Kamis, September 24, 2009

291. Mengimani Kristus yang Menderita dan Bangkit

Jumat, 25 September 2009

Bacaan : Luk 9, 18-22

"Menurutmu, siapakah aku?" Itulah pertanyaan yang diajukan Yesus kepada para muridNya, dalam sajian Injil Lukas hari ini. Sebuah pertanyaan yang sesungguhnya lahir dari sebuah pengamatan Yesus sendiri tentang bagaimana sikap orang terhadap Dia. Hal ini masih ada hubungannya dengan injil kemarin yang berbicara tentang bagaimana sikap Herodes, Raja wilayah itu terhadap Yesus. Yesus dan tentu juga para muridNya tahu bahwa para elit politik dan agama semua menolak Yesus dan misi yang tengah diembanNya.

Itulah sebabnya, ketika Petrus menjawab bahwa "Ia adalah Kristus, Anak Allah", Yesus melanjutkan penjelasanNya tentang diri dan MisiNya terhadap mereka. "Putra Manusia harus menderita banyak ... namun akan bangkit di hari ke tiga."

Pertanyaan dan penegasan Yesus kepada para muridNya dibuat dalam sebuah latar yang sangat tenang. Injil mengatakan tempat yang tenang dan ketika mereka sendirian, jauh dari pergunjingan orang, jauh dari hingar bingar aksi politis dan tindakan kewajiban agama. Latar ini seolah menegaskan juga bahwa mengenal dan mengimani Kristus, diperlukan juga saat hening, tenang dan jauh dari keramaian. Dan dalam saat-saat seperti ini, yang sering disebut sebagai saat rahmat, pengenalan dan iman akan Yesus selalu merupakan anugerah yang diberikan Allah, sebagaimana Yesus mengatakannya kepada Petrus.

Tuhan Yesus, seperti para muridMu kami mengakui bahwa Engkaulah Kristus Putera Allah. Kami bersyukur atas anugerah ini, yang seperti kepada Petrus, sesungguhnya kami menerima iman akan Dikau sebagai anugerah Bapa kepada kami. Hidupkanlah selalu iman kami ya Tuhan dan ajarilah kami menerima penderitaan dan salibMu sebagai jalan kepada kebangkitan mulia. Amin.

Copyright © 24 Sep. 2009, by Ansel Meo SVD

290. Perlu Mengambil Sikap dan Beriman

Kamis, 24 September 2009

Bacaan : Luk 9, 7-9

Seringkali ketenaran seseorang dalam perbuatan dan karya-karya yang baik melahirkan keinginan dan kerinduan orang untuk menemui dia dan mengaguminya dari dekat. Namun ada juga yang merasa ketenaran dan karya baik seseorang menjadi ancaman bagi kekuasaan dan lingkaran sosial yang melingkunginya. Rupanya inilah yang terjadi dalam Injil hari ini pada diri raja Herodes. Ia memang mendengar banyak tentang Yesus, tentang semua kebesaran yang ada padanya dan tentu saja iapun tahu tentang siapa saja yang melingkungi Yesus, yang tidak lain adalah orang-orang yang tak diperhitungkan olehnya. Karena itulah tak ada tanggapan yang muncul darinya.

Dari Herodes tak lahir sama sekali suatu sikap iman yang mengakui bahwa dalam diri Yesus, Allah sesungguhnya tengah berkarya untuk kebaikan seluruh bangsa. Jadi ia tak mampu memahami dan bersikap atas panggilan Allah yang terjadi dalam karya dan hidup Yesus.

Kita mungkin akan mengatakan bahwa sikap Herodes keterlaluan. Tapi sikap seperti ini masih selalu kita hidupi sendiri, tatkala berhadapan dengan ajaran dan perbuatan Yesus, kita lebih suka menggalinya secara ilmiah, menjadi bahan penelitian atau pergunjingan semata. Tatkala sebutan akan nama Yesus atau nama Tuhan menjadi begitu biasa terdengar keluar dari mulut kita tanpa sikap hormat dan pantas yang menyertainya.

Kita perlu kembali bertanya diri kita, bagaimana reaksi seharusnya yang kita tunjukkan ketika berhadapan dengan hidup, sabda dan ajaran Yesus. Kita perlu mengambil sikap yang tepat dan memiliki iman.

Tuhan Yesus, berikanlah kami iman yang sungguh untuk mengakui karya dan kuasa Allah yang kami dengar dan kami renungkan melalui hidup, karya dan sabdaMu sendiri. Amin.

