Minggu, Mei 31, 2009

196. Mulanya Dari Cinta Allah bagi UmatNya

Senin, 01 Juni 2009
Pesta St. Yustinus, Martir

Bacaan : Mk 12, 1-12

Mestinya ada alasan khusus mengapa perumpamaan tentang para pekerja di kebun anggur dikisahkan oleh Yesus dalam Injil hari ini. Kalau kita membaca dengan seksama, Yesus sesungguhnya berada dalam situasi yang sulit, di mana kekuasaanNya tak diakui oleh para penguasa Yahudi masa itu. Bagi para pembaca dan pendengarNya, perumpamaan yang disampaikan Yesus sebenarnya mudah dicerna dan dimengerti. Mereka tahu dengan baik apa yang dimaksudkan Yesus dengan kebun anggur yaitu umat Israel dan siapakah pemilik kebun anggur itu yakni Allah sendiri.

Di hadapan para pendengarNya, Yesus memaparkan betapa sejarah bangsa Israel diberkati dengan kehadiranNya sendiri yang tak lain adalah sang Anak yang diutus untuk menyelamatkan bangsa itu bahkan melalui penolakan dan pembunuhan atas diriNya sendiri. Sampai di sini kisah ini memang masih enak didengarkan oleh pendengarNya, tetapi ketika berbicara lebih lanjut bahwa yang membunuh sang Putra tidak lain adalah para pekerja kebun anggur yang adalah para pemimpin agama dan bangsa Yahudi, di sinilah reaksi penolakan atas Yesus menjadi terang-terangan. Penginjil Markus melukiskannya cukup jelas, "Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu. Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain. Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita." Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena mereka tahu, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak, jadi mereka pergi dan membiarkan Dia.

Kendatipun akhir kisah ini menunjukkan betapa marahnya para penguasa Yahudi kepada Yesus, kita sebenarnya dihadapkan pada satu poin penting yang hendak ditunjukkan Yesus, yakni tentang arti sejati dari setiap kekuasaan. Kepada para pendengarNya, sang Guru ingin menunjukkan bahwa otoritasNya sejati, otoritasNya yang benar bermula dari cintakasih Allah yang ingin menyelamatkan bangsa pilihanNya. Dan di dalam diri Yesus kekuasaan dan otoritas itu terungkap dalam cintaNya yang tanpa batas dan tanpa pandang buluh kepada siapapun.

Yang menjadi sumber otoritas dan kuasa Yesus bukanlah peran yang dimainkan, bukannya jabatan yang diletakkan di pundakNya, atau pengaruh yang dimilikiNya, tetapi sumbernya ada pada cintaNya tiada batas, yang sumbernya ada pada Allah BapaNya sendiri.

Sebuah petunjuk dan ajakan bagi semua yang mengakui Nama Yesus sebagai Tuhan, dan bagi semua komunitas yang berbangga menyatakan diriNya komunitas Kristen. Bahwa kuasa sejati di bidang apa saja, baik di bidang rohani maupun di bidang sosial politik, harusnya bersumber dari cinta yang tanpa batas, yang menghendaki kehidupan yang lebih baik bagi umat manusia dan diwarnai oleh pelayanan penuh pengorbanan.

Tuhan Yesus, Santu Yustinus menunjukkan dengan kemartirannya bahwa cinta sejati adalah asal segala kuasa di bumi ini. Mampukanlah kami murid-muridMu untuk mencintai tanpa pamrih dalam berbagai bidang tugas pelayanan kami dan dalam berbagai jabatan kami. Amin.

