Senin, Agustus 31, 2009

271. Kekuatan Sabda Allah dalam hidup kita

Selasa, 1 September 2009 Bacaan: Lukas 4, 31 - 37
Bacaan hari ini mengisahkan Yesus yang meninggalkan kampung halamannya dan pergi ke kampung orang lain. Setelah mengalami penolakan dari orang-orang sekampungnya, ia beralih ke tempat yang lain. Justru di tempat baru ini Yesus dikagumi sebagai seorang pengajar yang berwibawa. Orang-orang yang mendengar langsung pewartaan Yesus mengalami kesan seperti itu. Penginjil Lukas menampilkan reaksi yang amat berlawanan dari orang-orang sekampung Yesus. Hal baru ditampilkan Yesus yaitu mengjar dengan penuh wibawa dan menyembuhkan orang sakit dengan bersabda. Dengan itu Lukas menampilkan kekuatan dari kata-kata Yesus. Dengan itu kepada kita ditampilkan kekuatan dari Sabda. Sabda Allah memang menyembuhkan, menciptakan, menghalau kekuatan jahat dan juga membaharui. Hal itu dialami langsung oleh orang-orang di Kafarnaum dan juga orang yang kerasukan roh jahat. Kita menjadi sadar dengan merenungkan perikop ini bahwa Sabda Allah memiliki kekuatan yang amat sangat bila orang membuka hati untuk membiarkan disapa oleh Sabda itu. Dalam hal ini Sabda dan Pribadi Yesus tidak dipisahkan. Sabda adalah Yesus sendiri. Membuka hati kepada Sabda, kepada Kristus membuat manusia menjadi sembuh, dikuatkan dan dibaharui. Kita diajak untuk sungguh-sungguh membuka hati kepada Sang Sabda yaitu Yesus Kristus sendiri. Tuhan Yesus, berilah aku hati yang selalu terbuka padaMu untuk merasakan kuat kuasaMu dalam hidupku. Amin
Copyright © 31 Agustus 2009, by Paulus Tolo SVD

Minggu, Agustus 30, 2009

270. Pentingnya memiliki visi dan misi dalam hidup

Senin, 31 Agustus 2009 Bacaan: Lukas 4, 16 - 30
Injil hari ini mengisahkan pengalaman Yesus di kampungnya sendiri. Ia tampil sebagai seorang pemuda yang cakap dalam membawakan amanat Sabda. Ia menyatakan dirinya sebagai pemenuhan janji yang diterima Israel sejak dahulu kala lewat para nabi yaitu saat keselamatan, saat mesias. "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya". Satu pernyataan yang amat meyakinkan dari Yesus kepada orang banyak di kampung halamannya sendiri. Dari satu pernyataan ini kita langsung dapat merasakan betapa Yesus mengenal dirinya sendiri, perutusanya dan tujuan hidupnya. Pernyataan Yesus ini merupakan awal mula dari penampilan Yesus di depan umum. Suatu pewartaan mengenai identitas dirinya di hadapan banyak orang. Penginjil Lukas menempatkan kata-kata Yesus yang berasal dari pengenalan diri yang amat mendalam pada awal karya Yesus, pada awal hidup Yesus di hadapan umum. Lukas menempatkan peristiwa itu persis di kampung halamannya sendiri, anggota keluarganya. Rupanya untuk menyatakan bagaimana reaksi orang banyak atas karya dan pewartaanya. Reaksi dari orang sekampung dan sekeluarga menjadi cerminan dari reaksi dari orang sebangsanya yang menolak secara definitif pewartaan dan dirinya sendiri dalam bentuk kematian. Pengalaman Yesus ini berlaku untuk setiap kita entah sebagai pribadi maupun sebagai komunitas. Dalam situasi apapun dan dalam status hidup apapun, kita perlu mengenal identitas diri kita sebenarnya, apa perutusan kita dan apa tujuan kita. Atau dalam istilah yang sudah sering diperdengarkan dalam berbagai lembaga atau institusi: visi dan misi. Dengan itu kita dapat menghayati hidup seturut apa yang kita temukan itu. Hal ini amat penting agar hidup kita sungguh berarti. Orang yang selalu hidup dalam kesadaran seperti ini akan membawa banyak buah dalam seluruh perjalanan hidup selanjutnya. Tuhan, kirimlah Roh Kudus untuk membantu saya mengenal diriku sendiri dan membangun hidupku dalam terang itu. Amin.
Copyright © 30 Agustus 2009, by Paulus Tolo SVD

Sabtu, Agustus 29, 2009

269. Mengkritisi praktek keagamaan kita

Minggu, 30 Agustus 2009 Minggu Biasa XXII, Tahun B Bacaan: Markus 7, 1-8.14-15.21-23
Setelah merenungkan misteri ekaristi: roti hidup selama lima minggu berturu-turut, kali ini kita diajak oleh Gereja Semesta untuk merenungkan praktek keagamaan kita. Titik tolak dari permenungan kita adalah kritik Yesus atas praktek hidup keagamaan yang dijalankan oleh para ahli taurat dan orang Farisi di jaman Yesus. Awal mula dari kritik Yesus adalah reaksi atas penilaian yang dibuat oleh orang farisi dan ahli taurat terhadap hidup keagamaan para murid Yesus. Cara hidup Yesus tidak dikritik. Karena Yesus tidak melarang para murid melakukan apa yang tidak sesuai dengan praktek umum yang dilakukan maka secara tidak langsung Yesus dipersalahkan. Yesus dinilai oleh orang farisi dan ahli taurat terlalu permissif, terlalu longgar terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh para muridnya. Terhadap penilaian itu Yesus menyentuh aspek terdalam dari praktek hidup keagamaan yaitu soal hati. Hati menjadi pusat darinya orang bisa menjadikan dirinya dan perilakunya baik atau buruk. Maksud hati ini begitu penting dalam pandangan Yesus karena hal itu membuat manusia bisa bertemu dengan Tuhan yang menjadi asal dan sumber kebenaran. Segala aturan dan hukum dan ibadah dimaksudkan untuk memudahkan orang menemukan Tuhan. Itulah aspek terdalam dari semua praktek keagamaan. Jadi orang melakukan ibadah apapun mestinya hanya dengan tujuan merasakan kehadiran Allah sebagai Tuhan yang penuh kasih, pengampun dan damai sejahtera. Dengan itu orang yang mengalami kehadiran Allah dapat memiliki hidup yang damai, penuh kasih dan pengampunan kepada semua orang yang di sekitarnya. Makanya kemurnian hidup seseorang tidak ditentukan oleh apa yang ia makan atau minum atau sesuatu yang kenakan dari luar. Ia ditentukan oleh maksud hatinya yang menjadi pusat dari seluruh gerak hidupnya. Maksud hati yang sesuai dengan kehendak Allah yaitu damai sejahtera, keadilan dan kebenaran, murah hati dan belaskasihan menentukan nilai dari manusia. Kita berdoa agar Tuhan mengaruniakan hati yang demikian sehingga kita semakin mudah memberikan kesaksian akan Allah dalam dunia ini. Tuhan, berilah aku hati yang murni sehingga hidupku semakin sesuai dengan kehendak Allah. Amin.
Copyright © 29 Agustus 2009, by Paulus Tolo SVD

268. Tugas kenabian setiap orang Kristen

Sabtu, 29 Agustus 2009 Peringatan Kemartiran St. Yohanes Pembaptis Bacaan: Markus 6, 17 - 29
Hari gereje memperingati kemartiran Yohanes Pembaptis. Dia dianggap sebagai nabi terakhir dalam barisan para nabi Israel yang mempersiapkan Israel untuk menyongsong kedatangan Mesias. Keutamaan para nabi Israel adalah membela keadilan dan kebenaran dan menyiapkan orang untuk hidup menurut keadilan dan kebenaran tersebut. Karena tugas mulia inilah maka para nabi seringkali menghadapi bahaya kematian. Tugas ini menantang para nabi untuk menyuarakan hal itu melawan siapa saja yang bertindak melawan kebenaran dan keadilan yang Allah telah tunjukan. Sebab musebab kematian Yohanes Pembaptis adalah keberaniannya menyuarakan kebenaran dalam hubungan perkawinan. Yohanes mencela Herodes yang menikahi isteri dari saudaranya-sendiri. Kata-katanya keras: "tidak hal engkau mengambil isteri saudaramu" menyulut kemarahan Herodias dan juga membuat tidak tenang hati Herodes. Dengan itu mulailah kebencian terhadap Yohanes Pembaptis yang pada puncaknya adalah kematian. Dalam merayakan tahun imamat, semua orang kristen dipanggil untuk menjadi nabi yang menyuarakan kebenaran dan keadilan. Tugas menjadi nabi ini amat penting untuk kita pada saat sekarang ini. Segala bidang kehidupan kita menjadi medan untuk menjalankan tugas kenabian ini. Memang dibutuhkan keberanian menyuarakan hal itu. Umumnya praktek hidup yang melawan kebenaran dan keadilan dibuat oleh orang-orang yang berkuasa entah karena status hidup atau karena memiliki banyak harta benda. Dengan demikian para nabi masa kini berhadapan dengan orang-orang yang bisa menggunakan apa saja untuk melenyapkan orang yang berani melawan mereka. Oleh karena itu pada peringatan St. Yohanes Pembaptis ini kita memohon agar Tuhan memberikan kekuatan batin dan keberanian bibir untuk menyuarakan kebenaran dan keadilan di tengah masyarakat, komunitas. Tuhan, semoga Roh Kenabian yang ada dalam diri St. Yohanes Pembaptis merasuki kami juga dalam hidup kami setiap hari sehingga kebenaran dan keadilan bersemi dalam masyarakat dan komunitas kami. Amin
Copyright © 29 Agustus 2009, by Paulus Tolo SVD

