Kamis, November 05, 2009

04. Kita adalah Kawan Sewarga Dengan Orang-Orang Kudus

Rabu, 28 Oktober 2009
Pesta St. Simon dan St. Yudas Thadeus
Bacaan : Ef. 2, 19-22
Hari ini Gereja kudus merayakan Pesta kedua Rasul yaitu St. Simon dan St. Yudas Thadeus. Dan pada kesempatan yang strategis ini, Gereja mengingatkan kita semua anak-anaknya untuk menyimak kembali pemahaman diri kita sebagai Tubuh Kristus dan Bait Allah Roh Kudus. Kedua aspek ini memang berdimensi sangat teologis, namun yang jauh lebih penting, kedua aspek ini pulalah yang menyingkapkan tentang siapa kita sesungguhnya setelah kita menjadi anggota Gereja, menjadi murid Yesus Kristus.
St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus mengingatkan bahwa kita bukan orang asing lagi. Katanya, "Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus, dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Yesus Kristus sebagai batu penjuru."
Kata-kata Paulus pada pesta kedua Rasul Yesus, Simon dan Yudas Thadeus adalah undangan untuk menghargai siapa kita semua di hadapan dan bersama Yesus. Kita tahu orang macam mana yang telah menjadi murid dan Rasul Yesus. Segala macam orang, mulai dari yang paling cerdas seperti Yohanes, pendosa seperti Mateus, dan hari ini, Simon orang Zelot yang mau menggunakan cara kekerasan untuk mengusir keluar orang Roma serta Yudas Thadeus, seorang kerabat dekat Yesus sendiri, tetapi penginjil tak mengatakan apapun tentang dia.
Merayakan pesta keduanya untuk kita hendaknya menjadi momen untuk saling menghargai siapapun yang menjadi murid Tuhan. Tuhan memanggil mereka setelah semalaman bergumul dalam doa kepada BapaNya. Bagi Yesus semua mereka baik bersama maupun sebagai pribadi adalah gambaran diriNya, TubuhNya sendiri. Mereka semua adalah orang terpilih karena Roh Kudus dikaruniakan kepada kita. Yesus mencintai mereka.
Dan seperti mereka demikianlah kita murid Tuhan dewasa ini. Dengan Yesus semua bisa berubah menjadi baik, bisa menjadi alat yang dipakaiNya untuk mengembangkan kerajaanNya. Yang terpenting ialah kesediaan kita untuk bekerja sama dengan Rahmat Allah. Tuhan, semoga kami saling menghargai sebagai layaknya rekan sewarga keluarga Allah. Amin.
Copyright © 25 Oktober 2009, by Anselm Meo SVD

03. Menantikan Saat Pernyataan Anak-Anak Allah

Selasa, 27 Oktober 2009
Bacaan : Rom. 8, 18-25
Pemberitaan Paulus tentang kenyataan penderitaan yang dialami dalam kontak kita dengan dunia oleh karena kepercayaan akan Kristus sesungguhnya sebuah peneguhan yang menguatkan hati. Dengan mengambil perumpamaan tentang derita seorang ibu yang menderita saat melahirkan anaknya, Paulus dengan inspirasi Roh Kudus menegaskan bahwa kemuliaan yang menantikan orang yang percaya sungguh jauh lebih besar dari penderitaan kita.
Katanya, "dengan rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan ... kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita. Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan ..." Menurut Paulus, penderitaan yang kita alami oleh karena keterlibatan kita dalam membangun dunia baru berdasarkan iman akan Yesus Kristus tidak sebanding dengan kemuliaan yang tengah menantikan kita. Karena itulah pengharapan kita bukanlah pengharapan yang kosong, tetapi pengharapan yang diinspirasikan oleh karunia Roh. Dan kita tahu bahwa Roh itulah yang telah menyertai Yesus dalam karyaNya selama di bumi, dan Roh yang sama itu tengah menyertai kita semua dalam karya kita sebagai anak-anak Allah.
Untuk kita kata-kata ini berpengaruh besar. Kalau kita memahami jati diri kita sebagai anak Allah, kita sebenarnya tahu juga bahwa di medan apapun kita berada dan kita berkarya, kita sedang disertai dengan kekuatan Roh Allah. Karya di bidang politik, di dunia pendidikan, di keluarga dan komunitas adalah karya kita bersama dengan Roh Tuhan. Kalau kita mesti menderita karena karya kita ditentang lantaran kita lawan arus, hendaknya kita jangan takut. Kita mesti menerima penderitaan dengan gembira, karena tahu bahwa Roh Tuhan menyertai kita. Itu semua sungguh adalah momen pernyataan diri kita sebagai anak Allah.
Mari kita meminta Roh Tuhan untuk memberanikan kita semua bekerja dengan gembira, melayani seolah itulah kesempatan kita menerima pernyataan Allah bahwa kita pantas disebut Anak-AnakNya.
Tuhan, semoga kami hari inipun mampu menjalankan tugas dan pelayanan kami di bidang apapun dengan kegembiraan karena keyakinan akan penyertaan Roh yang Kauberikan kepada kami. Berkatilah siapapun yang kami jumpai hari ini. Bagi merekapun kami mau hadir dengan gembira. Amin.
Copyright © 25 Oktober 2009, by Anselm Meo SVD

