Minggu, Januari 25, 2009

95. Pentingnya kemampuan memahami apa yang sedang terjadi

Senin, 26 Januari 2009

Bacaan: Markus 3, 22-30

Dalam beberapa hari ini dunia diwarnai oleh pemberitaan mengenai pelantikan presiden ke-44 Amerika Serikat, Barack Obama. Banyak orang memberikan komentar akan peristiwa tersebut sebagai satu peristiwa yang amat penting untuk rakyat Amerika dan dunia umumnya karena Obama adalah seorang keturunan kulit hitam. Orang menjadi sadar bahwa setiap orang memiliki martabat yang sama dan memiliki kemampuan yang memadai untuk memimpin tidak didasarkan pada warna kulit. Demikianlah orang banyak mampu memahami peristiwa yang sedang terjadi pada hari-hari ini.

Injil hari ini memberikan kepada kita juga suatu ajakan untuk melihat peristiwa yang sedang terjadi di sekitar kita dan memahaminya berdasarkan apa yang kita yakini dalam iman kita. Pada hari-hari yang lalu kita mendengarkan kisah mengenai Yesus yang mengusir roh jahat, menyembuhkan penyakit-penyakit. Para pemimpin agama Yahudi pada masa itu berusaha membaca dan memahami peristiwa yang sedang terjadi di tengah masyarakat. Peristiwa-peristiwa luar biasa yang dikerjakan oleh Yesus dari Nasareth. Dalam pemikiran pemimpin agama waktu itu tidak sulit untuk memahaminya karena mereka tahu baik bahwa orang yang mampu mengusir setan, menyembuhkan penyakit hanyalah orang yang memiliki kekuatan dari Allah, orang tersebut mesti memiliki hubungan yang amat akrab dengan Allah. Itu sesuai dengan pengetahuan mereka tentang sejarah agama mereka. Dengan demikian mereka mesti mengakui bahwa Yesus dari Nasareth pasti memiliki hubungan yang khusus dengan Allah sehingga mampu melakukan mukjisat sepert itu.

Justru di sinilah letak soal. Para pemimpin agama itu masih terbelenggu dengan pandangan bahwa dari kota Nasareth, di daerah Galilea tidak mungkin menjadi asal dari orang yang memiliki hubungan khusus dengan Allah. Akibatnya mereka tidak bisa menerima bahwa Yesus dari Nasareth mesti digolongkan nabi atau almasih atau Mesias. Para pemimpin itu gagal melepaskan cara pandang mereka yang lama sehingga mreka tidak sampai pada pengakuan akan Yesus sebagai Tuhan, Almasih, Mesias. Inilah yang Yesus bilang kepada mereka "barangsiapa berdosa kepada Roh Kudus, tidak akan diampuni". Dengan kata lain Yesus mau sampaikan "kamu tahu bahwa orang yang mampu mengusir setan dan menyembuhkan penyakit hanyalah para nabi dan sahabat Allah seperti dibuat Samuel, nabi Elia, nabi Elisa dll. Mestinya kamu akui saya seperti para nabi itu malah lebih dari pada para nabi. Tapi kamu tidak mau mengakui saya sebagai nabi, Tuhan".

Amat pentinglah bagi kita untuk membuka mata dan memahami semua peristiwa yang terjadi di sekitar kita dengan menggunakan iman kita agar kita mampu mengakui bahwa Tuhan sedang berkarya di dalam dunia ini. Dengan cara demikian kita akan menjadi semakin merasakan betapa Tuhan selalu membimbing dan menghantarkan kita kepada satu tujuan yang baik untuk kita.

Tuhan, bantulah aku untuk mampu mengenal rencanaMu dalam seluruh peristiwa hidup yang sedang aku alami saat ini. Amin

Copyright © 25 Januari 2009 by Paulus Tolo SVD

Sabtu, Januari 24, 2009

94. Percayalah, Allah ada di sini!

Minggu, 25 Januari 2009
Minggu Biasa ke III

Bacaan : Mk 1: 14-22

Pasti ada reaksi yang muncul ketika melihat Yesus tetap saja tampil di depan umum, padahal Yohanes baru saja ditangkap oleh penguasa yang merasa terganggu oleh kehadiran figur seperti nabi. Bila kita membaca Injil pada hari Minggu ini barangkali kita heran kenapa Yesus tetap saja nekad brbuat demikian.

