Rabu, Agustus 26, 2009

265. Agar Kita Lebih Menilai Diri Kita dengan Sabda Tuhan

Rabu, 26 Agustus 2009
Bacaan : Mt 23, 27-32

Bacaan Injil hari ini masih menampilkan tentang kecaman Yesus kepada kaum Farisi dan ahli Taurat yang sesungguhnya dikategorikan sebagai orang orang yang sangat taat beribadah. Kita tentu bertanya mengapa Yesus terus mengecam mereka? Injil hari ini mengatakan bahwa Yesus mengecam mereka bukan karena mereka termasuk kelompok khusus ini, tetapi terutama karena mereka begitu tekun memperhatikan berbagai aturan luar agar terlihat saleh, tetapi tak memperhatikan kualitas kerohanian mereka sendiri. Kemunafikan itu menyebalkan Yesus.

Demikian kita dengar dalam Injil hari ini, "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan. "

Kecaman Yesus yang sebenarnya mengingatkan kita juga dewasa ini, baik sebagai orang yang taat beragama maupun orang biasa saja. Saya katakan demikian karena pada kita kemungkinan untuk mengulang kesalahan dan kebiasaan orang Farisi bisa sangat besar. Pada kita Tuhan memberikan selalu SabdaNya baik yang terbaca dalam Kitab Suci maupun yang muncul dalam berbagai sarana seperti media masa, dll. Sabda itu seperti halnya Taurat berisi Sabda yang menghidupkan, undangan kepada perbaikan kualitas hidup. Sabda Tuhan sesungguhnya tak mengharuskan kita untuk terlihat saleh, tetapi mengubah kita dari dalam, membaharui kita dan menjadikan kita manusia yang baru.

Jadi ajakan dalam Sabda Tuhan hari ini meminta kita untuk melihat diri sendiri, agar kita mudah menilai diri kita sendiri dengan ukuran Sabda Tuhan yang kita baca dan kita renungkan, bukannya menjadikan Sabda Tuhan sebagai alat untuk mempersalahkan orang lain dan cara hidup mereka.

Tuhan Yesus, semoga kami mengimani sabdaMu dalam hidup kami dan menjadikannya alat ukur untuk menilai diri kami dan bukannya untuk menilai dan mempersalahkan orang lain. Amin

Copyright © 26 Agustus 2009, by Ansel Meo SVD

Senin, Agustus 24, 2009

264. Agar Tidak Melupakan Belaskasihan Allah

Selasa, 25 Agustus 2009

Bacaan : Mt. 23, 23-26

Perikope Injil hari mengajak kita bertemu dengan Yesus yang sedang mengecam para ahli Taurat dan orang Farisi oleh karena sikap dan prinsip mereka yang bertentangan dengan peran yang mereka emban. Semua orang tahu bahwa kelompok yang disebut Yesus ini adalah orang -orang yang sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Yahudi masa itu. Mereka adalah para penuntun dan pemimpin spiritual bangsa itu. Mereka mengajarkan orang banyak tentang tuntunan kepada kehidupan baik dalam kehidupan keagamaan maupun dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Namun satu hal yang mereka abaikan ialah soal belaskasihan. Dan persis inilah yang dikritik Yesus.

Yesus berkata, "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. "

Mengapa belaskasihan itu jauh lebih penting dari pada pelaksanaan tradisi keagamaan? Yesus sesungguhnya kecewa dengan sikap mereka yang dianggap sebagai pemimpin agama Yahudi, orang yang bertugas untuk menggembalakan umat pilihan Allah BapaNya. Mereka terlalu sibuk dengan berbagai aturan kecil dan penjelasannya. Mereka menciptakan berbagai larangan dan perintah, hanya supaya orang kelihatan baik dan kudus secara jasmaniah, tetapi apa yang terpenting yakni jiwa peraturan itu yang mencerminkan belaskasihan dan kasih Allah dilupakan.

Ini sebuah tantangan yang ditujukan buat kita semua yang menamakan diri kita sebagai penuntun, pejabat, pendidik. Jangan sampai dalam berbagai langkah laku kita, kita melupakan jiwa dari segala peraturan dan hukum yakni keadilan, belaskasihan dan kesetiaan. Peraturan yang kita jaga untuk dijalankan tetaplah perlu, tetapi ia harus ditempatkan dalam bingkai keadilan dan belaskasihan yang bertujuan demi kebaikan bersama dan keselamatan manusia.

Tapi agar kita tidak melupakan hal prinsipiil di atas, kita perlu tetap rendah hati dan memohon Tuhan untuk menuntun kita kepada keselamatan dan kehidupan. Ia yang adalah Tuhan yang berbelaskasih, yang adil dan setia, kiranya menuntun kita kepada pelaksanaan hukum dan peraturan yang dijiwai oleh belaskasih, adil dan setia. Amin.

Copyright © 24 Agustus 2009, by Ansel Meo SVD

Minggu, Agustus 23, 2009

263. Natanael MelihatNya

Senin, 24 Agustus 2009
Pesta St. Bartolomeus, Rasul

Bacaan : Yoh. 1, 45-51

Membaca penggalan Injil Yohanes pada pesta St. Bartolomeus Rasul hari ini, kita sebenarnya bisa merasakan kemarahan di hati Filipus. Betapa tidak? Ketika menyatakan bahwa dia telah melihat Yesus orang Nasareth, kebanggaannya disepelekan oleh Natanael atau Bartolomeus yang pestanya kita rayakan hari ini. Injil melukiskan episode itu demikian, "Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret." Kata Natanael kepadanya: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" Kata Filipus kepadanya: "Mari dan lihatlah!"

