan kebahagiaan Firdaus kepada penjahat yang bertobat. Yesus tidak mempercayakan murid yang dikasihi kepada ibu-Nya. Dan sebelum wafat Yesus juga tidak memaklumkan bahwa Ia telah menyelesaikan misi-Nya, pun tidak menyerahkan hidup dan kematian-Nya ke dalam tangan Bapa.

Dalam kenyataan hanya seruan ini yang terungkap dari atas salib: “Allah-Ku, ya Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Daku?” Suatu seruan yang sama sekali tidak dimengerti oleh para penonton yang menyaksikan peristiwa penyaliban itu. Akhirnya, Yesus masuk ke dalam kegelapan kematian tanpa mengucapkan lagi sepata kata pun. Sungguh Markus menghadirkan Kristus yang tersalib dengan perasaan ditinggalkan oleh Allah dan manusia, sungguh-sungguh tidak dipahami.

Belum lagi kontradiksi yang satu ini. Orang-orang yang menobatkan Yesus sebagai Raja dan mengelu-elukan sang Raja ketika memasuki kota Yerusalem, kini mereka juga yang mengejek dan mencelah manakalah Yesus bergantung pada Salib. Pilatus menghukum Dia sebagai Yesus dari Nazareth, Raja orang Yahudi. Sementara para serdadu Roma mengolok-olok Dia sebagai Raja yang dimahkotai duri. Apa yang ironi dari kisah sengsara menurut penginjil Markus adalah setiap orang benar dalam memaklumkan bahwa Yesus adalah Raja, tetapi tak seorang pun yang memahami makna dari kata-kata tersebut.

Bangsa Yahudi mengharapkan seorang pemimpin yang akan membebaskan mereka dari pendudukan Roma, tetapi Yesus justru datang untuk membebaskan kita dari sebuah tirani yang teramat besar, yakni dosa dan kematian. Walaupun kelihatan Yesus dikalahkan oleh kegagalan, tak berdaya dipaku pada salib. Tetapi di sana, pada salib itulah, bukan di sebuah istana, juga bukan di sebuah kenisah,Yesus ditakhtakan sebagai Raja. Sebab dengan kematian pada Salib Yesus menaklukkan segala kekuatan jahat yang menimpah diri-Nya dan pengikut-pengikut-Nya, orang-orang Kristen.

Mengapa Santu Markus melukiskan kisah sengsara Yesus atas cara sangat memprihatinkan? Bagi Markus, Kristus yang tersalib adalah Dia yang telah secara total mengidentifikasikan diri-Nya dengan penderitaan kita. Dan hal itu dimaksudkan agar kita tidak segan-segan untuk mengidentifikasikan diri kita dengan-Nya. Dia, yang telah mengalami kesendirian pada salib, adalah Dia yang selalu menyertai kita, membesarkan hati kita dalam menghadapi penderitaan. Kita dapat mengambil bagian dalam kemenangan-Nya mengatasi kejahatan, jika kita mengangkat salib hidup kita, memanggulnya dan mengikuti Yesus. Kita dapat mengambil bagian dalam kejayaan salib.
Lewat menghadirkan kengerian penderitaan Kristus, Markus menunjukkan bahwa kepekatan kegelapan dari penyaliban sesungguhnya menyingkapkan kemuliaan kemenangan. Bagi Markus makna yang benar dari Kabar Gembira tentang Yesus Kristus , Putra Allah, hanya ditampakkan pada salib. Meskipun semua orang lain tidak memahami Yesus, hanya kepala pasukan yang secara sekilas menyadari jati diri Yesus yang benar. Ia mengakui bahwa sungguh, Kristus adalah Putra Allah.

