Tampilkan postingan dengan label Ambil Resiko. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ambil Resiko. Tampilkan semua postingan

Selasa, November 18, 2008

27. Dari Materi Kepada Manusia

Rabu, 19 Nopember 2008
Lk 19, 11 - 28

Penggalan Injil yang kita baca hari ini, hemat saya sangat menantang cara berpikir manusia-manusia modern zaman ini. Mengapa saya katakan demikian? Karena perumpamaan tentang uang mina yang ditampilkan di sini memang cocok dengan cara pikir ekonomis masyarakat dewasa ini, yang mengutamakan hasil sebesar-besarnya tapi dengan investasi yang kecil sekalipun.

Satu permenungan untuk hari ini adalah soal pandangan dan kesetiaan dalam berelasi, yang mengandung resiko di dalamnya. Hampir semua tokoh dalam kisah ini terlibat dalam kisah Injil hari ini sebenarnya terlibat dalam relasi kepercayaan. Sang bangsawan misalnya, memutuskan mengambil resiko dengan mempercayakan hartanya untuk dikembangkan oleh para hambanya, walaupun ia tahu, bahwa pasti ada di antara mereka yang beritikad buruk dan menghendaki kejatuhan dan kebangkrutannya. Dan memang itulah yang terjadi, sebagaimana kita baca, "akan tetapi orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami."

Keputusan untuk mempercayakan modal dengan mengambil resiko juga dibuat oleh para hamba yang berhasil mengembangkan modal yang diberikan oleh tuan mereka. Dan atas keberanian mereka dengan memperhitungkan berbagai kemungkinan, mereka dianugerahkan penghargaan oleh sang raja. Mereka dihargai bukan terutama karena mereka berhasil menggandakan modal, tetapi karena mereka tetap terikat dan percaya dalam relasi di antara mereka.

Sebaliknya, hamba yang menerima satu mina, bukan hanya takut mengambil resiko, tetapi rupanya juga memiliki pandangan yang sangat negatip tentang tuannya dan tentang sesamanya, dan karenanya tak mempercayai mereka. Sebab katanya, "sebab, aku takut akan tuan, karena tuan adalah manusia yang keras; tuan mengambil apa yang tidak pernah tuan taruh dan menuai apa yang tidak tuan tabur." Konsekwensi dari pandangannya dan ketidakpercayaannya, inilah yang membuat dia dicap sebagai hamba yang jahat. Dan terhadap kejahatannya, ia dihukum. Apa yang ada padanya diambil semuanya dan dia dihukum bersama para musuh sang raja.

Sebuah kisah tentang tentang mempercayakan materi, uang dan mengelolanya menghantar kita kepada betapa perlunya kita menjaga kepercayaan dalam setiap bentuk relasi, termasuk juga dalam hidup iman kita. Betapa sering Injil menampilkan banyak contoh tentang bagaimana seharusnya perlakuan kita dan relasi kita terhadap barang, modal, uang. Yesus tidak berhenti di sana, Ia mengajak kita masuk ke dalam relasi di antara manusia. Kesetiaan dalam mengelola materi secara benar dan bertanggung jawab dengan keberanian untuk mengambil resiko, juga berlaku dalam hubungan kepercayaan di antara kita, dan antara kita dengan Tuhan.

Para hamba itu memiliki sikap positif terhadap materi, yang juga keluar dari pandangan positif mereka tentang manusia, baik si tuan yang mempercayakan modal maupun orang-orang yang dengannya mereka menginvestasikan modal tuan mereka. Sikap mereka ini ternyata vital bagi keberhasilan usaha. Dan akhirnya, mereka dipercayakan oleh tuan mereka untuk memerintah atau melayani lebih banyak orang lain. Dari materi kepada manusia.

Nah, demikianlah seharusnya hidup dan relasi kita berdasarkan iman. Hendaknya dasarnya ada pada penghargaan positif tentang manusia. Jaminannya pasti, kelimpahan hidup akan kita terima, baik itu sahabat, relasi maupun kekayaan dan kesejahteraan.

Tuhan, betapa sering kami berhadapan dengan resiko dalam hidup. Ada yang tak berani kami ambil karena kurangnya kepercayaan kami kepada manusia yang bekerja dan berada bersama kami. Padahal, kami harus mengambilnya untuk menghasilkan lebih dalam hidup. Semoga kami melihat kebaikan dalam sesama kami. Amin.