Jumat, Agustus 28, 2009

267. Kasih Yang Mengubah Hidup Seseorang

Jumat, 28 Agustus 2009 Peringatan St. Agustinus, Uskup dan Pujangga Gereja
Bacaan: Yohanes 15, 9 - 17
Gereja hari ini memperingati St. Agustinus, Uskup dan Pujangga Gereja. St. Agustinus adalah anak dari St. Monika yang peringatannya dirayakan gereja pada hari kemarin. Gereja menghormati kedua santo ini pada hari yang berurutan untuk menampilkan betapa keduanya memiliki hubungan yang amat erat. Bukan saja dipandang dari segi hubungan darah tapi lebih dalam hubungan spiritual. Santu Agustinus menjalani cara hidup yang buruk sehingga membuat ibunya St. Monika sedih. Ibunya berusaha mengarahkan Agustinus ke jalan yang benar. Pada akhirnya Agustinus bertobat dan dibaptis di Milano oleh St. Ambrosius. Sebagai seorang Uskup, Agustinus menulis banyak hal. Buah permenungannya berasal dari pengalaman hidupnya sendiri yang dilihat sebagai perjalanan mencari kebenaran dan kedamaiaan kekal. Ia menemukannya dalam Allah yang adalah kasih. Kasih Allah inilah yang menjadi dasar seluruh hidup barunya. Oleh karena itu Gereja memilih teks injil Yohanes untuk menggambarkan perjalanan hidup St. Agustinus. "Bukan kamu yang memilih Aku, melainkan Akulah yang memilih kamu agar kamu pergi dan menghasilkan buah dan agar buahmu tetap". Kata-kata Yesus ini memang tepat menggambarkan perjalanan hidup Agustinus. Allahlah yang memilih setiap orang untuk menjadi sarana menyebarkan dan memberikan kesaksian mengenai kasih Allah kepada manusia. Agustinus telah menerima kasih Allah dengan cuma-cuma. Ia mendapat panggilan dari Allah. Walaupun dari sudut pandangan manusia, Agustinus tidak layak; namun di pihak Allah tidak ada yang mustahil memilih yang tidak layak di mata manusia itu untuk menyebarkan kasih Allah. Kiranya hidup dan karya St. Agustinus menjadi inspirasi yang terus menerus meneguhkan panggilan setiap orang kristen dalam status hidup apapun. Tuhan, jadikanlah kami alat-alat kasihMu karena kami telah menerima banyak kasihMu hingga hari ini. Amin
Copyright © 28 Agustus 2009, by Paulus Tolo SVD

Rabu, Agustus 26, 2009

266. Bukan Sekadar Menanti Tanpa Tanggung Jawab

Kamis, 27 Agustus 2009
Santa Monika

Bacaan : Mt 24, 42-51

Sebuah aspek penting yang ditunjuk dalam pewartaan Sabda Tuhan hari ini ialah kenyataan bahwa setiap orang diserahkan suatu tanggung jawab bukan untuk dirinya sendiri tetapi selalu ditempatkan dalam hubungan dengan perannya mengembangkan komunitas di mana dia berada. Jadi setiap orang memiliki suatu tugas dan misi untuk dipenuhi. Misi itu bukan untuk diberi dengan tujuan untuk mempromosikan diri tetapi terutama untuk membuat komunitas menjadi lebih baik.

Injil memaparkan kepada kita tentang kisah hamba yang setia dan bijaksana yang didapati tuannya sedang menjalankan tugasnya. "Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya."

Sabda Yesus ini merangkum ajaranNya tentang perlunya berjaga sambil berbuat baik dan menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab. Menanti menurut Yesus bukanlah sekedar menanti sampai waktu berjaga selesai. Tidak ada tempat untuk sikap santai apalagi untuk berbuat seolah-olah ia adalah seorang tuan yang memperlakukan seenaknya rekan-rekan sekerja. Menanti sambil berjaga dihubungkan Yesus dengan soal tanggung jawab kepada saudara-saudari yang lain serta rumah yang dipercayakan kepada mereka.

Yesus memang memberikan sebuah penekanan yang sangat penting tentang bagaimana seharusnya menanti sambil berjaga dalam semangat Injil. Ia meminta para muridnya menanti secara bertanggung jawab sesuai napas Injili yang diwartakanNya. Bahwa kita sebagai murid Yesus hendaknya setia menanti sambil waspada dan melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang diserahkan Tuhan untuk kita jalankan. Penantian sambil berjaga seperti ini seharusnya menjadi sumber kegembiraan hati seorang murid, menjadi momen dan kesempatan untuk mewujudkan jati dirinya. Itulah sebabnya Yesus mengatakan, "Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang."

Penantian yang demikian memang tidaklah mudah. Menanti sambil menunaikan tanggung jawab seringkali dikalahkan oleh egoisme, kebanggaan diri yang semu, dan keinginan untuk menghukum orang lain yang tak disukai. Ini mesti dihindari, karena kata Yesus, hal ini akan membuat kita dihukum oleh Allah. Santa Monika yang peringatannya kita rayakan hari ini menanti pertobatan sang anak Agustinus dengan mengisinya dalam doa yang setia, hingga sang putra bertobat. Ia menanti dengan tanggung jawab keibuannya dan itulah yang menjadikan dia seorang teladan bagi kita semua.

Tuhan, kiranya kami menanti sambil berjaga secara bertanggung jawab. Kiranya seperti santa Monika, kami semua boleh setia menjalankan tugas dan tanggung jawab kami hingga kami bertemu dengan Dikau, Tuhan dan Allah kami. Amin.
Copyright © 27 Agustus 2009, by Ansel Meo SVD

265. Agar Kita Lebih Menilai Diri Kita dengan Sabda Tuhan

Rabu, 26 Agustus 2009
Bacaan : Mt 23, 27-32

Bacaan Injil hari ini masih menampilkan tentang kecaman Yesus kepada kaum Farisi dan ahli Taurat yang sesungguhnya dikategorikan sebagai orang orang yang sangat taat beribadah. Kita tentu bertanya mengapa Yesus terus mengecam mereka? Injil hari ini mengatakan bahwa Yesus mengecam mereka bukan karena mereka termasuk kelompok khusus ini, tetapi terutama karena mereka begitu tekun memperhatikan berbagai aturan luar agar terlihat saleh, tetapi tak memperhatikan kualitas kerohanian mereka sendiri. Kemunafikan itu menyebalkan Yesus.

Demikian kita dengar dalam Injil hari ini, "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan. "

Kecaman Yesus yang sebenarnya mengingatkan kita juga dewasa ini, baik sebagai orang yang taat beragama maupun orang biasa saja. Saya katakan demikian karena pada kita kemungkinan untuk mengulang kesalahan dan kebiasaan orang Farisi bisa sangat besar. Pada kita Tuhan memberikan selalu SabdaNya baik yang terbaca dalam Kitab Suci maupun yang muncul dalam berbagai sarana seperti media masa, dll. Sabda itu seperti halnya Taurat berisi Sabda yang menghidupkan, undangan kepada perbaikan kualitas hidup. Sabda Tuhan sesungguhnya tak mengharuskan kita untuk terlihat saleh, tetapi mengubah kita dari dalam, membaharui kita dan menjadikan kita manusia yang baru.

Jadi ajakan dalam Sabda Tuhan hari ini meminta kita untuk melihat diri sendiri, agar kita mudah menilai diri kita sendiri dengan ukuran Sabda Tuhan yang kita baca dan kita renungkan, bukannya menjadikan Sabda Tuhan sebagai alat untuk mempersalahkan orang lain dan cara hidup mereka.

