Rabu, Desember 17, 2008

56. Berkaca pada Yusuf

Kamis, 18 Desember 2008

Bacaan : Mat. 1, 18-25

Jika kita merefleksikan bacaan Injil pada hari ini, maka kita segera menemukan seorang figur yang berperan amat kuat dalam proses kelahiran Kristus. Tokoh itu adalah Yusuf, yang dalam silsilah Yesus disebut sebagai anak Matan. Adalah bagus kalau kita berkaca pada tokoh Yusuf ini, yang juga mewakili keseluruhan sisi kemanusiaan kita berhadapan dengan rencana dan kehendak ilahi. Pertama-tama yakni ketika dia harus memahami kenyataan Maria tunangannya yang telah mengandung dari Roh Kudus. Keadaan yang sulit dipahami dan diterima. Yusuf pun memutuskan untuk mau menceraikannya dengan diam-diam. Penginjil menulis bahwa ketulusan hati dan respek mendalam terhadap Maria membuatnya mengambil jalan ini, mau menceraikan Maria dengan diam-diam.

Situasi ini mewakili jalan pikiran setiap manusia, setiap kita. Untuk sesuatu yang tidak bisa kita pahami dengan kesanggupan akal budi (ratio) kita, maka biasanya kita segera menolak atau membantah dengan pelbagai alasan dan argumen. Menarik bahwa sesudah Yusuf tiba pada pertimbangan ini, malaikat Tuhan nampak padanya dalam mimpi. Inti penampakkan adalah agar Yusuf tidak takut mengambil Maria sebagai isterinya. “…sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.”

Bagaimana Yusuf mampu memahami hal ini? Sesuatu yang ganjil dan tidak masuk akal! Kalau Yusuf berhenti di sini, maka pasti dia akan segera menolak. Tapi dia terus mendengarkan semua yang dikatakan oleh malaikat Tuhan tentang bayi yang di dalam rahim Maria itu. Sampai pada akhirnya pada ayat 24: “Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya.” Pertanyaan kita adalaha bagaimana Yusuf tiba pada keputusan ini?

Jawabannya adalah iman. Iman yang berarti tidak semata-mata terpaku pada kemampuan berpikir dan intelek saja, tetapi juga dari kemauan mendengar dan bergerak melampaui kesanggupan berpikir. Yusuf sungguh percaya pada kata-kata Tuhan yang disampaikan kepadanya melalui mailkat. Dia sebetulnya secara sederhana mempersembahkan keterbatasan analisa akal budinya berhadapan dengan situasi Maria dan segera mengatakan: Tuhan aku percaya pada sabdaMu. Iman memang berangkat dari mendengarkan Tuhan dan memutuskan untuk membiarkan apa yang Tuhan kehendaki itu terjadi.

Kita sedang mempersiapkan diri menyambut kedatangan Kristus pada hari Natal-Nya. Ada banyak moment dalam hidup kita yang sulit kita pahami dengan kesanggupan akal budi kita. Sering kita menjadi putus asa dan kemudian mengambil jalan seperti yang pernah Yusuf lakukan. Tapi mestinya kita tidak lupa untuk juga mendengarkan Tuhan sebelum kita melakukan apa yang sudah putuskan. Tuhan tidak pernah membiarkan kita sendirian. Dia menghendaki agar kita pun bisa mendengarkan Dia dan terutama melakukan apa yang dikehendakiNya bagi kita.

Tuhan..tolonglah aku supaya bisa mendengarkan-Mu!

Copyright © 17 Desember 2008 by Paskalis Lina SVD

Selasa, Desember 16, 2008

55. Rencana Ilahi dalam Sejarah Manusia

Rabu, 17 Desembre 2008

Bacaan : Mateus 1, 1-17
Injil hari ini terasa kering saja karena penuh dengan nama-nama garis keturunan Yesus. Setiap keluarga memiliki garis keturunan. Biasanya garis keturunan itu diceritakan turun temurun agar akar dari keluarga diketahui dan relasi dengan orang lain dapat terjalin secara benar terutama dalam hal perkawinan. Injil hari ini tidak dimaksudkan untuk itu. Penginjil Mateus mau menunjukkan sesuatu yang lain sama sekali. Ada sesuatu yang amat penting yang hendak disampaikan olehnya berkenaan dengan pribadi Yesus. Bagi orang Yahudi yang mengenal dengan baik sejarah leluhur mereka nama-nama yang disebutkan dalam daftar silsilah Yesus tidaklah asing. Bagi orang kita sekarang yang kurang membaca dan merenungkan perisitiwa dalam perjanjian lama akan sulit melihat hubungan satu sama lain.