Copyright © 30 Mei 2009 by Ansel Meo SVD

Jumat, Mei 29, 2009

195. Hanya Semangat Sejati Yang Mampu Merubah

Minggu, 31 Mei 2009
Hari Raya Pentekosta
Kis 2:1-11; Gal 5:16-25; Yoh 15: 26-27;16:12-15
Kita tentu masih ingat dengan baik peristiwa bersejarah di tanah air tercinta Indonesia pada tahun 1998, sebelas tahun yang lalu. Bangsa kita memasuki masa baru yang menjanjikan perubahan dan harapan besar bagi kita. Seluruh rakyat Indonesia dihembusi dengan harapan baru bahwa akan ada pemerintahan yang bersih, dan cita-cita warga akan suatu masyarakat yang lebih jujur dan berperikemanusiaan akan tercipta. Demikianlah muatan harapan yang dihembuskan oleh “Angin Reformasi.”
Sejak saat itu, reformasi lalu menjadi kata ajaib. Muncul Orde yang disebut Orde Reformasi dengan mengusung janji, akan membawa kita keluar dari aneka macam krisis. Perobahan, reformasi agaknya mulai menjadi kenyataan. Tetapi sesudah beberapa waktu bergulir ternyata tidak banyak perubahan yang terjadi. Teriakan reformasi sering hanya merupakan satu slogan tanpa makna. Kasus-kasus KKN yang dibongkar dari peti kemas, tiba-tiba menguap begitu saja karena tidak disikapi dengan penuh tanggung jawab atau cuma ditangani dengan setengah hati. Rakyat lebih suka memilih untuk main hakim sendiri karena tidak percaya pada aparat yang belum atau enggan berpihak pada keadilan. Kalau boleh kita bertanya: “Di manakah letak kesalahannya?”
Reformasi, pembaruan dalam hidup pribadi, dalam hidup masyarakat malah negara tidak terwujud karena tidak ada roh atau semangat sejati, tidak ada pembaruan mendasar. Reformasi baru terjadi secara lahiriah. Maka benarlah syair sebuah lagu nostalgia yang berjudul: “Tinggi Gunung Seribu Janji.” Penggalan syair lagu ini antara lain sebagai berikut: Memang lidah tak bertulang, tak terbatas kata-kata. Tinggi gunung seribu janji, lain dibibir, lain di hati.” Hanya semangat sejati akan perubahan yang mampu merobah manusia dan masyarakatnya. Jadi, betapa penting semangat sejati itu.
Hari ini kita merayakan Pesta Pentakosta. Pentakosta juga disebut pesta kelahiran persekutuan hidup, yakni Gereja. Memang Gereja, sudah mulai sejak Yesus Kristus memanggil dan mengumpulkan sejumlah murid untuk mengikuti-Nya. Namun kelahiran Gereja, kelahiran umat Allah terjadi sejak turunnya Roh Kudus. Karena Roh Kudus yang adalah hadiah Kristus, Roh-Nya sendiri membuat dan merobah hidup Gereja, dari ketakutan kepada keberanian, dari putus asa kepada semangat hidup baru. Roh adalah nafas kehidupan Gereja. Gereja hidup, kita hidup karena semangat, karena Roh baru.
Roh Allah itu dapat kita terjemahkan dengan pengertian Semangat Sejati, Semangat Baru, Semangat dari Allah sendiri. Roh Allah itu adalah seperti nafas hidup. Seperti segala makhluk akan mati jika tidak ada nafas, demikian kita orang Kristen, tidak bisa hidup sebagai orang Kristen jika tidak ada nafas hidup dari Allah. Tentu saja, semangat atau nafas hidup atau Roh Allah ini bukan semangat sembarangan, melainkan semangat akan keselamatan, akan kebaikan, akan cinta kasih, akan kehidupan. Reformasi yang didambakan banyak orang, hingga kini belum sungguh-sungguh terjadi, masih macet, masih mogok di tengah jalan, karena kita masih belum punya SEMANGAT SEJATI itu. Kita masih diliputi oleh semangat yang lain yang bukan dari Allah, yang bukan sejati.
Bacaan-bacaan Kitab Suci tadi dapat membantu kita untuk menangkap dan memahami bagaimana pengaruh Roh Allah itu. Roh itu mampu merobah hidup dan hati manusia, khususnya hidup orang beriman, hidup para murid.
Kisah Para Rasul, melukiskan dengan jelas bagaimana pengalaman murid-murid yang ditinggalkan Yesus dan bagaimana pengaruh Roh Allah itu setelah turun dan hadir di tengah mereka. Ketika Roh belum turun, para murid dikungkung oleh rasa takut yang mencekam. Mereka tidak berani keluar dan bicara, mereka cuma bisa mengunci diri. Ketika Yesus meninggalkan mereka, para murid dibayangi oleh rasa putus asa. Mereka penuh tanda tanya, ragu-ragu, tidak percaya bahwa misi Yesus akan berlanjut terus. Mereka patah semangat, kehilangan harapan dan semangat hidup untuk bersaksi tentang Yesus. Mereka tidak melihat jalan keluar lain, selain dikuasai oleh kebimbangan. Masa depan Gereja agaknya menuju tahap kehancuran. Inilah keadaan orang beriman, para murid Yesus tanpa kehadiran Roh Allah itu.
