Rabu, Agustus 26, 2009

266. Bukan Sekadar Menanti Tanpa Tanggung Jawab

Kamis, 27 Agustus 2009
Santa Monika

Bacaan : Mt 24, 42-51

Sebuah aspek penting yang ditunjuk dalam pewartaan Sabda Tuhan hari ini ialah kenyataan bahwa setiap orang diserahkan suatu tanggung jawab bukan untuk dirinya sendiri tetapi selalu ditempatkan dalam hubungan dengan perannya mengembangkan komunitas di mana dia berada. Jadi setiap orang memiliki suatu tugas dan misi untuk dipenuhi. Misi itu bukan untuk diberi dengan tujuan untuk mempromosikan diri tetapi terutama untuk membuat komunitas menjadi lebih baik.

Injil memaparkan kepada kita tentang kisah hamba yang setia dan bijaksana yang didapati tuannya sedang menjalankan tugasnya. "Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya."

Sabda Yesus ini merangkum ajaranNya tentang perlunya berjaga sambil berbuat baik dan menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab. Menanti menurut Yesus bukanlah sekedar menanti sampai waktu berjaga selesai. Tidak ada tempat untuk sikap santai apalagi untuk berbuat seolah-olah ia adalah seorang tuan yang memperlakukan seenaknya rekan-rekan sekerja. Menanti sambil berjaga dihubungkan Yesus dengan soal tanggung jawab kepada saudara-saudari yang lain serta rumah yang dipercayakan kepada mereka.

Yesus memang memberikan sebuah penekanan yang sangat penting tentang bagaimana seharusnya menanti sambil berjaga dalam semangat Injil. Ia meminta para muridnya menanti secara bertanggung jawab sesuai napas Injili yang diwartakanNya. Bahwa kita sebagai murid Yesus hendaknya setia menanti sambil waspada dan melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang diserahkan Tuhan untuk kita jalankan. Penantian sambil berjaga seperti ini seharusnya menjadi sumber kegembiraan hati seorang murid, menjadi momen dan kesempatan untuk mewujudkan jati dirinya. Itulah sebabnya Yesus mengatakan, "Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang."

Penantian yang demikian memang tidaklah mudah. Menanti sambil menunaikan tanggung jawab seringkali dikalahkan oleh egoisme, kebanggaan diri yang semu, dan keinginan untuk menghukum orang lain yang tak disukai. Ini mesti dihindari, karena kata Yesus, hal ini akan membuat kita dihukum oleh Allah. Santa Monika yang peringatannya kita rayakan hari ini menanti pertobatan sang anak Agustinus dengan mengisinya dalam doa yang setia, hingga sang putra bertobat. Ia menanti dengan tanggung jawab keibuannya dan itulah yang menjadikan dia seorang teladan bagi kita semua.

Tuhan, kiranya kami menanti sambil berjaga secara bertanggung jawab. Kiranya seperti santa Monika, kami semua boleh setia menjalankan tugas dan tanggung jawab kami hingga kami bertemu dengan Dikau, Tuhan dan Allah kami. Amin.
Copyright © 27 Agustus 2009, by Ansel Meo SVD

265. Agar Kita Lebih Menilai Diri Kita dengan Sabda Tuhan

Rabu, 26 Agustus 2009
Bacaan : Mt 23, 27-32

Bacaan Injil hari ini masih menampilkan tentang kecaman Yesus kepada kaum Farisi dan ahli Taurat yang sesungguhnya dikategorikan sebagai orang orang yang sangat taat beribadah. Kita tentu bertanya mengapa Yesus terus mengecam mereka? Injil hari ini mengatakan bahwa Yesus mengecam mereka bukan karena mereka termasuk kelompok khusus ini, tetapi terutama karena mereka begitu tekun memperhatikan berbagai aturan luar agar terlihat saleh, tetapi tak memperhatikan kualitas kerohanian mereka sendiri. Kemunafikan itu menyebalkan Yesus.

Demikian kita dengar dalam Injil hari ini, "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan. "

Kecaman Yesus yang sebenarnya mengingatkan kita juga dewasa ini, baik sebagai orang yang taat beragama maupun orang biasa saja. Saya katakan demikian karena pada kita kemungkinan untuk mengulang kesalahan dan kebiasaan orang Farisi bisa sangat besar. Pada kita Tuhan memberikan selalu SabdaNya baik yang terbaca dalam Kitab Suci maupun yang muncul dalam berbagai sarana seperti media masa, dll. Sabda itu seperti halnya Taurat berisi Sabda yang menghidupkan, undangan kepada perbaikan kualitas hidup. Sabda Tuhan sesungguhnya tak mengharuskan kita untuk terlihat saleh, tetapi mengubah kita dari dalam, membaharui kita dan menjadikan kita manusia yang baru.

Jadi ajakan dalam Sabda Tuhan hari ini meminta kita untuk melihat diri sendiri, agar kita mudah menilai diri kita sendiri dengan ukuran Sabda Tuhan yang kita baca dan kita renungkan, bukannya menjadikan Sabda Tuhan sebagai alat untuk mempersalahkan orang lain dan cara hidup mereka.