Tuhan Yesus, semoga kami mengimani sabdaMu dalam hidup kami dan menjadikannya alat ukur untuk menilai diri kami dan bukannya untuk menilai dan mempersalahkan orang lain. Amin

Copyright © 26 Agustus 2009, by Ansel Meo SVD

Senin, Agustus 24, 2009

264. Agar Tidak Melupakan Belaskasihan Allah

Selasa, 25 Agustus 2009

Bacaan : Mt. 23, 23-26

Perikope Injil hari mengajak kita bertemu dengan Yesus yang sedang mengecam para ahli Taurat dan orang Farisi oleh karena sikap dan prinsip mereka yang bertentangan dengan peran yang mereka emban. Semua orang tahu bahwa kelompok yang disebut Yesus ini adalah orang -orang yang sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Yahudi masa itu. Mereka adalah para penuntun dan pemimpin spiritual bangsa itu. Mereka mengajarkan orang banyak tentang tuntunan kepada kehidupan baik dalam kehidupan keagamaan maupun dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Namun satu hal yang mereka abaikan ialah soal belaskasihan. Dan persis inilah yang dikritik Yesus.

Yesus berkata, "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. "

Mengapa belaskasihan itu jauh lebih penting dari pada pelaksanaan tradisi keagamaan? Yesus sesungguhnya kecewa dengan sikap mereka yang dianggap sebagai pemimpin agama Yahudi, orang yang bertugas untuk menggembalakan umat pilihan Allah BapaNya. Mereka terlalu sibuk dengan berbagai aturan kecil dan penjelasannya. Mereka menciptakan berbagai larangan dan perintah, hanya supaya orang kelihatan baik dan kudus secara jasmaniah, tetapi apa yang terpenting yakni jiwa peraturan itu yang mencerminkan belaskasihan dan kasih Allah dilupakan.

Ini sebuah tantangan yang ditujukan buat kita semua yang menamakan diri kita sebagai penuntun, pejabat, pendidik. Jangan sampai dalam berbagai langkah laku kita, kita melupakan jiwa dari segala peraturan dan hukum yakni keadilan, belaskasihan dan kesetiaan. Peraturan yang kita jaga untuk dijalankan tetaplah perlu, tetapi ia harus ditempatkan dalam bingkai keadilan dan belaskasihan yang bertujuan demi kebaikan bersama dan keselamatan manusia.

Tapi agar kita tidak melupakan hal prinsipiil di atas, kita perlu tetap rendah hati dan memohon Tuhan untuk menuntun kita kepada keselamatan dan kehidupan. Ia yang adalah Tuhan yang berbelaskasih, yang adil dan setia, kiranya menuntun kita kepada pelaksanaan hukum dan peraturan yang dijiwai oleh belaskasih, adil dan setia. Amin.

Copyright © 24 Agustus 2009, by Ansel Meo SVD

Minggu, Agustus 23, 2009

263. Natanael MelihatNya

Senin, 24 Agustus 2009
Pesta St. Bartolomeus, Rasul

Bacaan : Yoh. 1, 45-51

Membaca penggalan Injil Yohanes pada pesta St. Bartolomeus Rasul hari ini, kita sebenarnya bisa merasakan kemarahan di hati Filipus. Betapa tidak? Ketika menyatakan bahwa dia telah melihat Yesus orang Nasareth, kebanggaannya disepelekan oleh Natanael atau Bartolomeus yang pestanya kita rayakan hari ini. Injil melukiskan episode itu demikian, "Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret." Kata Natanael kepadanya: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" Kata Filipus kepadanya: "Mari dan lihatlah!"

Bagaimana reaksi Filipus? Ternyata bukannya marah atau tersinggung, tetapi ia mengajak Natanael, "Mari dan lihatlah!" Filipus menghantar Natanael kepada Yesus yang adalah Juru Selamat Dunia. Dan setelah melihat Yesus, iapun percaya kepada Yesus. Mengapa ia berubah? Mengapa ia menjadi percaya padahal ia sebelumnya meremehkan pernyataan Filipus tentang Yesus?

Bertolomeus menjadi percaya karena ia memiliki hati yang baik, karena ia pada dasarnya orang baik. Dan orang baik, orang yang berbudi dan berhati baik, ketika melihat sesuatu, pada umumnya akan menilainya dengan cermat, dan bertindak baik juga untuk menanggapinya. Natanael mungkin menyepelekan asal Yesus tetapi ketika ia bertemu dengan tokoh ini, ia tak tinggal diam, ia tidak bersikukuh dengan pendapatnya. Ia melihat secara mendalam, ia menilai secara obyektif dan yakin bahwa dalam diri Yesus ada sesuatu yang istimewa yang ditawarkan kepadanya. Itulah sebabnya ia menjadi percaya dan bukan cuma itu iapun merelakan dirinya menjadi murid Yesus dan setia mengikuti Dia.

Pesta tokoh seperti Natanael hari ini mengajak kita untuk melihat Tuhan dan karyaNya secara bijaksana, secara mendalam. Kita diajak untuk tidak cepat meremehkan segala sesuatu yang disampaikan kepada kita. Dan lebih dari itu, kita juga diajak untuk melihat dan menilai segala sesuatu bukan hanya berdasar apa yang terlihat, apa yang terbaca dan diketahui, tetapi bahwa di dalamnya ada benih rahmat Tuhan yang berkarya secara tersembunyi dan luar biasa.

Tuhan Yesus, Rasul Bartolomeus yang pestanya kami rayakan hari ini melihatMu dan percaya. Ia mengatasi kebiasaannya meremehkan segala sesuatu. Ia membuka diri bagi rahmat yang berasal daripadaMu. Semoga kami mampu melihat Engkau dalam segala sesuatu yang baik dan berharga di dunia ini. Amin.

Copyright © 23 Agustus 2009, by Ansel Meo SVD

Jumat, Agustus 21, 2009

262. "Engkaulah Sabda yang Menghidupkan Kami"

Minggu, 23 Agustus 2009

Hari Minggu Biasa XXI

Bacaan : Yoh. 6, 60-69

"Mungkin kamu juga mau pergi?" demikian pertanyaan Yesus kepada para muridNya yang selama ini mengikuti Dia kemanapun Dia pergi. Ada nada sedih yang bisa kita tangkap dalam pertanyaan ini. Betapa tidak sedih, sudah begitu banyak orang yang mengikuti Dia selama ini. Begitu lama mereka menemani Dia dalam perjalanan misiNya selama ini. Tapi akhirnya mereka menyerah dan meninggalkan Yesus, ketika mendapati kenyataan bahwa mengikuti Dia bukanlah sebuah cara hidup yang mudah dan enak. Ada begitu banyak tantangan, ada begitu banyak penderitaan yang mesti mereka tanggung, belum lagi undangan dalam Sabda Yesus yang mengandung tantangan tersendiri.

Tapi apa yang dihadapi oleh orang banyak itu tak diikuti oleh kelompok khusus yang sudah menyatu dengan Yesus. Makanya Petrus yang mewakili kelompok itu angkat bicara untuk menjawab pertanyaan Yesus di atas, "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah."

Jawaban Petrus bahwa perkataan Yesus adalah perkataan yang membawa hidup sesungguhnya menjadi isi iman para muridNya saat itu, yang hingga kini masih kita teruskan. Perkataan Yesus bukanlah sekadar kata-kata ajaran biasa, tetapi ada sesuatu yang mendasar di dalamnya. Petrus sesungguhnya ingin menggaris bawahi bahwa perkataan itu adalah sumber yang menghidupkan, sumber yang menyegarkan jiwa, yang menguatkan di kala mereka lemah, memberikan orientasi hidup di kala mereka kehilangan arah, dan memberikan kepastian di saat mereka ragu. Apa sebabnya? Karena Petrus yakin dan pasti bahwa jaminannya adalah Yesus sendiri.

Pernyataan iman Petrus sebenarnya membuka horison baru dalam pandangan kita saat ini tentang Sabda Tuhan yang kita baca dan kita renungkan setiap hari. Untuk saya sendiri tantangan perkataan Petrus hanya menambahkan keyakinan saya bahwa daya hidup yang diemban oleh Sabda Allah melampaui segalanya. Ia membuka jalan untuk berbagai pertemuan dan persahabatan, Sabda itu membawa saya kepada persahabatan dengan para pembaca saya, bahkan lebih dari itu, saya menjadi tahu siapa yang menginginkan kehidupan yang baik dan siapa yang menjadi pengkianat.

Tuhan Yesus, tantangan yang ditawarkan SabdaMu mengasah kami dan membaharui kami. Seperti Petrus mewakili para rekannya, kami ingin mengulangi keyakinan kami akan Dikau dan SabdaMu bahwa Engkaulah Sabda yang sungguh memberikan kami hidup yang kekal. Amin.

Copyright © 22 Agustus 2009, by Ansel Meo SVD

261. Jika Kompetensi Tak Disertai Kerendahan Hati

Sabtu, 22 Agustus 2009

Bacaan : Mt. 23, 1-14

Perikope Injil Mateus hari ini sesungguhnya menghantar kita kepada permenungan tentang keahlian, jabatan dan hal pokok yang mesti menyertainya. Yesus berhadapan dengan para ahli Kitab dan orang Farisi, yang dalam masyarakat Yahudi memiliki kedudukan khusus karena keahlian dan kompentensi mereka di bidang agama dan Kitab Suci.

Dan tentang mereka, Yesus menyampaikan kata-kata ini kepada para muridNya, "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi."

