Tampilkan postingan dengan label Injil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Injil. Tampilkan semua postingan

Rabu, Februari 11, 2009

112. Injil Sebagai Kekuatan Untuk Menjangkau yang Lain

Kamis, 12 Pebruari 2009

Bacaan : Mk 7 : 24-30

Injil hari ini melukiskan tentang misi Yesus di wilayah non Yahudi yaitu daerah Tirus dan tinggal di wilayah itu untuk beberapa saat untuk mewartakan Injil - khabar gembira kepada mereka. Dalam misi itulah Yesus didatangi seorang perempuan Yunani.

Markus melukiskannya secara singkat demikian, "Lalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan. Malah seorang ibu, yang anaknya perempuan kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya. Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya."

Menarik juga menyimak apa yang terjadi dalam pertemuan dan juga percakapan Yesus dengan perempuan Yunani itu. Hemat saya episode singkat ini memainkan juga peranan yang sangat vital juga dalam menawarkan wawasan baru dalam pewartaan dan misi Yesus. Mengapa ?

Perempuan yang meminta anaknya disembuhkan oleh Yesus pasti sudah mendengar tentang kegiatan Yesus dan pewartaanNya. Perempuan itu tak tinggal diam. Bahwa ia datang kepada Yesus dan menyampaikan permintaannya, membuktikan bahwa dia sungguh seorang pencari tulen akan khabar keselamatan. Bukti lainnya? Jawaban yang diberikannya kepada perumpamaan Yesus sungguh menunjukkan kekuatan karakter pribadinya dan pengenalan dirinya sendiri berhadapan dengan Yesus. Katanya kepada Yesus, "Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak."

Kita bertanya, kekuatan apakah yang sebenarnya tengah bekerja yang memampukan perempuan itu dengan teguh hati menjawabi tantangan Yesus dengan jawabannya? Jawaban tunggal adalah kekuatan khabar gembira itu sendiri. Kekuatan Injil Allah itulah yang telah mendorong ibu itu untuk bertemu dengan Yesus bersama orang-orang di wilayah itu. Dan kekuatan Injil yang sama itu pulalah yang membawa Yesus menjumpai mereka, melepaskan batas yang biasa dan menjangkau mereka yang belum pernah mendengar tentang Injil Allah.

Dan kekuatan Injil ini pulalah yang berkarya hingga saat ini, sehingga banyak orang dihantar kepada pertemuan denganNya, disentuh, dan mulai mengaguminya dan berkontak dan dipengaruhi oleh Injil itu. Injil sungguh adalah kekuatan yang membuat kita mampu pergi dan menjangkau orang lain.

Tuhan Yesus, kami percaya bahwa SabdaMu menyelamatkan dan membaharui kami. Semoga oleh kekuatanNya kami mampu selalu untuk menuju orang lain, dan bersama-sama hidup karenanya. Amin.

Copyright © 11 Pebruari 2009 by Anselm Meo SVD

Rabu, Februari 04, 2009

105. Tolok Ukur Keberhasilan Karya Pewartaan

Kamis, 05 Pebruari 2009

Bacaan : Mk 5, 7-13

Bacaan Injil hari ini menampilkan kepada kita semua ajaran Yesus yang amat mendasar tentang misi. Markus melukiskan secara singkat, "Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat, dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, rotipun jangan, bekalpun jangan, uang dalam ikat pinggangpun jangan, boleh memakai alas kaki, tetapi jangan memakai dua baju."

Yesus mengutus para muridNya supaya mereka melanjutkan kepada semua orang yang mereka jumpai khabar gembira yang telah mereka terima, yang tak lain adalah Sabda Tuhan itu sendiri, yang sesungguhnya adalah harta yang amat berharga bagi kehidupan kekal bersama Allah. Tentunya suatu tugas teramat penting yang harus dilengkapi juga dengan berbagai sarana pendukung yang memadai.

Tetapi apa yang terjadi dalam episode perutusan para murid sungguh di luar dugaan kita. Walaupun mereka membutuhkan banyak perlengkapan, oleh karena perjalanan yang jauh, masa tinggal di misi yang lama, tantangan alam yang sulit, para murid diminta membawa serta hanya apa yang paling perlu bagi mereka. Itupun bukan menurut kebutuhan yang mereka lihat atau anggap perlu, tetapi menurut pandangan Tuhan sebagai yag paling mendasar bagi keberhasilan karya pewartaan itu.

