Kamis, Oktober 22, 2009

313. Api itu sudah Bernyala

Kamis, 22 Oktober 2009
Bacaan : Lk 12, 49 - 53
Mereka yang lagi bersemangat mengikuti Yesus saat itu pasti terperanjat mendengarkan apa yang disampaikan olehNya dalam Injil yang kita renungkan hari ini. Betapa tidak terperanjat? Yesus mengemukakan tentang konsekwensi yang bisa terjadi dalam hidup bersama berhadapan dengan kedatanganNya. "Aku datang untuk melemparkan api ke bumi," kata Yesus, "dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! .... Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kataKu kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan."
Tetapi apa arti ungkapan Yesus bahwa "Api yang diharapkanNya itu telah sungguh menyala"? Apakah Ia menimbulkan khaos dan ketidak beraturan dengan kedatanganNya? Dan apakah kehadiran damai yang dijanjikan para malaikat di Betlehem di saat kelahiranNya hanya sebuah pemberitaan kosong belaka, karena Ia sendiri mengatakan kini bahwa Ia membawa pertentangan?
Bersamaan dengan kehadiran Yesus dan pengajaranNya, orang-orang yang menyaksikan Dia saat itu merasakan adanya perbedaan suasana. Lebih dari waktu-waktu sebelumnya, mereka juga mengalami bahwa Allah yang mereka imani itu sekarang menjadi lebih nyata, kasih dan belaskasihanNya lebih dialami. Orang mengalami saat-saat rahmat Tuhan memenuhi mereka. Para murid Yesus juga merasakan kekuatan yang datang dari pemberitaanNya dan dari kasihNya yang menyelamatkan mereka.
Mereka memiliki kerinduan untuk senantiasa dekat denganNya, mendengarkan Dia dan diinspirasikan olehNya. Kenyataan seperti itu tentu bukanlah sesuatu yang biasa. Itu hanya mungkin karena mereka dipenuhi oleh kekuatan dan rahmat Allah. Mereka dipenuhi oleh RohNya yang adalah Api sejati yang turun ke bumi dan memenuhi hati manusia untuk mendekati Allah.
Roh inilah yang menguatkan manusia. Roh inilah yang menerangi jalan manusia untuk membedakan yang baik dari yang jahat. Dan roh ini pulalah yang membuat mereka mampu memilih untuk mengikuti Yesus sebagai jalan kebenaran, kendati untuk itu mereka harus bertentangan dengan anggota keluarga mereka sendiri yang tak memilih Dia.
Api itu juga sudah dinyalakan di hati kita semua yang mengakui diri kita sebagai muridNya. Karena permandian yang kita terima adalah permandian dari air baptis dan permandian dari Roh Kudus. Kalau kita sudah memiliki Roh itu, maka hendaknya kita membiarkan diri kita dikendalikan olehNya. Kiranya Roh itu menjadi Roh yang memungkinkan kita memilih yang baik di tengah pilihan sulit dunia ini.
Tuhan, terimakasih kepadaMu atas penganugerahan RohMu kepada kami. Kiranya hati dan budi kami terbuka terhadap arahanNya dan kami dibersihkan dari kesalahan kami. Amin.
Copyright © 22 Oktober 2009, by Anselm Meo SVD

312. Bersiap Sedialah Selalu Menyambut Putra Manusia

Rabu, 21 Oktober 2009
Bacaan : Lk 12, 39 - 48
Apa yang menjadi sikap Petrus hari ini sesungguhnya mewakili juga kebiasaan kita pada umumnya yang menganggap bahwa menjadi murid Yesus sudah menjadi jaminan untuk mendapatkan keselamatan. Benar bahwa ada jaminan dasar tetapi untuk mendapatkannya perlu sikap dasar ini, kesediaan untuk selalu menyambut kedatangan Tuhan, seperti kata Yesus, "hendaknya pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap bernyala".
Undangan untuk siap sedia menyambut kedatangan Anak Manusia justru menjadi lebih serius ditujukan kepada mereka yang setiap hari hidup bersama dengan Tuhan, menjadi pelayanNya. Mengapa? Karena merekalah yang dipercayakan segala kemungkinan untuk membantu orang lain untuk bertemu dengan Tuhan. Mereka ini ibarat orang yang menerima talenta lebih banyak justru dituntut lebih banyak pula. Artinya dari mereka diharapkan lebih banyak, baik dalam hubungan mereka dengan Tuhan demi keselamatan mereka sendiri, maupun dalam hubungan tanggung jawab mereka untuk membawa orang lain kepada Tuhan.
Sebagai murid Yesus setiap orang Kristen sesungguhnya menjalankan tugas sebagai pengurus rumah tangga dalam perumpamaan hari ini. Karena itu, setiap orang Kristen tidak hanya harus peduli dengan keselamatannya sendiri tetapi diminta juga untuk peduli dengan keselamatan orang lain, baik yang ada bersama mereka maupun orang lain yang jauh dari lingkungan mereka. Karya dan doa kita hendaknya memiliki dua arah yang saling melengkapi ini.
Tuhan, kiranya kami siap sedia untuk menyambut Engkau yang datang pada saat yang tak kami duga. Kami mau menyatakan kesediaan ini dengan bekerja dan berdoa bukan hanya demi kepentingan kami sendiri tetapi juga untuk kepentingan orang lain, agar bersama-sama kami semua bisa menemui Engkau, Tuhan dan Juru selamat kami. Amin.
Copyright © 22 Oktober 2009, by Anselm Meo SVD