Peringatan Yesus kepada para muridNya untuk tidak mengikuti cara hidup kelompok yang punya kompentensi khusus ini, rupanya didasari pada teladan hidup mereka. Mereka memang menempati kelompok khusus dalam masyarakat karena keahlian mereka. Mereka dihormati, dipandang sebagai titik referensi karena ajaran mereka. Mereka berbicara dalam berbagai kesempatan, didengarkan dan diminta pendapat tentang berbagai hal. Pokoknya mereka adalah kelompok yang sering menyebut dirinya sebagai orang ahli, pengamat, pemerhati dan memang demikianlah mereka.

Yesus tidak mengeritik keahlian mereka sebagai sesuatu yang buruk. Yang disentuh dan dikritik Yesus bukanlah kelemahan manusiawi mereka, tetapi komitmen dan pandangan diri super yang mereka miliki. Yesus sesungguhnya sedih mendapatkan kenyataan bahwa orang-orang yang seharusnya bisa membantu orang yang lemah, miskin, berdosa serta terpinggirkan dalam masyarakat ini justru menjadi batu sandungan karena keengganan untuk menghidupkan apa yang tengah mereka ajarkan. Yesus ingin agar sejalan dengan kompetensi dan keahlian mereka, orang-orang ini selayaknya mengusahakan suatu cara hidup terpuji, memiliki sikap rendah hati dan menjadi pelayan masyarakat. Jadi yang menjadi persoalan di sini ialah ketika kompentensi tak diseimbangkan dengan kerendahan hati, sehingga apa yang disampaikan ibarat tong kosong tanpa isi, yang nyaring bunyinya.

Ini sesungguhnya sebuah ajakan untuk kita semua. Dalam salah satu segi, kita sebenarnya adalah orang-orang dengan kompentensi khusus, orang yang memiliki peran khusus juga dalam masyarakat. Peran apa yang kita mainkan sebenarnya? Sebagai orang Kristen, kita memiliki kompetensi untuk menjadi pengasih, pelayan dan pengampun. Kita mengemban dalam identitas kita Kristus yang adalah Allah tetapi menghidupkan pelayanan sebagai kharakter misiNya. Kita hari ini diminta sekali lagi dengan kata-kata Yesus ini, "Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu"

Tuhan Yesus Kristus, kami seringkali malu ketika kami dihina karena menjadi pengikutMu, ketika kami diolok-olok karena memperkenalkan hidup dan ajaranMu juga melalui media pewartaan modern seperti ini. Semoga oleh kekuatan RohMu sendiri, kami boleh dengan rendah hati menanggungnya dan terus berkomitmen meningkatkan pelayanan kami dan mengembangkan kompetensi kami demi kepentingan masyarakat. Amin.

Copyright © 22 Agustus 2009, by Ansel Meo SVD

Kamis, Agustus 20, 2009

260. Kita Semua Memiliki Satu Orientasi yang Sama yakni Mencintai

Jumat, 21 Agustus 2009

Bacaan : Mt. 22, 34-40

Sebetulnya mengejutkan juga jawaban Yesus hari ini terhadap pertanyaan ahli kitab tentang hukum mana yang terbesar? Yesus tidak sama sekali menyebutkan satupun perintah dari 10 Hukum Tuhan yang diterima Musa di Gunung Sinai, tetapi memberikan sesuatu yang lain. Yesus menunjukkan bahwa hukum yang utama adalah Mencintai: "Cintailah Tuhan Allahmu, dan cintailah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri".

Mengapa tak satupun perintah yang dipandang penting oleh orang Yahudi disetir oleh Yesus dalam jawabanNya kepada si ahli kitab. Bagi orang yang terbiasa berpikir positip, jawabannya bisa diberikan, bahwa apa yang dipaparkan dalam 10 hukum itu berisi perintah dan larangan saja, sedangkan apa yang diberikan Yesus bernada positip dan dinamis. Yah... mencintai itu sesuatu yang bersifat positif dan dinamis, ketika dalam jawabanNya Dia bilang, "Cintailah Tuhan AllahMmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwa ragamu dan dengan segenap kekuatanmu. ... Dan cintailah sesamamu manusia tanpa batas...."

Bagi Yesus tak dibedakan lagi mana yang terbesar dalam jawabanNya. Dua hukum yang diberikan Yesus yakni mencintai Tuhan dan mencintai sesama manusia memiliki nilai yang sama, yang satu tak bisa dipisahkan dari yang lain. Jawaban ini memang sepadan dengan apa yang ditnjukkan Yesus selama hidupNya. Bahwa cinta kepada sesama tak bisa dipisahkan dari cinta kepada Allah. Seorang yang mencintai Allah dengan segenap hati seyogyanya adalah orang yang mencintai sesamanya tanpa batas. Dan Yesus sendiri mengorientasikan hidupNya sendiri kepada orientasi cinta ini.

Kalau Yesus sudah menunjukan jalan demikian, apakah yang harus kita tanyakan lagi tentang orientasi hidup kita. Jawaban Yesus kepada si ahli Taurat adalah sebuah indikasi tentang jalan dan orientasi kita. Kita semua tanpa kecuali mesti mencintai seperti Yesus sendiri. Itulah orientasi bersama kita, itulah arah hidup kita.

Tuhan, semoga kami tahu dan yakin bahwa orientasi hidup kami sesungguhnya yakni mencintai Allah kami dengan segenap hati dan mencintai sesama kami tanpa batas. Amin.

Copyright © 20 Agustus 2009, by Ansel Meo SVD

259. Mengapa Menolak Undangan Kepada Keselamatan?

Kamis, 20 Agustus 2009

Bacaan : Mt. 22, 1-14

Masih melanjutkan tema pembicaraan kemarin, Yesus dalam Injil hari ini menampilkan sebuah perumpamaan tentang seorang raja yang mengundang semua orang kepada perjamuan nikah yang dibuatnya bagi sang putra. Tapi kelihatan tak satupun mereka yang diundang memenuhi uundangan itu dan semua mereka memiliki alasan yang pas untuk menolak undangan itu. Injil hari ini melukisakannya demikian, Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya.

Secara manusiawi bisa dibayangkan perasaan hati sang raja ketika mengetahui bahwa undangannya ditolak mentah-mentah oleh orang-orang yang diundangnya. Sebuah undangan kepada persaudaraan, undnagan kepada damai sejahtera, ternyata tak menarik minat orang-orang ini. Semua mereka rasanya sepakat untuk menolak. Dan memang demikianlah yang terjadi. Kita bertanya, "Apa sebabnya mereka semua menolak undangan itu? Apakah karena raja yang mengundang adalah orang yang tak disukai? Apakah karena waktunya tak tepat? Tapi rasanya tak mungkin kalau semua mereka tak punya waktu untuk memenuhi undangan itu. Apalagi dia yang mengundang bukanlah sembarang orang. Dia adalah raja, penguasa dan tuan atas mereka semua. Mengapa mereka berani mengabaikan undangannya?

Di sini kita sebenarnya diajak untuk melihat motiv dibalik penolakan para undangannya. Kelihatanya soalnya bukan berada di pihak sang raja, tetapi ada pada mereka yang diundangnya. Tanpa kecuali mereka semua sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Mereka semua khawatir dengan urusan kehidupan mereka. Dan keinginan untuk membela kepentingan diri begitu kuatnya, hingga undangan kepada perjamuan persaudaraan dan perdamaian, tak digubris sedikitpun. Padahal undangan seperti itu datangnya tidak setiap saat.

Dan kepada semua yang mendengarkan undangan serta mau datang, semuanya diajak masuk. Semua diterima. Sebuah gambaran tentang kemurahan dan rencana Allah dalam usaha untuk menyelamatkan manusia. Allah mengundang kita sebagai undangan kepada orang pilihan. Undangan kepada orang yang dikasihiNya. Sabda Tuhan yang diperdengarkan kepada kita adalah undangan Allah kepada keselamatan itu. Tetapi seperti halnya perumpamaan hari ini, betapa sering undangan itu ditolak karena kesibukan dan kecemasan kita sendiri dalam mengurusi kehidupan. Kita sering lupa bahwa undangan itu adalah undangan kepada keselamatan yang akan membawa kita kepada persaudaraan dan damai dengan saudara-saudara kita yang lain.

Tuhan, betapa seringnya kami mudah mengabaikan undanganMu. Kami terlalu sibuk dengan urusan kami sendiri dan melupakan undanganMu yang sesungguhnya merupakan undangan kepada kehidupan dan keselamatan. Maafkanlah kami Tuhan dan ajarilah kami untuk membuka hati kami bagiMu. Amin.