Markus melukiskan peristiwa itu demikian, Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!"

Markus berkisah tentang pewartaan pertama Yesus kepada publik bahwa saatnya sudah tiba, inilah momentum keselamatan, bahwa Allah ada di sini, Allah tengah berkarya di sini, tanpa peduli anda sedang buat apa, tanpa peduli apakah anda mau menerima Dia atau tidak. Menilik pewartaan ini, kita sebenarnya bisa langsung paham bahwa Yesus tidak sedang mengajarkan sebuah sistim keagaamaan yang rumit. Yesus tidak sedang meletakan berbagai aturan untuk diikuti orang yang mendengarNya, tetapi yang Ia wartakan adalah sebuah kenyataan atau FAKTA yang tengah berlangsung, yakni bahwa ALLAH ADA DI SINI, ALLAH SEDANG BERKARYA DI ANTARA MANUSIA.

Dengan mewartakan fakta atau kenyataan seperti itu, Yesus mengajak pendengarNya untuk memberikan jawaban langsung, di tempat kerja mereka, di lingkungan mereka dan pada saat itu juga, hal mana diwakili oleh jawaban ke empat murid yang mendengar kata - kata panggilanNya seraya mengikuti Dia.

Permenungan Injil hari Minggu ini memang seyogyanya menghantar kita kepada sebuah kesadaran penting dan fundamental ini, bahwa Allah memang ada di sini. Allah sedang berkarya di manapun kita berkarya seraya memberikan kesempatan kepadaNya untuk memperdengarkan undanganNya. Tak perlu tunggu kita menjadi santo atau santa untuk mendengarkan undagan Allah. Karena undangannya adalah undangan kepada kehidupan, undangan untuk membuat relasi dan hubungan baik dengan orang lain, undangan untuk membangun jaringan kerjasama untuk suatu dunia yang lebih baik, sebab kata Yesus, "Marilah, kamu akan kujadikan penjala manusia."

Allah ada di sini, percayalah itu, demikian undangan Yesus. Tak peduli anda rajin beribadat atau tidak, tak peduli kualitas hidup moral anda baik atau tidak, tak peduli anda seorang yang berhasil dalam hidup atau tidak. Ia mewartakan bahwa Allah di sini. Allah terlibat dalam hidupmu. Maka tanggapilah segera. Beradalah bersamaNya dan biarkan Allah berkarya bersamamu dalam karyamu di manapun.

Tuhan Yesus, Engkau mewartaka dengan Sabda dan dengan hidupMu sendiri bahwa Allah ada di sini. Ia sedang berkarya bersamaku juga. Kiranya sayapun menanggapiNya dengan syukur. Amin.
Copyright © 24 Januari 2009 by Ansel Meo SVD

Kamis, Januari 22, 2009

93. Keterlaluan?

Sabtu, 24 Januari 2009

Bacaan : Mk 3, 20-21
Lanjutan Injil Markus yang kita baca hari ini mengisahkan kembalinya Yesus ke Kapernaum. Seperti biasa melihat kepulanganNya semua orang datang dan mengerumuni Dia.

Markus dengan sangat singkat mengabarkan demikian, “Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makanpun mereka tidak dapat. Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.”

Tetapi siapakah mereka yang selalu mengitari Yesus, yang bahkan membuat Yesus pun tak sempat makan? Siapakah mereka ini yang baginya Yesus mempertaruhkan reputasiNya bahkan hingga Dia dianggap tak waras oleh keluargaNya?

Bagi Yesus mereka adalah orang yang menggerakkan hatiNya sehingga Ia berbelaskasihan kepada mereka. Mereka inilah yang baginya Ia datang. Mereka membutuhkanNya. Tetapi bagi keluarga Yesus, mereka justru dianggap sebaliknya. Mereka adalah orang-orang yang tak memberikan damai dan kesempatan istirahat serta makan bagi Yesus. Mereka adalah orang yang merusakan reputasi Yesus.