02. Berada di Dunia Tanpa Memperhambakan Diri Kepada Dunia

Senin, 26 Oktober 2009
Bacaan : Rom 8, 12-17
Tentang perhambaan atau perbudakan, kita semua pasti dengan tegas menolaknya. Lebih dari itu kita juga berusaha agar tak ada lagi orang yang menjadi korbannya. Gerakan dan usaha memerdekakan diri dari berbagai bangsa di dunia menunjukkan keseriusan manusia untuk memerangi perhambaan yang hidup di dalam masyarakatnya.
Tetapi bagaimana dengan perhambaan modern yang ada di depan mata kita, yang bahkan tengah kita hidupkan sendiri? Dunia jaman kita menawarkan berbagai hal, yang jika tidak dicermati dengan benar, justru akan menyeret manusia untuk menjadi budak-budaknya tanpa ampun. Gaya hidup yang 'ingin selalu lebih' telah membuat kita menjadi pelaku korupsi misalnya, atau melihat yang lain sebagai penghalang rencana kita. Juga tak dilupakan soal kenyamanan hidup yang kita mau sering pula membuat kita mempekerjakan yang lain dalam kondisi yang sering kali melanggar hak mereka.
Kepada semua yang percaya kepada Kristus, Santu Paulus hari ini meminta kita untuk mematikan perbuatan-perbuatan tubuh, karena berangkat dari kenyataan bahwa kita adalah anak-anak Allah, yang telah dikaruniakan Allah RohNya sendiri. Roh ini memampukan kita untuk menyapa Allah sebagai Bapa, dan Roh ini pula memberikan kepada kita semua untuk tindak takut kepada dunia dan kuasanya.
Apa yang disampaikan oleh Santu Paulus ini sesungguhnya mengajak kita untuk memperhatikan secara lebih sungguh kualitas keterlibatan kita dalam dunia. Bahwa kita mesti berada di dunia, itulah panggilan kita sebagai orang beriman. Tetapi berada di dalam dunia tidak otomatis mewajibkan kita untuk diperhamba oleh dunia dan kuasanya. Dunia kita orang beriman adalah dunia yang telah dibebaskan dan diselamatkan oleh Yesus Tuhan. Mengapa kita tak memiliki kekuatan dan kehendak untuk membawa aspek baru ke dalam dunia hidup kita yang telah dicemarkan dengan kekuasaan negatip lainnya?
Kita semua hari ini diajak sekali lagi untuk kembali kepada komitmen hidup dan panggilan sebagai anak-anak Allah. Dan komitmen itu tidak lain adalah janji untuk berjuang dengan kuasa dan kekuatan Allah melawan segala bentuk perhambaan.
Tuhan Yesus Kristus, di dalam Engkau kami telah menerima Roh Allah yang menjadikan kami anak-anak Allah. Kiranya rahmatMu memampukan kami saat ini untuk berusaha untuk mengubah mentalitas dunia kami menjadi Dunia Baru, yang memungkinkan semua anak Allah hidup bermartabat dan sederajat. Amin.
Copyright © 23 Oktober 2009, by Anselm Meo SVD

