Rabu, November 19, 2008

28. Damai Sejahtera : Saat Allah Melawat

Kamis, 20 Nopember 2008

Lk 19, 41 - 44

Membaca dengan seksama penggalan Injil hari ini, kita mungkin bisa merasakan betapa pedihnya hati seorang putra Israel sejati seperti Yesus, ketika menyaksikan kota Yerusalem, kota Allah, lambang damai sejahtera kini berada di ambang kehancurannya. Yesus menangisinya, katanya, “Betapa baiknya, jika hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu, wahai Yerusalem!”

Kita bertanya, mengapa Yesus menangisi kota itu? Ia bukan saja merasa sedih karena di kota itu tengah meraja lela kekerasan, sebuah kota tanpa damai, sebuah kota yang ketiadaan sejahtera buat para penduduknya. Tetapi lebih dari itu Yerusalem dan penduduknya akan segera menyaksikan akhir dari sebuah kesaksian hidup Yesus dan menolak kunjungan Allah yang memperhatikan kaum miskin dan menderita, yang menyata dalam diri Yesus. Itulah yang menyata dalam ungkapan, “karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah mengunjungi engkau.”
Sebuah permenungan tentang bagaimana mengusahakan dan mendoakan damai, mengupayakan kesejahteraan dan kemakmuran bersama Allah. Bahwa kemajuan dan upaya mencapai kesejahteraan masyarakat seyogyanya memperhatikan upaya untuk menciptakan damai, keadilan dan perhatian bagi yang lemah dalam masyarakat.

Dan bila hal ini sungguh diusahakan, kita sebenarnya tengah memahami damai dan kesejahteraan sebagai sebuah saat rahmat, saat Allah melawati umatNya. Kita perlu untuk senantiasa mendoakan sejalan dengan upaya kita mewujudkan damai dan kesejahteraan.
Tuhan Yesus, Engkau menunjukkan kami bahwa kehadiran damai dan kesejahteraan adalah saat Allah melawati umatNya. Semoga kami terus mendoakan serta bekerja demi mewujudkannya bersamaMu. Amin.
Copyright © 19 Nopember 2008, by Ansel Meo SVD

Selasa, November 18, 2008

27. Dari Materi Kepada Manusia

Rabu, 19 Nopember 2008
Lk 19, 11 - 28

Penggalan Injil yang kita baca hari ini, hemat saya sangat menantang cara berpikir manusia-manusia modern zaman ini. Mengapa saya katakan demikian? Karena perumpamaan tentang uang mina yang ditampilkan di sini memang cocok dengan cara pikir ekonomis masyarakat dewasa ini, yang mengutamakan hasil sebesar-besarnya tapi dengan investasi yang kecil sekalipun.

Satu permenungan untuk hari ini adalah soal pandangan dan kesetiaan dalam berelasi, yang mengandung resiko di dalamnya. Hampir semua tokoh dalam kisah ini terlibat dalam kisah Injil hari ini sebenarnya terlibat dalam relasi kepercayaan. Sang bangsawan misalnya, memutuskan mengambil resiko dengan mempercayakan hartanya untuk dikembangkan oleh para hambanya, walaupun ia tahu, bahwa pasti ada di antara mereka yang beritikad buruk dan menghendaki kejatuhan dan kebangkrutannya. Dan memang itulah yang terjadi, sebagaimana kita baca, "akan tetapi orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami."

Keputusan untuk mempercayakan modal dengan mengambil resiko juga dibuat oleh para hamba yang berhasil mengembangkan modal yang diberikan oleh tuan mereka. Dan atas keberanian mereka dengan memperhitungkan berbagai kemungkinan, mereka dianugerahkan penghargaan oleh sang raja. Mereka dihargai bukan terutama karena mereka berhasil menggandakan modal, tetapi karena mereka tetap terikat dan percaya dalam relasi di antara mereka.

Sebaliknya, hamba yang menerima satu mina, bukan hanya takut mengambil resiko, tetapi rupanya juga memiliki pandangan yang sangat negatip tentang tuannya dan tentang sesamanya, dan karenanya tak mempercayai mereka. Sebab katanya, "sebab, aku takut akan tuan, karena tuan adalah manusia yang keras; tuan mengambil apa yang tidak pernah tuan taruh dan menuai apa yang tidak tuan tabur." Konsekwensi dari pandangannya dan ketidakpercayaannya, inilah yang membuat dia dicap sebagai hamba yang jahat. Dan terhadap kejahatannya, ia dihukum. Apa yang ada padanya diambil semuanya dan dia dihukum bersama para musuh sang raja.