Dalam silsilah itu disebutkan beberapa orang dengan sifat khusus seperti Yehuda yang kawin dengan Tamar, istri anak sulungnya. Raja Daud juga melahirkan Salomon hasil perkawinan dengan isteri Uria. Dari nama-nama itu juga nampak bahwa tidak semuanya orang asli Israel, misalnya saja Rut, Tamar. Dari nama raja-raja yang keturunan Daud tidak semuanya raja yang baik dan mengikuti perintah Tuhan. Keadaan inilah yang mau ditunjukkan oleh Mateus dengan silsilah Yesus ini. Mateus mau menunjukkan bahwa rencana Allah untuk menyelamatkan manusia di luar pikiran manusiawi kita. Sekalipun manusia sering melawan Tuhan, tidak setia kepadaNya, Tuhan tidak pernah akan melupakan manusia. Ia tetap ingat akan manusia dan mencintainya apapun keadaan kita.

Sejarah hidup setiap kita, baik dan yang indah maupun yang menyakitkan; garis keturunan kita entah itu terdiri dari orang-orang yang terhormat atau hina tetaplah menjadi tempat Allah menampakkan kesetiaan dan rahmatNya. Bila kita melihat sejarah hidup kita dihiasi oleh noda hitam dan putih bercampur, Yesus memiliki sejarah keluarga yang demikian. Bila garis keturunanku dipenuhi oleh orang yang tidak selalu memiliki nama yang harum, Yesus memiliki garis keturunan yang demikian juga. Yesus memang menjadi sama denganku saat ini, saya tidak sendirian dalam perjalanan hidup. Sejarah hidupku, keluargaku merupakan medan Allah menampakkan rahmat dan kemuliaanNya. Tak ada alasan bagiku untuk berkecil hati. Allah menganggap diriku - dengan segala latar belakang sejarah dan keluargaku – berharga di mataNya.

Tuhan, berilah saya hati yang senantiasa bersyukur karena Engkau telah masuk dalam sejarah hidupku melalui peristwa kedatanganmu menjadi manusia. Amin

Copyright © 16 Desember 2008 by Paul Tolo, SVD

54. Jadi Soal kalau Terus Mengatakan 'TIDAK'

Selasa, 16 Desember 2008
Bacaan : Mat 21, 28-32

Bacaan hari ini menampilkan kepada kita satu perumpaan sederhana tentang seorang bapa yang mengutus kedua putranya untuk bekerja di kebun anggurnya. Mateus menceriterakannya demikian, "Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir."
Menarik sekali bahwa anak kedua ditampilkan di sini sebagai contoh tindak dan laku dari kita pengikut Kristus. Ada apa dengan dia, sehingga semua menjawab bahwa dia melaksanakan kehendak sang Bapa.
Sebuah pengamatan sederhana saja. Dia menjadi menarik mungkin disebabkan oleh dua hal ini. Yang pertama, dia pasti rasa betapa bodohnya dia menjawab tidak kepada bapanya yang begitu baik dan mengasihnya. Sesudah jawaban itu dia pasti mebayangkan wajah bapanya yang tak percaya akan jawabannya, bapanya yang begitu percaya kepadanya. Dan yang kedua, dia juga pasti ingat betul tentang keadaan nyata kebun anggur miliknya yang tak terawat yang boleh jadi akan tak memberikan hasil maksimal.
Kedua aspek inilah yang melahirkan penyesalan di hatinya. Dia bertobat dan pergi bekerja di kebun anggur.
Hal ini tentu sebuah pelajaran penting untuk kita dlam hal mengikuti Yesus. Ada banyak kontradiksi dalam diri kita. Antara megatakan Ya lalu tidak buat, dan antara mengatakan tidak lalu bertobat dan buat. Soalnya kalau terus terbiasa mengatakan Ya tetapi tak buat terus dan mengatakan tidak terus menerus dan tidak buat.
Iman kita selalu berkaitan dengan kata dan tindakan. Kita tidak beriman untuk merumuskan dan menyatakan dengan lantang berbagai rumusan iman, tetapi dengan cinta tulus mennjalankannya dalam hidup.
Semoga warta Injil hari ini membantu kita untuk bertobat dan menjalankan Injil Tuhan dalam hidup kita. Amin.
Copyright © 15 Desember 2008 by Anselm Meo SVD