Copyright © 24 Sep. 2009, by Ansel Meo SVD

Selasa, September 22, 2009

289. Yesus adalah Segalanya bagi Orang yang DiutusNya

Rabu, 23 September 2009
Peringatan S. Pio dari Pietrelcina

Bacaan : Luk 9, 1-6

Tentu amat menarik merenungkan penggalan Injil hari ini. Tugas perutusan para murid yang diterima dari Yesus adalah tugas yang berat dan menantang. Mengetahui soal ini, Yesus pun tidak begitu saja mengutus mereka, tetapi melengkapi mereka dengan sesuatu yang amat vital. Injil hari ini mengatakan bahwa “[Yesus] memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang ...”
Bagi para muridNya, menerima kuasa dan tenaga dari Yesus adalah menerima segalanya dari Yesus. Yesus menjadi segala-galanya bagi mereka. Dan ketika menyebut Yesus, itu artinya kita menunjukkan pada Sabda dan perbuatan serta identitas diri Yesus yang adalah Allah yang kuat kuasa dan manusia untuk orang lain. Betapa besarnya rahmat yang mereka terima karena Yesus adalah kekuatan mereka. Persis inilah yang saya katakan menarik dari Injil hari ini.
Mengapa para murid diminta jangan cemas dengan segala perlengkapan lainnya ataupun soal penerimaan yang akan mereka alami di tempat misi? Mereka diminta demikian agar mereka memberikan ruang dan waktu mereka sepenuhnya bagi Yesus. Yesus itu begitu besar dan mulia, sehingga memiliki Dia cukup untuk memenuhi dan menjalankan misi. Jadi seorang misionaris yang diutus Yesus, hendaknya memiliki kesadaran ini, bahwa Yesus saja cukup untukNya. Yesus harus menjadi segalanya bagi hidup seorang yg diutus.
Betapa bangganya kami memiliki Engkau ya Yesus. Engkau melengkapi siapapun yang percaya padaMu dengan daya dan kekuatanMu, sehingga bersama Engkaulah kami menjalankan tugas perutusan kami. Bantulah kami untuk menjadikan Engkau segalanya bagi kami. Amin.
Copyright © 22 Sep. 2009, by Ansel Meo SVD

Senin, September 21, 2009

288. Menghidupkan SabdaNya : Kunci Masuk Rumah Allah

Selasa, 22 September 2009
Bacaan : Lk 8, 19-21

Berbicara tentang rumah, kita bisa langsung berpikir tentang sebuah kediaman, tetapi juga bisa diasosiasikan dengan keluarga. Kitab Suci misalnya seringkali menggabungkan dua arti ini dalam sebuah kata rumah. Rumah Allah karenanya bisa dimengerti sebagai bangunan yang menjadi kediaman Allah tetapi juga keluarga Allah. Hal mana sering sekali kita alamatkan ketika kita bicara tentang Gereja, yang di satu sisi bisa merupakan bangunan suci tetapi juga menjadi keluarga atau komunitas murid Yesus.

Pengertian inilah yang rupanya menjadi bahan pertimbangan kita untuk merenungkan perkataan Yesus hari ini perihal keluargaNya. Ketika orang mengatakan kepadaNya tentang ibuNya dan saudara-saudaraNya menantikanNya di luar untuk menemui Dia, Yesus bertanya, "Siapakah ibuKu, Siapakah saudara dan saudariKu?" Dan kemudian mengkonfirmasikannya sendiri sambil menunjuk mereka yang mengikuti Dia, "Siapa yang mendengarkan dan melaksanakan SabdaKu, itulah ibuKu, itulah saudaraku dan saudariKu!"

Apakah Yesus menyepelekan aspek keluarga dan kehadiran mereka bagi hidup dan karya pelayananNya? Ternyata tidak sebenarnya. Tetapi benar rupanya, bahwa penekanan tentang aspek penting kekeluargaan yang dibangun dengan Yesus sebagai centralnya, menjadi jelas di sini. Bahwa siapapun yang mengasosiasikan diri mereka dengan Yesus, siapapun yang menyatakan diri mereka sekeluarga dengan Yesus diminta untuk menerima Sabda Tuhan dan mempraktekan Sabda itu dalam hidup mereka. Menghidupkan Sabda Yesus itulah satu-satunya kunci untuk memasuki ikatan kekeluargaan dengan Yesus. Menghidupkan Sabda Allah adalah sebuah kunci untuk memasuki rumah Allah di mana Yesus menjadi Putra MahkotaNya.

Tuhan, ada pada kami SabdaMu sendiri. Sabda yang mengajak dan mengundang kami semua kepada kehidupan dan ikatan kekeluargaan dengan Dikau sendiri. Semoga kami dengan bangga mengakuiNya dan menjalankannya dalam hidup, karena itulah kunci yang menghantar kami kepada kehidupan kekal. Amin

Copyright © 21 Sep. 2009, by Ansel Meo SVD