Sebuah kisah tentang tentang mempercayakan materi, uang dan mengelolanya menghantar kita kepada betapa perlunya kita menjaga kepercayaan dalam setiap bentuk relasi, termasuk juga dalam hidup iman kita. Betapa sering Injil menampilkan banyak contoh tentang bagaimana seharusnya perlakuan kita dan relasi kita terhadap barang, modal, uang. Yesus tidak berhenti di sana, Ia mengajak kita masuk ke dalam relasi di antara manusia. Kesetiaan dalam mengelola materi secara benar dan bertanggung jawab dengan keberanian untuk mengambil resiko, juga berlaku dalam hubungan kepercayaan di antara kita, dan antara kita dengan Tuhan.

Para hamba itu memiliki sikap positif terhadap materi, yang juga keluar dari pandangan positif mereka tentang manusia, baik si tuan yang mempercayakan modal maupun orang-orang yang dengannya mereka menginvestasikan modal tuan mereka. Sikap mereka ini ternyata vital bagi keberhasilan usaha. Dan akhirnya, mereka dipercayakan oleh tuan mereka untuk memerintah atau melayani lebih banyak orang lain. Dari materi kepada manusia.

Nah, demikianlah seharusnya hidup dan relasi kita berdasarkan iman. Hendaknya dasarnya ada pada penghargaan positif tentang manusia. Jaminannya pasti, kelimpahan hidup akan kita terima, baik itu sahabat, relasi maupun kekayaan dan kesejahteraan.

Tuhan, betapa sering kami berhadapan dengan resiko dalam hidup. Ada yang tak berani kami ambil karena kurangnya kepercayaan kami kepada manusia yang bekerja dan berada bersama kami. Padahal, kami harus mengambilnya untuk menghasilkan lebih dalam hidup. Semoga kami melihat kebaikan dalam sesama kami. Amin.

Copyright © 18 Nopember 2008, by Ansel Meo SVD

Senin, November 17, 2008

26. Tatapan Pembaharuan Dari Yesus

Selasa, 18 Nopember 2008
Lk 19: 1-10

Saya yakin bahwa kisah yang menjadi pokok renungan kita hari ini sudah lumayan akrab dengan kita. Itulah kisah tentang Zakheus, seorang penagih pajak yang ditulis dalam Injil Lukas. Ia memanjat pohon supaya dapat melihat Yesus yang sedang dalam perjalanan menuju kota Yeriko. Tetapi Yesus terlebih dahulu melihat Zakheus, malah mengundangkan diri untuk mampir di rumah Zakheus. Hati Zakheus kegirangan, tetapi orang banyak malah bersungut-sungut katanya: "Ia pergi menumpang di rumah orang berdosa."

Menyaksikan kenyataan tersebut, serta merta kita menyimpulkan bahwa Allah sepertinya tidak peduli tentang bagaimana perilaku kita manusia. apakah kita menghormati standar-standar moral atau tidak, bukanlah hal yang perlu kita perhitungkan. Buktinya, Yesus justru memilih untuk berada bersama Zakheus di rumahnya. Yesus justru mau menumpang di rumah seorang pendosa kelas kakap. Tetapi, apakah kita sanggup menyelami apa yang dilihat oleh Yesus dalam diri Zakheus?

Reaksi negatip orang-orang Yahudi tentu memiliki alasan yang kuat dan masuk akal. Penagih pajak hampir tak pernah populer di mana-mana di dunia ini, juga di Palestina pada zaman Yesus. Mengapa? Karena mereka selalu berlaku curang. Mereka memungut uang dengan melipat-gandakan jumlah yang harus dibayar oleh para wajib pajak. Tidak mengherankan kalau Zakheus dibenci oleh masyarakat. Ia dikenal sebagai seorang pemeras yang menumpuk harta bagi diri dan keluarganya. Tetapi ada satu hal yang sangat indah dalam dirinya yang tak pernah kita lihat; dan justru hal itulah yang dilihat oleh Yesus. Zakheus menyesali perbuatannya dan memperkokoh sikap penyesalah itu dengan tindak/laku tobat yang mendalam. sikap tobat dalam tindakan nyata. "Setengah dari hartaku akan kuberikan kepada orang-orang miskin dan akan kukembalikan empat kali lipat barang-barang yang aku peras dari rakyat." Pengakuan yang jujur dihadapan Yesus dan para murid-Nya barangkali jarang terjadi dalam kehidupan kita. Kita barangkali seperti kerumunan orang banyak dalam cerita Injil yang hanya tahu memberi cap negatip ini dan itu kepada sesama tanpa menyadari bahwa di dalam diri mereka ada sesuatu yang luhur; dan yang hanya mungkin kita lihat bila kita rela mendatangi mereka.