Copyright © 20 Agustus 2009, by Ansel Meo SVD

Selasa, Agustus 18, 2009

258. Ketika Semua Kita Diundang Bekerja di Kebun Anggur Tuhan

Rabu, 19 Agustus 2009

Bacaan : Mt 20, 1-16

Bagi kebanyakan kita membaca serta merenungkan Injil hari ini, mungkin akan bertanya balik kepada Yesus, "Apakah sikap Tuhan Yesus tidak bertentangan dengan rasa keadilan yang sementara diperjuangkan Gereja dewasa ini?" Persoalan yang muncul di sini seakan bertambah rumit jika kita mengaitkannya dengan hal memberikan upah yang adil kepada orang yang bekerja. Apalagi ketika berhadapan dengan kenyataan bahwa tak banyak peluang kerja yang didapatkan oleh orang muda kini, usai mereka menamatkan pendidikannya yang memakan banyak biaya pula.

Tapi sungguhkah Tuhan Yesus bertindak tidak adil dalam hal ini? Rasanya tidak juga. Karena mereka semua menerima pembayaran sesuai dengan kontrak yang dibuat di awal saat mereka semua bekerja. Injil hari ini mengisahkan demikian, "Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi merekapun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

Kita tentu bertanya, "Apakah maksud Yesus dengan kisah dalam perumpamaan ini?" Saya kira soalnya ialah Yesus hendak menjelaskan tentang apa yang dipikirkan Bapanya dengan keselamatan manusia seluruhnya. Ia tidak bermaksud menandingi para pemilik kebun anggur yang mempekerjakan para pekerja di kebun anggur mereka. Yang menjadi pemikiran dan perhatian Yesus adalah soal keselamatan manusia, bahwa Allah BapaNya menghendaki agar semua orang diselamatkan. Karena itu semuanya diundang tanpa kecuali untuk bekerja bersama hingga semua orang diselamatkan.

Jadi ketika semua orang diundang kepada keselamatan dan dijamin mendapatkannya, ternyata bukannya mendatangkan kebahagiaan tetapi selalu mendatngkan juga keluhan dan protes. Tapi itulah manusia. Sikap protes atas belaskasihan Allah masih sering pula kita tunjukkan saat ini. Hal itu terjadi karena kita sesungguhnya tak paham bahwa Allah tidak memberikan berdasarkan kesetaraan tetapi terutama berdasarkan kebutuhan setiap orang. Karena itulah kita mesti bersyukur karena kebijaksanaan Tuhan yang ditunjukkanNya kepada kita lewat bacaan hari ini.

Terimakasih Tuhan, kami semua tanpa kecuali diundang untuk mengambil bagian dalam karyaMu menyelamatkan manusia. Terimakasih juga karena Engkaupun menjamin upah untuk kami masing-masing. Amin.

Copyright © 19 Agustus 2009, by Ansel Meo SVD

Senin, Agustus 17, 2009

257. Bukan Selamanya Kekayaan itu Membantu Kita

Selasa, 18 Agustus 2009

Bacaan : Mt 19, 23-30

Hari ini kita dihadapkan sekali lagi dengan diskusi seputar hal kekayaan dan tantangannya terhadap hidup kemuridan dan Kerajaan Allah. Di satu pihak kita tahu pasti bahwa pandangan umum mengatakan bahwa dengan kekayaan, hidup manusia terasa menjadi lebih mudah, tetapi tantangan Injil hari ini memberikan awasan lain bahwa 'bukan selamanya kekayaan itu selalu membantu kita'.

Dan Yesus menempatkan awasan ini dengan perkataan yang agak keras dan tak biasa kelihatannya, sehingga membuat mereka bertanya tentang siapakah yang bisa diselamatkan kalau kenyataannya begitu. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."

Pertanyaan para murid memang masuk akal, "Bagaimana mungkin kekayaan yang dengannya membuat hidup mudah, menjadi penghalang untuk memasuki kerajaan Allah? Apanya yang salah dengan kekayaan? Apa salah mereka yang kaya? Apakah tidak baik bila seorang Kristen menjadi orang yang kaya?

Kelihatannya bukan persoalan bahwa kita boleh kaya atau tidak? Tapi yang menjadi soal adalah sikap hati yang diakibatkan oleh kekayaan itu yang dipersoalkan di sini. Rasanya yang mau disampaikan kepada kita di sini bahwa sorang pengikut Kristus hendaknya tidak menjadikan kekayaan sebagai tujuan hidup. Kita tidak dipanggil untuk menjadi kaya secara material, lalu kekurangan aspek penting lainnya yakni hidup spiritual. Jadi singkat kata ada pesan di sini bahwa kekayaan tidak selamanya membantu kita.

Tuhan Yesus, kiranya kami tidak mengarahkan hidup kami kepada pengadaan harta kekayaan duniawi, tetapi mengusahakannya bersama kekayaan rohani. Bantulah kami untuk menjaga keseimbangannya dalam hidup dan pelayanan, apapun bentuk panggilan hidup kami. Amin.

Copyright © 17 Agustus 2009, by Ansel Meo SVD

256. Perlunya Kesetiaan Manusia

Senin, 17 Agustus 2009

Bacaan : Mt. 19, 16-22

Bacaan Injil yang kita renungkan hari ini memberikan kepada kita satu pelajaran yang sangat berharga dan penting, bahwa ketika ada kesetiaan dari pihak manusia, di sana diperlukan juga rahmat Allah untuk menjadikannya sempurna.

Injil hari ini mengisahkan tentang seorang pemuda yang kaya datang kepada Yesus mengajukan kepadanya cara dan jalan untuk mencapai kehidupan kekal. Dan atas pertanyaannya untuk mencari tahu tentang jalan kehidupan itu, Yesus menunjukkan demikian, "Jika engkau ingin masuk ke dalam kehidupan, laksanakanlah segala perintah Allah." Nampak sekali bahwa orang ini punya reputasi cukup baik dalam menjalankan perintah Allah dan memang karenanya ia punya alasan untuk membanggakannya di hadapan Yesus. Dia bertanya lanjut, "Saya sudah melaksanakannya semuanya, apa lagi yang kurang padaku?"

Yesus menunjukkan kepadanya satu hal yang fundamental di sini, yakni kesetiaan manusia tidaklah cukup untuk memperoleh keselamatan yang disediakan Allah. Benar bahwa kesetiaan dari pihak manusia dalam melaksanakan perintah cinta kasih adalah hal fundamental dalam hidup sebagai anak Allah. Ada bahaya yang mengancam dalam sikap dan disposisi bathin si pemuda kaya itu, bahwa dia tak merasa butuh apa-apa lagi, karena 'ia merasa memiliki segalanya' sebagai jaminan hidup kekal. Karena itu rupanya Yesus mengatakan secara tak langsung kepadanya, "Engkau memang tak membutuhkan apa-apa lagi, karena engkau sudah memiliki semuanya secara berlebihan. Yang kurang padamu adalah kenyataan bahwa engkau perlu menjadi miskin dari segala harta duniawi itu, sehingga engkau siap menerima cintakasih Allah yang melampaui segala kekayaan duniawi ini." Makanya Injil melanjutkan kisah ini dengan kata Yesus berikut, "Sekarang, pergilah dan juallah segala yang kaumiliki itu, berikanlah kepada orang miskin dan engkau akan memiliki harta di Sorga. Sesudah itu datanglah dan ikutilah Aku!".

Sebuah episode Injil yang menyentuh kehidupan kita sebagai pengikut Yesus serta menantang cara hidup kemuridan kita. Benar bahwa sebagai murid Yesus hidup kita selalu tertantang oleh Sabda Yesus. Dan hari ini tantangan itu juga menyentuh persoalan kebanggaan akan kesetiaan kita sebagai murid. Kita memang diminta untuk selalu setia dalam hidup sebagai murid Yesus dengan cara menghidupi SabdaNya dari hari ke hari. Tapi nampaknya dari dialog dengan si pemuda kaya itu, kita mengerti bahwa hal itu bukanlah jaminan bahwa kita akan selamat. Kita perlu membuka diri dengan rendah hati akan kehadiran rahmat Allah. Tidak ada jaminan bahwa kita hidup baik dan sempurna. Yang penting juga adalah kesediaan untuk membiarkan rahmat Allah bekerja dengan caranya.

Tuhan Yesus, semoga kami tak puas diri dalam mengikuti Dikau. Ajarilah kami selalu untuk membuka diri bagi rahmatMu ya Tuhan. Amin.

Copyright © 17 Agustus 2009, by Ansel Meo SVD

Selasa, Agustus 11, 2009

255. Kewajiban untuk Mengoreksi Saudara yang Bersalah

Rabu, 12 Agustus 2009

Bacaan : Mt 18, 15-20

Apakah kita harus mengkoreksi secara tulus saudara yang bersalah kepada kita? Pertanyaan ini bisa dijawab dari sudut pandangan yang berbeda-beda. Bagi mereka yang mengemban tugas sebagai pendidik, formator dan pembimbing, tugas mengoreksi adalah satu tugas yang melekat erat dalam panggilan pelayanan mereka. Bagi kita yang lain, tugas ini sebetulnya juga adalah tugas yang mesti diemban oleh setiap orang yang mengakui dirinya penganut Kristus. Mengapa? Karena hukum cinta kasih yang ditinggalkan oleh sang Guru buat kita para pengikutNya sesungguhnya mewajibkan kita untuk mengoreksi sesama kita.