Tetapi dengan turunnya Roh Kudus di hari Pentakosta, semua berubah jadi lain. Para murid mulai angkat bicara. Petrus misalnya, mulai menantang pendengarnya untuk merubah hidup dan memberi diri untuk dibaptis. Mereka berani bersaksi tentang Yesus, malah berani mengecam leluhur Yahudi yang telah menyalibkan Yesus. Inilah semangat pembaruan yang merasuki para murid. Inilah nafas hidup itu, dan itu pula semangat sejati yang tentunya dibutuhkan oleh kita orang beriman dan siapa saja yang berkehendak baik, agar ada perubahan atau reformasi sejati. Dan semangat itu tidak lain adalah Roh Allah sendiri.
Dari peristiwa ini kita dapat menarik beberapa kesimpulan mengenai peranan Roh Kudus, Roh Allah. Pertama-tama, Roh mampu memberi semangat baru, mampu merobah hidup kita dan mampu membuat kita berani tampil sebagai saksi dan tidak akan resiko yang harus ditanggung karena kesaksian itu. Selanjutnya, Roh itu berkuasa, lebih berkuasa dari kecemasan kita. Kita mungkin sering mengeluh, bahwa hidup kita tidak ada perubahan sama sekali. Tetapi apakah kita sempat berpikir bahwa kesalahan barangkali terletak pada diri kita, misalnya, karena kita tidak punya sikap bernanti, tidak memiliki sikap berjaga dan berdoa seperti para rasul bersama Bunda Maria. Mungkin salah kita ialah karena kita kurang memberi tempat yang luas bagi Roh Allah untuk berkarya. Kita lebih percaya diri daripada menyerahkan diri kepada bimbingan Roh Allah. Kita lebih suka dipimpin oleh ingat diri, oleh kepentingan diri daripada rela membiarkan Roh Allah merobah kita dan malah takut dirobah oleh Roh Allah itu.
Sementara dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menjanjikan Roh itu dan menunjukkan peran Roh itu bagi kehidupan kita orang beriman. Roh Kudus adalah pemimpin kita yang sejati kepada kebenaran. Roh itu adalah penghibur kita di masa-masa sulit kehidupan. Roh Kudus adalah Penghibur, apa artinya bagi kita?
Dewasa ini kita menyaksikan dan mungkin merasakan ada banyak tantangan dan kesulitan yang ditujukan kepada orang Kristen. Rasanya cukup beruntung kehidupan saudara-saudari kita di daerah-daerah yang mayoritas Katolik. Tetapi banyak saudara-saudari kita di banyak tempat di tanah air tercinta ini mengalami masa sulit yang menyesakkan. Di tempat di mana kita minoritas, rasanya sulit untuk mendapatkan izin untuk membangun gereja. Bagaimana seharusnya tanggapan kita?
Apakah kita harus balik melawan dengan cara kekerasan. Apakah kita harus terapkan semboyan: “mata ganti mata dan gigi ganti gigi?” Sangat tidak kristen kalau kekerasan dihadapi dengan kekerasan. Kekerasan lawan kekerasan hanya akan menghasilkan kekerasan yang berkepanjangan dan hal itu tak akan pernah berakhir. Maka strategi pendekatan dan tanggapan kita harus lain.
Nah, di sinilah kita membutuhkan inspirasi, hembusan Roh Allah yang mampu menguatkan kita untuk terus menggunakan STRATEGI KASIH, KESABARAN DAN DAMAI di mana situasi yang tidak mendukung. Di sini dibutuhkan roh yang memampukan kita untuk terus bersaksi. Kita membutuhkan Roh Penghibur yang dapat menjadi pembela kita di tengah situasi yang diwarnai permusuhan dan perselisihan. Inilah kekuatan baru, semangat baru yang tak dapat dikalahkan oleh tindakan dan kuasa manusiawi apa pun.
Pentakosta adalah tawaran Roh Allah bagi kita. Roh Allah itu merubah hidup murid-murid perdana. Ada reformasi total dalam kehidupan mereka. Roh itu terpancar dalam perbuatan-perbuatan orang kristen. Roh itu kekuatan, pembela dan penghibur kita di masa penuh tantangan dan kesulitan. Maka, seperti para murid, hendaknya kita pun senantiasa membuka diri bagi hembusan gairah baru Roh Allah, agar kita pun dibarui dan mampu menjukkan gairah baru itu kepada sesama dan siapa saja yang berkehendak baik. Sebagaimana pengalaman para murid, doa adalah tempat istimewa turunnya Roh Kudus, maka kita pun hendaknya memberi tempat bagi doa dalam hidup kita, sambil bernanti, sambil berjaga agar Roh itu datang. Amin.
Copyright © 29 May 2009 by Paskalis B. Keytimu, SVD