Itulah hal yang luar biasa yang dapat dijumpai di sini: Zakheus bertobat tanpa sepata kata peringatan pun dari Yesus. Yesus cuma meminta agar Zakheus turun dari pohon. Itu bukan karena Zakheus sedang melihat Yesus. Itu justru terjadi karena Yesus terlebih dahulu melihat Zakheus. Tatapan itu, tatapan cinta Allah, membaharui Zakheus. Segala sesuatu yang telah ia dengar tentang Yesus telah menggerakan dia, tapi tatkala ia yakin dapat melihat Yesus, Yesus justru pertama-tama melihatnya. Pada momen itu, saat tatapan Yesus itulah membaharui Zakheus karena Yesus mengenal dia dan tertarik pada nilai yang terintah dalam dalam diri Zakheus.

Berjumpa dengan Pribadi yang mengagumkan, yang telah memanggil dia dengan namanya telah merebut hati Zakheus dan ia menyambut Yesus dengan kegembiraan penuh. Kesenangan lama ditinggalkan saat pintu rumah dibuka lebar untuk Yesus memasuki-Nya. Itulah saat keselamatan yang cuma berawal dari tatap dan ajakan.

Sangat sering kita mencari Allah dan tampaknya kurang berhasil, kita gagal untuk menemukani Dia. Mengapa? Karena kita tidak membuka diri bagi Yesus untuk melihat kita. Kita kurang mengosongkan diri dan membuka lebar-lebar pintu rumah kita bagi Yesus. Padahal Yesus akan memanggil kita dengan nama kita masing-masing. Ia mengenal dan mencintai kita tapi kita juga harus membiarkan hal-hal yang menghalangi kita, PERGI dan PERGI. Cukup saja mengizinkan Yesus berada bersama kita. Dan percayalah Ia tak akan mengadili kita, bukan pula untuk merendahkan kita, tetapi daripada-Nya aka nada percikan/bunga api cinta ilahi akan menghangatkan kita, menampakan kepada kita keselamatan, suatu kegembiraan yang nyata. Amin…

Copyright © 17 Nopember 2008 by Paskalis Berkmans, SVD

Minggu, November 16, 2008

25. Mereka Memberitakan Yesus

Senin, 17 Nopember 2008
Lk 18, 35-43
Bagi si buta dalam Injil hari ini, hari pertemuannya dengan Yesus pasti menjadi satu hari yang berbeda dari hari lainnya. Entah sudah berapa dia duduk di sudut jalan di kota Yerikho, tak melihat apapun, tetapi merasakan banyak yang lewat, mungkin ada yang berbelaskasihan lalu memberinya sedekah, mungkin ada yang mencibir dan meludahinya, dan lain sebagainya.

Sesuatu yang lain dialaminya. Ada suasana lain terasa hari itu. Maka ia bertanya, "Ada apa?" dan dijawab bahwa Yesus akan lewat. Seiring dengan gaduhnya massa, iapun meminta, "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku, berilah aku penglihatan." Dan episode pertemuan itu berakhir dengan penglihatannnya kembali, sebuah pengabulan akan doa sederhana tetapi mengena pada kebutuhannya.
Seperti si buta, keseharian kita boleh jadi juga membutuhkan suara dan penyampaian banyak orang yang memberitakan bahwa Yesus ada, Yesus sedang lewat. Itu mungkin sebuah berita biasa, seperti banyaknya berita yang menyinggahi kita seharian. Berita biasa ini akan menjadi luar biasa, kalau kita mengenal kebutuhan dasariah kita sendiri dan membangkitkan keinginan untuk menyampaikan sesuatu kepada Tuhan tentang hidup kita. Sabda Tuhan dan pewartaanNya adalah satu di antara banyak berita yang mampir di telinga kita. Dia akan menghasilkan buah, kalau kita sendiri seperti si buta, tergerak untuk berdoa, berkontak dengan Dia yang lewat.
Tuhan Yesus, seperti si buta di Yeriko, kami membutuhkan orang lain untuk memberitakan khabar tentang Engkau. Terimakasih kami untuk mereka yang menyampaikan khabar baik tentang Engkau dan semoga bersama mereka kamipun mampu mengundang Engkau terlibat dalam hidup dan masalah kami.
Amin.
Copyright © 17 Nopember 2008, by Ansel Meo SVD