Pengakuan iman kepala pasukan itu ditempatkan sebagai puncak dari Kisah Sengsara menurut Santu Markus. Ini dilakukannya demi menunjukkan kepada kita bahwa Yesus Kristus, Putra Allah, adalah Hamba Tuhan yang menderita, yang mati pada kayu Salib untuk menyelamatkan kita dari kekuatan jahat. Itulah esensi/intisari/pokok dari Kabar Gembira, dan itulah pula menyingkapkan arti yang benar tentang Yesus sebagai Kristus.

Pada hari ini kita masuk ke dalam gerbang Minggu Suci. Serentak dengan itu, kita sekaligus dipanggil untuk berjalan bersama Yesus. Bersama para peziarah yang melambaikan daun-daun palma, marilah dengan penuh suka cita kita menyambut Yesus sebagai Mesias terjanji. Tapi ingat, kemegahan Kristus sungguh berbeda secara total dengan kemegahan dari bangsa manusia ini. Jalan Salib adalah jalan menuju kemegahan itu. Jika kita ingin masuk ke dalam Kerajaan Kristus dan mengambil bagian dalam kemenangan-Nya, hanya ada satu-satunya jalan, yakni mengikuti Kristus pada jalan Salib, Amin.

Copyright © 25 Maret 2009 by Paskalis B. Keytimu, SVD

Jumat, April 03, 2009

163. Mencari "kambing hitam" dalam percaturan pengaruh

Sabtu, 04 April 2009
Masa Puasa

Bacaan: Yohanes 11, 45 - 56

Dalam kisah ini Yohanes melukiskan ketegangan yang semakin tinggi antara orang Yahudi dan Yesus dari Nasareth. Yohanes melukiskan ketegangan sekian rupa sehingga nampak bahwa yang terjadi adalah persaingan jumlah pengikut. Para pemimpin agama Yahudi melihat bahaya kehilangan pengikut di antara orang Yahudi. Sudah banyak orang yang berbalik dan menjadi percaya kepada Yesus. Bila ini berlangsung terus maka akan terjadi kekerasan fisik antara para pengikut agama Yahudi dan para pengikut Yesus. Dengan demikian orang Roma akan datang menyerang orang Yahudi yang sedang saling berkelahi itu sehingga musnahlah orang Yahudi seluruhnya. Untuk mencegah hal itu terjadi, pemimpin muda yang sedang naik daun ini, Yesus dari Nasareth dibunuh saja.

Itulah jalan pikiran yang disampaikan oleh Kaifas, Imam Agung yang sedang berkuasa pada masa Yesus. Jelaslah bahwa di mata pemimpin agama Yahudi masa itu, Yesus menjadi batu sandungan bagi ketenangan mereka selama ini. Yesus dijadikan kambing hitam atas berkurangnya para pengikut pemimpin agama Yahudi. Dari jalan pikiran agama mereka Yesus dari Nasareth itu memang pemuda luar biasa. Tapi mereka tidak sampai pada kesimpulan bahwa Yesus memang Anak Allah karena melakukan berbagai tanda bahwa Mesias telah datang.

Ketika bangsa Indonesia sedang hangat-hangatnya memasuki hari-hari penting untuk menentukan pilihan Wakil Rakyat dan Pemimpin Negara, kisah Yesus ini memberikan banyak inspirasi. Persaingan pengaruh atau pengikut amat nampak pada saat kampanye. Setiap orang akan berusaha menyingkirkan pesaingnya dengan berbagai cara.

Kisah Yesus menjadi nyata dan berbicara banyak pada saat ini. Kita bisa melihat bahwa kisah Yesus adalah kisah kita. Satu hal pasti bahwa demi memiliki dan mempertahankan pengaruh atas banyak orang, orang bisa mengorbankan apa saja, bahkan menghilangkan sesama manusia, orang-orang sebangsa.

Tuhan Yesus, kisah hidupMu adalah kisah kami. Semoga aku menjadi sadar bahwa apa yang aku sering menjadi pelaku dalam kisahMu itu yang terjadi pada masa ini dalam bentuk yang lain. Amin.

Copyright © 03 April 2009 by Paulus Tolo, SVD