Di sinilah muncul konflik itu. Sebuah konflik kepentingan bagi kalangan keluarga Yesus. Mereka bisa mengusir orang banyak itu. Tetapi soalnya, jika mereka diusir, kepada siapakah mereka harus pergi? Inilah yang membuat keluargaNya menilai, “Akh, ini keterlaluan. Ini harus dihentikan!” Lebih buruk dan parah lagi, mereka menilai Yesus sudah tidak waras lagi.

Sebuah panorama yang kiranya biasa dan masih bisa kita temui dewasa ini. Khususnya berhadapan dengan orang yang memiliki simpati dan perhatian yang luar biasa kepada penderitaan di sekitarnya. Bukan tak mungkin, apa yang dialami Yesus dari pihak keluarganya, juga dirasakan oleh mereka ini. Bila terjadi konflik kepentingan biasanya tak jarang menganggap orang - orang ini sebagai tak waras, harus disingkirkan., persis bagaimana Yesus dipandang.
Tetapi cara Yesus menanggapi mereka, kiranya menjadi kekuatan kita dalam menghadapi tantangan seperti itu. Bukankah juga kepada orangtuaNya sendiri Dia pernah berkata, “Aku harus peduli dengan urusan BapaKu”? Itulah komitmenNya. Kesetiaan yang tak pernah luntur biarpun oleh banyaknya kritik yang dialamat kepadaNya.

Tuhan Yesus, Engkau berbuat baik tetapi banyak juga orang yang menilai sebagai keterlaluan. Kiranya semangatMu menguatkan komitmen kami dalam berbagai karya yang baik yang kami jalankan. Kiranya kritik tak membuat kami mundur, hingga urusan Bapa Sorgawi menjadi juga keprihatinan kami. Amin.

Copyright © 22 Januari 2009 by Ansel Meo SVD

92. Dipanggil dengan Nama dan Sejarah Kehidupan

Jumat, 23 Januari 2009

Bacaan : Mk 3, 13-19

Kita sebenarnya sedang memasuki suatu tahapan baru dalam kehidupan komunitas Yesus bersama para muridNya. Injil hari ini menggambarkan bahwa Yesus dikelilingi oleh dua belas orang murid, yang dipanggilnya dengan nama mereka masing-masing.

Markus melukiskannya demikian, "Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan merekapun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan. Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia."

Adakah aspek khusus yang masih bisa kita tonjolkan bagi kehidupan modern manusia dewasa ini berhadapan dengan panggilan kemuridan Yesus? Pasti ada. Dan untuk kita hari ini, saya melihat aspek kekeluargaan dalam penekanan panggilan para murid hari ini. Komunitas murid Yesus bukanlah sebuah komunitas anonim, sebuah komunitas yang tanpa penghargaan kepada keunikan, nama serta sejarah hidup anggotanya. Komunitas murid Yesus adalah komunitas yang menjunjung tinggi kepribadian anggotanya. Nama dan sejarah hidup mereka diperhitungkan sebagai aspek yang memperkaya kebersamaan.

Kepada mreka inilah misi khusus untuk melanjutkan khabar gembira dipercayakan oleh Yesus. Kepada mereka tanpa kecuali mengemban misi yang dipercayakan Yesus. Dan satu syarat utama ialah mereka mampu dan mau ada bersama Yesus. Rupanya inilah yang menjelaskan siapa mereka. Murid Yesus sejati adalah dia yang tinggal bersama dengan Yesus, belajar dan mendengarkan Dia.

Membaca kisah panggilan murid Yesus, kita sebenarnya membaca kisah panggilan setiap kita serta komunitas kita dengan pertanyaan penting ini, "Apakah sungguh ada penghargaan terhadap kekhasan keanggotaan dalam komunitas atau keluarga kita? Apakah kita sungguh berusaha mengenal nama dan sejarah kehidupan semua anggota komunitas kita?"

Yesus Tuhan hari ini mengajak kita untuk mensyukuri kehadiran setiap anggota dalam komunitas seraya mengajak kita untuk tinggal selalu bersama Dia. Karena sebagaimana diatakanNya, "di luar Aku, kamu tak dapat berbuat apa-apa" (Yoh 15,5).

Tuhan Yesus, sungguh indah tinggal bersamaMu. Semoga kami selalu mensyukuri panggilan kami sebagai kesempatan untuk tinggal dan belajar bersamaMu. Amin.

Copyright © 22 Januari 2009 by Ansel Meo SVD