53. Karena Ia Hidup dan Mengasihi

Senin, 15 Desember 2008

Bacaan : Mat. 21, 23 - 27

Untuk tampil secara lebih percaya diri dan didengarkan banyak orang, dewasa ini orang bicara tentang kualifikasi akademis ataupun pengalaman yang membuatnya layak dipercaya atau didengarkan banyak orang. Tak heran kita mulai mencari sekolah, berguru bahkan dengan berbagai upaya mendapatkan pengakuan berupa sertifikat, diploma dan ijazah. Untuk apa? Sederhana saja, kita ingin menjadi lebih baik, baik dalam hal mengajarkan sesuatu ataupun lebih baik dalam hal pendapatan, bahkan jabatan.

Hari ini Injil Mateus menghadapkan kepada kita soal yang sama pada suatu masa ketika Yesus hidup. "Lalu Yesus masuk ke Bait Allah, dan ketika Ia mengajar di situ, datanglah imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi kepada-Nya, dan bertanya: "Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?"

Menjadi pengajar dalam agama Yahudi adalah suatu status sosial yang terhormat. Karenanya ada banyak orang mencari guru, rabi dan pengajar terkenal untuk mendapatkan pengetahuan dari mereka. Para ahli Taurat dan imam-imam juga mendapatkannya, karenanya rasanya mereka berhak untuk mendapatkan status sosial sebagai pengajar orang Yahudi.

Bagaimana dengan Yesus, seorang pemuda Nazaret anak Yusuf? Siapakah gurunya? Dengan kuasa mana Dia mengajarkan orang banyak sehingga banyak orang mendengarkan Dia dengan penuh antusias? Bagaimana mungkin caranya mengajar 'mengalahkan' cara mengajar para ahli Taurat? Semua pertanyaan yang sangat mengusik kenyamanan status sosial para lawan Yesus, dalam hal ini para ahli Taurat dan orang Farisi serta kaum imam.

Dari mana Yesus memperoleh semuanya ini? Jawabannya adalah karena Ia mengalami dan menghidupkan pengalaman keseharianNya dengan Allah. Dia tak membutuhkan untuk mendengarkan orang berbicara kepadaNya tentang Allah, karena Ia hidup bersama Allah, Ia mengalami Allah. Hidup Yesus adalah suatu kehidupan dan perjalanan bersama Allah. Dan berbeda dengan orang Saduki, Farisi, Yesus tidak mengajarkan tentang Allah untuk menarik orang banyak kepada diriNya, tetapi secara konsekwen menghantar semua orang kepada kehadiran Allah.

Dan SabdaNya itu masih terdengar segar hari ini, karena Ia berbicara kepada hati manusia, memenuhi mereka semua dengan harapan akan hidup, karena SabdaNya memberikan terang dan pengertian yang semuanya berasal dari Allah. Ia berbeda dari mereka, karena Ia hidup bersama Allah dan mengasihi Allah serta menjabarkannya dalam kasih kepada semua yang mendengarNya.

Tuhan Yesus, SabdaMu penuh kuasa dan hidup, ajarkanlah kami semua untuk hidup. Kami butuhkan terang, juga di saat sekarang. Engkau mampu memberikannya kepada kami semua. Amin.
Copyright © 15 Desember 2008 by Anselm Meo SVD