Kamis, November 05, 2009

13. Bermegah tentang Pelayanan Dalam Kristus

Jumat, 6 Nopember 2009
Bacaan : Rom 15, 14-21
Seperti orang kebanyakan yang sangat menikmati pekerjaannya, Paulus dalam bacaan hari ini merilis alasan mengapa ia menuliskan surat-suratnya kepada umat di Roma. Tak ada nada angkuh karena kelebihannya, tetapi sebagai seorang pengajar yang berwibawa, ia tak lupa juga memuji kemajuan umat yang dibimbingnya.
Tulisnya hari ini, "aku memang yakin tentang kamu, bahwa kamu juga telah penuh dengan kebaikan, dan dengan segala pengetahuan dan sanggup saling menasihati..." Dan ia masih melanjutkan, "namun, karena kasih karunia Allah yang dianugerahkan kepadaku, .... aku boleh bermegah tentang pelayananku dalam Kristus."
Kita tentu bertanya, kenapa Paulus begitu bangga dengan tugasnya? Dalam kaitan dengan pewartaan Sabda Allah dan penyebaran iman akan Kristus, Paulus melihat bahwa ia menjalankan tugasnya untuk mereka yang tak pernah mendengarkan tentang Dia, mereka yang tak pernah melihat Dia, agar oleh pemberitaan itu, mereka akan mengerti maksud Allah.
Sebuah tugas perutusan yang masih relevan dewasa ini juga. Dan saya bersama anda melalui tugas khusus di medan apapun punya tantangan yang sama untuk melanjutkan perutusan Paulus yang diterimanya dari Tuhan. Dan tugas itu tak lain adalah melayani dalam semangat pelayanan Kristus, menasihati dan meneguhkan orang yang membutuhkan, seraya berdoa agar Tuhan menyapa dan menyentuh mereka untuk mencintai perintahNya sendiri.
Tuhan, semoga kami juga karena ketekunan dalam pelayanan di berbagai bidang karya kami, boleh juga membawa banyak orang akan pengenalan akan kebijaksanaanMu. Amin.
Copyright © 05 November 2009, by Anselm Meo, SVD

12. Hidup dan Mati Untuk Tuhan

Kamis, 5 Nopember 2009
Bacaan : Rom 14, 7-12
Saya cukup yakin dengan pandangan ini, bahwa sejahat-jahatnya orang, di hati kecilnya pasti ada seberkas kebaikan untuk orang lain. Mengapa? Karena manusia dari mulanya memang punya orientasi untuk mencari yang lain di luar dirinya, ia memiliki kecendrungan dasar juga untuk melindungi yang lain di luar dirinya.
Santu Paulus hari ini mengemukakan kebenaran dari apa yang saya sebutkan di atas dengan kata-kata berikut ini, "Tak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan". Paulus yakin bahwa jika hidup manusia itu pada hakekatnya terorientasikan kepada Allah, maka pasti ada selalu ada kebaikan yang ditemukan dalam kehidupan manusia.
Sungguh sebuah ajakan yang membesarkan hati kita. Bahwa jika Allah itu adalah tujuan kehidupan kita, dan asal keberadaan kita, maka kita memiliki tugas untuk menghendaki kebaikan bagi orang lain.
Tuhan, semoga kami hidup untuk membawa semakin banyak kebaikan bagi sesama, karena kami hidup untuk engkau. AMIN.
Copyright© 05 November 2009, by Anselm Meo, SVD