Inilah pesan utama yang kita renungkan dalam Bacaan Injil hari ini. Yesus meminta para muridNya dan kita semua untuk memberikan koreksi persaudaraan yang benar dan tulus kepada saudara yang bersalah. Bahkan keharusan untuk menegor seorang saudara yang bersalah demi menobatkan dia, dihubungkan juga dengan kegembiraan karena melepaskan sebuah beban atau ikatan yang bisa menghalanginya untuk masuk ke Sorga.

Demikian kata Yesus, "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai." Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."

Sebagai anggota Gereja, kita semua menerima tugas untuk memberitakan tentang Kebenaran yang dinyatakan kepada kita dalam Kristus. Dalam melaksanakan tugas itu, kita secara terus-menerus menemukan kelemahan dan kesalahan yang merupakan bagian integral dari kenyataan kemanusiaan kita. Dalam kerangka berpikir seperti ini, kita sebetulnya bisa dengan mudah mengerti mengapa Yesus mewajibkan kita memberikan koreksi persaudaraan. Kalau kita bisa memberikan pujian yang tulus atas keberhasilannya, maka adalah juga penting demi cinta yang sama, kita ada untuk dia memberikan koreksi atas kesalahannya. Hanya dengan demikian hukum cintakasih yang benar bisa kita hidupkan dalam cara hidup kita sebagai murid Kristus.

Kenapa mesti demikian? Jawabannya bisa kita temukan dalam hidup dan misi Yesus sendiri. Ia meminta semua muridNya untuk mengampuni. Dan kita tahu bahwa kesediaan untuk memberikan koreksi yang tulus berkaitan erat dengan pengampunan. Dan kemampuan untuk mengampuni seseorang amat berhubungan juga dengan komitmen untuk mengikis akar kebencian, dendam dan kejahatan yang ada dalam hati manusia.

Tuhan Yesus, Engkau telah menjadi manusia sama seperti kami. Engkau menerima penderitaan, salib dan kematian demi memberikan kami semua jaminan pengampunan Bapa Sorgawi. Kiranya dengan rahmatMu pula kami dimampukan untuk mengikis akar kejahatan dalam diri kami dan dibantu untuk mampu mengoreksi orang yang bersalah kepada kami. Amin.

Copyright © 11 Agustus 2009, by Ansel Meo SVD

254. Menjadi Serupa dengan Yesus

Selasa, 11 Agustus 2009

Pesta Santa Klara

Bacaan : Mt 18, 1-5.10.12-14

Yesus dalam Injil hari ini menyelesaikan pelayananNya di Galilea dan sedang bersiap-siap berjalan menuju Yerusalem, tempat di mana Ia akan menderita dan wafat. Injil melukiskan bahwa " pada saat itu para muridNya mendekati Dia." Tetapi ketika mereka mengajukan pertanyaan kepadaNya, kita bukannya mendapat kesan bahwa mereka dekat dengan Yesus, malah sebaliknya mereka sesungguhnya tengah menjauhi Yesus. Dalam teks paralel injil Markus 9, 33 dst dijelaskan episode yang sama dengan kata-kata ini: Yesus baru saja menyampaikan perihal penderitaanNya dan para murid bukannya menunjukkan bahwa mereka peduli dengan apa yang Dia katakan, mereka malahan mendiskusikan di antara mereka tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Kita menyaksikan di sini betapa bedanya hal yang yang menjadi perhatian antara sang Guru dengan yang diperhatikan oleh para muridNya.

Kalau kita memandang sikap kita dewasa ini, hal yang sama ini juga sedang kita ulangi. Kita sering sekali melupakan Injil dan pesan-pesannya, karena kita sibuk dengan kecemasan tentang diri kita sendiri, kita mengutamakan kepentingan kita sendiri. Apa yang dikatakan Yesus sebagai jawaban atas sikap para muridNya dan kita?

Yesus tidak menjelaskannya dengan perkataan lagi. Dia menempatkan seorang anak kecil di tengah-tengah mereka. Dan menunjuk pada anak kecil itu, Dia mengatakan, "Jika kamu tak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tak akan memasuki Kerajaan Allah." Dengan kata-kata inilah Yesus sesungguhnya memulai pengajaranNya tentang hidup persaudaraan Kristiani dengan sebuah penegasan yang nampak sangat kecil dan sederhana, bahwa seorang murid Yesus adalah seperti seorang anak kecil atau seorang putra, dan bahwa mereka senantiasa tinggal dan bertindak sebagai anak. Yesus dalam perkataanNya hari ini tidak mengatakan bahwa seorang anak harus bertumbuh dan menjadi orang dewasa. Tapi yang mau ditekankan di sini bahwa dalam kerajaan Allah yang selalu akan ada adalah anak-anak Allah. Dan Yesus menambahkan bahwa yang terbesar adalah anak-anak. Jadi siapa yang menerima anak-anak itu sebagai muridNya, mereka sesungguhnya sedang menerima Dia sendiri.

Apakah yang sesungguhnya sedang Yesus katakan di sini untuk kita dewasa ini? Secara singkat kita bisa mengatakan bahwa Yesus sedang mengundang kita untuk menjadi serupa dengan Dia sendiri. Ia sedang mengundang kita untuk memiliki hati yang selalu siap menerima yang lain. Yesus sedang meminta kita untuk menjadi murah hati seperti diriNya sendiri. Kita mesti menerima setiap muridNya seperti DiriNya sendiri. Sebuah undangan yang sebetulnya menegaskan bahwa semua murid Yesus dan siapapun yang dipanggil untuk menjadi muridNya adalah orang yang bermartabat tinggi, seorang anak Allah, anak-anak KerajaanNya yang sama-sama dicintai oleh Allah dan oleh Yesus sendiri.

Yesus mengundang kita semua untuk terlibat dalam hidup komunitas murid yang dibangun atas dasar kasihNya yang abadi. Bahwa hidup komunitas yang demikian ada dalam hatiNya dan siapapun yang menyebabkan skandal dalam kehidupan para muridNya, akan ditindak dengan tegas. Terlihat di sini betapa cinta yang teramat besar antara Yesus dengan kehidupan komunitas muridNya. Yesus menghendaki hidup komunitasNya, hidup anak-anak Kerajaan BapaNya. Dan untuk hidup mereka inilah, hidupNya sendiripun Dia relakan. Dia mau mati demi menyelamatkan hidup anak-anak BapaNya yang di Sorga.

Persis inilah jalan kemuridan yang Dia kehendaki agar kita menapakinya.

Tuhan, kami Kaupanggil untuk menjadi serupa dengan Dikau. Dan jalan yang mesti kami tapaki adalah menjadi seperti seorang anak kecil. Kiranya hidup dan perjuangan kami hari ini diwarnai juga oleh kerinduan untuk menjadi serupa dengan Dikau. Amin.

Copyright © 11 Agustus 2009, by Ansel Meo SVD

Jumat, Agustus 07, 2009

253. PerkataanNya Membesarkan Hati Kita

Sabtu, 08 Agustus 2009

Pesta Santu Dominikus

Bacaan : Mt 17:14-20

Para murid baru saja menyaksikan peristiwa Yesus menampakkan kemuliaanNya di atas gunung. Sementara mereka turun dari gunung, Yesus mengatakan kepada mereka agar tak menyampaikan kepada siapapun tentang peristiwa itu. Karena akan tiba saatnya, hal yang mereka lihat itu akan disaksikan juga oleh yang lain. Dan mereka sekarang harus terus mengikuti Yesus dan mendengarkan SabdaNya. Perlahan tapi pasti, para muridNya mulai mengerti siapa Dia dan apa yang diajarkanNya mulai mereka pahami dengan baik.

Injil yang hari ini kita renungkan mengisahkan satu episode kecil ketika Yesus sudah bergabung dengan para muridNya yang lain dan sementara berjalan menuju kerumunan orang banyak. Pada saat itulah seorang bapak keluarga mendatangi Dia dan meminta kepadaNya untuk menyembuhkan anaknya yang sedang kerasukan roh jahat. Sebenarnya bapak ini tak ingin merepotkan sang Guru, karena itulah ia membawa anaknya kepada para muridNya dan meminta agar mereka menyembuhkan dia. Dia memang sangat berharap agar para murid melakukannya, tetapi ternyata mereka tak berhasil melakukannya. Karena itulah, kata-kata kekecewaan keluar dari mulut Yesus, perihal iman para muridnya, "Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu?"

Setelah mengatakan hal itu Yesus memanggil anak itu dan dengan perkataanNya, Ia menyembuhkannya. Untuk para muridNya, mungkin peristiwa itu membuat mereka sadar akan kegagalan mereka, karena mereka tak sanggup menyembuhkan anak itu ketika ia dibawa kepada mereka. Dan tentang hal itu, Yesus secara terang-terangan bahwa mereka memang kurang memiliki iman. Iman mereka masih sangat lemah. Karena iman itulah biar kecil sekalipun sangatlah dibutuhkan untuk membuat mukjisat. Dan hal itupun tak dimiliki oleh para muridNya.