Tuhan Yesus, semoga kami mengimani sabdaMu dalam hidup kami dan menjadikannya alat ukur untuk menilai diri kami dan bukannya untuk menilai dan mempersalahkan orang lain. Amin

Copyright © 26 Agustus 2009, by Ansel Meo SVD

Senin, Agustus 24, 2009

264. Agar Tidak Melupakan Belaskasihan Allah

Selasa, 25 Agustus 2009

Bacaan : Mt. 23, 23-26

Perikope Injil hari mengajak kita bertemu dengan Yesus yang sedang mengecam para ahli Taurat dan orang Farisi oleh karena sikap dan prinsip mereka yang bertentangan dengan peran yang mereka emban. Semua orang tahu bahwa kelompok yang disebut Yesus ini adalah orang -orang yang sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Yahudi masa itu. Mereka adalah para penuntun dan pemimpin spiritual bangsa itu. Mereka mengajarkan orang banyak tentang tuntunan kepada kehidupan baik dalam kehidupan keagamaan maupun dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Namun satu hal yang mereka abaikan ialah soal belaskasihan. Dan persis inilah yang dikritik Yesus.

Yesus berkata, "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. "

Mengapa belaskasihan itu jauh lebih penting dari pada pelaksanaan tradisi keagamaan? Yesus sesungguhnya kecewa dengan sikap mereka yang dianggap sebagai pemimpin agama Yahudi, orang yang bertugas untuk menggembalakan umat pilihan Allah BapaNya. Mereka terlalu sibuk dengan berbagai aturan kecil dan penjelasannya. Mereka menciptakan berbagai larangan dan perintah, hanya supaya orang kelihatan baik dan kudus secara jasmaniah, tetapi apa yang terpenting yakni jiwa peraturan itu yang mencerminkan belaskasihan dan kasih Allah dilupakan.

Ini sebuah tantangan yang ditujukan buat kita semua yang menamakan diri kita sebagai penuntun, pejabat, pendidik. Jangan sampai dalam berbagai langkah laku kita, kita melupakan jiwa dari segala peraturan dan hukum yakni keadilan, belaskasihan dan kesetiaan. Peraturan yang kita jaga untuk dijalankan tetaplah perlu, tetapi ia harus ditempatkan dalam bingkai keadilan dan belaskasihan yang bertujuan demi kebaikan bersama dan keselamatan manusia.

Tapi agar kita tidak melupakan hal prinsipiil di atas, kita perlu tetap rendah hati dan memohon Tuhan untuk menuntun kita kepada keselamatan dan kehidupan. Ia yang adalah Tuhan yang berbelaskasih, yang adil dan setia, kiranya menuntun kita kepada pelaksanaan hukum dan peraturan yang dijiwai oleh belaskasih, adil dan setia. Amin.

Copyright © 24 Agustus 2009, by Ansel Meo SVD

Minggu, Agustus 23, 2009

263. Natanael MelihatNya

Senin, 24 Agustus 2009
Pesta St. Bartolomeus, Rasul

Bacaan : Yoh. 1, 45-51

Membaca penggalan Injil Yohanes pada pesta St. Bartolomeus Rasul hari ini, kita sebenarnya bisa merasakan kemarahan di hati Filipus. Betapa tidak? Ketika menyatakan bahwa dia telah melihat Yesus orang Nasareth, kebanggaannya disepelekan oleh Natanael atau Bartolomeus yang pestanya kita rayakan hari ini. Injil melukiskan episode itu demikian, "Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret." Kata Natanael kepadanya: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" Kata Filipus kepadanya: "Mari dan lihatlah!"

Bagaimana reaksi Filipus? Ternyata bukannya marah atau tersinggung, tetapi ia mengajak Natanael, "Mari dan lihatlah!" Filipus menghantar Natanael kepada Yesus yang adalah Juru Selamat Dunia. Dan setelah melihat Yesus, iapun percaya kepada Yesus. Mengapa ia berubah? Mengapa ia menjadi percaya padahal ia sebelumnya meremehkan pernyataan Filipus tentang Yesus?

Bertolomeus menjadi percaya karena ia memiliki hati yang baik, karena ia pada dasarnya orang baik. Dan orang baik, orang yang berbudi dan berhati baik, ketika melihat sesuatu, pada umumnya akan menilainya dengan cermat, dan bertindak baik juga untuk menanggapinya. Natanael mungkin menyepelekan asal Yesus tetapi ketika ia bertemu dengan tokoh ini, ia tak tinggal diam, ia tidak bersikukuh dengan pendapatnya. Ia melihat secara mendalam, ia menilai secara obyektif dan yakin bahwa dalam diri Yesus ada sesuatu yang istimewa yang ditawarkan kepadanya. Itulah sebabnya ia menjadi percaya dan bukan cuma itu iapun merelakan dirinya menjadi murid Yesus dan setia mengikuti Dia.

Pesta tokoh seperti Natanael hari ini mengajak kita untuk melihat Tuhan dan karyaNya secara bijaksana, secara mendalam. Kita diajak untuk tidak cepat meremehkan segala sesuatu yang disampaikan kepada kita. Dan lebih dari itu, kita juga diajak untuk melihat dan menilai segala sesuatu bukan hanya berdasar apa yang terlihat, apa yang terbaca dan diketahui, tetapi bahwa di dalamnya ada benih rahmat Tuhan yang berkarya secara tersembunyi dan luar biasa.

Tuhan Yesus, Rasul Bartolomeus yang pestanya kami rayakan hari ini melihatMu dan percaya. Ia mengatasi kebiasaannya meremehkan segala sesuatu. Ia membuka diri bagi rahmat yang berasal daripadaMu. Semoga kami mampu melihat Engkau dalam segala sesuatu yang baik dan berharga di dunia ini. Amin.

Copyright © 23 Agustus 2009, by Ansel Meo SVD