11. Kasihlah yang Menyempurnakan Hukum dan Peraturan

Rabu, 4 Nopember 2009
Bacaan : Rom 13, 8 - 10
Berbicara tentang peraturan dan hukum serta berbagai norma yang ada, orang biasanya melihatnya secara lebih proporsional dengan mengatakan bahwa aturan tanpa kasih itu tak berarti. Jiwa dari peraturan haruslah ditemukan dalam kenyataan bahwa mereka yang melaksanakannya menemukan keadilan, kegembiraan, dan kepuasan.
Yesus dalam Kitab Suci berulangkali juga mengatakan bahwa hukum tanpa kasih tak ada gunanya, dan bahwa inti dari hukum Taurat sebenarnya terdapat dalam perintah mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.
Ajaran Yesus ini kembali diperdengarkan Paulus dalam suratnya kepada orang Roma hari ini. Katanya, "Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat."
Hemat Paulus, hutang kasih tak menjadi persoalan bagi orang yang beriman. Orang yang berhutang kasih akan membawa serta dalam hidupnya kesadaran untuk membalas kasih yang sama yang telah diterimanya dengan berbuat kasih kepada orang lain. Hal itu bisa kita temukan secara sangat natural dan alamiah dalam hidup manusia. Anak yang tahu berterima kasih kepada orangtua yang mengasihi dia tanpa pamrih akan membalasnya dengan hidup yang baik. Murid yang tahu membalas kasih sayang dan ajaran para gurunya, akan menghidupkannya di dalam pelaksanaan tugas profesi setelah masa sekolahnya.
Pewartaan sabda Tuhan hari ini meminta kita sekali lagi untuk menghidupkan ajaran kasih Tuhan dengan gembira. Hanya dengan demikianlah kita akan mampu menghidupkan peraturan dan norma bukan sebagai sesuatu yang membebankan tetapi membebaskan kita semua. Tuhan, seperti Engkau Paulus mengingatkan kami tentang jiwa peraturan dan hukum yakni kasih. Kiranya kami mengasihi tanpa pamrih. Hanya dengan demikianlah kami semua dikenal sebagai murid-muridMu. AMIN.
Copyright© 03 November 2009, by Anselm Meo, SVD

10. Melayani dengan Syukur Berdasarkan Talenta yang Diterima

Selasa, 3 Nopember 2009
Bacaan : Rom 12, 5-16
Menyimak judul sederhana di atas, kita mungkin akan mengatakan, "Ah itu cuma slogan doang! Mana masih ada yang mau melayani dengan penuh syukur di jaman sekarang? Apalagi ketika persoalan nafkah dan pendapatan menjadi keharusan yang tak ditawar-menawar."
Mungkin saja orang anggap slogan, namun pengalaman perjumpaan saya sebagai pastor dengan banyak orang yang profesional di bidangnya mengatakan kepada saya bahwa ungkapan judul di atas tak sekedar slogan. Masih ada banyak orang yang melayani dengan penuh syukur berdasarkan talenta yang mereka terima. Bahkan ada di antara mereka yang tak mengutamakan penghasilan ketika mereka berjumpaan dengan kenyataan penderitaan dan kesusahan sama saudaranya.
Santu Paulus dalam suratnya kepada orang di Roma hari ini mengundang mereka dengan kata-kata berikut ini."Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita."
Melakukan atau melayani dengan syukur adalah aksi yang bersifat profesional. Orang melakukannya dengan ketrampilan dan keahlian tertentu. Dengan itu sudah pasti dia akan mendapatkan upah atas pelayanan dan pekerjaannya. Seperti Paulus sendiri dalam hidupnya, bahkan menunjukkan bahwa ia bekerja dan karena itu ia memperoleh penghasilan untuk membiayai karya kerasulannya. Jadi ajakan Paulus ini hemat saya bukanlah indikasi bahwa bahwa orang yang melakukannya adalah orang yang bekerja tanpa pembayaran, tetapi orang yang melakukan pekerjaan dan pelayannannya dengan gembira, karena ia melihat bahwa tugasnya tidak lain adalah usaha untuk berpartisipasi dengan karya Allah.
Yang pasti diperoleh ketika kita melakukan pekerjaan dengan motivasi ini tak lain adalah kegembiraan karna kita mengambil bahagian dalam karya Allah. Inilah yang memberi warna baru dalam pelayanan kita. Itulah yang membuat kita lebih bersemangat.
Tuhan, kiranya kami juga melayani dengan gembira sebagai upaya nyata untuk mengatakan kepada dunia bahwa Engkau bekerja bersama kami untuk membangun dunia ini menjadi rumah kediaman yang layak bagi anak-anakMu. Amin
Copyright© 03 November 2009, by Anselm Meo, SVD