Senin, November 02, 2009

Akulah Kebangkitan Dan Kehidupan

Senin, 2 November 2009
Memperingati Para Arwah Kaum Beriman
Kebij 4: 7-15; Yoh 11:17-27
Kemarin kita merayakan pesta semua orang kudus dan pada hari ini kita berkumpul di sini, seturut sebuah tradisi yang indah, untuk mempersembahkan kurban Ekaristi demi mengenangkan dan mendoakan keselamatan jiwa para sama-saudara kita yang telah beralih dari hidup di dunia ini. Doa-doa kita pada sore hari ini dimotivir dan diinspirir oleh misteri komunio para kudus, sebuah misteri yang barusan kita refleksikan secara baru pada hari kemarin, guna memahaminya, menyambutnya dalam hati dan pikiran kita serta menghayati dan menghidupinya secara lebih intensif.
Di dalam komunio ini, kita secara khusus mengingat kembali dengan perasaan hormat yang mendalam para arwah orang-orang beriman. Kita percaya dan yakin bahwa mereka kini hidup bersama Allah yang hidup. Kita mau berdoa bagi mereka semua, membiarkan diri kita dirasuki dan diterangi oleh Sabda Tuhan yang barusan kita dengarkan bersama.
Bacaan pertama, sebuah kutipan dari Kitab Kebijaksanaan (Keb. 4:7-15) telah mengingatkan kita bahwa kehormatan seseorang tidak diukur menurut panjangnya usia dan tidak dihitung menurut jumlah tahun, tetapi didasarkan pada kebijaksanaan dan hidup yang baik, hidup yang jujur dan tak bercelah. Dan jika Allah harus memanggil orang yang benar kepada-Nya, itu merupakan sebuah desain cinta atau rencana kasih baginya. Kematian orang-orang beriman sesungguhnya merupakan suatu undangan untuk mengalami kepenuhan hidup seturut rencana Allah sendiri. Inilah landasan bagi kegembiraan kita meski harus mengalami peristiwa kehilangan dari orang-orang yang kita kasihi. Firman yang juga memberikan penghiburan dan kekuatan yang tak terhingga ialah Sabda Yesus sendiri: “Akulah kebangkitan dan kehidupan. Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup, sekalipun sudah meninggal. Bagi orang yang percaya tak ada kematian; yang ada hanyalah kehidupan.
Sabda Kehidupan dan Pengharapan ini tentu memberikan penghiburan yang mendalam kepada kita dihadapan misteri kematian. Hari ini Tuhan meyakinkan kita bahwa bapa-ibu dan saudara-saudari kita yang terkasih, bagi mereka kita mendoakannya secara khusus di dalam Misa Kudus ini, beralih dari kematian menuju kehidupan karena mereka telah memilih Kristus, mereka telah menyambut dengan sabar pahit dan manisnya beban kehidupan-Nya; dan mereka telah mengabdikan seluruh diri mereka kepada pelayanan terhadap saudara-saudari Kristus. Oleh karena itu, seandainya mereka harus menjalani masa pemurnian karena kelemahan-kelemahan manusiawi, akan tetap membantu kita untuk berkanjang dalam kerendahan hati, menolong kita untuk tetap setia kepada janji-janji Kristus bagi mereka untuk masuk ke dalam kebebasan anak-anak Allah. Walaupun kepergian mereka meninggalkan duka dalam diri kita, peristiwa kehilangan itu membuat kita bersedih, iman akan kebangkitan akan tetap memberikan kita pengharapan. Dan pengharapan itu merupakan jangkar keselamatan bagi setiap orang yang percaya kepada Kristus.
Lewat kurban Ekaristi yang merupakan pembaruan dan pengulangan dari kurban Golgota, Yesus setiap kali menawarkan jalan menuju keselamatan yang kekal bagi semua orang. Itulah tempat singgahan, tempat istirahat, tempat menimba kekuatan baru untuk bisa berlayar lebih pasti menuju tanah air surgawi. Itulah pula tanjung harapan baik bagi orang Kristen, tempat kita menatap penuh harap akan datangnya saat kepenuhan janji-janji Allah bagi kita.
Kristus adalah Kebangkitan dan Kehidupan adalah pokok pengharapan kita. Dan Kristus yang adalah pokok harapan kita itu adalah Sauh, Jangkar bagi jiwa kita. Dan altar, di mana Kristus sudah dilabuhkan di belakang tabir, adalah tanjung atau pelabuhan yang penuh harapan, yang dengan pasti mengarahkan kita di jalan yang benar menuju surga. Maka lewat altar ini, tanjung harapan iman itu, marilah kita mempersatukan doa-doa kita dan mempersembahkannya kepada Allah Bapa segala kebaikan dan belaskasih, sehingga melalui doa-doa permohoan santara Perawan Maria, dan semoga api cinta Kristus berkenan membersihkan segala ketaksempurnaan saudara-saudarakita dan membarui mereka untuk menyembah dan memuji kemuliaan-Nya. Dan kita pun berdoa agar kita yang masih berziarah di dunia ini, akan selalu mengarahkan mata dan hati kita kepada tujuan pokok yang kita rindukan, rumah Bapa di surga. Amin.
Copyright 2 November 2009, by: P. Paskalis B. Keytimu, SVD