Bagaimana reaksi Filipus? Ternyata bukannya marah atau tersinggung, tetapi ia mengajak Natanael, "Mari dan lihatlah!" Filipus menghantar Natanael kepada Yesus yang adalah Juru Selamat Dunia. Dan setelah melihat Yesus, iapun percaya kepada Yesus. Mengapa ia berubah? Mengapa ia menjadi percaya padahal ia sebelumnya meremehkan pernyataan Filipus tentang Yesus?

Bertolomeus menjadi percaya karena ia memiliki hati yang baik, karena ia pada dasarnya orang baik. Dan orang baik, orang yang berbudi dan berhati baik, ketika melihat sesuatu, pada umumnya akan menilainya dengan cermat, dan bertindak baik juga untuk menanggapinya. Natanael mungkin menyepelekan asal Yesus tetapi ketika ia bertemu dengan tokoh ini, ia tak tinggal diam, ia tidak bersikukuh dengan pendapatnya. Ia melihat secara mendalam, ia menilai secara obyektif dan yakin bahwa dalam diri Yesus ada sesuatu yang istimewa yang ditawarkan kepadanya. Itulah sebabnya ia menjadi percaya dan bukan cuma itu iapun merelakan dirinya menjadi murid Yesus dan setia mengikuti Dia.

Pesta tokoh seperti Natanael hari ini mengajak kita untuk melihat Tuhan dan karyaNya secara bijaksana, secara mendalam. Kita diajak untuk tidak cepat meremehkan segala sesuatu yang disampaikan kepada kita. Dan lebih dari itu, kita juga diajak untuk melihat dan menilai segala sesuatu bukan hanya berdasar apa yang terlihat, apa yang terbaca dan diketahui, tetapi bahwa di dalamnya ada benih rahmat Tuhan yang berkarya secara tersembunyi dan luar biasa.

Tuhan Yesus, Rasul Bartolomeus yang pestanya kami rayakan hari ini melihatMu dan percaya. Ia mengatasi kebiasaannya meremehkan segala sesuatu. Ia membuka diri bagi rahmat yang berasal daripadaMu. Semoga kami mampu melihat Engkau dalam segala sesuatu yang baik dan berharga di dunia ini. Amin.

Copyright © 23 Agustus 2009, by Ansel Meo SVD

Jumat, Agustus 21, 2009

262. "Engkaulah Sabda yang Menghidupkan Kami"

Minggu, 23 Agustus 2009

Hari Minggu Biasa XXI

Bacaan : Yoh. 6, 60-69

"Mungkin kamu juga mau pergi?" demikian pertanyaan Yesus kepada para muridNya yang selama ini mengikuti Dia kemanapun Dia pergi. Ada nada sedih yang bisa kita tangkap dalam pertanyaan ini. Betapa tidak sedih, sudah begitu banyak orang yang mengikuti Dia selama ini. Begitu lama mereka menemani Dia dalam perjalanan misiNya selama ini. Tapi akhirnya mereka menyerah dan meninggalkan Yesus, ketika mendapati kenyataan bahwa mengikuti Dia bukanlah sebuah cara hidup yang mudah dan enak. Ada begitu banyak tantangan, ada begitu banyak penderitaan yang mesti mereka tanggung, belum lagi undangan dalam Sabda Yesus yang mengandung tantangan tersendiri.

Tapi apa yang dihadapi oleh orang banyak itu tak diikuti oleh kelompok khusus yang sudah menyatu dengan Yesus. Makanya Petrus yang mewakili kelompok itu angkat bicara untuk menjawab pertanyaan Yesus di atas, "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah."

Jawaban Petrus bahwa perkataan Yesus adalah perkataan yang membawa hidup sesungguhnya menjadi isi iman para muridNya saat itu, yang hingga kini masih kita teruskan. Perkataan Yesus bukanlah sekadar kata-kata ajaran biasa, tetapi ada sesuatu yang mendasar di dalamnya. Petrus sesungguhnya ingin menggaris bawahi bahwa perkataan itu adalah sumber yang menghidupkan, sumber yang menyegarkan jiwa, yang menguatkan di kala mereka lemah, memberikan orientasi hidup di kala mereka kehilangan arah, dan memberikan kepastian di saat mereka ragu. Apa sebabnya? Karena Petrus yakin dan pasti bahwa jaminannya adalah Yesus sendiri.

Pernyataan iman Petrus sebenarnya membuka horison baru dalam pandangan kita saat ini tentang Sabda Tuhan yang kita baca dan kita renungkan setiap hari. Untuk saya sendiri tantangan perkataan Petrus hanya menambahkan keyakinan saya bahwa daya hidup yang diemban oleh Sabda Allah melampaui segalanya. Ia membuka jalan untuk berbagai pertemuan dan persahabatan, Sabda itu membawa saya kepada persahabatan dengan para pembaca saya, bahkan lebih dari itu, saya menjadi tahu siapa yang menginginkan kehidupan yang baik dan siapa yang menjadi pengkianat.

Tuhan Yesus, tantangan yang ditawarkan SabdaMu mengasah kami dan membaharui kami. Seperti Petrus mewakili para rekannya, kami ingin mengulangi keyakinan kami akan Dikau dan SabdaMu bahwa Engkaulah Sabda yang sungguh memberikan kami hidup yang kekal. Amin.

Copyright © 22 Agustus 2009, by Ansel Meo SVD