Tapi kenyataan kurangnya iman para murid ternyata tak membuat Yesus terus kecewa terhadap mereka. Karena Yesus tetap mempercayakan misi khususNya kepada mereka. Makanya terhadap mereka Yesus selalu menyampaikan SabdaNya sendiri, mengasihi mereka dengan tulus dan menegur serta memperbaiki mereka agar mereka makin bertumbuh dalam kepercayaan kepadaNya. SabdaNya dalam akhir perikope Injil hari ini memberikan penegasan akan harapanNya kepada mereka. "Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, --maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu."

Kata-kata Yesus, bahwa "takkan ada yang mustahil bagimu" ditujukan kepada semua muridNya, kepada semua mereka yang percaya kepadaNya, kepada kita semua. Kata-kata ini membangkitkan harapan yang kokoh, bahwa sama seperti kepada muridNya dulu, Yesus akan selalu memperdengarkan kepada kita saat ini SabdaNya sendiri, Ia akan selalu mengasihi kita secara tulus dan akan selalu mengoreksi kita tatkala kita lemah, kurang beriman, kurang bersemangat dalam mengikuti Dia. Ini perkataan yang sungguh membesarkan hati kita.

Tuhan Yesus, seperti para muridMu, kamipun ingin selalu belajar dariMu, mendengarkan SabdaMu dan memperhatikan teguran dan koreksiMu. Bantulah kami semua sehingga semakin hari, kamipun semakin bertumbuh dalam iman, dan karenanya layak mengambil bahagian dalam tugas melanjutkan misi perutusanMu. Amin.

Copyright © 07 Agustus 2009, by Ansel Meo SVD

Kamis, Agustus 06, 2009

252. Mati Untuk Memperoleh Hidup

Jumat, 07 Agustus 2009

Bacaan : Mt 16, 24-28

Penggalan Injil hari ini membawa kita kepada sebuah pertentangan yang paling keras yang ditemukan dalam Injil. Mengapa? Dengan perkataanNya sendiri, Yesus menegaskan tentang jalan yang mesti dilewati oleh para murid, yang tidak lain adalah jalanNya sendiri. MATI untuk HIDUP. Kita tentu bisa memaklumi bahwa tak seorangpun yang bermimpi bahwa dua kata ini ditempatkan secara bersama, tetapi demikianlah logika keselamatan. Untuk hidup kita mesti mati.

Bagaimanakah halnya dengan jalan kemuridan Yesus? Yesus dalam injil mengatakan demikian, "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?

Hal mengikuti Yesus adalah suatu perjalanan yang berisi pengalaman melewati kematian untuk mencapai kehidupan. Itulah yang selalu kita temukan sepanjang perjalanan kemuridan kita. Jalan seorang yang percaya kepada Yesus memang tak bisa dilepaskan dari pengalaman "melewati" ini. Kita melewati pengalaman kematian untuk lahir baru, untuk ditransformasi, untuk menjadi manusia baru.

Apakah hal ini merupakan keharusan yang mesti dijalankan oleh seorang murid? Rasanya demikianlah seharusnya. Menjadi murid Yesus meminta kita untuk mematikan manusia lama kita. Dan pertemuan dengan Yesus menjadi momen di mana kita dibaharui, dilahirkan secara baru dan menjadi orang baru. Inilah yang kita temukan dalam peristiwa Baptis, saat kita mati terhdap manusia lama yang berdosa dan menjadi anak Allah dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.

Bacaan hari ini sungguh mengundang kita sekali lagi untuk melepaskan hal-hal lama yang kita miliki, yang tak mendukung nilai-nilai yang dibawa oleh Yesus Tuhan. Kita diundang untuk melibatkan diri sekali lagi dengan penuh komitmen dalam ziarah hidup Kristiani, yang sejak permandian telah kita terima. Tuhan masih membutuhkan kita dalam rencananya membangun dunia baru. Mari kita menerima tugas yang diberikanNya yang adalah bentuk-bentuk salib baru yang mesti kita pikul.

Kita memiliki harapan tunggal bahwa Kristus telah melewati jalan tugas yang sama ini untuk mencapai kehidupan. Kita perlu mati untuk bangkit dan hidup lagi. Dan Tuhan yang bangkit menjadi jaminan kita.

Tuhan, semoga kami memanggul salib tugas dan perutusan kami, mau mati dalam hal dosa dan menerima tanggung jawab demi merealisasikan hidup yanb telah Kauhadiahkan kepada kami. Amin.
Copyright © 06 Agustus 2009, by Ansel Meo SVD

Rabu, Agustus 05, 2009

251. "Guru, Betapa Bahagianya Berada di sini!"

Kamis, 06 Agustus 2009

Pesta Yesus Menampakkan KemuliaanNya

Bacaan : Mk 9, 2-10

Bagi kita yang terbiasa menyaksikan berbagai adegan film, kita tahu pasti bahwa di baliknya selalu memuat trik-trik yang menjadikan film itu enak ditonton. Ada efek cahaya, suara dan lain sebagainya yang dikombinasikan untuk memaksimalkan hasil. Ketika membaca Injil hari ini berkenaan dengan pesta Yesus menampakkan kemuliaanNya, kita disodorkan sebuah episode Injil tentang penampakan Yesus yang selalu membuat kita mengaguminya selalu. Tentu kita tidak sedang bicara tentang adegan film yang diberi tambahan seperti efek cahaya, efek suara, tetapi yang terjadi di sini adalah sebuah kejadian historis yang nyata terjadi dalam hidup Yesus dan pengalaman para muridNya.

Kejadian yang mengagumkan itu memiliki banyak arti dan simbol, baik menyangkut wajah Yesus yang bercahaya, perbincanganNya dengan Moses dan Elia, juga kehadiran hanya tiga saksi dari para muridNya memberikan kepada kita prakiraan tentang bagaimana hidup akhir ketika semua orang yang dipanggil oleh Tuhan dan percaya kepadaNya berada bersama Allah. Kenyataan bahwa ketiga murid ini sebetulnya masih dipenuhi rasa kagum luar biasa oleh perkataan dan perbuatan Yesus beberapa saat sebelum kejadian ini, mereka tambah tercengang menyaksikan bagaimana Yesus menampakkan kemuliaanNya. Itulah sebabnya, tanpa ragu sedikitpun Petrus mewakili mereka menyampaikan kata-kata hatinya yang penuh kekaguman, "Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia." Dengan ungkapan yang lebih bebas, Petrus ingin mengatakan, "Tuhan biarlah kita tinggal di sini merasakan suasana hidup abadi dalam Tuhan seperti hari ini."

Tapi mereka harus turun ke Yerusalem. Untungnya bahwa pengalaman yang mereka lihat di gunung saat itu pasti berpengaruh sangat besar buat mereka ketika menghadapi saat Yesus menderita dan wafat, walaupun dalam kisah-kisah sengsara, nampaknya hanya Yohanes yang selalu berjaga bersama Tuhan dan Gurunya di kaki salib. Sedangkan Petrus tidak demikianlah kenyataannya, karena kelemahan manusiawinya begitu menonjol sampai ia menyangkal Yesus sang Tuhan dan Gurunya. Namun itulah Petrus yang juga menyatakan ke-Allahan Yesus Gurunya.

Apakah yang dapat kita renungkan bagi hidup kita dari peristiwa Yesus menampakkan kemuliaanNya hari ini? Rupanya kita mesti mendengarkan sekali lagi suara dari langit yang terdengar dalam peristiwa itu. Injil mencatat, ....maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia." Dan sekonyong-konyong waktu mereka memandang sekeliling mereka, mereka tidak melihat seorangpun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri.

Penegasan yang terdengar dalam peristiwa ini ialah bahwa Bapa memberikan putra yang amat dikasihiNya untuk mengembalikan lagi kepada manusia hak dan martabat sebagai anak-anak Allah. Suara yang telah menyatakan kesalahan Adam dan Eva di taman Firdaus, kini menyatakan bahwa status yang dulu hilang sekarang diperoleh kembali berkat Yesus PutraNya sendiri. Maka untuk mendapatkan status itu dengan sungguh, kita diminta untuk "mendengarkanNya", sebagai satu-satunya Sabda Allah terakhir dan definitif yang diperdengarkan kepada umat manusia.

Dalam perjalanan kita menuju Gunung Tuhan, kita sesungguhnya diberikan bekal yang menguatkan kita selalu, yaitu Roti Hidup yang adalah pemberian diri Yesus sendiri buat kita. Roti yang memberikan kita kekuatan untuk terus menapaki perjalanan menuju puncak Gunung Tuhan untuk menyaksikan Kemuliaan Allah yang sebenarnya. Kendatipun nanti kita harus mengalami kerasnya salib dan penderitaan di Yerusalem kehidupan kita, hendaknya kita tak patah semangat karena Tubuh Tuhan yang kita terima memberikan kita harapan yang pasti untuk menyaksikan sendiri kemuliaan Allah. Karena itulah kitapun pantas untuk bergembira dan menyatakan kepada Yesus Tuhan seperti halnya Petrus hari ini, "Guru, sungguh indah berada di sini bersama Engkau!"