194. "Tetapi engkau: Ikutilah Aku!"

Sabtu, 30 Mei 2009

Bacaan : Yoh 21, 20-25

Masih melanjutkan episode Injil yang barusan kita renungkan, kali ini pembicaraan antara Petrus dan Yesus melibatkan juga seorang murid yang lain, yang oleh Kitab Suci diperkenalkan sebagai Murid yang sangat dikasihi Yesus. Yohanes menjadi tokoh yang dibicarakan oleh Yesus kepada Petrus. Ada apa dengan figur yang satu ini? Atau lebih tepatnya, kenapa dia dibicarakan?

“Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata: "Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?" Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus: "Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?" Jawab Yesus: "Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku."

Yohanes memang dikenal secara khusus sebagai murid yang sangat dikasihi Yesus. Lukisan tentang kesaksian ini bisa diperoleh dalam berbagai karya pelukis. Ada yang melukiskannya sebagai yang mirip dengan Yesus. Para pencinta Kitab Suci mengenal dia juga sebagai seorang teolog yang secara khusus menjabarkan tentang ajaran Yesus tentang cinta itu sendiri. Dan memang itulah karakter sejati diri Yohanes. Dalam suratnya dia pernah menulis juga, "Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.”(1Yoh 1:7-8). Singkat kata, Yohanes sebagai murid yang paling dikasihi ternyata adalah seorang pengasih ulung. Seorang yang sangat mengasihi orang lain, mengasihi murid-muridnya, komunitas yang didirikannya dan mengasihi kita semua, hal mana kita dapati dalam kenyataan bahwa ia menuliskan Injil dengan tema kasih yang sangat menonjol.

Nah, tentang dia inilah yang Yesus singgung dalam pembicaraanNya dengan Petrus, tatkala Petrus bertanya tentang bagaimana nantinya dengan dia. Adakah Petrus merasa terganggu dengan kehadiran Yohanes? Secara manusiawi, memang masuk akal apa yang dipikirkan Petrus. Kalau dia saja yang sifatnya angin-anginan dipilih menjadi pemimpin, bagaimana nanti dengan Yohanes yang sangat Yesus kasihi? Akan jadi apakah dia? Akan diberi peran apa nanti? Yesus tak menjawabinya tetapi kembali menegaskan inti pesan dan ajaranNya, "Tetapi Engkau: ikutilah Aku, mengasihilah seperti Aku. "

Dalam ajakanNya ini, Yesus sekali lagi menegaskan karakter positif yang telah dimiliki Yohanes beserta tugas yang bakal diembannya, yakni mengajarkan kepada semua tentang misteri cinta Allah yang tak ada batasnya itu kepada manusia. Yesus menunjukkan bahwa mengajarkan tentang cinta sebagai prinsip dasar kehidupan serta melakukannya adalah kewajiban murid. Dan Petrus disadarkan bahwa itulah tugasnya yang utama. Mengkampanyekan bukan hanya dengan kata tetapi dengan kesaksian hidup bahwa ia pun bisa mencintai tanpa batas, mencintai hingga mati.

Ajakan yang sama ditujukan juga kepada kita hari ini. Engkau: ikutilah Aku. Peran yang kita mainkan boleh berbeda, karya boleh berbea, partai politik boleh berbeda, tetapi kita sebagai murid Yesus membawa tugas perutusan yang sama, MENGIKUTI SANG GURU, menaburkan kasih dan berkarya kasih kepada siapapun dan di manapun.