311. Pelayan yang Siap, Pelayan yang Berbahagia

Selasa, 20 Oktober 2009
Bacaan : Lk 12, 35-38
Pelayan yang siap sedia melayani tuannya setiap saat sering sekali menjadi gambaran tentang hidup kita sebagai orang beriman. Mengapa demikian? Karena menantikan Tuhan adalah salah satu karakter dasar dari hidup kaum beriman. Bahwa sebagai orang beriman, kita diminta untuk tidak terpaku pada penantian yang statis dan membosankan tetapi selalu terbuka dan aktif mencari kemungkinan baru untuk melayani Tuhan sesuai dengan keadaan zaman.
Kata Yesus hari ini, "Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika Ia datang..." Mengapa perlu menjadi hamba yang berbahagia? Apakah tak cukup menjadi hambaNya saja? Yesus menekankan kesiap siagaan para muridNya justru karena pemahaman dasar bahwa Tuhan yang dinantikan itu bukanlah Tuhan yang datang hanya pada akhir jaman, tetapi Tuhan yang terlibat dalam hidup manusia, Tuhan yang datang saat ini, dan bisa ditemui saat ini pula. Tuhan yang demikian adalah Tuhan yang menyertai dan hadir bagi kita semua, Tuhan yang peduli dengan keadaan dan kebaikan kita.
Nah kalau Tuhan itu selalu ada di sini dan sekarang, maka wajarlah kalau para pelayannya diminta untuk siap sedia melayani Dia. Persis inilah karakter hidup Kristiani. Allah yang kita imani adalah Allah yang hadir saat ini dan di sini. Allah yang demikian telah menjelma dalam diri Yesus Kristus dan menjadi satu dari antara kita. Kiranya untuk Dia kita selalu siap sedia melayaniNya, karena itulah sumber kebahagiaan kita yang sesungguhnya.
Tuhan, kiranya kami menjadi hamba yang siap sedia melayaniMu, karena Engkau selalu hadir di sini dan sekarang ini. Amin.
Copyright © 18 Oktober 2009, by Anselm Meo SVD

Minggu, Oktober 18, 2009

310. Kekayaan Sejati untuk Dibagikan

Senin, 19 Oktober 2009
Bacaan : Lk 12, 13-21
Rasanya tak terlalu janggal menemukan kenyataan bahwa ketenaran Yesus juga digunakan juga oleh orang kaya untuk kepentingannya. Ia datang meminta Yesus untuk menjadi pembagi kakayaan antara dia dan saudaranya. Terlihat betapa pikiran orang kaya ini dipenuhi oleh urusan harta kekayaan semata-mata, sampai ia juga lupa bahwa Yesus memiliki hal lain yang jauh lebih penting yakni mewartakan Sabda Allah dan kepentinganNya.
Peringatan Yesus kepada murid-muridNya menunjukkan permasalahan yang dimunculkan di sini, ketika kekayaan menjadi tuan atas kehidupan yang semu dan orang melupakan hal terpenting yakni kekayaan sejati untuk dibagikan dengan orang di sekitarnya. Kata Yesus kepada mereka, "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah bergantung pada kekayaannya itu."
Persoalan pokok di sini bukanlah kekayaan tetapi orientasi hati seseorang. Kekayaannya seharusnya tak boleh menjadi halangan kalau hati manusia tak terikat kepadanya dan orang menjadi tamak karenanya. Kekayaan seharusnya menjadi alat di mana orang yang memilikinya mengambil bahagian dalam karya dan keprihatinan Allah untuk anak-anakNya yang membutuhkan hal-hal mendasar dalam kehidupan ini. Kekayaan seyogyanya menjadi kesempatan di mana anak-anak Allah yang memilikinya turut serta dalam mewujudkan suatu masyarakat yang lebih adil dan sejahtera.
Nah, kalau di sinilah soalnya, maka pembinaan suara hati dan orientasi hati adalah sesuatu yang vital dalam hidup seorang murid Yesus ketika mereka berhadapan dengan kekayaan. Jadi kita para murid Yesus tak dilarang untuk menjadi kaya. Tetapi yang harus kita waspadai ialah kalau hati kita menjadi tertutup, tamak dan lupa akan Allah. Kekayaan sejati adalah relasi kita dengan sesama dan dengan Allah. Itulah orientasi kita sebagai anak-anak Allah. Jangan sampai kita memutuskan hubungan baik dengan sesama dan dengan Allah hanya karena persoalan kekayaan dan usaha untuk mendatangkan kekayaan itu.
Tuhan Yesus, hati kami Kauarahkan kepadaMu. Semoga kami tekun menjaga setiap hubungan personal antara kami dengan Dikau dan dengan sesama. Dan semoga kami mampu membagikannya sebagai harta terindah yang kami terima daripadaMu. Amin.
Copyright © 18 Oktober 2009, by Anselm Meo SVD