Apakah itu? Rupanya inilah yang menentukan keberhasilan karya para murid. Itulah yang menjadi tolok ukur untuk menilai bahwa karya pewartaan Injil berhasil atau tidak berhasil. Bahwa seorang yang diutus untuk mewartakan khabar gembira, seyogyanya tidak mempercayakan keberhasilan misinya pada berbagai sumber kekayaan, baik materi maupun personil ataupun pada jaminan kenyamanan menurut ukuran manusia. Misi pewartaan khabar gembira harus dipercayakan kepada Tuhan sendiri sebagai sumber kekuatan satu-satunya, dan Injil iulah satu-satunya alat yang perlu dibawa bersama kita.

Mengapa? Karena misionaris sesungguhnya adalah seorang yang atas nama Kristus membawa khabar keselamatan dan harapan. Yang dicarinya hendaknya bukan keberhasilan personal. Hanya dengan demikian, ketika tak tersedia segalanya, kita akan tetap bertahan dalam pewartaan.

Tuhan Yesus, semoga kami tetap yakin bahwa pewartaan Injil di dunia modern ini masih tetap memiliki Engkau sebagai sumber kekuatan satu-satunya. Amin.

Copyright © 04 Pebruari 2009 by Anselm Meo SVD

Kamis, Oktober 23, 2008

01. Tanda yang Paling Besar – ‘InjilNya’

Jumat, 24 Oktober 2008
Bacaan : Lukas 12, 54-59
“Mengapakah kamu tak bisa menilai zaman ini?” itulah pertanyaan Yesus kepada para pendengarNya, yang kita dengar dalam Injil hari ini.
Benarkah para pendengar Yesus tak sanggup membaca tanda zaman? Ataukah karena mereka sering memintaNya tentang suatu tanda agar mereka bisa percaya kepadaNya?
Kehidupan keagamaan kita memang tak bisa dipisahkan dari kehadiran tanda-tanda dan simbol-simbol. Mengapa? Karena agama dan kehidupan rohani berkaitan dengan realitas yang tak kelihatan, tetapi suatu realitas yang berkaitan erat dengan bagaimana manusia menjalani hidupnya.
Soal memberi tanda, Yesus ketika sedang mewartakan Kerajaan Allah yang sedang datang ke dalam dunia, sebenarnya ingin agar para muridNya dan orang banyak mengerti bahwa Kerajaan itu sedang beraksi dalam diriNya, dalam perkataan dan tindakanNya. Tapi ternyata tak satupun yang memahaminya.
Kerinduan Yesus itu masih tetap ada hingga kini. Ia ingin agar kita yang mengimaniNya tahu bahwa Allah dan KerajaanNya tengah ada sekarang ini. Dan salah satu tanda terbesar yang Ia tinggalkan buat kita adalah SabdaNya sendiri.
Sabda Tuhan, itulah pernyataan diri dan kehendak Tuhan yang menghendaki kita bahagia. Sabda Tuhan, itulah undangan Tuhan kepada kita untuk senantiasa kembali dan bertobat. Ia memurnikan, menerangi siapa saja yang berpaling kepadanya. Sabda Tuhan adalah sabda kehidupan.
Kalau demikian, bagaimana kita menanggapinya? Kita sedang mendoakan Sinode para Uskup yang mengambil tema tentang Sabda Tuhan di hari-hari ini. Semoga Roh Tuhan menyanggupkan kita untuk menyediakan diri kita bagi penerimaan akan sabdaNya dan pewartaan dan penyebar-luasan kerajaanNya.
Tuhan, kami sering takut dicap sebagai orang yang ketinggalan zaman. Lihat saja, kami mudah menyesuaikan cara berpakaian kami dengan mode yang kami saksikan lewat layer televisi.
Atau mengeluhkan teknologi yang kelihatannya cepat berubah yang meminta kami turut berubah di dalamnya. Tetapi Tuhan, terhadap SabdaMu, yang sebenarnya selalu berbicara secara baru dalam hidup kami, betapa sering kami tak peduli kepadanya.
Tuhan, bersabdalah sekali lagi. HambaMu mendengarkan. Amin

Copyright © 24 Oktober 2008, by Anselm Meo, SVD