Tuhan Yesus, Guru dan Juru Selamat kami. KemuliaanMu yang Kaunampakkan hari ini di hadapan para muridMU memberikan kami harapan yang kuat untuk tak patah semangat ketika harus memanggul Salib dan menderita. Terimakasih atas SabdaMu dan TubuhMu yang menguatkan kami dalam perjalanan kami mendaki Gunung SuciMu, Tempat Engkau bertakhta mulia bersama para kudusMu. AMIN.

Copyright © 05 Agustus 2009, by Ansel Meo SVD

Selasa, Agustus 04, 2009

250. Iman : Mau dan Berani Untuk Terlibat Bersama Tuhan

Rabu, 05 Agustus 2009

Bacaan : Mt. 15: 21-28

Bacaan Injil hari ini menampilkan kepada kita satu gambaran tentang iman yang kuat kepada Tuhan, disertai oleh sebuah kemauan dan keberanian untuk terlibat sungguh-sungguh dalam problem yang dihadapi seseorang seraya meminta intervensi dari Tuhan. Itulah yang kita temui dalam diri wanita Kanaan yang mendatangi Yesus sambil memohon dengan sangat agar Yesus mau menyembuhkan putrinya. Dia memang tak berhak sedikitpun untuk meminta Yesus menyembuhkan putrinya, juga Yesus tak menjanjikan apapun baginya. Namun relasi dalam percakapan yang terjadi antara dia dengan Yesus menunjukkan sesuatu yang amat mendasar dalam persoalan iman: sebuah kemauan dan keberanian untuk terlibat bersama Tuhan untuk kebaikan sesamanya.

Wanita Kanaan tadi menyapa Yesus dengan sebuah sebutan yang terdengar amat ganjil di telinga orang Kanaan. Betapa tidak? Ia menyebut Yesus sebagai Putra Daud, sebuah sebutan yang tak biasa didengar orang di wilayah Tirus dan Sidon, tetapi amat bisa dimengerti, kalau menyadari situasi khusus yang sedang dihadapinya. Kita pasti bisa mengerti bahwa wanita asing ini mengagumi sesuatu yang khusus pada diri Yesus. Itulah sebabnya ia datang menemui Dia, dan berani mendekati Yesus. Sangat boleh jadi seperti orang sebangsanya, ia mengenal dalam diri Yesus seorang yang menghakimi pada akhir jaman, seorang Juru Selamat.

Percakapan antara Yesus dengan wanita Kanaan ini memang terasa sangat intensif. Yesus menjelaskan bahwa misi keselamatan yang dibawaNya, pertama-tama diperuntukan bagi orang Israel. Satu pernyataan yang sebenarnya menjadi penghalang bagi wanita ini untuk mendapatkan pertolongan. Tapi wanita ini bersikukuh, ia mau bertahan betapapun perkataan Yesus sangat keras ditujukan kepadanya. Ia berani dan mau terlibat demi menyelamatkan seseorang yang sangat dikasihinya, putrinya sendiri. Itulah sebabnya, ia bertekun memohon kepada Yesus, menyampaikan alasannya hingga Yesus menemukan apa yang menjadi inti dirinya: Imannya yang teguh kepada Yesus.

Ia karenanya dinyatakan sebagai orang yang berhasil dalam percobaan iman. Itulah yang kita dengar dalam kata-kata Yesus yang tertuju kepadanya diakhir kisah ini. Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.

Kita bertanya, apa sebabnya ia begitu teguh dalam imannya akan Yesus, yang baginya adalah seorang asing? Jawaban yang bisa kita temukan ialah bahwa baginya iman kepada Yesus berarti kemauan dan keberanian untuk mengambil tanggungjawab, terlibat untuk menyelamatkan orang yang dikasihinya. Yesus memuji dia, karena dalam dirinya ditemukan iman yang begitu teguh demi sebuah usaha untuk menyelamatkan orang yang dikasihinya.

Inilah undangan untuk kita yang mengimani Yesus. Iman kita tak pernah hanya bertujuan personal, demi keselamatan diri kita sendiri. Iman selalu memiliki aspek sosial, untuk menyelamatkan yang lain. Dan dari interaksi antara wanita itu dan Yesus, kita diingatkan untuk tidak menutup atau mengklaim kebenaran sebagai milik kita saja. Kita mesti terbuka untuk orang lain, berusaha untuk menyertakan orang lain dalam tindakan beriman kita.

Tuhan Yesus Kristus, terimakasih atas keselamatan yang Kau bawa kepada kami dan bagi dunia kami. Semoga kami dengan bangga mengakuinya disertai rasa syukur, sambil berupaya membawa semakin banyak orang kepada keselamatan abadi. AMIN.

Copyright © 04 Agustus 2009, by Ansel Meo SVD

249. Tuhan Pasti Menolong Kita dalam Badai Kehidupan

Selasa, 04 Agustus 2009

Bacaan : Mt 14, 22-36

Dalam kisah sejarah keselamatan, terutama dalam kisah bangsa Israel, sering sekali kita mendengarkan bahwa melalui orang-orang pilihanNya, Allah menyatakan rencanaNya, baik yang positif maupun yang negatip. Terkadang kita mendengarkan bahwa Allah menghukum Israel dan memurnikannya, dan pada kisah yang lain kita juga mendengarkan bahwa Ia membangun dan menghidupkannya. Satu hal yang pasti termuat dalam kisah-kisah tersebut ialah bahwa Allah selalu membangkitkan harapan, kepercayaan orang yang dikasihiNya.

Hal terakhir inilah yang kita dengarkan dalam bacaan Injil hari ini, ketika Petrus yang terkagum-kagum dengan Gurunya ingin datang kepada Yesus dengan berjalan di atas air, hal yang sedang dilakukan oleh Yesus saat itu. Kita bertanya, "Apa sebabnya Petrus dengan serta merta melakukannya tanpa takut akan resiko yang sedang berada di hadapannya?" Mengamati secara lebih detail penggalan Injil ini, kita bisa secara yakin mengatakan bahwa yang membuat Petrus nekat adalah undangan Yesus kepadanya. Injil mengisahkannya demikian, Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.

Petrus begitu terinspirasi oleh undangan dan perkataan Yesus, sehingga Ia mengatasi keraguannya tentang siapa yang datang itu. Petrus sedang mengambil resiko atas hidupnya sendiri dengan turun dari perahu dan berjalan di atas air. Bahaya yang dihadapi Petrus memang sungguh besar, ketika Injil melukiskan bahwa ia mulai tenggelam karena besarnya ombak di sekitarnya.

Apa yang ditampilkan di sini sebenarnya sesuatu yang membangkitkan harapan di dalam hati kita semua. Bahwa walaupun ada resiko bagi hidup, orang yang melakukan sesuatu atas dasar Sabda Tuhan dan undanganNya, sesungguhnya memiliki jaminan untuk tidak perlu menjadi takut. Petrus menunjukkan kepada kita semua bahwa perlu sekali mengambil resiko atas hidup kalau mau memenuhi undangan Sabda Tuhan. Apalagi kalau orang itu memiliki tanggungjawab yang besar. Kalau Tuhan mengundang, "Datanglah!", maka biar badai sebesar apapun tak perlu ditakuti. Kita perlu turun dari perahu, berjalan di tengah badai, dengan resiko dihantam badai, tenggelam, seperti yang dialami Petrus.

Tetapi mengapa ada keberanian untuk mengambil resiko seperti Petrus? Karena ia sangat yakin Tuhan pasti akan menolong. Itulah sebabnya ketika tahu ia sedang berada dalam bahaya, Petrus tak ragu meminta tolong, "Tuhan tolonglah aku!". Yesus segera mengulurkan tangannya dan menariknya keluar dari gelombang besar yang terjadi waktu itu.

Apa yang terjadi pada episode ini sesungguhnya sebuah gambaran tentang kita dalam mengarungi kehidupan kita bersama Tuhan. Terkadang perlu sekali mengambil resiko dalam hidup, menentang badai, turun dari perahu. Tapi hal ini tidak asal dibuat. Harus dipertimbangkan dalam Sabda dan Kehendak Tuhan. Karena kalau kita melakukannya sesuai dengan perintah Tuhan, maka resiko pasti akan diatasi karena Tuhan pasti menolong.

Tuhan Yesus, semoga dalam badai kehidupan kami, dalam perahu apapun yang kami tumpangi, kami selalu yakin bahwa Engkau akan menolong kami. Bantulah kami agar kami tak takut mengambil resiko ketika mesti mendekati dan mendatangi Engkau dalam kehidupan kami. Amin.

Copyright © 04 Agustus 2009, by Ansel Meo SVD