Tuhan Yesus, kami adalah murid yang Kaukasihi. Kiranya seperti Yohanes yang meninggalkan ajaran kasih kepada siapapun, kami boleh mewartakannya dalam hidup dan perjuangan kami. Bahwa kami juga mengasihi Engkau sebagaimana secara lantang diakui Petrus di hadapanMu. Amin.

Copyright © 29 Mei 2009 by Ansel Meo SVD

Kamis, Mei 28, 2009

193. "Apakah Engkau Mencintai Aku?"

Jumat, 29 Mei 2009

Bacaan : Yoh. 21:15-19

Pertanyaan "Apakah engkau mencintai aku?" yang kita tempatkan sebagai judul renungan hari ini, adalah sebuah pertanyaan fundamental yang diajukan oleh mereka yang memiliki relasi erat satu dengan yang lain. Pertanyaan yang sering diajukan untuk membaharui komitmen pada sebuah relasi. Juga pertanyaan yang berkaitan dengan komitmen pada sebuah tugas.

Yesus hari ini mengajukan lagi pertanyaan yang sama kepada murid-muridNya dan secara khusus lagi dialamatkanNya kepada Petrus: "Apakah engkau mencintai aku?" Bahkan Injil hari ini mencatat bahwa pertanyaan itu diajukan hingga tiga kali, sebuah indikasi betapa jawaban atas pertanyaan itu menuntut pula sebuah komitmen jangka panjang dan sepenuh hati. Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.

Mengapa perlu memperoleh kepastian akan jawaban atas pertanyaan "Apakah kamu sungguh cinta padaKu?" Menilik pada pengalaman manusiawi kita, pertanyaan ini biasanya diajukan ketika mereka yang terlibat dalam relasi mulai rasakan keraguan dan merasa kurangnya rasa cinta di antara mereka. Bisa juga diajukan ketika melihat pasangan akan menerima penugasan lain yang barangkali jauh lebih besar dari semula. Dan boleh jadi juga diajukan ketika si penanya menghadapi momen penting ketika ia sadar bahwa waktu untuk bersama semakin kurang.

Dan memang itulah yang terjadi dalam adegan Injil hari ini. Di satu pihak Yesus sadar bahwa Ia tak lama lagi bersama mereka secara kelihatan. Di lain pihak ada penugasan penting yang harus diserahkanNya kepada Petrus yang bakal dipilihNya sebagai pemimpin atas komunitas muridNya. Pertanyaan ini diajukan kepada Petrus bukan karena Yesus meragukan kasih dan komitmen Petrus, tetapi untuk menyadarkan Petrus bahwa tugas dan komitmennya akan sangat bergantung pada betapa dalam, kuat dan besarnya kasihnya akan Tuhan dan Gurunya. Dan bukan cuma itu, tapi juga sebuah petunjuk betapa kehidupan dan keberlangsungan komunitas murid ini akan bergantung pada semangat dasar ini, mengasihi tanpa syarat.

Dan ajakan lanjut dalam Injil hari ini, "Gembalakanlah domba-dombaKU!" sama artinya dengan "Ikutilah Aku!" Yesus ingin agar Petrus memiliki hatiNya yang mencintai tanpa batas. Yesus mau agar Petrus mencontohi sikap pelayananNya yang merendahkan diri untuk mencuci kaki para muridNya. Dan Yesus mau agar tak terjadi pengingkaran jati diri muridNya, bahwa mereka mengenal dan mencintaiNya.

Sebuah pertanyaan yang meminta kita untuk mawas diri dan membaharui komitmen kita pada pelayanan dan pekerjaan apa saja. Dan mengajak kita untuk kembali ke akar, pada semangat yang mendasari sebuah komitmen untuk pelayanan. "Apakah engkau mencintai aku?"

Ya Tuhan dan Allahku, aku sungguh mencintaiMu dengan segenap hatiku, dengan Aku mencintaiMu dengan segenap jiwa dan ragaku. Berkatilah semua saudaraku karena aku mencintai mereka. Amin.

Copyright © 29 Mei 2009 by Ansel Meo SVD