Copyright © 18 Nopember 2008, by Ansel Meo SVD

Kamis, November 13, 2008

24. Berani Mengambil Resiko

Minggu, 16 Nopember 2008

Minggu Biasa XXXIII
Mt 25:4-30
Injil pada hari Minggu ini melukiskan tentang seorang tuan yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan kekayaannya kepada mereka. Ada yang menerima 5 talenta, 2 talenta dan satu talenta. Jadi masing-masing dibaginya menurut kemampuan mereka. Apa yang terjadi setelah itu? Cerita ini memberi perhatian kepada hamba yang menerima satu talenta. Dia bukanlah seorang jenius, dan ia memiliki hanya sedikit kemampuan, tetapi tuan itu memberikannya juga kepada hamba yang relatif tidak memiliki kesanggupan, sebuah pertanda bahwa semua anak Allah telah memiliki talentanya masing-masing, termasuk juga mereka yang hanya memiliki sedikit kemampuan.

Setelah sang tuan berangkat, kedua hamba yang memiliki 5 dan 2 talenta langsung memikirkan dan menemukan cara untuk menggandakan talentanya masing-masing. Sementara hamba yang ketiga langsung menggali sebuah lobang dan menguburkan talentanya yang satu itu. Pertanyaannya adalah: "Mengapa ia berbuat demikian?" Karena ia takut akan kehilangan talentanya jika dijadikan sebagai modal untuk usahanya. Ia pasti memiliki alasan seperti ini: "Tentu mereka yang memiliki talenta lebih banyak, tidak cemas mengambil resiko." Pikiran yang serupa barangkali juga menghantui kebanyakan dari antara kita. Kita tidak melihat diri kita sendiri sebagai pemilik yang dapat diandalkan dalam menggandakan anugerah dan talenta yang kita miliki. Kita begitu gampang membuat kesimpulan bahwa tak ada sesuatu yang bisa kita lakukan hanya dengan kemampuan yang serba terbatas, yang sedikit.

Yang mengherankan dari cerita Injil hari ini nampak ketika tuan itu datang dan melakukan perhitungan dengan para hambanya. Kedua hamba yang menggandakan talentanya MENERIMA HADIAH YANG SAMA BANYAK DARI TUANNYA: "Selamat, hamba-hambaku yang baik dan setia; kamu telah setia dalam hal-hal yang kecil, Aku akan memberi lebih banyak tanggung jawab kepadamu; masuklah ke dalam kebahagiaan dan kegembiraan tuanmu." Mereka dianugerahi tuannya bukan berdasarkan seberapa banyak talenta yang kini mereka miliki, tetapi berdasarkan bagaimana mereka mendaya-gunakan talenta yang telah mereka terima dari tuannya dalam perjuangan jatuh-bangun. Benarlah kata orang bijak: "Keberhasilan bukan diukur berdasarkan sejauh mana posisi yang boleh anda capai dan miliki dalam hidup, melainkan melalui rintangan-rintangan yang dapat diatasi dalam proses perjuangan menuju keberhasilan.

Bagaimana dengan hamba yang ketiga? Pasti ada alasan mengapa ia memutuskan untuk menyembunyikan talenta, bakat, kemampuan, keahliannya. Ia mungkin membandingkan dirinya dengan hamba-hamba yang lain yang memiliki lebih banyak talenta, lalu menjadi kecil hati. Ia sungguh tidak menyadari bahwa meski hanya dengan satu talenta yang dapat tergandakan, ia akan menerima imbalan yang sama banyak dengan yang lain. Karena apa? Karena kita semua tidak diukur dengan aturan dan hukum yang sama. Kepada siapa yang memiliki nilai tambah diberi, kepada siapa yang sanggup menggandakan, diperhitungkan.

Kita semua di dalam Gereja dewasa ini telah menerima sekurang-kurangnya satu talenta. Kita telah menerima anugerah iman. Tanggung jawab kita sebagai anggota-anggota dari Tubuh Mistik Kristus terhadap anugerah iman itu adalah bukan hanya untuk melindungi dan menjaga iman itu. Kita diharapkan untuk berbuat lebih yakni dengan menggandakan, dengan mengembangkan anugerah tersebut. Kita perlu memperdalamkan dan menambah nilai pada iman itu. Dan hal ini merupakan suatu petualangan yang membawa serta dengan banyak resiko dan kesulitan dan ketidaknyaman. Tetapi, jika kita tidak melakukan hal ini, kita akan berada pada bahaya kehilangan iman, sama seperti hamba yang ketiga dalam Injil hari ini yang kehilangan tidak hanya talentanya, tetapi juga tidak diakui sebagai putra dalam keluarga Allah.

Tuhan, kami telah menerima anugerah iman. Kami yakin bahwa jalan untuk menjaga iman itu adalah mensyukurinya sambil terus berkarya dan memberikan hasil yang berlimpah. Amin.

Copyright © 05 Nopember 2008, by Paskalis Berkmans, SVD dan diedit kembali oleh Ansel Meo SVD